Strict Standards: Declaration of objPR::encode_url() should be compatible with clsFrontEnd::encode_url($m, $s, $a, $id = '', $cid = '') in /home/tessar/public_html/hkbpmenteng.org/mod/content/__hkbp.php on line 913
Gereja HKBP Menteng  | Renungan Mingguan | MENJADI PENDENGAR DAN PELAKU (Yak. 1 : 16 – 27)
Website HKBP Menteng menyediakan informasi mengenai Gereja HKBP Menteng seperti : Warta Jemaat, Kegiatan, Renungan, Artikel, Informasi Jemaat, Galeri Foto, dsb. HKBP Menteng menjadi saluran berkat, damai sejahtera dan sukacita bagi jemaat dan masyarakat sekitarnya.

Renungan Mingguan

Author
ADVERTISEMENT
    Place Your Ads Here!
MENJADI PENDENGAR DAN PELAKU (Yak. 1 : 16 – 27) , by
01 Sep

     Saudara-saudara sekalian. “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar,” demikian sebuah kalimat Yakobus yang amat terkenal di kalangan jemaat Kristen dan terasa akan diaminkan oleh banyak orang. Kita sering merasa gerah jikalau seseorang selalu “lancar berkata-kata,” tetapi kita tahu dia tidak melakukan ucapannya. Jemaat Kristen pada masa Yakobus rupanya ditengarai rajin membahas pokok-pokok iman Kristen. Berdebat kadang-kadang menyenangkan hati sebab menimbulkan gairah mengasah otak mencari argumen-argumen agar kita unggul. Mungkin sekali mereka menganggap keselamatan tidak memerlukan usaha. Bukankah cukup hanya dengan percaya kita sudah diselamatkan? Kita tidak perlu melakukan perbuatan-perbuatan baik, bukankah ia anugerah Allah semata? Maka cukuplah percaya saja. Berbuat baik? Ah, itu tidak penting, kira-kira begitu suasana hati orang-orang Kristen, dulu dan sekarang juga. Orang Kristen, ibarat seorang anak di dalam keluarga, ditetapkan menjadi anak sulung (buah sulung) oleh firman kebenaran (ayat 18). Pembaharuan dunia, pembaharuan seluruh ciptaan Allah sudah dimulai dari kehadiran kita orang-orang percaya. Maka kita tidak lagi boleh berdalih dan bersilat kata untuk menyenangkan diri sendiri saja tetapi mengabaikan tugas kita, tugas menjadi saksi Kristus di dalam masyarakat. Agar mampu memenuhi tugas kita harus mampu mengendalikan diri: jangan cepat marah dan menjauhkan segala sesuatu yang kotor dan kejahatan. Dan ada lagi: tidak memandang muka (2 : 1 – 13) dan menjaga lidah (3 : 1 – 12). Nasihat ini jelas-jelas berasal dari hikmat. Salah satu buku hikmat di dalam Perjanjian Lama ialah Amsal. Hikmat menurut Amsal ialah kemampuan mengendalikan diri; orang yang bijaksana (wiseman) terlihat dari mampu tidaknya ia mengendalikan dirinya. Untuk apa? Agar kita memperoleh kehidupan yang sejahtera dan mensejahterakan orang lain. Pusat aktivitas kita ialah hati bukan otak! Hati dijaga agar hidup kita memancarkan kebaikan. Dengan manis Amsal mengungkapkan

 

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan,

karna dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4 : 23).

 

     Jikalau orang hanya menjadi pendengar maka ia seperti orang yang mengamat-amati dirinya di depan cermin, tiap sebentar melakukannya, tetapi segera lupa (ayat 21). Ini peringatan halus kepada kita: agar jangan terus menerus melakukan kegiatan yang tidak bermanfaat bagi orang lain. Kegiatan jemaat, ibadah dan PA, hendaknya mendorong kita semakin rajin dan bersukacita melayani orang lain khususnya para yatim piatu dan janda yang sedang di dalam kesusahan. Iman yang dewasa ialah mampu mendengar dan terampil berbuat.

     Iman adalah soal batin. Mendengar firman Tuhan dan membahas adalah baik. Tetapi akan lebih baik apabila yang kita dengar kita lakukan sehingga dapat diteladani dan yang tidak kurang penting perilaku kita menyukakan hati, mencerahkan dan melegakan orang lain. Tuhan Yesus membagi dua golongan pengikut-Nya: orang bijaksana dan orang bodoh! Orang bijaksana adalah orang yang mendengar dan melakukan ajaran-Nya dan orang bodoh hanya mendengar tetapi tidak melakukan (Mat 7 : 24 – 27). Jadilah pelaku Firman agar kehidupan bertambah sejahtera. 

 

Pdt. Dr. Einar M. Sitompul

Total Viewed :  688 times
Name *
Comment *
Verification *
 Reload Image