Website HKBP Menteng menyediakan informasi mengenai Gereja HKBP Menteng seperti : Warta Jemaat, Kegiatan, Renungan, Artikel, Informasi Jemaat, Galeri Foto, dsb. HKBP Menteng menjadi saluran berkat, damai sejahtera dan sukacita bagi jemaat dan masyarakat sekitarnya.

Kumpulan Renungan Mingguan

MINGGU PASKAH
 22 Apr

KRISTUS BANGKIT

Kisah Para Rasul 10 : 34 - 43

 

Hari ini kita tiba pada peristiwa yang amat pentih dan juga menentukan bagi hidup manusia yaitu peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus Kristus atau yang kemudian disebut dengan Paskah (Ibrani: Pesakh, artinya berlalu atau melewati). Bagi umat Kristen, Paskah memberikan makna yang amat bernilai, yaitu sebagai puncak karya keselamatan Allah yang dinyatakan melalui Tuhan Yesus Kristus.

 

Firman Tuhan yang menjadi renungan pada hari Minggu Paskah ini berbicara tentang kepedulian Allah kepada bangsa-bangsa lain di luar umat-Nya. Melalui kisah Petrus dan penghayatannya atas panggilan Allah kepadanya, menjadi nyata bahwa keselamatan yang ditujukan bagi bangsa-bangsa sungguh dapat terjadi melalui anugerah dan kasih Allah yang universal, dan itu dinyatakan melalui Yesus Kristus yang mati di kayu salib, dan akhirnya bangkit.

 

Keperdulian Allah juga terlihat kepada bangsa pilihanNya yaitu Bangsa Israel, melalui karya dan kuasa-Nya, Ia membebaskan Bangsa Israel dari tangan musuh, sehingga mereka beroleh kemenangan. Oleh karena itu sudah sepantasnyalah Bangsa Israel mengucap syukur dan menyampaikan mazmur kepada Allah, atas kasih setia-Nya yang kekal.

 

Allah kita adalah Allah yang selalu hadir dan dekat dengan kita, Dia menyatakan kasih serta kepeduliannya bagi kita. Dia rela menyerahkan anakNya hanya utnuk keselamatan kita. Untuk itu sebagai perenungan bagi kita saat ini; bagaimana semestinya kita memaknai momentum Paskah, khususnya di tengah situasi dan kondisi yang tengah terjadi saat ini? Tentu saja melalui momentum Paskah tahun 2014 ini, setiap kita dipanggil untuk menjadi berkat, menjadi saksiNya dan perduli kepada sesama yang ada di sekitar kita. Selamat Paskah..(SPS)

MINGGU LETARE
 04 Apr

UJILAH APA YANG BERKENAN KEPADA TUHAN

 

Mungkin kita sering mendengar istilah FIT & PROPER TEST untuk calon-calon pejabat pemerintah/swasta. Namun, jika kita kurang teliti dalam melakukan Fit & Proper Test terhadap seseorang yang akhirnya menjadi pimpinan atau sejawat kita dan terbukti mengecewakan, maka kitapun akan menyesal, malu, marah dan sedih. Sebaliknya, kita akan bergembira dan bersukacita, ketika kita berhasil menguji dan membuktikan bahwa pemimpin atau teman sejawat kita itu sungguh-sungguh memiliki komitmen, integritas, disiplin, kerja dan kinerja yang berkualitas tinggi/sangat memuaskan. Begitu pula kalau kita sendiri lulus dari ujian seperti itu.

MINGGU INVOCAVIT
 08 Mar

"Waspadalah akan tipu daya Iblis"

Kej. 2 : 16 - 17 + 3 : 1 - 7

 

Dosa adalah bagaikan virus yang mengerikan yang tersebar kepada semua manusai. Dosa adalah sesuatu yang mengerikan dan menakutkan. Ia mempengaruhi seluruh hidup manusia. Ular dengan segala kecerdikannya mencoba menjatuhkan manusia pertama adam dan hawa. Jika kita membaca catatan kitab suci, maka akan sangat jelas bagaimana strategi iblis yang demikian lihai menjebak manusia sehingga terpikat olehnya. Iblis datang dengan percakapan yang sangat sopan sekali. Ia tidak datang dengan sikap menyerang, iapun tidak datang dengan penampilan yang menyeramkan. Ia memulai percakapan dengan memutar balikkan kebenaran Firman Tuhan. Dosa itu sudah masuk ketika iblis berhasil memutar balikkan apa yang diperintahkan Tuhan. Iblis tidak hanya berhenti sampai disitu, dengan kecerdikannya, manusia dirayu dengan sebuah mimpi bahwa jika mereka memakan buah itu maka mereka akan menjadi seperti Allah. Cara iblis ini demikian jitu dan ampuh sehingga manusia terjebak dan kemudian melanggar perintah Tuhan.

Disisi lain, manusia dengan gampang dijebak dan diperdaya. Perempuan itu malah ikut menambahkan perintah Tuhan dengan pandangannya sendiri. Jadilah mereka tidak mentaati hukum Tuhan. Mereka melanggar batas yang Tuhan sudah tetapkan. Akibatnya sangat fatal dan mengerikan. Manusia menjadi demikian takut dan malu bertemu dengan Tuhan. Dosa mengakibatkan mereka seperti itu. Tidak hanya itu dengan dosa, manusia mengalami keretakan hubungan dengan sesama, bahkan dengan alam ciptaanNya. Dengan dosapula gambar dan rupa Allah dalam dirinya menjadi rusak bahkan mengalami kerusakan total.

Apakah masih ada harapan bagi manusia berdosa? Jawabannya ada. Manusia sejak jatuh dalam dosa telah mengalami anugerah Tuhan yang besar. Dalam perasaan malu dan takut, Tuhan memberikan mereka pakaian untuk menutupi ketelanjangan mereka. Pdt. Simon Sihombing

MINGGU ESTOMIHI
 04 Mar

BERDIRILAH JANGAN TAKUT

(Mat. 17 : 1 - 9)

 

Pengalaman keindahan atau lebih religius mengatakan menyaksikan peristiwa mulia akan mendorong kita mengabadikannya, jika dapat memilikinya. Maka orang dalam kemajuan perangkat elektronik dewasa ini dengan cepat menjepret momen-momen gemilang atau bermakna. Kita terpaku jika melihat pemandangan indah, damai dan sejuk; biasanya pengunungan menjadi pilihan kita, seperti ke puncak di akhir pekan.

 

"Alangkah indah! Luar biasa! Ajaib!, demikian sering terucap dari bibir kita memandang fenomena alam di puncak. Bagi yang mampu akan membangun villa supaya bisa dekat kapan saja dengan alam indah. Tiga murid Yesus, Petrus, Yakobus, dan Yohanes melihat sebuah pemandangan mulia: Yesus berubah rupa dan wajah-Nya bercahaya seperti matahari (ayat 2). Melihat Sang Guru begitu berbalutkan kegemilangan, maka Petrus sebagai juru bicara para murid spontan berkata "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini". "Kami", itulah ungkapan egoisme rohani (agama dan ritual untuk kenikmatan jasmani) atau sebuah ungkapan hasrat manusia membangun zona nikmat (comfort zone). Dengan ungkapan itu mereka membuka kelemahan yaitu lupa misi, abai pesan pengutusan yakni memberitakan kerajaan surga sudah dekat (Mat. 10:7). Mereka langsung lupa Yesus telah mengingatkan  bahwa mereka sedang mengikuti Sang Guru di jalan penderitaan, Yesus, menuju penyaliban untuk menebus umat manusia dari maut dan dosa.

 

Di saat murid-murid kerasukan roh kenikmatan, Allah menyentak dengan "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia". Jika Allah tidak mengingatkan dengan keras, sulit bagi kita lepas dari keinginan tubuh; kita akan larut dalam kepentingan egoistis. Allah mengingatkan tujuan kita bukan memenuhi hasrat badani, bukan menetap dalam zona nikmat.

 

Kita dipanggil untuk ikut dalam missio Dei (misi Allah); Allah mengutus Anak-Nya untuk menderita dan mati disalib demi penyelamatan manusia. Orang percaya diutus untuk memberitakan kabar baik, melalui kata dan perbuatan, dan rela menderita dalam mengikuti Dia. Yesus mengajarkan berbahagialah jika pengikut-Nya dicela dan dianiaya karena Kristus (Mat. 5:11). Paulus menguatkan kita bahwa kita dianugerahkan bukan saya untuk percaya kepada Kristus melainkan juga untuk menderita untuk Dia (Flp. 1:29). Untuk memenuhi panggilan-Nya, kita sekarang harus berdiri dan jangan takut. Kristus sudah dimuliakan. Allah mengukuhkan Dia untuk menunaikan misi-Nya.

 

Turunlah! "Retret" sudah selesai! Sekarang waktunya bekerja, waktunya untuk melakukan perintah-Nya. Pelaku misi disebut misionaris. Gereja itu hakikatnya misi, gereja ada untuk melaksanakan suruhan Tuhan. Namun pahami dulu peristiwa pemuliaan-Nya, sesudah kebangkitan Kristus (ayat 9). Semua akan jelas. Percayalah kepada kebangkitan-Nya, kita tidak akan takut lagi. Sesuai nama minggu, Estomihi, Dia adalah gunung batu tempat perlindungan kita (Mzm. 31:3b). Pdt. Dr. Einar M. Sitompul

MINGGU I SETELAH EPIPHANIAS
 15 Jan

Baptis

Matius 3 : 13 - 17

 

Kita sudah berada di Minggu Epiphanias, artinya penampakan. Selama lima Minggu berturut turut, kita merayakan Minggu menampakan ini. Dalam Minggu ini, kepada kita disajikan nas firman Tuhan, yang menampakkan siapakah Tuhan Yesus bagi kita. Nas kita pada pagi hari ini menuturkan Tuhan Yesus dibaptis Yohanes Pembaptis.

 

Kita tahu bersama, baptisan Yohanes adalah baptisan pertobatan. Baptisan air itu adalah sebuah simbol penyucian dari dosa dan kesalahan kita di hadapan Allah. Oleh karena baptisan Yohanes adalah baptisan pertobatan, maka satu pertanyaan perlu diajukan kepada kita. Apakah Yesus perlu dibaptis. Bukankah ia tanpa salah dan tanpa dosa? Hal apakah yang harus diakuinya sebagai dosa dan kesalahan-Nya di hadapan Bapa-Nya yang di surga?

 

Hal yang sama juga diutarakan Yohanes Pembaptis terhadap Tuhan Yesus. Satu hal yang sangat menarik bagi kita ialah: Yohanes Pembaptis mengenal siapa Yesus, lebih dari pengenalan secara manusiawi. Dalam Injil Yohanes, Yohanes Pembaptis mengakui hal ini, ia mengenal siapa Yesus sebenarnya, karena Roh Kudus turun kepada Yesus dalam wujud merpati. Dari sanalah Yohanes Pembaptis jadi kenal siapa Yesus.

 

Tidak ada seorang pun dari antara kita yang dapat mengenal siapa Yesus sebenarnya, jikalau Roh Kudus tidak memperkenalkannya kepada kita. Kita juga tahu murid yang berjalan menuju Emmaus, tatkala Yesus sudah bangkit. Mereka disertai Yesus di sepanjang perjalanan ke Emmaus. Tetapi mereka tidak mengenal siapa Dia yang menyertai mereka di perjalanan itu. Pada saat mata mereka dibukakan, barulah mereka sadar, bahwa Dia yang menyertai mereka itu adalah Tuhan Yesus yang sudah bangkit.

 

Kembali kepada pertanyaan semula, mengapa Yesus harus dibaptis? Yesus mengatakan kepada Yohanes Pembaptis: "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." Dan Yohanes pun menuruti-Nya. Dari perkataan Yesus itu kita tahu siapa Dia. Ia adalah orang yang datang untuk menggenapkan kehendak Allah bagi umat manusia.

 

Yesus sebagai manusia adalah bagian dari bangsa Israel. Kepada bangsa Israel Allah menyuarakan agar mereka betobat. Seruan itu datang melalui Yohanes Pembaptis. Sekali pun Yesus tidak berdosa, tetapi karena Ia bagian dari bangsa itu, maka Ia harus menaati panggilan Allah terhadap bangsa Israel. Puncak dari karya Yesus ialah: Ia jadi dosa karena umat berdosa, supaya orang berdosa men jadi kudus di mata Allah.

 

Setelah baptisan itu diselenggarakan, maka Yohanes mendengar Allah Bapa dari surga berfirman kepadanya. Inilah Anak yang kukasihi kepada-Nyalah Aku berkenan. Allah menampakkan diri kepada manusia dalam menjelaskan siapa Yesus Kristus.

 

Itu sebuah pelajaran berharga bagi kita. Jika kita mengenal Yesus, maka kita pun akan dijadikan-Nya sebagai orang yang datang ke dunia ini dalam rangka menggenapkan rencana Allah bagi kita secara pribadi. Kita pun akan dijadikan orang yang datang dalam rangka menaati Dia yang berkenan kepada Allah. Malah ditempat  lain, kita diperintahkan untuk mendengar Yesus. Sudahkah saudara dan saya orang yang dengar-dengaran kepada Tuhan Yesus.

(St. Hotman Ch. Siahaan)

MINGGU ADVENT II
 07 Dec

"Sambutlah, Raja Yang Adil dan Jaya"

(Zakharia 9 : 9 - 10)

Seperti biasanya dalam setiap masa transisi, sering terjadi hal-hal yang tidak terkontrol. Norma dan hukum kurang diperhatikan atau bahkan sering dengan sengaja dilanggar. Tidak ada figur maupun tokoh panutan yang dapat diharapkan memberi solusi atas persoalan yang semakin menumpuk dan seperti benang kusut yang sulit diurai darimana harus memulai untuk dapat menyelesaikannya. Tidak ada penunjuk arah ke mana perjalanan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan. Semua ingin berbuat bebas. Semua ingin melakukan apa saja berdasarkan keinginan dan obsesinya. Dalam kondisi seperti ini, tak jarang oknum-oknum pejabat atau penguasa, kaum elite dan atau mereka yang punya akses dan berada di lingkaran kekuasaan, mempunyai potensi yang lebih besar untuk melakukan penindasan terhadap rakyat biasa, jelata dan miskin serta tidak punya apa-apa. Ketimpangan sosial, ketidakadilan dan jurang kemiskinan semakin menganga diikuti dengan pengabaian terhadap nilai-nilai sosial, agama juga moral. Seorang tokoh nasional di negara kita ini pernah berkata bahwa bangsa Indonesia sedang menunggu "Satrio Piningit" yang kelak diharapkan mengubah keadaan bangsa ini dalam keterpurukan multi dimensi menuju civil society atau masyarakat madaniah, masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera.

 

        Thema penantian dan pengharapan seperti itu rupanya juga mengemuka dan menonjol di kalangan Israel sebagai buah atas pergumulan dan penderitaan mereka oleh karena pembuangan dan pengasingan yang mereka alami di Babel. Pengalaman traumatik di Babel membuat mereka sangat berharap untuk datangnya seorang Pembebas yang dapat memberi perlindungan dan rasa aman kepada mereka. Dari sudut pandang para nabi, pembuangan ke Babel merupakan hukuman Allah yang bersifat edukatif. Pengasingan ke Babel merupakan tindakan Allah untuk "mengajar dan mendidik" mereka agar mereka mengenal dan menyadari dosa-dosa dan pelanggaran mereka kepada Allah. Dengan pengenalan akan dosa-dosa itu mereka dituntun atau diarahkan untuk bertobat dan meninggalkannya (Zakaria 1: 1-6). Itulah sebabnya menurut kacamata teologis para nabi, hukuman itu adalah wujud kasih setia Allah terhadap umat-Nya.

 

          Atas dasar itulah juga Nabi Zakharia tampil dengan ketegasan iman di tengah-tengah umat yang sengsara yang menanti-nantikan Mesias, Raja yang akan membebaskan mereka dari pencengkeraman kesakitan sebagai akibat bangsa terhukum. Nabi Zakharia memberitakan tindakan Tuhan Allah yang datang menghampiri umat-Nya dan melepaskan mereka dari keterpurukan itu. Ia sendiri yang berprakarsa dan merealisasikan dengan cara serta kekuatan-Nya sendiri. Raja yang dinanti-nantikan itu datang untuk membawa kelegaan dan rasa aman kepada mereka. Ia akan menegakkan hukum dan keadilan. Ia tidak berkuasa dengan tangan besi atau perlengkapan senjata. Ia tidak membutuhkan hal-hal tersebut karena realitanya hal-hal itu menjadi sering teror yang menakutkan bagi umat manusia. Ia tidak mengendarai kuda perang dengan kegagahan tetapi Ia datang dengan mengendarai seekor keledai beban muda sebab Ia lemah lembut dan rendah hati. Wilayahnya tidak terbatas pada teritorial kedaerahan atau suku bangsa tertentu tetapi semua umat manusia di seluruh penjuru dunia menjadi wilayah Kerajaan-Nya. Sebab Ia ingin seluruh dunia mendapatkan kedamaian, ketenangan dan sukacita. Karena itu marilah kita ikut serta dalam arak-arakan menantikan dan menyongsong-Nya dengan sorak-sorai, amin! (AMS)

MINGGU AKHIR TAHUN GEREJAWI
 23 Nov

KEDATANGAN TUHAN

1 Tessalonika 4 : 13 - 18

 

Saudara takut mati? Kira-kira reaksi apa yang terlontar dari mulut jika ungkapan tersebut ditujukan kepada kita?. Jawabannya terletak pada diri kita masing-masing. Bagi banyak orang, kematian adalah suatu misteri dan menimbulkan perasaan takut, tidak pasti dan bahkan ketidak berdayaan. Ada orang yang percaya bahwa kerabat, teman, atau kekasih mereka yang sudah mati sebetulnya tidak mati, tapi tinggal bersama mereka atau di alam lain!.  Bagaimana kita menanggapi yang namanya “Hari Tuhan”?.  1 Tesalonika 4:13-18  merupakan reaksi Rasul Paulus terhadap adanya kesalahpahaman teologis dalam jemaat Tesalonika dimana beberapa anggota mengalami kesulitan untuk memahami keadaan umat percaya yang MENINGGAL sebelum Yesus datang kembali dan umat percaya yang MASIH HIDUP pada saat Yesus datang kembali (Dan pandangan ini sering terlihat dalam pola pikir Yudaisme).

Tujuan Paulus menuliskan hal ini agar mereka tidak bersedih seperti orang-orang yang tidak mempunyai pengharapan dan juga agar kebenaran tentang sifat kedatangan Yesus yang kedua kali akan memberikan pengharapan mulia kepada mereka  agar mereka dapat saling menghibur satu sama lain saat ditinggalkan oleh orang-orang yang mereka kasihi. Paulus menyakinkan bahwa umat percaya yang telah meninggal seperti sedang “tidur dalam Kristus” (bnd. 1 Tesalonika 4:14). Bagi Paulus, kebangkitan Yesus dari kematian merupakan sebuah jaminan bagi kebangkitan umat percaya pada saat kedatangan-Nya yang kedua.  Jika kita pecaya akan kematian dan kebangkitan Yesus, kita juga harus percaya akan kebangkitan orang-orang yang telah meninggal dalam Yesus.(Bnd. Yohanes 14:1-3). 

Salah satu kata kunci yang digunakan Paulus dalam bahasa Yunani bagi kedatangan Yesus adalah; PAROUSIA (1 Tes.2:19, 3:13; 4:15; 5:23).  Hal ini berarti “kedatangan”.  Kata ini digunakan untuk kunjungan resmi dari pembesar kerajaan atau kaisar Roma.  Kunjungan seperti ini sangat jarang terjadi, dan kalau hal itu terjadi maka hal itu sering disertai berbagai macam KEMERIAHAN dan selalu memberikan bantuan keuangan serta hak-hak istimewa kepada kota dan penduduknya.  Hal ini untuk memberikan sebuah gambaran tentang KEMEGAHAN YANG TERJADI PADA SAAT YESUS DATANG KEMBALI. Tentu saja, bukan suara keras yang membangkitkan orang-orang mati melainkan PERINTAH YESUS lah yag membangkitkan orang mati itu.

Jadi Rasul Paulus memberikan jaminan kepada jemaat Tesalonika bahwa: orang-orang yang mati dalam Kristus tidak akan kehilangan PAROUSIA.  Orang mati akan dibangkitkan, dan mereka yang masih hidup akan sama-sama “DIANGKAT” (Yunani: harpazo = mengambil,menarik, atau membawa dengan segera).  Hal itu menunjukkan suatu keadaan yang berlangsung dengan sangat cepat disertai kekuatan yang tak tertahankan dari Parousia.  Tetapi perlu di-ingat: bahwa tidak ada hal yang rahasia sehubungan dengan “pengangkatan”. Kematian bukanlah bab terakhir dari kehidupan pengikut Tuhan melainkan hanya  pemisah sementara yang memberikan jalan bagi pertemuan yang mulia pada hari kebangkitan. Amin.           OS

 

MINGGU XXV SETELAH TRINITATIS
 16 Nov

"TINGGAL DALAM YESUS"

Dalam Perjanjian Lama, Israel disebut sebagai kebun anggur milik Allah yang dipelihara dan dijaga oleh-Nya, namun ternyata Israel menghasilkan buah-buah anggur yang tidak manis (Yes. 5:1-7). Israel gagal menyenangkan Allah karena mereka memilih untuk bersekutu dan berselingkuh dengan dewa-dewi bangsa-bangsa kafir.

 

Yesus mengajarkan kepada para murid, bahwa Dialah Pokok Anggur yang benar, Israel yang sejati yang memuaskan hati Allah. Kini para murid Yesus, yaitu cikal bakal gereja (band. Mat. 16:18) dipilih Allah untuk menghasilkan buah bagi kemuliaan-Nya, yaitu hidup yang setia orang Kristen harus bergantung penuh kepada Yesus seperti ranting-ranting tinggal dalam Pokok Anggur yang benar (ay.5). Gereja hanya mungkin berhasil kalau tetap melekat sebagai ranting kepada Pokok Anggur itu dan menerima kehidupan dari-Nya. Di luar Kristus, gereja tidak memiliki daya apa pun untuk bertumbuh dan tidak akan mampu menghasilkan buah, bahkan gereja akan mati sehingga tidak memiliki fungsi apa pun selain dibuang dan dibakar (ay. 5-6). Ibarat ranting-ranting yang melekat pada Pokok Anggur, gereja yang tinggal dalam persekutuan yang hidup dengan Kristus dan menjadikan-Nya sebagai pusat hidupnya pasti akan menghasilkan "buah-buah" yang berkenan di hadap-Nya (ay. 1-2). Sebab Allah Bapalah yang memelihara pertumbuhannya dan membersihkan penghalang ranting-ranting ini berbuah.

 

Bagaimana caranya orang Kristen dapat tetap melekat pada sumber kehidupan, yaitu Kristus? Dengan membiarkan firman-Nya menjadi pusat hidupnya (ay. 7). Gereja dan orang Kristen yang demikian akan menghasilkan buah-buah rohani dan perbuatan baik yang memuliakan Allah. Apa pun yang dilakukan gereja dan orang Kristen, sesuai dengan janji Kristus, maka doa-doanya akan terkabul (ay. 7b). Mari kita renungkan bahwa Gereja dan orang Kristen yang hidup dan berbuah adalah mereka yang berpusatkan pada Kristus.

MINGGU XXIV SETELAH TRINITATIS
 13 Nov

LAKUKAN YANG BAIK DAN HIDUPLAH

DALAM PERDAMAIAN DENGAN SEMUA ORANG

 

Nats : Roma 12:17-21

Tentunya, tidak seorang pun di antara kita yang senang menerima perlakuan jahat atau tersakiti oleh orang lain. Kita merindukan kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan. Kita mengharapkan suasana dan lingkungan yang tenang, aman, tentram dan damai. Namun, sepertinya di dunia ini, tidak ada tempat yang begitu nyaman, aman dari gangguan orang jahat. Ke mana kaki kita melangkah, setiap saat, keamanan kita bisa terancam karena di dunia ini selalu ada saja yang ingin berbuat jahat kepada kita. Sebagai orang beriman, apa yang harus kita lakukan?

 

Nas khotbah hari ini mengingatkan kita, agar kita hidup senantiasa di dalam kasih, karena itulah yang diajarkan Yesus Kristus kepada kita pengikutNya. Seorang yang menyadari bahwa dirinya adalah anak Allah, seharusnya hidup sebagai pembawa damai, karena Yesus sendiri mengatakan di dalam khotbahnya: Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut sebagai anak-anak Allah (Matius 5:9). Allah pada dasarnya adalah kasih, dan sudah lebih dahulu mengasihi kita di dalam Yesus Kristus, maka Ia menghendaki kita mengasihi semua orang, bahkan mengasihi orang yang membenci dan melakukan kejahatan kepada kita. Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, itu adalah suatu perintah Tuhan kepada kita, karena pembalasan adalah hak Tuhan. Kita tidak boleh mengambil hak Tuhan, itulah sebabnya kita tidak membalas kejatan dengan kejahatan.

 

Oleh sebab itu, setiap kita yang menerima perlakuan jahat dari orang lain, marilah kita menyerahkan persoalan kita kepada Tuhan, agar Dia yang berperkara untuk kita. Ketika kita diperintahkan Tuhan untuk tidak membalas kejahatan, kita diperintahkan selanjutnya untuk mengarahkan dan menyerahkannya kepada Tuhan yang akan menyelamatkan kita. Penulis Ibrani menyatakan hal yang sama juga, "Sebab kita mengenal Dia yang berkata: "Pembalasan adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan." Sebaliknya kita diingatkan agar terus berbuat  baik, dan berdamai dengan semua orang. Kita tidak senang disakiti, maka tidak seharusnya kita menyakiti orang lain. Berbuat baik kepada semua orang, bahkan kepada orang yang berbuat jahat sekalipun kepada kita, itu adalah perintah dari Tuhan. Bahkan kalau seteru lapar dan haus pun kita harus memberinya makan dan minum. Itulah bukti bahwa kita anak-anakNya dan  tinggal di dalam kasihNya. Kita tidak seharusnya kalah pada kejahatan, tetapi mengalahkan kejahatan dengan kebaikan, karena dengan demikian kita menumpukkan bara di atas kepalanya. Kebaikan juga bisa menjadi senjata yang sangat ampuh untuk mengalahkan kejahatan.  Oleh sebab itu, percayalah bahwa kejahatan kejahatan tidak akan pernah mampu mengalahkan kebaikan, tetapi kebaikanlah yang akan mengalahkan kejahatan. Berdamailah dengan semua orang dan lakukanlah yang baik. Amin.  MKP

Renungan MINGGU XXIII SETELAH TRINITATIS
 06 Nov

KITALAH KELUARGA KRISTUS KARENA FIRMAN ALLAH YANG MEMPERSATUKAN KITA

 

Sejak semula, Tuhan telah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial. Lingkungan terdekat dari kita sebagai makhluk sosial adalah keluarga. Dalam keluargalah awal terciptanya kebersamaan, keakraban, saling memiliki dan saling menopang seorang dengan lainnya. Dalam keluarga, seseorang merasakan kehangatan dan pelukan cinta kasih. Dalam keluarga, seseorang dapat menerima dan mencurahkan perhatian yang tulus, ikhlas dan murni. Karena itu, sebagai anggota keluarga, sepatutnyalah kita bersyukur dan berbahagia karena hadir di tengah-tengah keluarga. Walau mungkin tak sedikit orang kesal, jengkel, jenuh atau ada pula yang menyesal di pergumulan yang tak kunjung selesai, tetapi satu hal yang harus kita ingat bahwa bukanlah kita yang menentukan atau memilih kita untuk berada di keluarga yang mana. Yang menciptakan dan menentukan hanyalah Tuhan Allah. Dan sebagai orang beriman, tentu kita menyakini menempatkan kita untuk hadir dalam sebuah keluarga, apakah sebagai suami, isteri  atau anak dalam keluarga tersebut. Karena itu, keluarga di mana kita berada. Sekali lagi, Tuhan mempunyai maksud dan rancangan yang indah atas kehadiran kita bagi keluarga, dan makna keluarga bagi kita.

 

Tuhan Yesus juga hadir di dunia ini melalui sebuah keluarga yang dibentuk dan ditetapkan oleh Tuhan Allah. Bahkan kalau mengikuti kacamata dunia, Ia hadir tidak selayak atau sewajar kelahiran kita umumnya ke dunia ini. Ia hadir di tengah-tengah konflik dan kegalauan batin Yusuf yang menjadi ayahnya. Ia hadir di tengah-tengah konfilk sosial masyarakat atau bangsa yang berontak terhadap penguasa. Ia hadir di tengah-tengah keterpurukan ekonomi dan kemiskinan yang menghimpit masyarakat dan kedua orangtuanya. Ia hadir dengan status sosial sebagai anak tukan kayu yang tidak mempunyai tempat tinggal yang menetap sehingga Ia lahir di sebuah kandang domba karena tidak ada penginapan/rumah yang membuka pintu kepada-Nya.

 

Semua kesulitan dan kesusahan ekonomi, sosial dan status tersebut tidaklah menghambat pertumbuhan-Nya menjadi orang dewasa. Sebab tidaklah menghambat pertumbuhan-Nya menjadi orang dewasa. Sebab sejak kecil, Ia telah akrab dan bergaul di seputar Bait Allah. Hal ini sudah terbina dengan dukungan orangtuanya. (Tentu kita ingat cerita Tuhan Yesus umur 8 hari sudah dibawa orangtua-Nya ke Bait Allah dan diterima Simon dan Hana, serta umur 12 tahun Ia bercakap-cakap dengan alim ulama di Bait Allah selama 3 hari).

 

Persektuan-Nya, dengan intensitas yang tinggi, terhadap Firman Allah membuat-Nya memperkenalkan dan mengembangkan suatu komunitas baru sebagai keluarga-Nya. Banyak orang beranggapan bahwa keluarga hanya sebatas jalinan darah atau daerah atau suku. Tetapi Yesus memperlihatkan bahwa relasi keluarga tidak hanya dibatasi dan ditentukan oleh silsilah marga dan relasi "parmudaron". Relasi dalam keluarga yang lebih baru adalah bila hidup dalam persekutuan dengan Firman Allah. Yesus memperbaharui sistem keluarga dengan Firman Allah. Yesus memperbaharui sistem keluarga yang tidak hanya tercipta karena hubungan marga atau adat tetapi lebih lagi karena hubungan oleh Firman Tuhan. Firman Tuhan yang membebaskan kita dari rantai-rantai ikatan dunia yang sering membelenggu kita, juga yang sering memisah-misahkan kita. Ia yang adalah Firman Allah telah mempersatukan kita dalam keluarga yang baru yakni keluarga Kerajaan Allah. Dengan demikian kita hendaknya tidak lagi membangun hubungan keluarga hanya karena pamargaon, atau oleh relasi materi dan harta, atau relasi yang saling menguntungkan secara finansial. Tetapi hendaklah kita bangun relasi keluarga karena sama-sama melakukan Firman Allah. Sebab relasi dengan dan karena Firman Allah, itulah yang membebaskan kita dari belenggu-belenggu dunia. Relasi oleh karena Firman Allah sifatnya kekal selama-lamanya. Amin! (AMS)

MINGGU XXII SETELAH TRINITATIS
 26 Oct

JAWABANNYA ADALAH MELAYANI

 

Melayani! Inilah jawaban Yesus untuk permintaan (ambisi) ibu anak-anak Zebedeus (Mat. 20 : 20 - 28). Jangan dulu menyalahkan Sang Ibu sebab dalam ayat paralelnya di Markus (10:35-45), Kedua anak itulah Yakobus dan Yohanes, yang meminta agar seorang duduk di sebelah kanan dan yang satu di sebelah kiri. Kekuasaan, itulah yang merasuki benak mereka. Dan sekarang juga itu yang menguasai hati/pikiran banyak orang. Ada gejala kuat di dalam komunitas agama (baca:gereja) hasrat berkuasa amat sangat kuat. Ambisi dan keinginan tidak selalu salah. Kita yakin banyak orang ingin memimpin untuk cita-cita mulia, karena mempunyai impian mensejahterakan rakyat/jemaat. Itu wilayah hati, hanya Tuhan yang mampu menghakimi. Kita, manusia biasa, tidak boleh menghakimi seseorang bahwa ia jahat (band. Mat. 7:1-2). Tetapi kita Sudahh banyak orang muak dan mual melihat perangai suap kiri kanan, tipu sana tipu sini, berbohong dan berpura-pura baik, untuk merebut kekuasaan, seperti yang marak terjadi di Pilkada, Pileg (Pemilihan Legislatif) dan Pil-pil lainnya. Begitu pula dirasakan orang di dalam pemilihan di lingkungan komunitas religius.

 

Permohonan yang diajukan dengan santun (biasa, kalau orang meminta) oleh ibu Yakobus dan Yohanes, langsung disergah oleh Yesus bahwa ibu dan anak itu tidak tahu apa yang mereka minta, sebab itu Ia mengingatkan yang akan mereka hadapi adalah penderitaan (disimbiolkan dengan cawan) sebagai risiko kemuridan (Mat. 20:22). Maka, saudara-saudara sekalian, yang sedang mengalami hambatan dalam beribadah, jangan kecil hati, jangan kecewa dan marah. Yesus sudah dengan gamblang membanyangkan di hadapan murid-muridNya tantangan berat di depan mereka. Namun disitulah Yesus membesarkan hati kita dengan ucapan "berbahagialah".

 

"Berbahagialah kamu, jika kamu Aku dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnakan segala yang jahat" (Mat. 5:11). Mengapa berbahagia? Sebab kita diperhitungkan! Kita hebat dan luar biasa. Pengikut Tuhan ditakuti dunia. Umat Allah dihambat karena dunia mencintai diri sendiri.

 

Yesus mengajar kita melanyani. Karena Tuhan mengandalkan kita. Dia melihat kita mampu. Syaratnya, mari kita mengandalkan Dia karena Dia terus memampukan kita melanyani sesama manusia. Itulah arti melayani Tuhan. Melayani Tuhan berarti melanyani sesama manusia. Jika kita melayani - dimana saja, apa pun pekerjaan ita - itu adalah anugerah semata. Dan yang utama lagi dengan melayani kita menerima Dia (imitatio Christi, meniru Kristus). Jangan takut. Buang rasa kecil hati. Apabila orang membenci kita, berbahagialah sebab itu pertanda kita sedang bekerja, sedang mengikuti Tuhan. Menjadi murid harus berani menerima resiko. The cost of discipleship, kata Bonhoeffer.

 

Barang siapa mengikuti Yesus mesti menyadari bahwa kita harus siap sedia memberi pertanggungan jawab kepada setiap orang (band, 1 Pet. 3:15). Melayani sesama haruslah total, sebagai ungkapan komitmen, bukti kesetiaan kepada Sang Pelayan Agung yakni Kristus yang mengutus kita melayani. Dia lebih dulu melakukannya secara total dengan menyerahkan diri-Nya "menjadi tebusan bagi banyak orang" (ayat 28). Marilah kita melayani untuk perubahan: dari melayani diri sendiri melayani orang lain demi menyatakan tanda-tanda kerajaan Allah seperti, damai, keadilan, kesehatan, memelihara lingkungan hidup dan harapan. Berbahagialah orang yang melayani. EMS.

MINGGU XXI SETELAH TRINITATIS : Minggu, 20 Oktober 2013
 21 Oct

Belajar Mengasihi

Markus 12:28-34

 

Ada pepatah melayu mengatakan: "Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati". Artinya, kita dimungkinkan jatuh cinta, melalui pertemuan mata dengan mata. Nas kita mengatakan bahwa kita harus mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati kita. Mungkinkah kita mengasihi Allah tanpa pernah berjumpa dengan Dia? Rasanya mustahil. Adanya tali rasa antara dua pribadi, dimulai dengan sebuah perjumpaan.

 

Sebuah pertanyaan diajukan kepada kita: “Mungkinkah kita berjumpa dengan Tuhan?” Jawabannya mungkin. Berjumpa dengan bertemu tidaklah sama. Bertemu itu berarti kita ketemu secara fisik. Sementara berjumpa dapat terjadi, tanpa pertemuan secara fisik. Tatkala hati kita bertemu dengan hati sesama, melalui komunikasi yang intens, maka kita pun dapat mengatakan: kita sudah berjumpa.

 

Perjumpaan itu terjadi, tatkala jalan pikiran kita, yang terdapat di dalam perkataan yang kita ucapkan, bertemu dengan jalan pikiran orang lain, juga melalui perkataan. Hal yang sama pun terjadi antara kita dengan Tuhan Allah. Jalan pikiran Allah terungkap dalam firman-Nya. Tatkala hati kita mengaminkan apa yang disuarakan Allah dalam firman-Nya, maka kedua jalan pikiran yang ketemu itu, terjadilah sebuah perjumpaan.

 

Hati kita ketemu dalam hati Allah melalui firman-Nya. Itulah sebabnya betapa pentingnya kita mendengar firman Allah secara berulang-ulang, sehingga terjadi pertemuan dengan Dia. Dalam firman itu, kita mengaminkan bahwa Allah mengasihi kita. Ia membuat kita segambar dengan diri-Nya sendiri. kasih Allah yang begitu luar biasa, juga akan menghasilkan kasih yang luar biasa pula di dalam hati kita. Oleh karena itu, sangat wajar jika kita mengasihi Dia dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan kita. Atau dengan perkataan lain, seluruh totalitas kita memberi respon terhadap kasih Allah yang dicurahkan kepada kita oleh Roh Kudus.

 

Sudahkah saudara berjumpa dengan Allah melalui firman-Nya? Yesus mengatakan kepada orang Farisi yang bertanya kepada-Nya tentang hukum yang utama: “Engkau tidak jauh dari kerajaan Allah”. orang yang membenarkan perkataan Tuhan Yesus, didekatkan ke dalam kerajaan Allah. hal yang sama pun terjadi dengan diri kita. Oleh karena itu, betapa kita perlu belajar untuk mengasihi Allah, dengan jalan mendengarkan firman-Nya secara berulang-ulang, sebagaimana disurakan nas epistel bagi kita pada minggu ini.

 

Buku nyanyian dari Gereja kita nomor 18: 1 mengatakan: “Ungkap bahal na ummuli, bagas ni Debatangki. Ai tu si do ahu naeng muli ganup jumpang Minggu i. Hulului do di si, bohi ni Debatangki”. Beribadah pada hari Minggu menurut syair nyanyian di atas pada hakekatnya berjumpa dengan Allah dalam kebaktian tersebut. Marilah kita belajar menjumpai Allah dalam ibadah kita, sehingga pada akhirnya kita pun jatuh cinta kepada-Nya. Jika hal ini terjadi, maka tidaklah sukar untuk melakukan kehendak Allah, karena kita sudah jatuh cinta kepada-Nya.

(St. Hotman Ch. Siahaan)

 

MINGGU XX SETELAH TRINITATIS, Minggu 13 Oktober 2013
 11 Oct

PERJANJIAN BARU DARI ALLAH

YEREMIA 31, 31-34

Sejak dahulu sampai sekarang, kita mengakui bahwa kita memiliki Allah yang setia, kasihNya tak pernah berkesudahan dalam kehidupan kita. Sejarah kehidupan umat Allah yang dituliskan oleh Nabi Yeremia memberitahukan kepada kita bahwa Israel berkali kali melanggar perintah Tuhan, tetapi Allah melalui nabi Jeremia menubuatkan akan datang waktunya, Allah akan membebaskan mereka dan mengadakan perjanjian baru dengan Israel dan kaum Yehuda. Bukan seperti perjanjian telah kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah mesir, dan perjanjian itu telah mereka ingkari. Allah mempertegas bahwa Israel telah gagal menepati janji mereka dengan Allah. Bangsa Israel  telah menerima perjanjian di Gunung  Sinai melalui Musa, namun  bangsa Israel  berulangkali melanggar hukum tersebut. Mereka meninggalkan Allah mereka dan pergi menyembah allah allah lain, menyembah berhala berhala yang dilarang oleh Allah, sehingga Tuhan memberikan ganjaran kepada  bangsa itu  dengan caraNya sendiri.  Mereka terbuang ke Babel  dan berada di bawah kekuasaan bangsa  lain dan mengalami berbagai penderitaan.

Allah tetap  perduli  dan  sangat mengasihi bangsaNya .Dia tidak mau kalau bangsaNya terus menderita. Seperti Bapak sayang kepada anaknya, demikianlah kasih sayang Tuhan, bahkan jauh lebih besar dari itu terhadap umatNya, walaupun anaknya selalu melawan,tetapi orangtua sangat mengharapkan anak itu bertobat dari kejahatannya. Tuhan tidak ingin anak-anakNya mati binasa dalam kejahatannnya dan selalu menantikan anak-anakNya kembali ke jalan yang benar, agar memperoleh kehidupan. Inilah statement dari Allah sendiri:  Aku akan menaruh tauratKu dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati merereka, itu berarti Tuhan yang berinisyatif menanamkan FirmanNya ke dalam hati bangsaNya,sehingga bangsaNya patuh kepada perintahNya.Tuhan yang membuat firman itu berakar dalam hati bangsaNya sehingga bangsaNya patuh kepada hukum  Tuhan. Dia sendiri yang  menuliskan FirmanNya dalam hati  manusia sehingga tetap dapat dibaca dan diingat akan perintah  dan mendarah daging dalam kehidupan umatNya.  Perjanjian Baru telah digenapi  dengan penebusan darah AnakNya Yesus Kristus. Perjanjian yang baru ini bukan hanya berlaku bagi bangsa Israel saja melainkan bagi semua yang percaya kepadaNya.  Biarlah kita semua yang telah ditebus oleh Yesus Kristus, selalu  mengingat pengorbananNya yang begitu besar untuk kita, sehingga senantiasa hidup di dalam kebenaranNya. Hiduplah sebagai orang-orang yang sudah diselamatkan.  Amen

MINGGU XVIII SETELAH TRINITATIS
 28 Sep

"Neraca Penerima dan Pemberi"

 

Ada 2 perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus mendahului nats khotbah hari Minggu ini, yakni perumpamaan tentang "Gadis-gadis yang bijaksana dan yang bodoh" (Mat. 25:14-30). Kedua perumpamaan itu hendak mengingatkan setiap orang agar dengan hidup bijaksana dalam mempersiapkan dirinya untuk menantikan kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Orang-orang beriman meyakini bahwa pada saat kedatangan-Nya yang kedua di sana akan ada penghakiman kepada semua orang dan masing-masing orang pun haruslah mempertanggungjawabkan semua perbuatannya selam hidupnya di dunia ini. Karena itu bila pun Tuhan telah mengaruniakan kepada kita berbagai berkat, talenta dan berbagai hal lainnya yang menjadi kelebihan serta keistimewaan kita, tentu kita sangat bersyukur kepadaNya atas kemurahan hati-Nya kepada kita. Tetapi tidak cukup hanya sampai disitu sikap kita sebagai orang-orang yang menerima berkat-Nya, lebih daripada itu, kiranya kita boleh mendayagunakannya agar terus berbuah dan semakin lebat sehingga menjadi berkat serta sukacita bagi lebih banyak orang lagi yang berinteraksi dengan kita.

 

Dalam nats khotbah hari ini Yesus lebih menegaskan lagi makna dan peran kita di tengah-tengah pola pikir dunia yang cenderung mengutamakan dan memperhatikan orang-orang terpandang, terhormat dan orang-orang kaya menurut dunia ini serta mengabaikan kaum miskin, lemah, tak berdaya dan hina. Pengajaran Yesus kali ini merupakan pernyataan Yesus akan tugas dan tanggung jawab kita sebagai pengikut-Nya terhadap saudara-saudara kita yang terpinggirkan. Kualitas hubungan kita kepada Tuhan Yesus, hendaknya dibuktikan dengan sikap dan perbuatan baik kita khususnya kepada orang-orang yang hina, lemah, miskin serta terpinggirkan.

 

Itu sebabnya melalui nats khotbah ini, Tuhan Yesus menyatakan kehadiran diri-Nya melalui orang-orang hina, papah dan tak berdaya. Tuhan Yesus tidak hanya hadir dalam bentuk diri-Nya seperti dalam gambar-gambar diri-Nya yang selama ini kita lihat, Ia juga tidak hanya hadir dengan segala kuasa dan kemampuan untuk membuat mujizat-mujizat, Ia tidak hanya hadir dalam kefasihan mengajar dan berkhotbah yang sangat mengagumkan tetapi Ia sungguh-sungguh hadir dalam diri orang-orang yang lemah, sengsara, miskin dan hina.

 

Berunglangkali Tuhan Allah menyatakan keprihatinan-Nya kepada manusia yang miskin dan menderita karena nafsu dan keserakahannya. Berulangkali Tuhan memperlihatkan solidaritas-Nya kepada umat manusia yang hina karena dosa-dosa dan cela yang diperbuatnya. Berulangkali juga Tuhan Allah menyatakan kehadiran-Nya di dunia ini bukan saja ketika Tuhan Allah hadir melalui kelahiran Putera-Nya yang tunggal Tuhan Kristus lebih dari 2000 tahun lalu dikandang doma yang kotor, hina dan menyesakkan itu. Tetapi juga Ia menyatakan kehadiran-Nya kini atau kapan saja ketika orang-orang miskin dan kaum lemah di samping kita.

 

Ini tentu hendak mengubah paradigma dan cara hidup beriman kita yang selama ini bila kita datang menghadap-Nya dengan segala kemegahan yang ada pada kita padahal itupun kita hanyalah mengharapkan belas kasihan-Nya untuk keampunan dosa-dosa kita kepada-Nya dengan harapan akan menerima pertolongan-Nya dalam setiap kesulitan dan pergumulan hidup kita. Nats khotbah ini hendak mengajar kita agar kita juga membuka diri memperhatikan menjadi pemberi pertolongan kepada Dia. Bila kita menjadi pemberi pertolongan kepada-Nya bukanlah karena kehebatan atau kedigdayaan kita atau bukan karena Ia tidak mampu untuk menseimbangkan neraca berkat dalam hidup kita. Kita bukan hanya sebagai Penerima tetapi juga menjadi Pemberi berkat dan pertolongan khususnya kepada saudara-saudara kita yang miskin, lemah dan hina. Rasul Petrus pernah mengajarkan, sambil mengingat perkataan Tuhan Yesus, bahwa "adalah lebih berbahagia orang yang memberi daripada menerima", (Kisah 20 : 35b). Sejak gereja mula-mula telah diajarkan bahwa "Ibadah yang sejati, yang  murni dan tak bercacat di hadapan Allah Bapa adalah mengunjungi yatim-piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka" (Yakobus 1:27). Hendaklah setiap perbuatan baik yang kita lakukan bukanlah hanya sekedar buah-buah moral atau tindakan karitatif semata namun sebagai praksis hidup yang semestinya dari kita sebagai pewaris janji keselamatan dari Tuhan Allah. Artinya perbutan-perbuatan baik atau kebajikan-kebajikan yang kita lakukan menjadi "habit" oleh karena Kasih Kristus yang tinggal dan hidup di dalam diri kita (bandingkan dengan Galatia 2;20, "Sebab Kristuslah yang hidup di dalam aku". Tuhan memberkati, amin! (AMS)

MINGGU XVI SETELAH TRINITATIS
 13 Sep

SEMUA KARENA KASIH KARUNIA TUHAN

1 Timotius 1 : 12 - 27

Semua karena kasih karunia Tuhan, itulah kesaksian Paulus terhadap Timotius. Kesaksian itu disampaikan untuk memotivasi dan mendorong Timotius agar hidup sebagai pelayan yang sungguh-sungguh menghargai kesempatan pelayan yang diberikan Tuhan. Paulus mengingatkan Timotius sebagai seorang yang masih muda, agar menyadari kesempatan dan kepercayaan yang diberikan oleh Tuhan, agar ia melayani dengan baik, memiliki iman yang kokoh dalam menghadapi pengajar-pengajar palsu dan bagaimana Timotius dapat menjadi seorang pengajar dan seorang pelayan yang berintegritas. Paulus menyadari, sebelum ia bertobat, ia adalah seorang yang menganiaya orang Kristen dengan kejam. Kejahatannya yang amat sangat terhadap umat Allah menyebabkan dia layak dinamakan sebagai orang yang paling berdosa, namun Allah menunjukkan kemurahan dan panjang sabar serta memberi kesempatan kepadanya untuk bertobat dan menerima Kristus sebagai Tuhan. Itulah sebabnya dalam perikop ini, Paulus menaikkan syukur untuk keselamatan yang ia peroleh, serta meyakini kalau ia dapat melayani Tuhan, itu adalah kasih karunia, sebuah kesempatan dan kepercayaan dari Tuhan. Paulus yang menurut dirinya sendiri tidak layak namun diberi kesempatan oleh Tuhan melayani umatNya.

Mengenal diri, sebagai orang yang tidak layak tetapi dilayakkan oleh Tuhan, membuat Paulus tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan yang dikenalNya sebagai Tuhan Maha Kasih. Kesadaran itulah yang juga mendorong dia untuk sungguh-sungguh melayani Tuhan, dan menjadi contoh bagi orang-orang percaya. Adalah patut kita bersyukur untuk segala sesuatu yang kita peroleh dalam hidup ini. Untuk pekerjaan, untuk keluarga dan pelayanan yang dipercayakan Tuhan kepada kita, terutama untuk pengampunan dosa dan janji keselamatan dan pengharapan hidup yang kekal dalam Yesus Kristus.  Kita bersyukur terhadap kasih dan kesetiaan Tuhan Yesus, yang menebus kita dari dosa dan mempercayakan suatu pelayanan yang dapat kita lakukan hanya oleh kekuatan dari-Nya. Marilah kita makin setia melayani-Nya dengan tulus dan tidak sombong diri  melainkan mau merendahkan diri. Yesus sebagai pelayan-Nya yang setia.

Jika kita dipanggil-Nya, dan jika kita dapat melayani-Nya, itu bukan karena kelebihan ataupun kehebatan kita, tetapi itu semua adalah kasih karunia Tuhan. Biarlah kita sungguh-sungguh menyadari kasih karunia Kristus Yesus dan tidak menyia-menyiakannya. Lakukanlah yang baik dan jauhilah yang jahat. Jangan lelah bekerja di ladangNya Tuhan.  Hiduplah dengan penuh ucapan syukur dan layanilah Dia. (MKP)

Minggu XV SETELAH TRINITATIS
 07 Sep

Pohon

Matius 7:15-23

 

Tuhan Yesus sering memakai perumpamaan dalam rangka menyampaikan pengajaran-Nya, supaya para pendengar cepat menangkap makna dari apa yang hendak dikatakan-Nya. Manusia diumpakan seperti pohon. Pohon yang baik, senantiasa berbuahkan yang baik. Demikian juga dengan sebaliknya.

 

Seseorang dapat menjadi baik, oleh karena pengajaran yang dia terima di dalam hidupnya. Pengajaran yang benar, akan menghasilkan sesuatu yang benar. Berbicara tentang pengajaran, tak mungkin lepas dari pengajarnya. Dimana-mana, kita senantiasa menemukan pengajar yang baik dan pengajar yang jahat. Oleh karena itu, betapa kita perlu meneliti pribadi seorang pengajar. Yesus mengatakan bahwa para pengajar itu disetarakan dengan nabi. Ada nabi yang benar, ada nabi yang palsu.

 

Allah Bapa di surga telah memberikan pengajar yang sungguh amat baik bagi kita, yakni Roh Kudus. Oleh karena itu, seorang Kristen adalah seorang yang diajar oleh Roh Kudus di dunia ini. Paulus mengatakan kepada Jemaat di Galatia, agar mereka memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus.

 

Di dalam diri kita, Allah memberikan sebuah detektor, untuk mengenali apakah seorang itu pengajar yang baik atau bukan. Detektor itu ialah produk dari pengajar itu sendiri. Sudah kita katakan di atas, pengajar yang baik akan menghasilkan buah yang baik. Roh Kudus akan memberikan kepada kita, pengetahuan akan buah yang baik, sehingga kita dapat menentukan apakah buah yang dihasilkan orang itu adalah buah yang baik.

 

Perbuatan semata-mata, tidaklah dapat dijadikan tolak ukur tentak buah yang baik. Sebab ternyata, ada perbuatan yang baik dikategorikan Yesus sebagai buah yang tidak baik. Berbuat mujizat dan mengusir setan dapat kita katakan sebagai sesuatu yang baik. Tetapi ternyata Tuhan mengatakan hal itu adalah sesuatu yang jahat di mata-Nya? Mengapa? Karena pada dasarnya, iman kepada Yesus Kristus tidak terlibat di dalam perbuatan baik tersebut.

 

Itulah sebabnya kita sangat penging memahami pengajaran yang disampaikan orang kepada kita. Apakah orang tersebut meninggikan Kristus di dalam pengajaran yang sedang disampaikannya kepada kita? Ataukah ia sedang meninggikan diri sendiri, melalui pengajaran tersebut. Alkitab mengatakan, agar kita menguji segala sesuatu. Alat penguji itu adalah iman yang dikaruniakan kepada kita.

MINGGU XIII SETELAH TRINITATIS
 23 Aug

APABILA...MAKA, BERKAT ITU BERSYARAT!

(Yesaya 58 : 9b - 14)

Semua kita suka ketenangan, damai dan kemakmuran. Semua kita mengharapkan dapat membangun rumah atau usaha. Kita ingin sandang, pangan dan papan cukup dan apabila mungkin banyak dan menyenangkan hati. Namun sering sekali harapan kita hanya terpusat pada diri sendiri. Kita lupa jikalau kita menghendaki cukup pangan orang lain juga. Apabila kita mengharapkan memiliki rumah orang lain juga mengharapkan yang sama. Apabila kita menginginkan ketertiban maka setiap orang mesti mengikuti "budaya antri". Janganlah hanya kita kenyang sementara orang lain kelaparan. Jangan hanya kita dilayani cepat tetapi memotong antrian, mengabaikan hak orang lain yang sudah antri mulai pagi.

 

Umat Allah pada zaman Yesaya kembali dari pembuangan. Harapan menggebu-gebu di saat perjalanan pulang akan mendapat kemudahan membangun kembali "kampung halaman" perlahan-lahan menguap. Banyak kendala! Kampung rusak parah! Semua orang apatis! Bagaimana ini? Mana janji muluk para nabi bahwa Yerusalem akan bersinar kembali! Semua orang mengimpikan keadaan lebih makmur tetapi semua kecewa. Di saat demikian Yesaya mengingatkan bahwa berkat itu bersyarat. Hanya di dalam perikop kita ini saya (Yesaya 58:9b-14) dipakai kata "apabila" sebanyak lima kali "Apabila" adalah istilah yang mengandaikan jika ditaati akan mewujudkan "hasil"; ibarat janji dan pemenuhannya. Apabila kita ingin bebas jangan menindas orang lain. Agar kita menikmati "terang" istilah simbolis untuk keadaan sejahtera maka jangan memasang kuk pada orang lain, jangan sering menuduh orang atau menfitnah sebab hal itu sama dengan ketamakan; biar orang susah asal saya senang. Memperhatikan orang lain dengan sering, adalah syarat utama membangun kemakmuran: pengairan akan bagus dan tembok-tembok akan berdiri kokoh. (ayat 10-12). Begitu juga ibadah (hari Sabat) dan hari libur. Semua orang ingin hal yang sama. Jika kita mengurus urusan pada hari Sabat maka orang lain juga akan terpengaruh. Akibatnya, agama dijalankan asal-asalan dan tidak fokus. Kesenangan atau kenikmatan hidup tercapai. Apabila dalam beragama menghargai hak-hak orang lain (ayat 13-14).

 

Kita sering sekali "meringankan" hal beragama dengan menganggap Tuhan itu baik, Dia mendengar doa, Dia maha pemurah, Dia kasih, dan sebagainya. Benar! Tidak salah! Tetapi kalau hanya sebatas untuk diri sendiri, kita menjadi orang egois, kita tidak peduli orang lain dan tidak melakukan kehendak Tuhan. Acap kali kita beragama tetapi melupakan sesama, beribadah tetapi menindas orang lain. Tuhan Yesus menegaskan kasih kepada Allah sama nilainya dengan mengasihi sesama (Mat. 22:37-42). Itulah cara membangun kesejahteraan: kita makan maka itu tidak punya nilai apabila orang lain kelaparan. Sebenarnya selama masih ada orang lapar maka kita belum patut bersyukur. Selama masih ada orang tertindas maka kemerdekaan kita belum lengkap. Orang yang bebas mesti melepaskan orang lain dari penindasan! Menyembah Tuhan berarti mengasihi sesama. Dua wajah dari satu koin. (Pdt. Dr. Einar M. Sitompul)

MINGGU XII SETELAH TRINITATIS
 19 Aug

Arti Kemerdekaan Bagi Kekristenan

(Yohanes 8 : 30-36)

 

Saudara-saudara yang terkasih,

Semua kita pasti ingin hidup sebagai orang-orang yang merdeka, baik secara jasmani maupun secara rohani. Tetapi persolannya, sekrang ada banyak orang yang tidak menyadari, bahwa sebenarnya mereka masih hidup didalam keadaan terikat, yaitu terikat oleh dosa dan hal-hal duniawi.

Apa konsep Alkitab tentang kemerdekaan Kristen :

1.       Kemerdekaan Kristen berhubungan erat dengan pengetahuan seseorang. (ayat. 32)

Jika kita mengerti kebenaran, maka kebenaran itu akan memerdekakan kita, dan kebenaran itu adalah Firman Tuhan. Pendengaran akan Firman Tuhan, membangkitkan iman kita untuk dapat meraih mujizat-mujizat Tuhan.

2.       Kemerdekaan Kristen mutlak didapat hanya di dalam kebenaran. (ayat 32).

Jangan harap kita bisa hidup merdeka, jika kita masih hidup didalam dosa. Firman Tuhan adalah kebenaran yang akan membongkar setiap konsep yang tidak benar didalam hidup kita (Yoh. 17: 16-17).

3.       Seorang yang merdeka akan tampak sekali perbedaannya dengan orang lain. (ayat 34-35)

Perbedaan yang tampak dalam tekadnya, yaitu untuk hidup kudus dan tampak dalam segala berkatnya (berkat seorang anak berbeda dengan berkat seorang hamba).

Kemerdekaan bagi orang percaya adalah, mengetahui segala kebenaran dengan jelas dan hidup di dalamnya. Artinya tidak terikat dosa lagi, dan hidup sebagai anak-anak Allah.

Refleksi :

Kita harus bersyukur, karena hidup kita telah di merdekakan oleh Tuhan, 68 tahun Indonesia telah merdeka.Untuk itu sebagai orang percaya, kita harus tetap taat dan setia kepada Tuhan, sehingga Tuhan akan selalu menolong dan menuntun hidup kita.Kemerdekaan Kristen adalah kebebasan berekspresi melakukan kasih dengan landasan kasih Kristus. Orang percaya hendaknya selalu mengingat dan menghargai proklamasi kemerdekaannya yang sudah di kumandangkan Yesus dalam peristiwa salib dan kebangkitannya. Karena itu hendaklah senantiasa berdiri teguh sebagai pemenang dan menolak segala kuk perhambaan. Ia bukan hamba siap-siapa tetapi ia menjadikan dirinya menjadi hamba kepada semua orang supaya dapat melayaninya dan memenangkannya untuk Tuhan. Pembebasan di dalam Kristus telah mengangkat orang percaya menjadi anak-anak Tuhan, yang berhak tinggal di rumah Bapa dan sebagai ahli waris Kerajaan Allah. Salam merdeka!!!(Pdt. Osator Simanjuntak, MTh)

MINGGU XI SETELAH TRINITATIS
 09 Aug

Keadilan Sosial

Amos 8 : 4 - 7

Nabi Amos menyuarakan firman Tuhan kepada bangsa Israel, tatkala bangsa itu berada dalam keterpurukan masala sosial. Istilah modern sekarang ini dapat diterapkan kepada mereka pada waktu itu, yakni : eksplotatio de lhomme par lhomme. Manusia mengeksploitasi sesamanya.

Salah satu masalah yang disoroti Nabi Amos ialah: keadilan sosial. Celakanya, orang masih terus melakukan ibadah kepada Tuhan, tetapi tidak ada korelasi dari ibadah itu, terhadap sesama manusia. Malah mereka tidak lagi memperdulikan substansi dari ibadah itu sendiri. Satu hal yang menarik ialah: mereka tetap tidak dapat melepaskan diri dari ibadah kepada Allah. Namun di sisi lain, mereka tidak lagi peduli dengan substansi dari ibadah itu sendiri.

Sebaliknya, mereka menginginkan agar ibadah itu  cepat berakhir, sehingga mereka dapat melaksanakan program mereka. Hal yang sama pun kita temukan di dalam kehidupan beribadah kita dewasa ini. Di satu sisi kita tidak dapat melepaskan diri dari aktifitas untuk beribadah. Namun kita tidak lagi percaya akan makna ibadah itu sendiri. Kita tidak lagi dapat mengikuti acara ibadah yang panjang. Sebab kita telah kehilangan makna ibadah yang sesungguhnya.

Kita lebih fokus terhadap kegiatan kita yang sudah dirancang untuk dilaksanakan. Aktifitas kita, dilaksanakan dalam rangka memenuhi kepentingan kita semata-mata. Malah kita memanfaatkan keberadaan orang lain demi kepentingan diri kita sendiri. Ada ungkapan yang terdapat di dalam sekelompok orang yang egois: jika ada orang bodoh, tidak dibodobodohi, maka kita pada dasarnya adalah bodoh. Apalagi memberikan pertolongan kepada mereka.

Prinsip inilah yang dilaksanakan orang kaya pada zaman Nabi Amos, sehingga Allah mengutus dia untuk menyatakan kehendak-Nya bagi bangsa Israel. Orang tidak lagi menjalankan bisnis mereka dalam kejujuran. Mereka memanfatkan kebodohan orang banyak, demi mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya bagi mereka. Bukankah prinsip ini juga dianut oleh banyak pebisnis pada zaman ini? Oleh karena itu, nas kita ini sangat relevan bagi kita sekarang ini.

Untuk mereka yang membuat orang lain menderita demi keuntungan mereka, Allah bersumpah, bahwa Ia tidak akan melupakan perbuatan mereka. Itu berarti, Allah akan bertindak atas semua orang yang tidak mengupayakan keadilan sosial bagi sesama mereka. Orang ini beribadah, tetapi tidak ada relevansi dari ibadahnya terhadap orang lain. Ibadah seperti itu adalah sebuah ibadah yang dilawan oleh Allah.

Adakah relevansi ibadah yang kita lakukan itu, terhadap sesama manusia yang ada di sekitar kita? Ibadah yang sejati ialah: ibadah yang penerapannya terlaksana dalam relasi kita dengan sesama. Bagaimana dengan ibadah yang saudara dan saya lakukan?

(St. Hotman Ch. Siahaan)

MINGGU X SETELAH TRINITATIS
 05 Aug

"MATA TUHAN TERTUJU KEPADA ORANG-ORANG BENAR"

(1 Petrus 3 : 8 - 12)

Saudara-saudara, sama seperti kitab-kitab lain, Surat Petrus juga berbicara tentang thema Jemaat dan juga thema tentang Allah, di mana penulis kitab Petrus berupaya menyampaikan nilai-nilai hidup atau rohani untuk memelihara persekutuan yang intim atau erat dari umat dengan Tuhan Allah. Kitab Petrus ini menyampaikan Firman Tuhan untuk membimbing, menggembalakan serta menguatkan warga jemaat di tengah-tengah realita hidup yang harus dihadapi dan dialami sebagai konsekuesi pengikut Kristus yang hidup di dunia yang tidak menerima kehadiran Kristus. Firman Tuhan yang menjadi nas khotbah pada hari Minggu ini adalah wujud dari pergumulan dan pergulatan Rasul Petrus sewaktu memberitakan Injil Kristus dan dalam membimbing jemaat-jemaat yang sudah mulai berkembang di tengah-tengah berbagai ancaman dan penyiksaan yang dialami pada waktu itu.

 

Gereja kita HKBP menetapkan thema Minggu ini dengan "Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar". Menjadi pertanyaan siapakah orang-orang benar itu? Apakah kita sebagai orang percaya atau pengikut Kristus termasuk di group (bhs Batak:horong) orang-orang benar tersebut? Adakah yang menjadi standard acuan atau kriteria untuk mengidentifikasi dan melakyakkan status seseorang supaya termasuk dalam kategori sebagai bahagian orang-orang benar? Ada beberapa tokoh Alkitab dalam Perjanjian Lama yang bahkan sering dikutip ke dalam Perjanjian Baru dan dikategorikan sebagai orang-orang benar, misalnya Henokh, Nuh, Abraham, Musa, Raja Daud, Elia serta para nabi lainnya. Berbagai karakter atau tipe ditampilkan oleh para tokoh Alkitab tersebut. Masing-masing punya profil sendiri. Sosok pribadi Abraham yang kalem, tenang dan bersahaja bahkan sosok Musa yang cenderung pemalu dan penakut ternyata sangat berbeda dengan yang diperlihatkan oleh para nabi yang cenderung tegas, keras, berterus terang tentang Kebenaran Firman Tuhan yang mereka suarakan dan berani menghadapi resiko oleh karenanya. Berbagai tipe dapat kita lihat dari mereka yang disebut sebagai orang-orang benar tersebut yang satu sama lain umumnya berbeda. Tetapi satu hal yang pasti bahwa pemeliharaan Tuhan Allah dalam hidup mereka dengan jelas terlihat walau mereka menghadap berbagai masalah, persolan dan kesusahan serta yang mengancam jiwa mereka sekali pun.

 

Kategori sebagai orang benar bukanlah ditentukan usaha sendiri namun adalah oleh Anugerah, Tindakan, Perbuatan dan ketetapan Allah semata. Itulah yang dipersaksikan oleh pemazmur dalam nas Epistel (Mazmur 34:12) bahwa Tuhan mendengar seruan orang-orang benar dan melepaskan mereka dari kesesakan sebab Ia Tuhan sangat dekat orang-orang yang patah hati dan yang remuk jiwanya. Dengan demikian orang-orang benar mempunyai kedekatan hubungan dengan Tuhan Allah dan selalu berseru kepada-Nya. Kedekatan hubungan dengan Allah itulah yang diwujudkan dan disempurnakan oleh Kristus ketika Ia datang ke dunia ini sehingga setiap orang yang percaya kepada-Nya dibenarkan di hadapan Allah. Kristuslah menjadi jalan pendamaian umat dengan Tuhan Allah. Siapa pun yang hidup di dalam Kristus maka ia adalah salah seorang dari kaum orang-orang benar dan tentu termasuk kita diantaranya. Lalu sama seperti yang dipersaksikan oleh pemazmur betapa dekatnya Tuhan Allah kepada orang-orang benar demikian Tuhan dekat dengan kita. Dalam kelemahan dan kondisi real hidup kita, juga dalam kesusahan, pergumulan serta kerinduan hati kita, Tuhan Allah tertuju kepada kita. Rasul Petrus juga mengingatkan kita bahwa ciri-ciri dari orang yang benar adalah mempraktekkan karakter Krisstus di dalam dirinya. Hidup dalam perdamaian, sehati sepikir, penyayang, penuh pengampunan, belas kasih dan menjauhi hal-hal yang jahat di mata Tuhan. Selamat hari Minggu, Tuhan memberkati bakti kepada-Nya sepanjang hari ini, amain! (Pdt. Arthur Sitorus)

 

MINGGU IX SETELAH TRINITATIS
 27 Jul

KEPADA SIAPAKAH SAYA MENJADI SESAMA MANUSIA?

(Lukas 10 : 25 - 37)

 

Salah satu buah modernisasi ialah besar kemampuan mengurus diri sendiri: kita mampu mengerjakan banyak pekerjaan dalam satu waktu dan dengan kecanggihan alat komunikasi apa yang kita perlukan dapat tersedia dalam waktu cepat. Terdapat tanda mencolok kemajuan tehnologi berjalan bergandengan dengan menipisnya sikap kepedulian terhadap sesama. Karena kita fokus pada diri sendiri (menikmati) maka orang lain semakin diabaikan. Di saat kita mampu mengerakkan segala kesenangan ke diri sendiri, kita merasa pandangan tertentu yakni saya berhak memakasi semua kemampuan (terutama finansial) yang saya miliki memenuhi segala bentuk mengurus diri sendiri tanpa memperdulikan orang lain adalah falsafah hidup masyarakat makmur. Mereka memang bukan orang jahat. Mereka justru warga negara yang baik : membayar pajak tepat waktu, rajin menyumbang pada acara amal dan taat hukum, tetapi biarkan saya bersenang-senang dengan kegiatan saya.

 

Nah, ketidak-pedulian itu rupanya merasuk ke dalam kehidupan umat beragama. Beragama saja dalam arti memenuhi kewajiban ritual dan hukum agama tidak cukup. Sebab mereka hanya mengurus diri sendiri. Sekarang pertanyaan jika ada yang menderita, hampir tewas, siapa yang harus menolong? Bagaimana sikap kita seharusnya: apakah melihat korban orang apa, apakah saya mendahulukan tugas rutin sementara orang itu memerlukan pertolongan, atau apakah diperbolehkan agama kita membiarkan saja? Pertanyaan ini terkait dengan pertanyaan pemuka agama (ahli Taurat, ahli hukum agama) tentang siapakah sesama manusia (Luk. 10:29). Menjawab itu Yesus mengajukan cerita perumpamaan. Perumpamaan diangkat dari peristiwa sehari-hari, dan semua orang maklum, tetapi sering dengan arah yang mengejutkan. Cara seperti itu sering di dalam dunia pengajaran Timur Tengah dan Yesus akrab dengan dunia itu sebab Dia seorang guru (rabi).

 

Seorang imam (pemimpin ibadah) mungkin sedang menuju rumah ibadah karena sedang dilirannya bertugas - melewati saja seseorang yang luka parah dari seberang jalan. Seorang Lewi (anggota kelompok imam) melakukan yang sama! Lihat, betapa ironisnya peristiwa dalam cerita di dalam Lukas 10 : 25 - 37 ini. Tokoh-tokoh agama pasti orang saleh dan terpuji perilakunya, mengabaikan orang yang sedang kristis. Mereka sangat hanya fokus pada diri sendiri, mereka rupaya sangat mementingkan profesi sampai-sampai tidak peduli terhadap orang yang sedang sekarat. Tidak ada yang salah pada diri mereka. Mereka tidak melanggar hukum, bukan orang jahat, tetapi orang yang sangat tekun.

 

Saudara-saudara. Keselamatan seseorang terancam jika kita tidak peka terhadap situasinya yang gawat. Ini bukan soal seagama, seiman, sesuku dan kerabat. Tetapi di saat ada orang sedang di ambang maut, ia menjadi persoalan manusia, manusia darah dan daging, yang setiap saat dapat mati. Namun demikian kita dapat menolong dia dengan memberi perhatian. Lihat, Orang samaria (orang sesat, kata orang Yahudi), dia tidak menanyakan apa-apa tetapi langsung menolong secara tuntas, all out. Perhatikan istilah yang dipakai, sangat aktif: melihat, tergerah, pergi kepadanya, membalut, menyiram dengan minyak dan anggur, menaikkan ke atas keledai, membawa ke penginapan, merawat, membayar uang sewa, dan jika kurang akan dilunasi (ayat 33 - 35). Betapa besar perhatiannya, lebih dari seharusnya, lebih dan biasa, sebab yang sedang dihadapinya kasus luar biasa! Kasih memerlukan kepekaan dan tindakan yang khusus. Itu dapat bejalan apabila orang beragama peduli. Orang saleh, religius,  tetapi egois (selfish), tidak menolong orang lain. Masyarakat memerlukan orang yang solider terhadap penderitaan. Itulah cara menjadi berkat. Rumusan pertanyaan harusnya : kepada siapakah saya menjadi sesama? Tentu kepada orang yang menderita! Maka kata Yesus: "Pergilah, dan perbuatalah demikian"! Amin. (Pdt. Dr. Einar M. Sitompul)

MINGGU VIII SETELAH TRINITATIS
 20 Jul

Tinggal di dalam Kristrus

Yohanes 15 : 9 - 17

Nas kita ini adalah bagian dari kata perpisahan Tuhan Yesus dengan para murid. Yesus akan pergi ke surga, setalah menjalani penderitaan di kayu salib. Relasi Yesus dengan murid-murid menjadi berubah. Yesus menggambarkan relasi baru itu dengan istilah: tinggal di dalam Dia. Agar para murid mengerti akan makna dari ungkapan tersebut, maka Yesus membuat sebuah perumpamaan, yakni pohon anggur yang benar.

 

Yesus pun mengungkapkan makna dari tinggal di dalam Dia, melalui uraian-Nya dalam nas kita. Tinggal di dalam Dia, itu berarti tinggal di dalam kasih-Nya. Yesus mengatakan bahwa kasih-Nya kepada para murid, sama dengan kasih Allah Bapa kepada diri-Nya sendiri. Kasih Allah Bapalah yang mengutus Anak-Nya jadi manusia, dan kasih yang sama pula yang membawa Dia mati di kayu salib. Kita tahu  bersama, melalui salib itulah Yesus ditinggikan di atas segala nama. Kasih seperti itulah yang kita nikmati di dalam Kristus Yesus.

Sisi lain yang diajarkan Tuhan Yesus kepada kita, bilamana kita tinggal di dalam Dia, maka kita akan melakukan perintah-Nya. Acuan yang diberikan Tuhan Yesus kepada kita ialah: sebagaimana Ia menaati friman dari Allah Bapa-Nya. Kristus pun menghendaki agar kita menaati firman itu, sebagaimana Ia menaatinya. Itulah tanda dari orang yang tinggal di dalam Dia.

Orang yang tinggal di dalam Kristus, mereka itu adalah orang yang mengasihi sesama. Dalam 13:34-35, jelas Yesus memberikan perintah baru kepada para murid, supaya mereka saling mengasihi. Itulah cara mereka untuk memperkenalkan Yesus kepada dunia ini. Persekutuan orang orang yang tinggal di dalam Kristus, diwarnai oleh kasih terhadap sesama, sama seperti kasih Kristus kepada tiap tiap pribadi.

Orang yang tinggal di dalam Kristus, akan mengalami sukacita. Sukacita itu kata Tuhan adalah sukacita yang penuh. Menurut Tuhan, Sukacita itu adalah sukacita-Nya sendiri. Sukacita itu pun adalah sukacita yang khusus. Sebab mereka akan melihat Dia bangkit dan naik ke surga. Di samping itu, sukaicta itu adalah produk dari Roh Kudus di dalam diri mereka. Sukacita itu pun adalah sukacita karena mereka telah diciptakan menjadi manusia baru.

Tinggal di dalam Dia, itu berarti kita menjadi sahabat Yesus. Kita tidak lagi disebut sebagai hamba. menjadi sahabat itu berarti relasi kita dengan Dia akan berjalan dalam keintiman. Dunia memahami relasi manusia dengan Allah adalah relasi tuan dan hamba. orang yang tinggal di dalam Kristus, tidak mengenal relasi seperti itu.

Sebuah pertanyaan yang perlu kita ajukan ke dalam diri sendiri: apakah saudara dan saya sudah tinggal di dalam Dia berdasarkan uaraian di atas? Biarlah kita menjawabnya dengan hati yang jujur. HCS
MINGGU VII SETELAH TRINITATIS
 13 Jul

1 Raja-Raja 3 : 4 - 14

Thema : Hati yang penuh Hikmat

Nats ini berbicara tentang penampakan diri Allah kepada Salomo yang terjadi di Gibeon. Merupakan bukit pengorbanan yang sering dipergunakan untuk mempersembahkan kurban bagi Allah. Tempat itu sanggup menampung seribu korban bakaran yang dipersembahkan Salomo kepada Allah. Allah menampakkan diri kepada Salomo melalui mimpi ketika dia sedang tertidur. Allah menampakkan diri kepada Salomo dan memberitahukan bahwa Allah akan mengabulkan permintaannya. Apa yang diminta Salomo sangat simple dan terkesan sederhana tetapi memiliki makna yang amat dalam, yakni hati yang penuh kebijaksanaan (berhikmat). Amsal 1:7, Takut akan Tuhan adalah permulaan dari pengetahuan,tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan. Didalam PL kata hikmat artinya : Bijaksana yg datang dari Allah,  mampu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak dikehendaki oleh Allah. Ini dibuktikan Salomo ketika nats ini bergulir pada suatu cerita dimana Salomo harus membuat keputusan yang menyangkut hikmat dia sebagai Raja (dibaca ya, 1 Raja-Raja 3: 16-28).  Salomo sudah tahu apa yang terbaik yang harus dilakukannya, sehingga ia memohon kepada Tuhan hikmat kebijaksanaan agar dia dapat memimpin bangsa Israel dengan baik sesuai dengan kehendak Tuhan. Pada zaman sekarang ini sulit mencari orang yang ingin menjalankan kebenaran didalam hidupnya seperti Salomo, terbukti didalam doa-doa orang percaya yang selalu meminta kepada Tuhan umur panjang, kesehatan, rejeki, penyertaan Tuhan, tetapi tidak ada yang meminta “berikan aku hati supaya bisa membedakan mana yang dikehendaki oleh Tuhan dan yang tidak dikehendaki oleh Tuhan yang harus kujalankan didalam kehidupan ini. Jarang sekali orang meminta kepada Tuhan (dalam doa syafat ) meminta supaya aku jujur dan selalu adil sesuai dengan kehendak Tuhan. Firman Tuhan dimana Paulus mengatakan : O,alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah, Rom 11 : 33, 0leh Roh Kudus mengetahui semuanya itu, juga orang percaya yang sudah menerimaRoh Kudus.

Diperlukan kerendahan hati yang sangat kuat dalam meminta kepada Allah. Tuhan memberikan hikmat kepada Salomo, namun bukan semua jenis hikmat, melainkan hanya hikmat dalam bertindak adil dalam memerintah bangsa Israel. Tidak termasuk di dalamnya, antara lain hikmat susila yang terbukti di kemudian hari Salomo gagal dalam urusan yang satu ini. Setiap orang bisa memintakan hikmat kepada Allah, namun – sebagaimana juga berlaku pada permohonan lainnya – haruslah dimintakan dengan sungguh-sungguh dan penuh kerendahan hati. Hikmat Allah mengalahkan segala jenis hikmat manusia dan hikmat yang dimiliki oleh dunia. Oleh sebab itu, hikmat Allah yang disediakan bagi orang percayalah yang perlu kita minta dengan pertolongan Roh Kudus yang sudah ada pada diri kita masing-masing.

Kalau bisa memiliki hikmat Allah sebagai hikmat yang tertinggi, lalu untuk apa lagi meminta dan mencari hikmat-hikmat lainnya yang tingkatannya lebih rendah? Amen.

(Pdt. Osator Simanjuntak, MTh)

MINGGU VI SETELAH TRINITATIS
 08 Jul

"YANG BERIMAN YANG BERHIKMAT"

Kolese 4 : 1 - 6

 

Tidak dapat kita pungkiri bahwa berinteraksi dengan orang lain adalah hal yang tidak dapat kita hindari dalam kehidupan kita sehari-hari, baik kepada keluarga, lingkungan sekitar rumah, sesama jemaat ataupun rekan kerja. Namun tanpa kita sadari bahwa ternyata interaksi tersebut mempunyai dampak yang besar dalam kehidupan  kita terlebih kepada pemberitaan Injil tergantung bagaimana kita untuk menempatkan diri kita  dalam interaksi kepada orang lain, bisa membawa dampak yang positif dan dapat juga membawa dampak yang negatif. Dalam Kolose 3 : 23 dikatakan "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia". Nasehat Paulus ini sangat jelas memberikan kepada kita pengertian akan hubungan kita dengan orang lain bahwa segala sesuatu yang kita lakukan dalam interaksi dengan orang lain itu adalah melakukan segenap hati untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

 

Hal inilah yang akan membawa dampak yang positif untuk hidup kita ketika ucapan, perilaku dan tindakan itu dilandaskan perbuatan untuk Tuhan.

 

Dalam nats bacaatn kita saat ini  juga ingin lebih dalam lagi menjelaskan bahwa interaksi kita dengan orang lain adalah merupakan sesuatu yang sangat berharga sehingga Paulus mengatakan di ayat 5 "..pergunakanlah waktu yang ada". Kita memandang waktu yang diberikan oleh Allah bukan hanya sekedar interaksi yang tanpa makna ataupun menggunakan waktu yang telah diberikan oleh Allah malah kita gunakan mendukakan hati Allah. Bagaimana kita dapat memperlihatkan dalam kehidupan kita sehari-hari bahwa kita adalah pengikut Kristus yang setia, sehingga pengenalan akan Tuhan tidak hanya pengenalan dogma namun juga pengamalannya dalam ralitas hidup ini. Jika kita memperhatikan nasehat-nasehat dalam Kitab Amsal sangat jelas diberitahukan kepada kita dengan sangat detail bagaimana etika kita dalam hal berinteraksi dengan orang lain yang semuanya menyatakan untuk takut akan Tuhan. Bagaimana kita membawakan hidup kita ini dengan dasar "takut akan Tuhan" sehingga  respon kita dalam kehidupan sehari-hari itu adalah untuk Tuhan. Inilah menasehatkan kita agar dalam hidup kita sehari-hari ada sikap yang adil dan jujur; berdoa dan mengucap syukur; mendoakan orang lain; hidup penuh hikmat; kata-kata yang penuh dengan kasih.

 

Maka patutlah kita dapat merenungkan perjalanan hidup kita selama ini, apakah kehadiran diriku kepada orang lain telah menjadi garam dan terah atau malah sebaliknya hidup yang kita jalani menjadi batu sandungan bagi orang sehingga orang menjadi menyingkir dari  kita. Marilah kita jadikan diri kita menjadi batu pijakan untuk menolong bukan menjadi batu sandungan untuk menjatuhkan.

 

Hal ini dikemukakan oleh Paulus agar jemaat sadar dan mengerti bahwa yang telah mengikut Yesus itu adalah orang-orang yang menerima hidup yang baru, kita hidup tidak seperti manusia lama yang menjalankan hidupnya dengan kesia-siaan. Namun yang telah hidup di dalam Kristus adalah hidup yang penuh dengan pengharapan sehingga akan menggunakan hidupnya  juga dalam semangat penginjilan. Sehingga kita hidup tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain dan terlebih untuk Tuhan.

MINGGU V SETELAH TRINITATIS
 02 Jul

KOMITMEN UNTUK MENGIKUT YESUS

 

Beberapa peristiwa yang berurutan dicatat Matius dalam perikop (pasal 8) ini. Dengan mudah dapat kita lihat bahwa pesannya masing menyambung dari ayat-ayat sebelumnya. Perikop ini mendahului mujizat tentang angit ribut yang diredakan oleh Yesus (ayat 23-27), dan nas khotbah adalah hal mengikut Yesus (ayat 18-22).

 

Ada dua macam sikap orang dan dua macam respon Yesus tentang orang yang mengikut-Nya muncul dalam percakapan atau pengajaran Yesus kali ini. Pertama, seorang ahli Taurat menyatakan keinginannya untuk mengikut Yesus kemana pun Ia pergi. Ketika Yesus mengatakan bahwa Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepada-Nya, ia mengurungkan niatnya, sebab ia tidak rela hidup seperti Yesus di mana pengharapannya tidak terletak pada apa yang diberikan dunia. Ini berarti ada kalanya kita harus keluar dari "Comfort Zone" (zona nyaman) dalam menyatakan komitmen dan kesetiaan kita untuk mengikut Yesus. Kedua, pemuda yang mohon izin terlebih dahulu untuk menguburkan ayahnya, baru dia akan mengikut-Nya. Dalam ajaran Yudaisme, jenazah dikuburkan pada hari kematian. Pemuda ini ingin menunaikan kewajibannya untuk mengurus penguburan ayahnya. Yesus mengajarkan bahwa kesetiaanya kepada orangtua tidak boleh melebihi kesetiaanya kepada Yesus. Pengajaran ini juga ditujukan kepada kita. Allah sudah memberkati kita, namun baik harta maupun hubungan yang kita miliki dengan sesama tidak boleh menjadi penghambat atau kendala dalam mengikut dan melayani-Nya.

 

Dengan tegas Yesus meminta ahli Taurat memperhitungkan konsekuensi menderita bersama Dia (ayat 20). Jangan mengira dengan mengikut Yesus ia akan mendapat keuntungan besar secara materi atau duniawi. Nampaknya motivasi ahli Taurat ini justru mencari pengaruh sosial melalui Yesus yang pada waktu itu begitu dikagumi oleh banyak orang. Kepada murid-Nya, Yesus meminta dan mengajarkan agar mendahulukan Injil di atas semua urusan lain (ayat 22).

 

Kepada orang yang ingin mengikut Dia, Yesus dengan sabar dan kasih menegur dan membentuk komitmen mereka. Ia ingin agar para pengikut-Nya bermotivasi benar, berkomitmen kuat, dan mempercayai Dia dengan sungguh dalam mengikut Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat.

 

Murid-murid-Nya tetap menjadi pengikut-Nya walau telah mendengar tuntutan kesetiaan penuh itu. Namun ketika mereka sedang di dalam perahu bersama Yesus diserang ombak dan badai besar, mereka menjadi takut. Mereka melihat bahwa kekuatan alam lebih besar daripada Yesus, maka mereka berteriak : "Kita binasa" yang berarti Yesus pun akan ditelan alam. Yesus marah melihat ketakutan mereka.

 

Melalui nas ini, Yesus ingin kita memberi respons dan komitmen : "Aku ingin ikut dan dekat dengan Yesus selalu agar Ia sepenuhnya hidup dalam hidupku". Amin.

CERDIK SEPERTI ULAR DAN TULUS SEPERTI MERPATI (MINGGU IV SETELAH TRINITATIS
 22 Jun

(Mat. 10 : 16 - 22)

 

Sejak awal umat Allah tidak diposisikan akan menjadi umat/kelompok mayoritas, kuat, berkuasa memaksa dan menentukan.

Sifat-sifat itu tidak pernah dibayangkan. Abraham yang dijuluki Bapak Orang Beriman selama hidupnya dan hidup keturunannya hidup berpindah-pindah (nomaden), sering ditindas dan terancam (oleh musuh dan kelaparan). Namun demikian sejarah mereka terus memancarkan inspirasi bagi para pembaca Alkitab. Mengapa? Sebab yang ditekankan sebenarnya ialah penyertaan Tuhan semata sehingga mereka (dan kita) dapat bertahan, bekerja dan membangun kehidupan. Tetapi ada satu hal yang amat penting. Hidup yang selalu terancam melahirkan sebuah tradisi: Hikmat! Hikmat (wisdom) ialah kemampuan membangun hidup dengan mengenal situasi dan mengambil langkah tepat. Inti hikmat ialah mengendalikan diri dan selalu mensyukuri berkat Tuhan.

Tuhan Yesus menyadari situasi akan sukar dan penuh risiko. Ketika agama hanya mencari kesenangan tidak akan ada orang membenci, bahkan banyak yang akan bergabung. Dahulu pernah populer “Kebaktian F3” (kebaktian yang disertai fun=senang fellowship=bersekutu akrab dan food=makanan). Bagi Yesus yang utama: agama adalah misi (faith is mission). Artinya, mempercayai Tuhan mesti menampakkan aksi nyata di dalam masyarakat; bentuknya dapat berubah tergantung situasi tetapi orientasinya menyatakan keselamatan.

Yesus mengutus murid-murid dan kita juga memberitakan keselamatan (Kerajaan Surga sudah datang). Memberitakan berarti mengharapkan para pendengar ambil sikap. Akan banyak orang terganggu sebab mereka mesti berpaling kepada kepentingan Allah dan taat kepada firman-Nya sepenuh hati. Dengan gamblang dinyatakan posisi mereka ibarat “domba di antara serigala”. Jelas bahaya. Itu situasi dasar bukan insidentil. Dunia tidak menyukai terang (Yoh. 1:11). Para pengikut Yesus akan dianiaya (Mat. 5:10-11). Apakah kita karena itu jadi takut? Nah, disini keunikan orang percaya. Kita diminta cerdik seperti ular; maksudnya, lihat situasi, perhatikan keadaan! Cerdik berbeda dari licik. Cerdik tahu bertindak tepat. Tetapi licik memanfaatkan keadaan atau kelemahan orang lain demi keuntungan pribadi. Cerdik boleh dikatakan lawan ceroboh. Orang ceroboh sering gagal dan mengundang bahaya kepada diri sendiri. Serentak dengan cerdik kita harus tulus seperti merpati. Burung merpati adalah simbol ketulusan, jauh dari kelicikan! Apapun situasi kita mesti tetap tulus; jangan mengandalkan kelicikan melainkan mengandalkan Tuhan sebagai gembala kita. Lanjutan dari cerdik ialah waspada; jangan mudah percaya kepada seseorang sebab mungkin saja orang yang kita percaya akan berkhianat.

Kalau kita mengikut Yesus tidak ada kata netral. Setiap orang mesti mengambil keputusan biarpun itu suatu waktu bertentangan dengan pendapat orangtua, saudara, kerabat dan teman. Jika dunia atau masyarakat membenci kita oleh sebab Injil atau oleh sebab menjalankan misi maka berbahagialah karena kita diperhitungkan. Kita berharga. Itu tandanya kehadiran kita punya nilai.    (Pdt. Dr. Einar M. Sitompul)

Pengampunan (Renungan Minggu III Setelah Trinitatis)
 15 Jun

Lukas 7 : 40-50

Jika kita dengar akan apa yang dikatakan Tuhan Yesus tentang pengampunan sebagaimana diungkapkannya dalam ayat 47: “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih”, maka kemungkinan besar orang akan berkata: pengampunan diperoleh jika kita berbuat sesuatu. Pengampunan didapatkan karena perbuatan. Namun tidaklah demikian halnya. Berdasarkan perumpamaan yang diutarakan Yesus dalam ayat 41-42, jelas kedua orang itu tidak dapat membayar hutangnya. Hutang di sini ialah keberdosaan mereka. Orang yang punya piutang menghapuskan hutang mereka, karena mereka tidak sanggup membayar. Orang tersebut adalah gambaran dari Allah sendiri.

 

Masalah yang diperhadapkan Tuhan Yesus kepada Simon ialah: soal respon terhadap Yesus sendiri. Dari sudut pandang Tuhan Yesus, kedua orang berhutang itu ialah: Simon sendiri yang adalah tuan rumah, dan perempuan yang meminyaki kaki Tuhan Yesus. Kedua-duanya adalah orang berdosa. Kristus mati untuk kedua orang tersebut. Tetapi seturut jawaban Simon atas pertanyaan Yesus, orang yang paling banyak dihapus hutangnya ialah perempuan itu. Ia menyadari akan keberdosaannya. Ia sadar bahwa Yesus datang ke dalam dunia dalam rangka menghapus dosanya. Itulah sebabnya ia menangis di kaki Yesus dan membasuh kaki Yesus dengan air matanya.

 

Kontak pribadi perempuan itu dengan Yesus telah membuat dia tahu apa yang tersedia baginya oleh karena Yesus Kristus. Itulah iman sejati. Iman senantiasa memberikan kepada kita pengetahuan akan apa yang menjadi bagian kita di dalam beriman kepada Kristus. Cf I Kor 2:12.


Di sisi lain, Simon tidak mengenal siapa Yesus Kristus yang dia undang untuk makan bersama di rumahnya. Bahkan Simon sedang menguji siapakah Yesus ini. Ia menguji Yesus dengan memakai perempuan tersebut. Tentunya dalam hati Simon akan berkata: “Jika Yesus adalah nabi, maka ia tentulah tahu siapa perempuan itu. Jika ia tahu siapa perempuan itu, maka tentulah seorang nabi tidak akan mau dijamah oleh seorang perempuan berdosa seperti dia. Jika Yesus menjamah perempuan itu, maka ia tentulah bukan seorang yang berasal dari Allah.” Oleh karena itu, apa yang diajarkan-Nya boleh tidak diterima. Tuntutan Yesus tidak perlu dipenuhi, sebab ia bukanlah yang berasal dari Allah.

 

Jika kita masih bertanya tentang siapakah Yesus dalam hidup ini, hal ini mungkin terjadi karena kita belum menikmati pengampunan dari Allah. Jika kita beriman kepada-Nya tentulah kita akan mengenal apa yang dikerjakan Yesus bagi kita. Oleh karena itu kita pun akan bersyukur kepada-Nya dengan karya kehidupan yang nyata. Apakah yang menjadi tanda syukur saudara kepada Tuhan, untuk pengampunan yang saudara dan saya terima? (St. Hotman Ch. Siahaan)

HATI YANG BERBELAS-KASIHAN (MUJIZAT NYATA)
 08 Jun

(Lukas 7 : 11-17)

 

Lukas menjelaskan dengan rinci keadaan ibu yang ditinggal mati anaknya itu adalah seorang janda dan anak muda itu adalah anak tunggalnya. Dalam budaya Yahudi, janda yang ditinggal anak tunggalnya adalah orang yang harus dilindungi, bahkan tidak jarang dalam PL, janda dan anak yatim disebutkan sebagai kelompok orang yang harus diutamakan dan ditolong.  Penderitaan yang sangat berat dalam PL sering digambarkan seperti kematian anak tunggal bagi seorang janda (Yer.6:26; Amos 8:10). Kepada orang-orang seperti inilah Allah menaruh belas kasihan.

Kata Yunani ‘tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan’  (ay.13)memiliki arti yang sangat dalam. Kata ini digunakan 12x dalam Injil dan selalu menunjuk pada Kristus. Penulis Lukas rupanya dengan sengaja menggunakan kata ini untuk menghapus konsep yang banyak diterima masyarakat pada waktu itu.  Para filsuf Yunani meyakini bahwa sifat Allah yang utama adalah apathea atau tidak sanggup merasakan sesuatu. Dengan demikian Allah tidak dapat dipengaruhi. Bagi mereka, pribadi yang dapat dipengaruhi hanyalah pribadi yang lemah.  Tetapi Allah kita tidaklah demikian.  Ia bisa merasakan penderitaan manusia, namun Ia tidak dibuat menjadi lemah karenanya. Hal ini terbukti dengan kuasa Yesus membangkitkan anak muda tersebut.

Kesediaan Yesus untuk menyentuh jasad anak muda itu menunjukkan ungkapan belas kasihan yang mendalam dan keterlibatan Yesus dalam penderitaan janda tersebut; meskipun itu membuat Yesus ‘tidak suci’ menurut pandangan masyarakat Yahudi yang hadir pada waktu itu (Bil. 19:11). Yesus memang melakukan lebih dari apa yang dapat kita lakukan, Ia mampu membangkitkan anak tersebut. Tapi cara Yesus menunjukkan belas kasihanNya dapat kita ikuti.  Kita pun dapat menunjukkan ‘sentuhan-sentuhan’ yang sama kepada mereka yang menderita.

Peristiwa buruk dapat menimpa siapa saja.  Termasuk ketika hal ini terjadi seperti dalam prikop kita ini. Tanpa pemberitahuan awal, tragedi tiba-tiba sudah masuk dalam kehidupan kita. Ketika tragedi itu menerpa,  banyak orang belum siap. Akibatnya, beragam respons pun terjadi. Respons terburuk adalah ketika Tuhan dipersalahkan. Tuhan dianggap sebagai biang dari sebuah tragedi.

Bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap sebuah tragedi? Marah? Mengutuki Allah? Atau, berpindah keyakinan?  Pernyataan ini dapat diaplikasikan secara luas. Semua krisis, penderitaan, kesusahan dan sejenisnya adalah sarana pembelajaran bagi kita. Tuhan punya rencana yang mahaluas dalam setiap problem hidup yang kita alami. Sikap Kristiani yang dewasa adalah bersyukur sembari introspeksi atas semua yang terjadi. Tragedi tidak bermaksud menghancurkan.  Tuhan itu baik. Karakternya baik. Dia tahu apa yang harus dilakukan-Nya. Tentu saja yang terbaik, bukan sebaliknya. Tuhan pasti menolong kita! Ada kata-kata bijak mengatakan: “Tangan yang terulur, bahu yang tegar, telinga yang mendengar, kaki yang melangkah mendekat, terkadang lebih sanggup menyatakan belas kasihan daripada seribu kata-kata yang kita keluarkan.”. Amen.

(Pdt. Osator Simanjuntak, MTh)

BERSUKACITALAH, BUKAN KARENA APA YANG ADA PADAMU, TAPI KARENA MENGENAL KEHENDAK TUHAN!
 03 Jun

Ev. Jer.9:22-25; Ep. 2 Kor.10:12-18 (Bahasa Indonesia: 2 Kor. 9:23-26).

 

Horas! Selamat Hari Minggu! Tak ada yang lebih indah di dunia ini selain daripada mengenal dengan baik kasih Tuhan kepada kita. Kita dapat menjalani kehidupan kita dengan sukacita, karena kita menyadari penyertaan dan pemeliharaan Tuhan dalam hidup kita. Tidak perlu memegahkan diri atas kekayaan, pekerjaan dan kepintaran yang kita miliki, karena kita tahu, itu sumbernya dari Tuhan. Kita tak perlu galau, jika banyak pihak mengatakan sesuatu yang tidak benar tentang kita. Kita tak perlu menjerit-jerit mohon perhatian tetangga, jika tiba-tiba ada sesuatu yang mengganggu kenyamanan kita. Sebab, kita tahu bahwa Allah yang kita kenal dan sembah itu selalu ada di samping kita menghadapi aneka persoalan kehidupan. Akan tetapi, jika tiba pada posisi sekarang, maka wajar jika kita selalu ragu dalam menikmati anugerah Tuhan. Jantung kitapun tidak akan berdenyut normal, jika sampai hari ini kita masih ragu akan kemampuan Tuhan memberi yang kita butuhkan dalam kehidupan ini. Apa yang kita miliki sekarang, sepertinya tak mampu menenangkan hati kita. Semuanya kita ragukan; jadilah kita orang yang tidak berpendirian. Kita laksana patung yang tidak pernah mau bergerak kendati semua orang telah pergi beranjak.

 

Saudara yang dikasihi Tuhan! Hari ini Tuhan hendak memberitahu isi hatinya kepada kita. Tuhan sungguh-sungguh hendak menyelamatkan kita dari rasa hampa di dunia ini, karena tiada HARAPAN. Tuhan mau menyelamatkan kita dari segala ancaman kehidupan, asalkan kita mau mencari Dia. Carilah Tuhan selagi Ia masih berkenan ditemui. Lakukanlah yang baik, jangan yang jahat, mudah-mudahan Tuhan berkenan mendengar keluhan kita. Pastikan bahwa hari ini kita merindukan kehadiran Tuhan di dalam semua pergumulan hidupmu. Tuhan bersedia mengengar keluhanmu, asalkan kita kedengar-dengaran akan FirmanNya.

 

Saudara! Perhatikanlah bunyi nats Firman Tuhan dalam khotbah minggu ini : "bahwa Akulah Tuhan yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi, sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah Firman Tuhan" (Jer. 924b). Nats ini hendak memberitahu kita agar kita bersegera mengkoreksi interaksi kita selam ini dengan Tuhan, dengan merenungkan : "Apakah kita masih mengakui bahwa yang kita miliki kita bersumber dari Tuhan?". Selanjutnya : masih segarkan di dalam ingatan kita bahwa Tuhan menginginkan agar kita menegakkan keadilan dan kebenaran di dalam persekutuan kita dengan sesama kita? Tuhan kita adalah Tuhan yang perduli dengan perobahan yang terjadi di dalam diri kita, di keluarga kita, di gereja kita dan di dalam dunia. Mari bersukacita karena Tuhan sudah memberi tahu kehendakNya pada kita untuk kita lakukan, karena yang kita miliki semuanya bersumber dan kembali kepadaNya. Amin. (MKP).

Penolong
 18 May

Yohanes 14:15-26

 

Filipus salah seorang dari murid Tuhan Yesus, meminta agar Yesus menunjukkan kepada mereka Bapa yang dituturkan Yesus (14:8). Yesus memberikan jalan bagi para murid dan juga kepada kita, untuk dapat mengenal Allah Bapa dengan benar. Jalan itu ialah: kasih kepada Yesus yang ditunjukkan dalam ketaatan terhadap firman-Nya. Filipus ingin melihat dengan mata kepala sendiri, sementara Yesus mengajarkan jalan untuk melihat Allah dalam hidup ini ialah: pergaulan akrab dengan Allah yang ditunjukkan dalam ketaatan firman-Nya.

 

Untuk memampukkan kita menjalankan ketaatan kepada Kristus, maka Roh Kudus diberikan kepada kita. Roh Kudus hadir di dalam hidup kita, dalam rangka menyertai kita. Sama seperti Kristus menyertai para murid selam kurang lebih tiga tahun lamanya. Roh Kudus menyertai kita bukan hanya dalam hidup semata mata, tetapi ia juga menyertai kita dalam alam kubur kita kelak.

 

Kehadiran Roh Kudus dalam hidup ini, itulah jalan bagi kita untuk melihat dan mengalami kehadiran Allah dalam kehidupan ini. Yesus mengatakan Roh Kudus itu dalah penghibur! Kata ini dalam bahasa Yunani adalah parakletos. Parkletos dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata advocat atau pengacara. Adapun tugas pengacara atau advocat antara lain ialah:membela nama baik dari klientnya di hadapan hukum. Tugas lain ialah memberi nasihat kepada klientnya upaya apa yang harus dilakukannya dalam memenangkan perkara. Pengacara juga punya tugas untuk mengurus harta milik klientnya di hadapan hukum.

 

Tuhan Yesus mengatakan bahwa Roh Kudus itu akan tinggal bersama dengan kita. Ia akan menghibur kita. Ia akan melakukan tugasnya di dalam diri kita. Ia akan menasihati kita tentang apa yang harus kita lakukan dalam hidup ini sebagai seorang anak Allah. Roh Kudus juga akan mengurus harta rohani kita di hadapan Allah. Sama seperti Yesus berdoa bagi para murid-Nya, Roh Kudus pun akan berdoa dari dalam hati kita demi kepentingan diri kita sendiri. Roh Kudus akan ada senantiasa di dalam diri kita dan mengantisipasi apa yang perlu bagi kita, sehingga kita tetap memiliki relasi yang baik dengan Allah Bapa karena karya Yesus Kristus Tuhan kita. Tugas lain dari Roh Kudus di dalam diri kita ialah: Ia akan mengingatkan kita atas firman Allah yang pernah kita baca dan hayati. Oleh karena itu, adalah sangat perlu bagi kita untuk membaca dan menghayati firman Allah. Sebab Roh Kudus akan memakai firman itu sebagai alat bagi Dia untuk berkomunikasi dengan kita.

(St. Hotman Ch. Siahaan)

"Semua satu karena kasih"
 11 May

Yohanes 17: 20-26

 

YESUS berdoa bagi mereka yang akan percaya melalui kesaksian dari komunitas para murid KRISTUS. YESUS merindukan kesatuan orang-orang percaya. Dasar kesatuan yang dirindukan adalah kesatuan YESUS dan BAPA. Orang-orang percaya dirindukan mengalami kesatuan agar menjadi kesaksian bagi dunia. Komunitas orang-orang percaya mendasari keberadaannya dengan kesatuan dan kesaksian; hidup berdasarkan kasih, baik yang dicurahkan ALLAH bagi mereka dan yang dihayati diantara sesama anggota. Persatuan yang diinginkan ada dalam kehidupan orang-orang percaya adalah persatuan yang mencontoh penyertaan BAPA dan ANAK, yang berakar pada kasih BAPA dan ANAK yang dianugerahkan kepada para murid ( ayat 26). Adanya penekanan yang kuat pada kasih: kasih BAPA kepada para murid ( ay 23), kasih BAPA kepada YESUS ( ay 23-24) kasih BAPA kepada YESUS dan para murid ( ay 26). Kasih BAPA adalah pewahyuan tertinggi Injil. YESUS berbicara kepada BAPA dalam satu kata: kasih.

 

Melalui doa ini, Injil Yohanes mau mengatakan bahwa gereja adalah jemaat kasih, tanda yang hidup untuk saling mengasihi antara BAPA dan ANAK. Gereja yang demikian ditempatkan TUHAN di tengah dunia. Dunia yang dimaksud adalah dunia yang menjadi pusat ketidakpercayaan dan kebencian. Hal ini kontradiktif dengan apa yang harus dihayati orang Kristen. YESUS mendoakan orang-orang percaya agar sungguh-sungguh menjadi gereja penuh kasih yang bersatu sehingga membuat dunia menjadi percaya bahwa YESUS diutus oleh BAPA yang kasih.Kita pun perlu sadar bahwa kesatuan yang kita dambakan tidak bisa lahir dari usaha manusiawi kita semata. Sambil tetap berupaya membina kesatuan, kita pun perlu memohon rahmat Allah yang memampukan kita menghayati kesatuan di dalam nama-Nya. Mari kita menjadi tanda kasih Allah yang membawa kesatuan di tengah budaya merusak indahnya hidup bersama.

 

Sudahkah kita menjadi gereja yang bersatu dan penuh kasih? Jika kita mengasihi TUHAN YESUS, tentunya kita juga berharap dapat memenuhi kerinduan-Nya. Jika kita sungguh-sungguh melekat dalam KRISTUS, kita akan dimampukan untuk hidup bersama orang-orang percaya dengan penuh kasih guna mewujudnyatakan kesatuan. Sayangnya kadang-kadang diantara orang Kristen justru sulit untuk hidup saling mengasihi sehingga kesatuan gereja pun menjadi sulit diwujudkan. Kita tidak akan dapat menjadi kesaksian kasih KRISTUS bagi dunia ini jikalau kita tidak hidup dalam kasih sebab dunia melihat kehidupan kita. Kasih harus menjadi motivasi dasar kesatuan gereja. Tanpa kasih, kesatuan hanyalah sebuah formalitas yang tak kuat. Kasihlah yang merekatkan hati orang percaya satu dengan yang lain. Kasihlah yang merekatkan hubungan hati orang percaya dengan TUHAN. Kasih bukan sebuah pilihan tapi sebuah keharusan yang harus terus kita bangun setiap hari. Amen.

(Pdt. Osator Simanjuntak, MTh)

"Jangan takut, pergi dan katakanlah”
 30 Mar

(Matius 28 : 1 - 10)

 

Takut bercampur sukacita, itulah yang dialami oleh Maria Magdalena dan teman-temannya ketika mereka ke kuburan Yesus pada hari pertama setelah hari Sabat lewat. Hal yang lumrah sebenarnya bila Maria Magdalena dan murid-murid Yesus mengalami ketakutan yang luar biasa sebagai dampak dari kematian Yesus, Tuhan dan Guru yang sangat mereka kagumi itu. Konspirasi politik antara elite agama (kaum Farisi, Saduki, ahli-ahli Taurat dan para imam)   dengan elite penguasa yang merekayasa secara sistematis rencana pembunuhan terhadap Yesus. Keputusan akhir yang diambil oleh Pontius Pilatus yang menjatuhkan hukuman kepada Yesus dengan penyaliban juga atas desakan massa yang berseru-seru dengan lantang untuk menyalibkan Yesus. Kebencian massa kepada Yesus, selain oleh karena hasutan dari kaum agamais, juga semakin memuncak oleh karena kekecewaan yang mendalam kepada Yesus karena harapan mereka untuk menjadikan Yesus sebagai Mesias yang dijanji-janjikan itu sesuai dengan "keinginan" mereka tidak terealisasi. Mereka sangat menginginkan kehadiran Yesus sebagai Raja untuk membebaskan mereka dari kuasa kekaisaran Romawi yang menjajah mereka serta mengembalikan kejayaan bangsa Israel seperti eranya raja Daud.

 

Situasi itulah bagi para murid Yesus, termasuk Maria Magdalena dan teman-temannya di sini, menimbulkan rasa takut yang luar biasa. Ditambah lagi mereka sangat terpukul dengan kematian tragis dan sangat menyedihkan yang harus dialami oleh Yesus tersebut. Sungguh hal itu di luar dari prediksi mereka yang harus terjadi kepada Guru Agung itu. Tetapi itu suatu realita yang harus mereka hadapi. Hal itu tak dapat ditolak dan diingkari. Walau hal demikian harus terjadi kepada Yesus, tidaklah menghalangi mereka untuk menunjukkan kecintaan dan penghormatan kepada Yesus. Itu sebabnya dalam suasana yang takut dan mencekam itu, mereka pergi ke kuburan Yesus persis menjelang fajar menyingsing atau boleh dikatakan hari masih gelap (ayat 1).  Namun dalam suasana hati yang gundah gulana itu, Tuhan menunjukkan kuasa-Nya yang Mahabesar yang jauh melampaui kuasa-kuasa dunia yang telah melakukan kejahatan besar kepada Anak-Nya Yesus Kristus. Dan itulah rancangan-Nya yang sebenarnya di balik kematian Yesus tersebut. Kristus yang mati disalibkan itu dibangkitkan-Nya pada hari ketiga sesudah kematian-Nya. Malaikat memberitahukan hal itu kepada Maria Magdalena dan teman-temannya. Juga malaikat meminta kepada mereka supaya hal itu diberitahukan kepada para murid lainnya. Tetapi ketakutan yang luar biasa yang ada sebelumnya pada mereka tidak langsung sirna. Kristus pun datang untuk menyapa mereka.

 

Perkataan pertama dari Yesus kepada mereka adalah "salam bagimu" (ayat 9). Ucapan salam dari Yesus ini tentunya memiliki makna yang sangat dalam. Sebab Tuhan Yesus yang telah bangkit menyatakan realita "syaloom" dari Allah, yaitu realita damai sejahtera dan keselamatan dari Allah Bapa kepada dunia ini. Tuhan Yesus memberi salam kepada mereka karena Tuhan Yesus juga tahu ketakutan yang melanda para murid-Nya itu setelah kematian-Nya. Salam damai itu untuk membebaskan dan memulihkan para murid dari rasa tertekan, sedih dan gelisah . Itu sebabnya Tuhan Yesus melanjutkan perkataan-Nya, "Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku" (ayat 10). Ini sangat menarik, Yesus yang bangkit itu justeru menyuruh mereka pergi untuk melakukan sesuatu. Artinya ketakutan akan sesuatu harus diatasi dengan bangkit dan melakukan sesuatu.. Tuhan Yesus yang bangkit itu adalah Kristus Mesias yang sungguh-sungguh peduli dan mengasihi setiap orang yang tidak berdaya, yang tersisih, yang menderita, yang papa dan yang mengalami ketakutan serta kehilangan pengharapan akan hidupnya. Kristus yang bangkit adalah untuk kebangkitan kita semua, amin!

(Pdt. Arthur Sitorus)

Pikiran dan Perasaan Kristus Yesus, Apakah itu ?
 23 Mar

Pikiran dan Perasaan Kristus Yesus, Apakah itu ?

 

Pikiran dan perasaan kita sendiri yang selalu kita ketengahkan. Wajar ! Tabiat manusia memang mengutamakan kepentingan sendiri. Ini acap disebut egois (bahasa Inggris : selfish). Alasan pasti banyak: saya butuh, saya sangat kekurangan, kami miskin, kami lapar, dan berbagai alasan lain untuk membenarkan diri. Itu semua manusiawi. Wajar, manusia namanya! Tetapi kewajaran itu amat sering atau lebih tepat selalu menumbuhkan perilaku yang menyusahkan orang banyak seperti: memakmurkan diri (biar orang lain jatuh miskin), ingin diistimewakan (orang lain abaikan saja), orang cenderung dilayani bukan melayani. Tidak jarang orang paling berpengaruh lebih diperhatikan; orang yang mampu membayar besar segera dilayani. Ini semua dianggap logis. Hukum dunia, kata orang. Sudah tentu perilaku demikian tidak boleh menjadi alasan membiarkan orang lemah, orang miskin dan orang sakit tidak mendapat perhatian. Membiarkan orang lemah ditindas, membiarkan orang sakit menderita, sama dengan memihak penindasan, sama dengan memihak yang kuat melumat yang lemah. Memang ada dinas sosial, ada pemerintah, ada layanan gratis. Tetapi itu tidak maksimal mengubah keadaan. Perlu ada gagasan kritis. Perlu model (panutan) kemanusiaan untuk kita teladani. Paulus dengan cemerlang menggumuli makna Kristus bagi kita warga gereja, bagi kita umat Allah yang datang dari berbagai latar belakang suku, adat dan budaya, yang dipanggil menghayati persekutuan baru.

 

Dia melihat Kristus adalah model (Flp. 2:5-11) “Hendaklah kamu dalam kehidupan bersama”, katanya, “menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”. (ayat 5). Diminta tindakan konkret: membuat pikiran dan perasaan Kristus sebagai acuan. Menjelang Paskah sudah tentu hati kita tertuju kepada penderitaan, kematian dan kebangkitan kristus. Itu pasti? Kita sebut itu masa pasion, masa mengenang penderitaan-Nya. Paulus ingin bergerak lebih jauh yakni mesti terjadi perubahan mendasar dalam hidup kita. Mari kita menerima Dia (imitatio Christi, meniru Kristus), meniru cara berpikir dan cara bertindak Tuhan Yesus. Apakah itu?

Pertama,             tidak mempertahankan (mencari) hak-hak istimewa (menjauhkan eksklusivisme)

Kedua,                mengubah penampilan! Ia rela mengambil posisi hamba. Ia dikatakan mengosongkan diri, melepaskan hak dan atribut yang dimiliki-Nya. Lihat, betapa masyarakat (terutama pejabat) senang menuntut hak dan memperlihatkan atribut-atribut agar dimuliakan orang.

Ketiga,                 para pengikut Kristus (Kristen) mesti meniru ketaatan Kristus yang all out, sampai mati di kayu salib.

Ketiga pikiran dan perasaan Kristus itu diharapkan oleh seluruh umat manusia seperti nilai pengorbanan diri (kerelaan berkorban, bukan mengorbankan orang lain seperti yang sangat sering ditampilkan para penguasa). Tidak sedikit yang mengorbankan orang (rakyat) untuk memperkaya diri. Jutaan orang jatuh miskin sementara segelintir orang makin kaya. Perhatikan nilai ketaatan. Wujudnya di dalam disiplin dan ketaatan hukum. Orang yang taat hukum tidak akan korupsi, menjalankan tugas tanpa pandang muka, patuh kepada pimpinan dan mengikuti peraturan.

Ketaatan mempunyai tujuan. Bukan taat untuk taat! Tetapi ketaatan akan mendatangkan upah. Ia ditinggikan oleh Allah. Perhatikan: oleh Allah. Bukan meninggikan diri sendiri. Yang berhak memberikan penghargaan hanya Allah sebab untuk mematuhi Allah maka kita melakukan semua perintah-Nya.

Minggu kita disebut palmarum, minggu daun palma. Palma merupakan simbol penyambutan yang penuh sukacita. Mari kita elukan Dia, Hosana! Kita elukan Kristus yang memperlihatkan nilai-nilai baru bagi kualitas kemanusiaan kita.     

(Pdt. Einar M. Sitompul)

 

Mimpi
 16 Mar

Mazmur 126:1-6

Kitab Mazmur berisikan pengalaman rohani dari orang beriman di zaman Israel. Pengalaman rohani tersebut dipakai orang di belakang hari sebagai ungkapan isi hati mereka kepada Allah. Orang ini pun mengalami pengalaman rohani yang sama, sebagaimana diungkapkan oleh pemazmur. Hal inilah yang membuat mazmur dekat di hati orang banyak.

Kita pun dapat mengalami pengalaman rohani sebagaimana diungkapkan pemazmur di dalam mazmurnya ini. Marilah kita menyoroti apa yang dialami pemazmur. Pada mulanya mereka terbuang di Babel. Tidak ada  harapan bagi mereka untuk pulang ke Sion, sebab tidak ada kisah orang buangan di kembalikan ke negeri asal. Tetapi mereka merindukan Sion tempat di mana mereka dapat melakukan ibadah kepada Tuhan yang mereka percayai. Sesuatu pun terjadi, mereka disuruh pemerintah untuk pulang. Bagi mereka hal itu adalah sebuah mimpi.

Jika kita pernah ditawan oleh sebuah keadaan hidup, lalu hati kita merindukan pemulihan dari Allah, kemudian kita pun mengalaminya, itu adalah ibarat sebuah mimpi, apalagi kita tidak punya pengharapan lagi untuk dipulihkan. Kita banyak mengalami penahanan dalam hidup ini. Bisa saja penyakit, atau kebiasaan buruk, dan yang paling parah ialah: keberdosaan kita. Adakah kerinduan di dalam hati kita untuk dibebaskan Tuhan dari tawanan tersebut?

Tatkala kita mengalami pembebasan, orang lain yang pertama melihat karya Allah di dalam diri kita. Hal itu dialami orang Yehuda di Babel. Kepulangan mereka ke Yerusalem membuat orang kagum. Lalu mereka pun pada akhirnya mengungkapkan syukurnya dengan mengakui bahwa Tuhan telah membuat perkara besar bagi mereka. Ini sebuah pelajaran berharga bagi kita. Allah pada hakekatnya ingin membuat perkara besar dalam hidup kita. Ia ingin membuat kita mengalami sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.

Setelah kita mengalami mimpi, keadaan tidak senantiasa sebuah mimpi. Oleh karena itu, sipemazmur mengajukan sebuah permohonan lagi, yakni mimpi yang kedua. Pemamzmur mengganti kata mimpi dengan sorak sorai. Gambaran yang dipakai si pemazmur hampir sama, tetapi bahasa yang berbeda. Gambaran padang gurun di Negev menjadi analogi. Di padang gurun keadaan gersang. Kita pun pernah mengalami kegersangan hidup. Namun kegersangan hidup itu dapat berubah dengan sukacita, tatkala hujan turun dan mengairi tanah kering, sehingga tanah kembali dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Kita harus menabur benih dengan cucuran air mata pada masa kekeringan. Tetapi karena hujan yang diberikan Tuhan, akhirnya kita bersorak sorai dalam hidup. Pergumulan adalah sebuah jalan untuk mendapatkan sorak sorai. Oleh karena itu berharaplah pada Tuhan, Ia mau membuat kita bermimpi dan bersorak sorai di dalam hidup ini.    (St. Hotman. Siahaan)

Sukacita, yang telah hilang di dapat kembali (Lukas 15: 11 - 31)
 09 Mar

“Bersukacitalah bersama-sama Yerusalem, dan bersorak-soraklah karenanya, hai semua orang yang mencintainya”

(Yesaya 66:10a)

 

Adalah suatu kebahagiaan tersendiri jika ada suatu benda yang sudah lama hilang dan akhirnya kita temukan kembali.Terlebih jika seorang anak atau keluarga yang sudah dapat tidak bertemu berjumpa kembali akan membawa sukacita yang luar biasa. Nats ini diawali dengan penyampaian Tuhan Yesus kepada orang-orang Farisi dan ahli Taurat bersungut-sungut: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka” (15:1). Dalam perumpamaan ini, Tuhan Yesus ingin menjelaskan hakikat daripada dosa itu sendiri dan ingin memperlihatkan kepada orang Farisi bahwa Yesus tidak membenarkan perbuatan dosa dalam hidup manusia walaupun sering duduk bersama dengan orang-orang berdosa. Dalam perumpamaan ini Yesus menegaskan bahwa dosa akan membuat manusia itu sengsara dan Allah dengan penuh kasih akan menerima orang berdosa itu kembali. Ada 3 tokoh yang diperlihatkan dalam cerita ini yaitu: Anak Sulung (gambaran dari orang Farisi dan ahli Taurat), Anak Bungsu (gambaran orang-orang berdosa), Bapa ( gambaran dari Allah sendiri). Masing-masing kuat dalam karakternya.

 

Ada beberapa refleksi hidup yang dapat kita renungkan dalam nats ini:

1.   Hubungan antara Ayah dan Anak yang sangat kuat : ayah yang tidak diktator, memberikan bagian dari si bungsu walaupun si sulung tidak bisa menerima perlakuan seperti itu, dan ketika si bungsu kembali sang ayah kembali menerimanya, ayah yang sabar sekaligus yang baik. Orang Kristen memiliki Yesus yang melebihi kebaikan seorang ayah tersebut.

2.   Menjauhkan hal-hal yang tidak baik dalam hidup ini (karakter anak-anaknya): tidak perduli, sombong dan menganggap diri lebih hebat sehingga dikalahkan oleh keegoisan sendiri. Sadari bahwa hidup kita ini bukan milik kita sendiri tapi Tuhan dan orang-orang disekitar kita yang merupakan bagian dari kita.

3.   Ada sebuah lagu : "hidupmu indah, bila kau tau, jalan mana yang benar..." kembalilah selagi masih ada kesempatan. Manusia tidak pernah lepas dari kesalahan, kekhilafan, dan mungkin lebih dari itu, pintu pertobatan terbuka lebar bagi sipa saja yang mau datang kepada Yesus. Saya, saudara, kita semua sangat berharga dihadapan Tuhan, kita harus menyadari hal tersebut... (ay.17). Akhirnya satu hal yang kita pelajari adalah: bahwa mencintai membuat hati kita gembira, semangat kita bertambah, fisik kita semakin segar. Tapi hidup kita sering diisi denga kecemburuan dan dendam, sehingga membuat hati kita mengkerut karena kebencian, semangat lemah dan ketahanan fisik menurun, karena hati yang gembira adalah obat, tapi hati yang sedih meremukkan tulang-tulang.Nats ini menjadi sangat penting bagi kita untuk memaknai Doa Bapak kami dalam bait :’ampunilah dosa kami, seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami!’. Selamat Hari Minggu, Tuhan Memberkati.

(Pdt. Osator Simanjuntak, MTh)

“Mataku tetap terarah kepada Tuhan”
 02 Mar

“TUHAN, SUMBER KEKUATAN MENGHADAPI PENCOBAAN”

(1 Korintus 10: 1-13)

 

Orang Israel telah mengalami kuasa tangan Tuhan dengan cara yang mengherankan. Pada zaman Musa, mereka telah dipimpin oleh tiang awan dan melalui air Laut Merah yang terbelah. Mereka telah dipelihara secara ajaib oleh Allah yang mahakuasa, dengan memberi manna, memberi minum air yang keluar dari batu. Tuhan yang senantiasa hadir dan bertindak dalam berbagai cara untuk menolong umatNya di tengah berbagai kesulitan, sudah terbukti dalam pengalaman umatNya. Namun, walaupun bangsa Israel telah menerima begitu banyak berkat, namun Tuhan tidak berkenan kepada sebagian besar dari mereka karena ketidaktaatannya. Mereka menyembah berhala, melakukan percabulan dan perbuatan jahat lainnya. Mereka berulang kali bersungut-sungut, sehingga sebagian besar di antara mereka tewas di padang gurun, dipagut ular dan dibinasakan oleh malaikat maut. Inilah pengalaman nenek moyang bangsa Israel, yang kembali diingatkan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, agar orang-orang percaya di Korintus menarik pelajaran rohani dari pengalaman leluhur mereka.  Walaupun bangsa Israel adalah umat pilihan Tuhan, namun, kalau mereka melakukan  yang jahat di mata Tuhan, pasti akan menerima hukuman.

Rasul  Paulus mengingatkan bahwa setiap orang yang tidak kuat menghadapi cobaan dan terjerumus ke dalam dosa penyembahan berhala dan percabulan dan berbagai kejahatan lain yang menunjukkan ketidaktaatan kepada Tuhan, pasti akan menerima hukuman dari Tuhan. Hingga pada zaman ini, ada begitu banyak hal yang dapat menggoda kita untuk berbuat dosa. Mudah sekali bagi orang Kristen untuk menjadi puas diri, menghadiri kebaktian di gereja, memberikan perhatian kepada doktrin dan gaya hidup yang benar hanya sebatas bibir saja, sementara terus hidup di dalam dosa dan berbuat sesuka hati.  Paulus juga mengingatkan orang yang menyangka dirinya berdiri teguh, hendaklah berhati-hati; jangan sampai ia jatuh. Pencobaan yang kita alami, biarlah semakin  mendorong mata kita untuk  tetap terarah kepada Tuhan. Mata yang senantiasa terarah kepada Tuhan, itulah yang memberi kekuatan kepada kita untuk  senantiasa berdiri teguh di jalan Tuhan, walaupun menghadapi berbagai cobaan. Bersama Tuhan, kita kuat dan menemukan jalan keluar atas pergumulan hidup kita. Amin. (Pdt. Mika Purba, STh)

“Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya Tuhan”
 23 Feb

IMAN YANG MEMBENARKAN ABRAM

 

Kegelisahan dan kekuatiran akan sesuatu hal tentu pernah bahkan sering terjadi dalam hidup kita. Terlebih ketika harapan & kerinduan kita belum tercapai. Kondisi seperti itu tidak perlu membuat kita memiliki perasaan bersalah apalagi merasa berdosa.

Hal yang sama dialami oleh Abram ketika harapan akan masa depan seperti yang dijanjikan oleh Allah nampaknya masih jauh dari kenyataan. Seperti yang dipersaksikan dalam kejadian 12:1-3, ada 3 janji Allah kepada Abram, yakni:

-    Negeri yang akan menjadi tempat kediaman & hidup Abram dan keluarganya.

-    Keturunannya menjadi bangsa yang besar,

-    namanya masyhur sebab olehnya semua bangsa mendapat berkat Allah.

Pemenuhan ketiga janji tersebut tentulah membutuhkan proses yang panjang yang di dalamnya berbagai tantangan dan persoalan harus dihadapi. Hal itulah yang membuat Abram gusar dan mengalami ketakutan. Ia bahkan harus berperang dan mengalahkan raja-raja di sekitar Kanaan untuk dapat menguasai dan mendiami tanah Kanaan. Setelah berperang itu rupanya Abram masuk ke dalam zona tidak nyaman. Ketakutan Abram itu diketahui oleh TUHAN sehingga dalam suatu penglihatan Allah perlu meyakinkan Abram bahwa Ia adalah perisai dan upah Abram. Nampaknya Abram sedikit pesimis menanggapi peneguhan Allah tersebut. “Ah... bagaimanakah kelanjutan negeri ini kelak, sebab aku tidak mempunyai keturunan”, guman Abram. Abram pun mengajukan agar ia diperkenankan mengadopsi salah seorang hambanya menjadi ahli warisnya. Allah menolak usul itu dan kembali mengingatkan akan janji-Nya kepada Abram bahwa pasti ia akan memiliki anak kandung sebagai pewarisnya dan menjadi bangsa yang besar. Hal yang luar biasa - dan inilah menjadi kebesaran Abram - ialah bahwa dia percaya Allah. Iman ini yang oleh Allah diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. Inilah pertama kali disebut secara bersama-sama iman dan kebenaran di dalam Alkitab.
Iman Abram itulah yang melayakkannya untuk mempunyai hubungan yang benar dan istimewa dengan Allah. Dan Abram pun membuang keragu-raguan akan masa depan yang belum diraihnya. Kebenaran Abram ia tunjukkan ketika sepenuhnya ia bergantung dan bersandarkan diri pada Allah. Amin. (Pdt. Arthur Sitorus)

“Bila Ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab”
 16 Feb

Cobaan itu berlangsung terus

Cobaan selalu mengikuti perjalanan hidup kita. Yesus adalah contoh pemenang: menang melawan cobaan iblis (Mat. 4:1-11). Cobaan adalah serangkaian tindakan yang dikenakan kepada kita untuk membuktikan bahwa kita mampu. Ia seperti orang yang mengikuti ujian setelah belajar dalam waktu tertentu. Setiap memasuki tahap baru (next level) biasanya diselenggarakan testing atau ujian. Tetapi cobaan dapat terjadi setiap waktu yakni apakah kita patut melakukan ini dan itu kalau dilihat dari sudut jabatan, profesi dan tugas; yang lebih utama lagi dari sudut iman?

Tuhan Yesus dicobai dengan tiga hal pokok: tentang makanan, masa depan dan kekayaan. Makanan adalah simbol selera dan nafsu kenikmatan. Apakah Yesus akan mendahulukan keinginan (makan) atau Ia mempunyai prinsip hidup. Disini kita diperhadapkan dengan apa hakikat menjadi manusia. Apa beda manusia dari makhluk lain? Kalau ingin makan langsung makan, manusia tidak beda dari makhluk lainnya. Manusia mesti memiliki prinsip hidup. Yesus mengajar kita agar mendahulukan firman Tuhan. Kita hidup karena (firman) Tuhan. Makanan adalah kebutuhan, bukan tujuan.

Cobaan berikut ialah tentang masa depan. Ini muncul setiap saat; anggap sepele hari esok! Tidak usah bikin rencana, kan Tuhan Pemelihara kita? Tidak usah bekerja, kan besok juga makan? Makan saja semua, kan sudah berdoa? Pendapat-pendapat ini sama dengan mencobai Tuhan; menjadikan Tuhan tukang reparasi akibat kelalaian kita atau, Tuhan dianggap alat otomatis tanpa perasaan. Orang yang meremehkan hari esok adalah orang yang mencobai Tuhan. Tuhan tidak suka dipermainkan.

Cobaan terakhir lebih menggoda lagi. Seluruh kota yang berkilauan (kerajaan dunia) diperlihatkan kepada Yesus. Godaan besar! Godaan paling mematikan! Sebab gara-gara harta orang sering nekad melakukan apa saja. Lihatlah betapa setiap hari kita - sangat memuakkan dan memalukan - mendengar “cerita-cerita korupsi”. Janganlah kita menjadikan harta sebagai ilah. Mengilahkan harta, itulah bentuk penyembahan berhala! Hanya Allah yang harus disembah, kata Yesus. Maka iblis pun pergi. Perhatikan: setelah tiga kali Yesus mengucapkan firman Tuhan baru ia pergi; lihat pula, iblis mengutip ayat Kitab Suci. “Sebab ada tertulis”, kata iblis. Rupanya iblis cukup terpelajar tentang Kitab Suci, sampai-sampai ia tahu isinya. Pengetahuannya tentang Kitab Suci dicoba untuk dimanfaatkan mencobai Yesus. Setan-setan, kata Yakobus, percaya ada Allah, bahkan “mereka gemetar” (Yak. 2:19). Mereka percaya tetapi tidak taat! Oleh sebab itu tidak usah heran kalau banyak orang tampil saleh tetapi melakukan tindak kejahatan. Maka hati-hati, orang yang mengutip-ngutip firman Tuhan belum tentu punya maksud yang benar, bisa-bisa mereka memperalat Alkitab untuk keuntungan pribadi.

Saudara-saudara sekalian, cobaan yang dialami Tuhan Yesus berlangsung setiap hari. Maka hati-hatilah. Bekalilah diri dengan firman Tuhan agar mampu mengalahkan cobaan iblis. Panggilah Tuhan, Ia akan menjawab kita (Mzm. 91:15a). Tuhan akan menolong orang yang memanggil nama-Nya!     (Pdt. Dr. Einar M. Sitompul)

Selubung (II Korintus 3:12-4:2)
 08 Feb

Masalah yang dihadapi Paulus di jemaat Korintus membuat ia mengambil sebuah analogi dari PL tentang Injil Yesus Kristus. Analogi itu ialah: wajah Musa yang bersinar, tatkala ia turun dari Gunung Sinai. Wajah Musa yang bersinar adalah sebuah tanda kemuliaan dari mereka yang memberitakan firman Tuhan kepada umat. Para pengajar yang melawan Paulus menekankan penerapan hukum Taurat bagi mereka yang sudah Kristen. Paulus menolaknya dengan memakai argumennya ini.

 

Paulus menekankan, pelayanan berdasarkan hukum Taurat memang disertai kemuliaan, namun kemuliaannya itu pudar juga. Itulah sebabnya Musa menutup wajahnya, supaya orang Israel tidak melihat pudarnya wajahnya yang bersinar. Paulus melanjutkan, pelayanan berdasarkan Injil lebih mulia dari hukum Taurat. Mengapa demikian? Hukum Taurat menghukum, semenatara Injil menghidupkan. Tentulah jauh lebih mulia yang menghidupkan dari pada yang menghukum. Oleh karena itu, Paulus mengajak orang Korintus untuk tidak melandasi imannya kepada Kristus berdasarkan Taurat, karena mengandung hukuman.

 

Tatkala Yesus dipermuliakan di atas gunung, para murid melihat wajahnya bercahaya seperti matahari. Dan tidak meredup sehingga harus diselubungi. Itulah perbedaan yang sangat jelas antara Musa dan Yesus, antara hukum Taurat dan Injil.

 

Selanjutnya Paulus mengatakan secara rohani, orang Yahudi yang menyebut dirinya sebagai murid Musa, hingga sekarang hatinya diselubungi sehingga mereka tidak melihat kemuliaan Allah yang ada di dalam Yesus Kristus. Karena itulah mereka tidak percaya. Jika orang Yahudi saja sebagai murid Musa masih diselubungi hatinya, bagaimana mungkin orang Kristen mendasarkan imannya kepada hukum yang diberikan Musa, pada hal mereka masih diselubungi sehingga tidak melihat kemuliaan Allah.

 

Pengajaran Paulus ini pun sangat relevan bagi kita. Ada orang yang sangat terikat kepada hukum atau norma. Pada hal kita adalah orang “Yang beribadah dalam Roh Allah dan bermegah di dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya kepada hal hal lahiriah” . Keterikatan kepada norma dan legalitas adalah wujud ibadah lahirian. Jika demikian maka selubung itu pun menyelubungi hati kita, sehingga kita tidak dapat melihat kemuliaan Allah yang nampak di dalam wajah Kristus Yesus.

 

Dalam setiap ibadah yang kita laksanakan, pada hakekatnya di sana terpancar kemuliaan Allah. Sebab dimana Injil diberitakan, di sana kemuliaan Allah dioperasionalkan. Bukankah para Serafim di surga mengatakan: “Bumi penuh dengan kemuliaan Allah”. Temukanlah kemuliaan Allah dalam setiap pertemuan ibadah yang kita selenggarakan.

(St. Hotman C.h. Siahaan)

Jangan takut, sebab AKU yang mengutus engkau (Yeremia 1: 4 – 10)
 02 Feb

Hidup kita itu memiliki suatu tujuan yang Tuhan telah tetapkan bahkan jauh sebelum kita dilahirkan. Jika keberadaan kita di dunia ini saja berada dalam rencana Tuhan, maka tidak ada alasan bagi siapapun untuk menolak apa yang Tuhan kehendaki bagi kita. Yeremia awalnya menolak panggilan tersebut dengan alasan bahwa ia tidak pandai berbicara dan masih muda (ay. 6). Suatu alasan yang sangat logis mengingat jabatan sebagai nabi Tuhan bukanlah pekerjaan yang mudah. Seorang nabi pada zaman tersebut menghadapi tekanan lingkungan yang luar biasa berat, bahkan risikonya adalah mati.

 

Namun demikian, alasan apapun yang diungkapkan oleh Yeremia tidak dapat menggoyahkan hati Tuhan. Tuhan tidak mencari alasan Yeremia, Tuhan hanya ingin Yeremia taat kepada Tuhan, kemanapun Tuhan mengutusnya, Yeremia harus siap pergi, dan apapun yang Tuhan perintahkan kepadanya, harus dilakukan oleh Yeremia (ay. 7). Permasalahannya, apakah Yeremia mau pergi kemanapun Tuhan memerintahkan? Iya kalau Tuhan memerintahkan yang enak-enak, pasti Yeremia tidak akan menolak perintah Tuhan. Tetapi bagaimana jika perintah Tuhan adalah perintan yang  berat, dengan jalan yang berat untuk ditempuh? Belum lagi orang-orang yang memusuhi bahkan mencoba untuk membunuh Yeremia?

 

Itulah mengapa Tuhan meminta Yeremia untuk tidak takut, karena Tuhan berjanji akan selalu menyertai Yeremia dan melepaskan Yeremia dari orang-orang jahat tersebut (ay. 8). Salah satu penggenapan janji Tuhan tersebut terjadi ketika Tuhan menyelamatkan Yeremia secara ajaib dari dalam perigi (sumur) yang penuh lumpur (Yer 38:1-13). Tuhan benar-benar menepati janjiNya kepada Yeremia untuk menyertai dan melindungi Yeremia.

 

Sejak saat itu, Tuhan telah menaruh perkataan-perkataanNya ke dalam mulut Yeremia (ay. 9) dan mengangkat Yeremia menjadi nabi atas bangsa-bangsa (ay. 10). Jika kita memperhatikan isi kitab Yeremia, kita akan menemukan bahwa Yeremia tidak hanya menyampaikan Firman Tuhan kepada bangsa Israel, tetapi ia juga menyampaikan Firman Tuhan kepada bangsa-bangsa lain, termasuk Firman Tuhan dan nubuatan kepada bangsa Babel yang nantinya akan menghancurkan bangsa Israel.

 

Kita dapat melihat bahwa walaupun Yeremia awalnya menolak, tetapi Yeremia pun akhirnya sadar bahwa Tuhan sendirilah yang telah memilih dirinya untuk menjadi nabi yang menyuarakan kehendak Tuhan. Ketika ia mau taat terhadap panggilan Tuhan, tentunya Tuhan pun akan menyertai Yeremia dan memperlengkapi Yeremia sehingga ia menjadi salah satu nabi besar di sejarah bangsa Israel. Bagaimana dengan kita? Pernahkah kita menolak panggilan Tuhan? Hanya kita sendiri dan Tuhan yang tahu. Tetapi mari mengingat hal ini, Tuhan tidak pernah salah memanggil seseorang untuk menjadi hambaNya, karena sesungguhnya Tuhan telah mengenal orang tersebut jauh sebelum ia dilahirkan. Panggilan Tuhan tidak pernah salah, justru kitalah yang salah jika kita mengabaikan bahkan menolak panggilan Tuhan dalam kehidupan kita, karena jika demikian, maka sesungguhnya justru kitalah yang menolak kehidupan kita sendiri di dunia ini.  Amin.(Pdt. Osator Simanjuntak, MTh)

Tahun Rahmat Tuhan sudah tiba (Lukas 4 : 14 – 21)
 26 Jan

Kita sudah menjalani tahun 2013 ini selama 27 hari. Walau masih singkat, namun sudah banyak peristiwa yang terjadi yang kita alami. Berbagai pergumulan pribadi, pergumulan bangsa, khususnya akhir-akhir ini situasi Kota Jakarta, yang sarat dengan berita banjir di berbagai wilayah. Kita tentu yakin pula bahwa masih banyak lagi peristiwa-peristiwa yang akan kita alami pada tahun 2013 ini. Peristiwa apa itu, tidak ada yang tahu selain dari Tuhan sendiri. Hanya satu keyakinan kita bahwa Tuhan akan senantiasa menyertai perjalanan hidup umatNya, dan dengan hidup saling menopang dan saling bahu membahu, beban di pundak terasa lebih ringan dan kita dapat merasakan bahwa tahun ini, adalah tahun yang penuh rahmat untuk kita semua.

      “Roh Tuhan ada padaKu” demikianlah isi kitab Yesaya yang dibaca Yesus menunjukkan penetapan Yesus tentang apa yang menjadi tujuan kedatangan-Nya ke dunia ini. Dia datang ke dunia untuk membawa pembebasan dan memberitakan tahun rahmat Tuhan telah tiba. Inilah juga yang menjadi tugas panggilan gereja di dunia ini, menghadirkan syalom dengan memberitakan misi pembebasan. Gereja dan orang percaya sebagai tubuh Kristus di dunia ini dipenuhi oleh Roh Kudus sebagai tanda penetapan dan pengurapan serta pengutusan bagi Gereja dan orang-orang percaya mengenai tujuan dari kehadirannya di dunia ini yaitu diurapi dan diutus untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan kepada orang-orang miskin.

      Tahun rahmat Tuhan harus diberitakan kepada mereka sehingga mereka tetap kuat dan tabah akan hidup yang mereka jalani, sembari memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bagi mereka. Tentunya Gereja  juga harus meningkatkan hidup ber-diakonia, kepedulian kepada orang-orang miskin sebagai wujud nyata dari ibadah yang benar dan tidak bercacat yang berkenan kepada Allah (bnd. Yak.2:27). Membawa khabar baik kepada orang-orang tawanan; yang terbelenggu oleh jerat dosa, dan penglihatan bagi orang-orang buta secara rohani dan jasmani, membebaskan orang-orang yang tertindas, yang mengalami ketidakadilan.

                Kristus tetap berada di dalam dunia sampai sekarang melalui Roh Kudus. Dialah yang memampukan setiap orang percaya dan seluruh gereja untuk memberitakan tahun  rahmat Tuhan telah tiba, sehingga di mana gereja hadir, ada kesembuhan dan penghiburan. Di mana ada orang percaya, di situ ada semangat baru, ada damai sejahtera, ada sukacita, ada kehidupan yang saling mengasihi, ada kelegaan dan pengharapan, ada khabar baik diberitakan. Karena itu, selamat menjadi pembawa khabar baik! Tuhan memberkati. (Pdt. Mika Purba, STh).

MEMBANGUN SOLIDARITAS SESAMA ANGGOTA TUBUH KRISTUS (1 Korintus 12: 21-26)
 18 Jan

Seandainya tubuh kita hanya terdiri dari mata, atau hanya telinga, bagaimana kita akan makan, berbicara, berjalan dan bergerak? Dapatkah kita bayangkan kesulitan yang dialami oleh orang yang tidak lengkap organ tubuhnya. Punya mata tetapi tidak punya kaki untuk bisa berjalan normal, atau punya kaki, tetapi tidak bisa melihat. Atau punya tangan, tetapi tidak bisa melihat dan mendengar, tentunya hal itu menjadi sebuah masalah dalam kehidupannya. Kenyataan membuktikan bahwa anggota-anggota tubuh kita ini, saling membutuhkan dan saling mendukung satu dengan yang lain. Mata tidak dapat mengatakan kepada tangan, “aku tidak memerlukan kamu”. Mata memerlukan tangan untuk mendapatkan apa yang dilihat oleh mata. Kalau kaki terluka, maka pikiran menyuruh mata melihat yang terluka itu, lalu tanganpun langsung bergerak untuk membersihkan, mengobati, dan membalut kaki yang terluka itu. Demikianlah Paulus menggambarkan persekutuan orang kristen, Kristus sebagai kepala dan manusia sebagai anggota-anggotanya, maka tidak ada dari anggota itu lebih utama, karena semua bertujuan untuk memuliakan kepala, bukan anggota tubuh.

Hidup adalah merayakan persekutuan dengan Tuhan dan dengan sesama. Manusia tidak dapat hidup sendiri dan tidak dapat menolong dirinya sendiri, karena manusia punya keterbatasan. Itu berarti manusia selalu membutuhkan orang lain dalam hidupnya, karena manusia adalah makhluk sosial; diciptakan sebagai orang yang membutuhkan orang lain dan untuk melengkapi kekurangan orang lain. Tuhan menghendaki agar kita menjauhkan diri dari segala macam bentuk kesombongan dan perselisihan. Allah telah melengkapi diri manusia dengan habitus saling menolong. Dengan habitus ini, kita sebagai umat Tuhan akan termotivasi memelihara persekutuan yang saling menopang antara satu dengan yang lain.

Dengan memahami gereja sebagai tubuh kristus, dan warga jemaat sebagai anggota-anggotanya, tentunya tidak ada lagi jemaat yang mengklaim diri paling penting dan menganggap jemaat yang lain tidak penting. Tuhan menciptakan kita berbeda satu dengan yang lain dan mengaruniakan kepada kita masing-masing talenta yang berbeda pula. Semua mempunyai peran dan fungsi sendiri-sendiri dan penting. Oleh sebab itu, marilah kita memelihara kesatuan dalam keberagaman itu sebagai Tubuh Kristus. Marilah kita membangun solidaritas sesama anggota tubuh Kristus, saling peduli, saling menolong dan hidup rukun dan damai, sebab kehidupan seperti itulah yang dikehendaki Kristus. Mari kita tunjukkan solidaritas kita dalam tindakan yang nyata.  Amin. (Pdt. Mika Purba, STh)

“TETAPI IA YANG LEBIH BERKUASA, DENGARKANLAH IA” (Lukas 3 : 15 – 17, 21 – 22)
 12 Jan

Tetapi Ia yang lebih berkuasa,” demikian suara Yohanes Pembaptis di tepi sungai Yordan ditujukan kepada rakyat yang mengerumuni dia. Suasana masyarakat ketika itu dipenuhi atmosfir pengharapan akan kedatangan Mesias. Bagi rakyat yang dijajah (oleh Romawi) Mesias adalah harapan satu-satunya yang dapat melepaskan mereka dari genggaman penguasa asing, apalagi mereka sudah dijajah ratusan tahun. Sudah lama pula, sudah ratusan tahun, tidak kedengaran suara nabi sejak nabi terakhir Maleakhi. Tiba-tiba terdengar suara lantang Yohanes Pembaptis yang menyerukan “ persiapkanlah” jalan untuk Tuhan sebab semua orang akan melihat keselamatan dari Tuhan (3 : 4 – 6). Inilah kabar yang ditunggu-tunggu. Maka orang berduyun-duyun mengerumuninya dengan penuh semangat.

 

Ketika kita dikerumuni orang dan orang sangat antusias memandang diri kita, inilah momen yang tepat menonjolkan diri, saat yang indah untuk mengambil keuntungan. Tetapi Yohanes bukan orang sombong, bukan orang yang tidak tahu diri, bukan orang yang suka cari popularitas. Ia jujur dan rendah hati. Ia mengarahkan khalayak ramai kepada Tokoh Sejati, kepada Mesias yang telah dinantikan itu. Mesias sedang melangkah mendatangi umat, ia sendiri tidak layak membuka tali kasut-Nya (ayat 17). Kepada Dia semua orang mesti menentukan sikap, harus ambil keputusan : menerima atau menolak. “Alat penampi” sudah di tangan-Nya. Waktu seleksi telah tiba! Bagi yang menerima Dia, kita ibarat gandum yang masuk lumbung (keselamatan) tetapi yang menolak akan jadi “debu jerami” yang akan dibakar di dalam api yang tidak terpadamkan.

Tuhan Yesus pun ikut dibaptis, itulah awal penampilan-Nya. Langit mengesahkan kehadiran-Nya : “Engkaulah Anak-Ku yang kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (ayat 22). Baptisan kepada Tuhan Yesus sebenarnya adalah pengurapan (pelantikan) agar Ia memulai misi-Nya, misi Allah, untuk menyelamatkan manusia. Pelantikan Yesus adalah pengutusan untuk memberitakan Kabar Baik karena Allah menerima orang berdosa yang bertobat. Kita juga diutus menjadi saksi keselamatan yang telah diperbuat Allah melalui Kristus.

 

Minggu Epiphanias merupakan minggu-minggu mengingat kemunculan Mesias menjawab doa dan harapan kita tentang keselamatan. Sambutlah kehadiran-Nya; Dia yang berkuasa datang membawa sukacita!(Pdt. Dr. Einar M. Sitompul)

Raja Yang Adil (Mazmur 72:1-7, 11-14)
 05 Jan

Kita memasuki Minggu Epiphanias mulai dari Minggu ini. Epiphanias artinya ialah penampakan. Allah menampakkan diri-Nya kepada umat-Nya. Dalam peristiwa natal, Allah datang dalam wujud manusia, lalu Ia menampakkan diri melalui karya-Nya di antara manusia. Nas kita berbicara tentang Raja Mesias yang memerintah dengan keadilan.

 

Raja Mesias yang kita kenal karena Ia telah memperkenalkan diri-Nya pada kita ialah: Yesus Kristus Tuhan kita. Raja Mesias ini kita kenal sebagai raja yang jadi pembela bagi mereka yang tertindas. Orang yang tertindas ialah mereka yang tidak dapat membela dirinya sendiri dalam perkara yang dihadapinya. Untuk itulah Yesus bertindak jadi pembela bagi mereka.

 

Raja Mesias kita pun juga kita kenal sebagai raja yang jadi penolong bagi mereka yang miskin. Bukankah Dia sendiri yang mengatakan: berbahagialah mereka yang mikin, karena mereka akan jadi pemilik kerajaan Allah. Tidak ada diberitakan di dunia ini adanya ilah yang seperti itu terhadap orang yang percaya kepadanya. Ilah yang diperkenalkan dunia ini ialah ilah yang menuntut agar manusia berupaya untuk mendapatkan sesuatu bagi dirinya sendiri. Allah kita ialah Allah yang berupaya untuk mengaruniakan sesuatu yang tidak layak diterima oleh umat manusia.

 

Raja Mesias itu pun diperkenalkan kepada kita, sebagai raja yang  hidup untuk selama-lamanya. Artinya bagi kita ialah: pemberian Allah itu tidaklah hanya dalam tempo yang singkat sebagaimana usia manusia bersifat sementara. Pemberian Allah dalam bentuk kasih karunia bagi kita, bersifat kekal dan tidak akan dapat termakan waktu. Itu juga adalah sebuah kabar baik bagi kita.

 

Raja Mesias itu pun digambarkan nas kita sebagai satu pribadi yang senantiasa memberikan pertumbuhan bagi orang yang percaya kepadanya. Gambaran yang diberikan pemazmur bagi kita ialah: hujan yang turun ke bumi dan memberikan pertumbuhan bagi tanam-tanaman. Oleh karena pertumbuhan tersebut maka damai sejahtera berlimpah dalam kehidupan. Itulah berkat yang senantiasa kita bawa pulang dari perjumpaan dengan Sang Raja Mesias dalam ibadah yang kita laksanakan tiap Minggu.

 

Raja Mesias yang kita kenal itu adalah raja yang kepada-Nya segala lidah mengaku dan segala lutut bertelut. Ini  disuarakan Rasul Paulus. Sekalipun sekarang hal itu belun terlaksana semuanya, namun satu hari kelak, pada hari penghakiman, hal tersebut akan terlaksana sebagaimana mestinya.

 

Raja Mesias yang kita kenal itu adalah raja yang menyelamatkan nyawa orang miskin dari ancaman yang membahayakan mereka. Ancaman terberat bagi jiwa manusia ialah kuasa dosa. Raja Mesias itu akan menyelamatkan kita dari dosa dan maut. Dan yang sangat amat luar biasa ialah: nyawa kita yang miskin di hadapan Allah itu sangat mahal di hadapan Sang Raja. Tidak ada raja seperti itu dituturkan oleh dunia ini.

 

Sebuah pertanyaan perlu diajukan kepada kita: kenalkah kita Raja Mesias bagaimana telah digambarkan di atas? Jika saudara dan saya kenal, maka seluruh karya-Nya yang sudah digambarkan di atas tentulah sudah kita nikmati  bersama. (St. Hotman Ch. Siahaan)

“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu”(Kol. 3 : 12 – 17)
 29 Dec

Saudara-saudara tentu pernah mengenakan baju baru; suasana natal biasanya mendorong kita memiliki baju baru. Alasan? Pastilah alasan untuk menyambut atau merayakan hari besar, hari sukacita, hari natal. Mengenakan pakaian baru sepertinya mempengaruhi penampilan kita: lebih gembira, senang, percaya diri dan ada rasa bangga.

 

Gambaran atau kiasan “mengenakan” baju baru diangkat oleh penulis surat Kolose. Tetapi apabila kita mengenakan baju baru berarti “baju lama” harus ditanggalkan. Apakah itu? Daftarnya diuraikan satu persatu, yakni: pencabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, keserakahan, menyembah berhala (ayat 5). Tetapi masih ada lagi: marah, geram, kejahatan, fitnah, kata-kata kotor, dan dusta (ayat 8–9). Semua daftar tadi sangat menggangu persekutuan; setiap orang akan mementingkan diri sendiri tetapi dengan merusak orang lain. Dan, akhirnya juga para pelaku kejahatan akan membinasakan diri sendiri. Perilaku-perilaku negatif yang disebut tadi adalah tanda-tanda kehancuran, tanda-tanda kematian persekutuan (masyarakat). Oleh sebab itu harus dibuang jauh-jauh! Itu perilaku lama!

 

Serentak dengan itu, kita segera mengenakan baju baru dan tentu perilaku baru sebagai hasilnya. Kenakanlah, kata penulis, belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah lembutan, kesabaran, dan pengampunan (ayat 12–13). Tetapi yang lebih utama atau landasan semuanya itu ialah kasih. Kasih ibarat perekat yang mempersatukan dan menyempurnakan persekutuan. Semua daftar itu adalah tanda-tanda kehidupan, kehidupan sejahtera, tanda-tanda keselamatan. Apabila setiap insan kristiani memberlakukan perilaku baru itu maka jemaat (masyarakat) akan berkembang baik; setiap dapat membangun kualitas hidup yang prima, kualitas yang membangun kemampuan pribadi untuk mengembangkan diri dan orang lain. Tetapi syarat lain disebut: agar damai sejahtera Kristus, memerintah di hati kita. Bagaimana caranya? Caranya ialah dengan terus menerus menghayati perkataan Kristus, menghayati ajaran-Nya yang berpusat pada kasih dan hidup di dalam sukacita. Semangat itu dinyatakan di dalam ucapan syukur karena Tuhan telah berbuat dan akan terus berbuat di dalam hidup kita.    (Pdt. Dr. Einar M. Sitompul)

“Maka engkau akan bersorak-sorai”
 17 Dec

Dua sisi dari kasih Allah yang selalu nyata dalam hidup manusia dapat diungkapkan dalam sebuah kalimat:”Sometime I love, sometime I hate you. But if I hate you it means that I love you.” Sepanjang perjalanan umat Allah, dicatat bahwa ada kalanya Allah bersikap lembut, lunak dan luwes tetapi ada kalanya ia keras, tegas dan no compromise terhadap perilaku dan perbuatan mereka. Sesewaktu Allah murka sampai menghukum mereka dengan hukuman yang sangat berat sampai menjadikan mereka sebagai bangsa buangan tetapi di lain waktu Allah menghibur dan membela mereka atas penderitaan mereka. (Orang batak bilang: ”satongkin dibantingi alai satongkinnai didampoli muse). Hal itu sesungguhnya menunjukkan kasih-Nya kepada umat-Nya. Untuk pertumbuhan iman yang sehat dan kuat sesungguhnya diperlukan kedua sisi tersebut. Tak kita pungkiri bahwa dalam kehidupan kita pun dua sisi yang berbeda pun selalu terjadi, susah – senang, duka – suka, tangis – tertawa. Kedua-duanya selalu hadir dan harus kita hadapi. Soal persentase atau mana yang lebih banyak kita alami itu hal lain. Itulah seni dan indahnya hidup. Jangan berharap hidupmu melulu satu warna saja. Tidak mungkin hidup kita hanya senang terus atau sebaliknya susah terus. Kalau mau senang terus, tunggu nanti ada waktunya. Kalau mau menderita yang kekal, juga ada waktunya nanti, yakni saat Kristus datang kedua kalinya untuk menjatuhkan penghakiman-Nya kepada setiap orang. Silahkan anda pilih dari kedua hal tersebut. Pilihan itu berlaku sejak sekarang. Bagi orang percaya, datangnya Hari Tuhan akan mengakhiri siklus kehidupan di dunia yang silih berganti tersebut. Hari Tuhan memberi pengharapan bagi orang beriman untuk mendapatkan sukacita dan kegembiraan sejati. Karena itu bila hidupmu sekarang susah, beban berat menghimpitmu, bertahanlah. Tuhan akan mengangkat penderitaanmu dan memberi kelegaan kepadamu. Bila nampaknya tidak ada solusi atas persoalanmu, pada Tuhan ada solusi yang akan membuatmu berbahagia. Karena itu jangan takut akan hari ini, besok, lusa bahkan di masa mendatang sebab Ia Tuhan kita menyediakan sukacita dan damai sejahtera kepadamu. Pastikanlah dirimu  bersama dengan Tuhan, sekarang, besok dan selamanya maka engkau akan bersoraksorai, amin!  (AMS)

Allah menyuruh utusan-Nya (Maleaki 3 : 1 – 4)
 08 Dec

Kedatangan pejabat tinggi menguntungkan daerah. Sebab jalan akan diratakan, lubang ditimbun dan pinggir jalan dihiasi dengan indah. Itu adalah ungkapan hormat terhadap dia yang datang berkunjung. Orang sibuk kesana kemari; akan banyak peninjauan untuk melihat apa saja yang akan dibenahi. Kota menjadi “hidup”, penantian menaikkan kegiatan, muncul gairah. Masa depan berdampak pada masa sekarang. Itulah makna adven.

 

Tuhan akan datang sebagai Mesias, Juruselamat yang didambakan dalam doa, akan menampakkan diri. Saatnya akan tiba. Tetapi persisnya saat itu tidak diketahui. Ia akan datang mendadak. Ia datang dalam kemuliaan sehingga tidak seorang pun tahu, ibarat matahari terbit tidak seorang pun mampu melihat langsung.

 

Kalau Mesias muncul kita hanya mampu tunduk. Itu pertanda kita makhluk lemah, orang berdosa, yang hanya dapat tertunduk lesu sambil mengharap belas kasihan-Nya. Kita tidak suci tetapi akan disucikan, akan dimurnikan seperti perak dan emas.

 

Agar dapat kemurnian, Ia mengutus utusan, mengutus Mesias. Ia akan menyatakan kasih Allah, mengungkapkan kehendak-Nya, agar kita tahu jalan yang benar. Peranan utusan itu sekarang diemban oleh orang Kristen. Kita dalam posisi diutus ke dalam dunia memberitakan kabar baik. Tetapi sebelum itu kita harus menantikan-Nya. Mulai sekarang kita mesti membuka hati, membenahi diri, lebih tegar: harus bertobat! Jangan mengandalkan pikiran sendiri, kita memohon petunjuk Tuhan. Kita adalah pengikut. Pengikut Kristus sehingga disebut orang Kristen. Marilah kita bangun sikap rendah hati. Tuhan akan memuliakan orang yang rendah hati, menguatkan yang remuk dan memberi harapan kepada orang-orang yang mencari Dia. Siapkan hati karena Ia tidak pernah mengecewakan! (Pdt. Dr. Einar M. Sitompul)

Advent Yeremia 33:14-16
 01 Dec

Sejarah perjalanan hidup bangsa Israel menjadi sebuah pelajaran berharga bagi kita, untuk memahami karya keselamatan Allah bagi umat manusia pada umumnya. Dengan Israel Allah mengikat perjanjian, mereka adalah  umat-Nya dan Ia adalah Allah bagi bangsa yang dipilih tersebut. kita pun mendapatkan bagian dalam perjanjian dengan Allah Israel tersebut di dalam dan melalui Yesus Kristus tuhan kita.

 

Bangsa Yehuda mengalami pembuangan dari tanah perjanjian. Keadaan itu bagi mereka menjadi sebuah tanda bahwa Allah telah menolak mereka sebagai umat-Nya. Sebab dengan tidak ditinggalinya lagi tanah Kanaan oleh bangsa itu, mereka menganggap bahwa perjanjian mereka dengan Allah telah dibatalkan oleh Allah sendiri. namun Allah  berfirman melalui para nabi-Nya dalam hal ini, Yeremia, bangsa itu akan kembali tinggal di tanah yang dijanjikan tersebut.

 

Akan tiba waktunya Allah akan menggenapi apa yang dijanjikan-Nya, yakni mengembalikan suku bangsa Yehuda ke tanah yang dijanjikan. Bila hal itu tiba, maka mereka akan kembali menikmati sukacita. Allah menggenapi janji-Nya itu. Yehuda kembali ke Yerusalem. Pada waktu mereka kembali ke Yerusalem, maka mereka akan disebut orang namanya ialah: TUHAN keadilan kita.

 

Sebutan itu sungguh sangat berarti. Dengan nama itu melekat pada orang Israel, mengandung arti, Tuhanlah yang membuat mereka menjadi benar. Kata keadilan dalam bahasa Ibrani memiliki makna yang sama dengan kebenaran. Hal yang sama juga terjadi di dalam diri orang Kristen. Paulus mengatakan dalam surat II Korintus, kita adalah kebenaran Allah di dalam Kristus.

 

Itu berarti Allah telah menerima kita sebagai sebagai orang orang yang benar dan orang orang yang hidup dalam kehendak Allah. Hal itu dapat kita miliki dengan keadaan sepenuhnya dalam kerajaan Allah di masa kedatangan Tuhan Yesus untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Itulah sebabnya kita sungguh menantikan kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Sebab pada waktu kedatangan-Nya itu menjadi nyata keberadaan kita di hadapan seluruh mahluk hidup yang ada di surga dan di bumi.

 

Pada waktu itu Tuhan sendiri akan menyatakan bahwa kita adalah orang benar. Jika Allah sendiri sebagai Hakim Yang Agung menyatakan bahwa kita adalah orang benar, maka siapa lagi yang akan menuntut kita di hadapan-Nya. Dengan pernyataan Allah bahwa kita adalah orang benar dari tahta penghakiman itu, maka kita pun akan diakui oleh segala mahluk yang ada di alam semesta ini sebagai orang benar di hadapan Allah. itulah sebabnya kita seyogianya menantikan hari penghakiman tersebut. maranatha ya Tuhan!

HCS

POKOK-POKOK PIKIRAN
 24 Nov

Gambaran tentang seorang raja dalam pikiran banyak orang selalu dikaitkan dengan kebesaran, kejayaan, kekuasaan dan kemuliaan. Kehidupan yang penuh dengan kesenangan dan kemewahan, jauh dari kesulitan dan penderitaan. Karena itu banyak orang berpikir: jika mereka dapat menjadi orang yang dekat dengan sang raja, maka hidup mereka pasti akan nyaman, penuh dengan kemuliaan dan kesenangan. Tidak heran, ketika diajak untuk melihat Yesus Kristus sebagai Raja, banyak di antara kita yang akan segera membayangkan keberadaan Kristus Yesus sebagai sosok yang penuh dengan kuasa dan kemuliaan. Dan jika disebutkan bahwa kita adalah anak-anak-Nya, maka kita akan segera membayangkan betapa nyamannya hidup kita sebagai anak-anak Raja.

 

Ketika Daniel mendapat penglihatan tentang Anak Manusia (Sang Mesias) sebagai raja yang diberi kuasa dan hormat dan kemuliaan (Daniel 7:9-10, 13-14), pesan yang mau disampaikan lewat penglihatan tersebut adalah bahwa semua orang dari segala suku dan bangsa dan bahasa harus tunduk dan mengabdi kepada Dia, karena Dia adalah Raja, Penguasa semesta. Pemahaman tentang Kristus sebagai Raja, lebih tepat dikaitkan dengan kuasa Kristus atas diri dan hidup kita. Ketika kita menyadari dan mengakui Dia sebagai Raja, maka kita wajib tunduk pada kedaulatan-Nya dan mengabdikan seluruh hidup kita untuk melayani Dia. Mengakui Yesus sebagai Raja sama dengan mengakui Dia sebagai Tuhan (Tuan) yang berkuasa dan berdaulat dalam hidup kita.

 

Tuhan Yesus sendiri menyatakan bahwa kerjaan-Nya bukan berasal dari dunia ini. Itu sebabnya Ia tidak datang dalam kemuliaan dunia. Ia adalah Raja yang merendahkan diri dalam kehinaan supaya Ia bisa membawa orang-orang hina seperti kita dalam kemuliaan-Nya. Rasul Paulus menyebut apa yang Tuhan Yesus lakukan dalam satu kalimat sederhana: “Ia telah menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya dalam kemiskinan-Nya”
(2 Korintus 8:9). Atau dalam bagian lain Paulus menyebutkan, “Dia yang tidak mengenal dosa, telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia, kita dibenarkan oleh Allah”. (2 Korintus 5:21). 
(THS)

MARILAH KITA SETIA MENGHADAP TUHAN DAN SALING MENDORONG DALAM KASIH” Ibrani 10:19-25
 17 Nov

Dalam tradisi Yahudi, tempat ibadah bernama Bait Allah itu terbagi atas ruang kudus dan ruang maha kudus. Ruang maha kudus dipisahkan oleh tirai. Umat Tuhan tidak diperkenankan untuk masuk ke tempat ini untuk berhubungan langsung dengan Tuhan, hanya para imam di tempat kudus dan seorang Imam Besar yang terpilih dari antara imam setahun sekali masuk ke tempat Maha Kudus. Di tempat itulah seorang imam berbicara kepada Tuhan mewakili umatNya, Apabila umat melakukan dosa dan ingin membersembahkan Korban Bakaran dan Korban Penghapus Dosa. Menurut kesaksian penulis Injil ketika Yesus mati di kayu salib tabir yang menutup jalan masuk ke tempat yang kudus di Bait Allah terbelah dua. Hal ini menunjukkan bahwa dengan kematian Yesus tidak ada lagi ruangan pemisah antara imam dan umat dalam peribadatan. Semua dilayakkan untuk masuk ke tempat kudus-Nya. Sebab Yesus telah membuka tabir pemisah melalui yaitu diri-Nya sendiri yang mati di kayu salib sebagai korban penghapus dosa sehingga kita boleh diperkenankan secara langsung berhubungan dengan Allah tanpa perantara di dalam Bait-Nya.

Nas ini mengingatkan kita kembali tentang karya Kristus yang sungguh sangat luar biasa bagi kita semua. Pengorbanan Kristus ini membawa keuntungan yang sangat besar bagi kita. Lewat karya-Nya di kayu salib itu, kita diberikan kebebasan untuk datang secara langsung menyampaikan semua pergumulan dan kerinduan kita kepada Allah. Umat Tuhan diundang untuk terus-menerus mendekat pada Allah, datang  menghadap Allah dengan hati tulus dalam iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.

Dorongan semangat! Kita semua membutuhkannya, khususnya dalam perjalanan iman kita. Persekutuan yang saling mendukung dan menguatkan adalah sangat diperlukan untuk  menolong umat Tuhan memperjuangkan kemenangan imannya. Nas kotbah hari ini memberitahu kita untuk saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan- pertemuan ibadah kita, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. Sebagai umat Tuhan, kita harus memegang teguh pengakuan pengharapan kita pada Yesus, tidak mudah diombing-ambingkan rupa-rupa pengajaran yang menyesatkan. Tekanan hidup dan berbagai ajaran yang menyesatkan kiranya tidak membuat umat Tuhan goyah dan akhirnya mengundurkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah serta melepaskan iman percayanya dari Yesus, seperti dilakukan oleh sebahagian orang. Tuhan menghendaki agar kita memilih untuk setia kepadaNya sampai akhir hidup kita, agar kelak mahkota kehidupan, upah kehidupan kekal dianugerahkan kepada kita.   Amin. (Pdt. Mika Purba, STh)

Yesus Kristus Menjadi Korban Tebusan Bagi kita (Ibrani 9:24-28)
 12 Nov

Adalah pemberian yang paling besar dan paling luhur bila seseorang rela berkorban bukan untuk dirinya, melainkan untuk orang lain. Demikian yang dilakukan Yesus Kristus bagi dunia ini, dan bagi kita semua. Yesus adalah korban yang sempurna yang melebihi dan melampaui segala korban yang dipersembahkan dalam Perjanjian Lama. Dengan kasih yang penuh pengorban, Ia rela membayar lunas segala hutang dosa kita. Inilah yang disampaikan  penulis surat Ibrani kepada jemaat yang tengah mengalami penderitaan, tekanan, dan penganiayaan, dengan tujuan agar mereka tabah dan tetap setia kepada Yesus Kristus yang sudah mengaruniakan keselamatan itu. Di dalam Yesus ada keselamatan yang sempurna.

Penulis surat Ibrani juga menyampaikan kepada pembacanya tentang keunggulan Yesus dari malaikat ( 1: 1-2:18), dari Musa (3:1-19), dari Yosua (4:1-13) dan secara khusus dalam nats khotbah kita hari ini disampaikan keunggulan Yesus sebagai Imam Besar dari  imam-imam dalam Perjanjian Lama seperti Harun dan Melkisedek. Para imam-imam  dalam Perjanjian Lama, harus mempersembahkan  anak domba jantan sekali setahun  untuk keampunan dosa.  Tidak demikiaan halnya dengan Yesus Kristus. Sebagai Imam Besar  yang turun dari sorga, Ia bukan mempersembahkan anak domba  jantan, melainkan Ia mempersembahkan diri-Nya melalui  pengorbanan-Nya di kayu salib dan mencurahkan darah-Nya menjadi tebusan  bagi banyak orang. Dialah korban yang sempurna, yang dilakukan-Nya sekali untuk selama-lamanya.

Keselamatan yang sempurna terjadi bukan melalui usaha dan pekerjaan manusia, melainkan oleh karya pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib.    Semuannya ini Ia lakukan hanya karena kasihnya semata (Yoh. 3:16). Yesus Kristus menjadi pengantara dan membuka jalan bagi kita yang percaya untuk masuk  kehadirat Allah yang mahakudus. Kini Imam Besar Yang Agung itu sudah berada di hadirat Allah. Dia akan datang kembali bukan lagi untuk menebus dosa-dosa kita, namun untuk menganugerahkan keselamatan kepada kita yang percaya kepada-Nya.  Untuk itu, dalam perjalanan hidup yang penuh penderitaan dan tantangan ini, hendaklah kita tabah dan kuat, serta  memegang teguh kepercayaan dan kesetiaan kita kepada Yesus Kristus Tuhan kita. Sebab hanya kepada mereka yang setia sampai akhir Tuhan akan mengeruniakan mahkota kehidupan (Wahyu 2:10c).  Pdt. Kardi Simanjuntak, M.Min

Kasihilah Tuhan Allahmu dengan Segenap Hatimu (Markus 12 : 28 – 34)
 06 Nov

HUKUM MANAKAH YANG PALING UTAMA ? Ini pertanyaan yang diajukan oleh kelompok paling saleh dari sebuah umat paling religius di bawah kolong langit. Mereka pasti tahu peraturan-peraturan agama yang ratusan jumlahnya. Agama Yahudi adalah agama hukum: untuk segala sesuatu ada peraturannya. Peraturan itu tidak asal dibuat: ada ahli untuk itu yakni Ahli Taurat. Pekerjaan mereka mengkaji hukum agar sesuai dengan kehendak Tuhan; umat Allah berusaha sekuat tenaga mengatur hidup pribadi, keluarga dan umat agar sejalan dengan Taurat (Pengajaran).

 

Tetapi di dalam perjalanan waktu hidup keagamaan mereka tenggelam di dalam rutinitas, semua berjalan otomatis sesuai aturan. Hidup keagamaan umat menjadi tertib; semua berlangsung seperti biasa (as usual); aturan yang dilaksanakan otomatis kehilangan sukacita, tanpa gairah, tanpa perasaan. Semua berlangsung mekanistik. Umat paham betul tentang bagaimana mempercayai Tuhan, tahu betul seluk beluk ritual dan tahu bahwa kita wajib mengasihi sesama manusia. Namun mengasihi sesama lama-kelamaan direduksi (dikurangi) menjadi mengasihi hanya sesama orang Yahudi. Di luar umat tidak dianggap sesama. Ada juga perasaan bahwa mengasihi Tuhan lebih penting dari pada mengasihi sesama. Tuhan Yesus mencerahkan umat Allah dengan menegaskan kasih kepada Allah dan kepada sesama nilainya sama. Keduanya adalah hukum utama (ayat 31). Kedua hukum, mengasihi Allah dan mengasihi sesama, ibarat dua sisi dari satu mata uang. Kalau tanda pada satu sisi hilang, uang itu kehilangan nilai.

 

Apa artinya ? Perhatikanlah betapa sering kita melihat orang sangat rajin mengikuti ibadah, senang mengenakan atribut keagamaan, amat bangga memperlihatkan bahwa dia penyembah Tuhan, dan fasih pula mengutip ayat-ayat Kitab Suci. Tetapi perhatikan praktik hidupnya setiap hari. Apakah ia mengurus keluarganya? Apakah ia suka menolong sesama? Mengaku beragama tetapi membenci orang lain, hanya setengah beragama! Mengaku beragama tetapi dengki melihat orang sukses, iri hati kalau orang hidup senang. Itu juga setengah beragama.

 

Tuhan menghendaki keduanya serentak dan sejalan.; sama-sama berharga di mata Tuhan. Kalau kita mempraktikkan kedua hukum maka kita telah berada di jalur yang tepat (on the right track). Kasihilah Tuhan dan kasihilah sesama. Semua dengan perasaan!  

Pdt. DR. Einar M. Sitompul

AMBISI (Bukan memerintah melainkan melayani) Markus 10:35-45
 20 Oct

     Ambisi adalah keinginan membara untuk sukses atau mencapai sesuatu yang lebih. Tidak salah jika manusia berambisi. Bahkan, untuk memajukan gereja di butuhkan pemimpin yang berambisi. Masalahnya, kemana ambisi itu di arahakan? Yakobus dan Yohanes punya ambisi egois yang terarah pada dirinya sendiri. Mereka meminta kepada Yesus kelak menempatkan mereka di posisi yang tertinggi (ayat 37). Menjadi yang terhebat. Pemegang kuasa. Mendengar permintaan itu, kesepuluh murid lain marah. Mengapa? Karena mereka pun mengincar kedudukan itu!!! Dari situ Yesus mengarahkan mereka memiliki ambisi yang terbaik: "meminum cawan yang harus Kuminum" (ayat 38). Ambisi untuk berkorban seperti Yesus. Menjadi hamba yang gigih dan melayani Tuhan dan sesama.

 

     Pernyataan Yesus ini tidak berdiri sendiri, dimana situasi saat itu Yesus dalam pergumulan, membicarakan saat-saat penderitaan yang semakin dekat, Dia akan diserahkan (33,34),  ditambahi lagi ketika permintaan  Yakobus dan Yohanes yang tidak mengerti akan keadaan itu. Orang yang mencari kepentingan sendiri cenderung tidak tanggap membaca situasi dan tidak sanggup mengendalikan diri. Sulit mengerti akan keadaan dan oleh keinginannya, akan memaksakan kehendak dan bertindak melampaui batas kewajaran.

 

     Mengikut Yesus berarti melepas ikatan duniawi dan mengikat hidup dengan hal surgawi. Memahami hari yang akan datang (sorga) harus dengan pikiran dan pengertian sorga. Mendapatkan kemuliaan Sorga harus dengan ketentuan Sorga. Kesempatan duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus, tidak dapat diperoleh dengan cara memohon atau mengandalkan hubungan baik ("KKN"). Posisi itu diberikan Bapa kepada orang-orang bagi siapa Dia telah menyediakannya (Mat. 20:23). Artinya setiap orang tunduk kepada kuasa Bapa, Yesus dan murid-murid-Nya dan tahta diberikan kepada orang yang setia dalam hidup dan pelayanannya.

 

     Yesus mengajarkan barangsiapa yang ingin menjadi besar, hendaklah ia menjadi pelayan di antara sesama dan barangsiapa yang ingin menjadi terkemuka hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Mereka harus bergiat bukan karena posisi akhir, tetapi karena mereka bergabung dengan Yesus karena tujuan Allah di dalam diri Yesus menjadi berkat bagi bangsa-bangsa, demi rencana Bapa di bumi.

 

     Dalam pelayanan, tidak salah memiliki ambisi, tetapi hati-hati, sebab ambisi itu bagaikan api. Bisa menghangatkan, tetapi bisa juga menghanguskan. Ambisi egois bisa menghasilkan perseteruan, sebaliknya ambisi yang kudus mempersatukan. Sudah benarkan ambisi kita...??? Adakah kita mencari hal-hal yang besar bagi Tuhan, atau bagi diri sendiri...???

 

     Selamat Hari Minggu, Met menjadi Pelayan Kristus. Tuhan memberkati.

     Pdt. Osator Simanjuntak, MTh

CARILAH YANG BAIK DAN JANGAN YANG JAHAT SUPAYA KAMU HIDUP”
 13 Oct

Hari ini, 37 orang anak Tuhan yang telah belajar sidi selama kurang lebih dari setahun, akan menerima Peneguhan Sidi. Di hadapan orang tua, jemaat dan terlebih di hadapan Tuhan, mereka akan menyaksikan iman kepercayaannya kepada Tuhan. Mereka telah belajar Firman Tuhan sebagai penuntun untuk membedakan antara yang baik dan yang jahat. Bimbingan yang berlandaskan Firman Tuhan adalah bekal dalam menentukan sikap dan pilihan dalam menjalani kehidupan. Apa yang dikehendaki Allah untuk mereka lakukan pun telah dipelajari. Mereka telah dibina untuk dapat menjadi anak-anak yang baik, yang menghargai waktu, menghormati orangtua, menyadari keberadaannya sebagai orang Kristen di tengah-tengah interaksinya di dunia ini. Kita berharap, apa yang telah mereka pelajari selama 1 tahun ini akan diwujudnyatakan di tengah persekutuan keluarga, di lingkungan sekolahnya dan di gereja dan di masyarakat. Firman Tuhan yang mereka pelajari selama ini kiranya menjadi pedoman dan penuntun serta kekuatan untuk mampu memilih apa yang baik di dalam hidupnya, sehingga mereka akan menjadi pelaku-pelaku Firman. Selamat kita ucapkan kepada para orangtua yang telah mewujudnyatakan janjinya saat membawa anak-anaknya untuk dibaptis dahulu.

       Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita, agar mencari apa yang menjadi kehendak Tuhan, mencari yang baik, bukannya melakukan kejahatan, supaya kita hidup. Kritikan yang sangat

tajam kepada umat Tuhan pada zaman Nabi Amos adalah bahwa hubungan umat Tuhan dengan bangsa-bangsa lain menjadikan umat tidak lagi mampu menunjukkan jati dirinya sebagai bangsa pilihan Allah. Perilaku tidak sesuai dengan perkataan. Peribadahan yang dilakukan tidak sesuai dengan moralitas. Salah satu sorotan tajam dari nabi Amos adalah ibadah orang Israel. Ibadah yang hanya bernuansa ceremonial belaka, kenyataannya banyak di antara umat Tuhan yang membiarkan ketidakadilan merajalela, bahkan mereka sendiri sudah menjadi pelaku ketidakadilan.

       Saudara yang kekasih! Carilah Tuhan, carilah yang baik dan jangan yang jahat, itulah pesan Firman Tuhan untuk kita pada minggu ini! Makna yang terkandung dari kata “carilah” adalah upaya atau kemampuan mengambil keputusan menentukan sendiri apa yang sedang dicari. Sedangkan makna dari kata “menjauhi” adalah kemampuan menghindar dari yang disodorkan kepada kita. Dunia dengan segala keinginannya menyodorkan pilihan kepada kita. Dari pilihan yang disodorkan itu, kebanyakan menjanjikan kenikmatan bahkan kebahagiaan. Tetapi pada kenyataannya akan menjerumuskan kita semakin jauh dari kehendak Tuhan. Tinggal di dalam dunia kejahatan dan melakukan yang jahat hanya akan membawa kita pada kebinasaan. Akan tetapi, Tuhan tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Itulah sebabnya Tuhan selalu menyerukan seruan pertobatan kepada umatNya. Tuhan yang telah mengutus Yesus Kristus untuk menyelamatkan kita, selalu menunggu agar kita mencari dan menemukan Dia selagi masih ada kesempatan. Percaya dan hidup baru di dalam Yesus, hanyalah satu-satunya jalan untuk beroleh keselamatan dan hidup kekal. Hayatilah akan Firman Tuhan yang engkau pelajari, karena dialah sumber kehidupanmu. Carilah Tuhan, lakukan yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup. Tegakkanlah keadilan, katakan yang benar, dan jadilah berkat bagi dunia dan bagi sesamamu. Amin.

 

Pdt. Mika Purba, STh

Saksikanlah Perbuatan Tuhan Yang Sungguh Mengagungkan (Ibrani 2 : 5-12)
 08 Oct

Saudara-saudara yang dikasihi Yesus Kritus!

Perbuatan Tuhan sungguh mengagungkan. Dunia dan segala isinya yang begitu baik adalah ciptaan-Nya. Secara khusus bagi kita umat manusia, kita diciptakan-Nya dari debu tanah (Ibr: haadamah), itu adalah kesaksian Alkitab (kitab Kejadian). Dengan kesaksian ini maka kita menolak pandangan yang mengatakan bahwa manusia adalah hasil dari epolusi atau hasil dari proses alamiah, atau terjadi begitu saja. Sekalipun manusia diciptakan dari debu tanah, namun Allah punya rencana yang begitu agung dan mulia kepada manusia, yakni berkuasa atas segala ciptaan (Kej. 1:28). Manusia diciptakan segambar dengan Allah, melebihi segala ciptaan yang ada.   Pemazmur  dalam kesaksinya berkata: “Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat” (Maz. 8: 6). Manusia diciptakan sedikit lebih rendah dari Tuhan. Ini sangatlah mengagungkan, dan patut kita syukuri.

Namun ketika manusia jatuh ke dalam dosa, manusia menjadi insan yang tidak berdaya, yang terbelenggu oleh kerakusan dan kelemahannya. Manusia tampil seram,  merusak dirinya dan alam sekitarnya. Manusia saling bermusuhan dan saling memangsa satu dengan yang lain. Namun keadaan ini itu tidak berlangsung terus-menerus. Oleh karena cinta kasih Tuhan, maka Ia memulihkan kembali status manusia. Untuk mewujudkan rencana Tuhan yang mulia ini, sesaat Yesus menjadi lebih rendah  dari pada malaikat. Yesus menjadi sama dengan manusia, bahkan menderita dan mati disalibkan. Namun pada hari yang ketiga Ia bangkit dari antara orang mati, naik ke surga, dan Allah meninggikan Dia, mengaruniakan kepada-Nya nama di atas  segala nama, dan dalam nama-Nya bertekuk lutut  segala yang ada, dan segala lidah mengaku : Yesus Kritus adalah Tuhan.” (Flp.2:9-11).  Dia adalah dasar iman kita, yang memberi jaminan keselamatan bagi kita yang percaya. Ia lebih unggul dan tidak dapat dibandingkan dengan para nabi, malaikat dan pemimpin dalam Perjanjian Lama. Yesus menjadi mediator yang mendamaikan  kita orang berdosa dengan Tuhan, kepada-Nya diberi kuasa,  kehormatan dan kemulian yang setinggi-tingginya. Dialah Tuhan daan Raja kita yang patut dipuji dan disembah sampai selama-lamanya.

Kita sebagai warga HKBP dan bangso Batak, hari ini patut bersyukur di ulang tahunnya yang ke-151. Sebelum para missionaris membawa Injil ke tanah Batak, bangso Batak hidup di bawah kuasa dosa.  Namun oleh kasih karunia Tuhan, melalui  para hamba-Nya, bangso Batak diselamatkan oleh Tuhan. Injil Tuhan telah membebaskan bangso Batak dari kegelapan,  kebodohan, dan dari ketertinggalan,  menjadi bangso yang perpendidikan dan yang  bermartabat. Bangso Batak menjadi alat Tuhan untuk memberitakan Injil kerajaan Allah ke berbagai tempat, daerah, suku, dan bangsa di dunia ini. Untuk itu, sebagai jemaat HKBP  patutlah kita bersuyukur kepada-Nya, agungkan, saksikan dan  beritakanlah  perbuatan-Nya yang sungguh ajaib.  Amin.  Pdt. Kardi Simanjuntak, M.Min

          

TAURAT TUHAN ITU MENYEGARKAN HATI (Mazmur 19 : 8 - 15)
 29 Sep

     Sesuatu yang kita lakukan dengan senang hati akan lancar, jadi mudan dan tidak melelahkan. Tetapi apabila kita melakukannya dengan terpaksa pastilah akan tersendat, sulit dan cepat lelah. Suatu yang terpaksa membuat pelaku menggerutu, mengumpat, dan ingin melarikan diri. Pekerjaan yang menyenangkan hati biasanya berkaitan dengan hobi, bakat atau talenta. Lihatlah pelukis: siang malam ia menggerakkan kuas, teratur, perlahan, penuh minat dan kadang-kadang raut muka puas terpancar dari wajahnya. Lihat pula seorang teknisi : semakin sulit kerusakan semakin bergairah ia mengatasinya; selam belum terpecahkan ia gelisah dan penasaran sampai akhirnya ia memperoleh pemecahannya.

 

     Pemazmur sangat berbahagia atas hubungannya dengan Tuhan. Mengenal Allah baginya suatu hal yang sangan menyukakan hati; ia bergairah bekerja, ia menikmati hidupnya dan selalu berusaha mengerjakan pekerjaannya agar sempurna hasilnya. Taurat Tuhan, sering kita alih-bahasakan dengan hukum Allah (Patik ni Debat), bukan benan;justru ia melihat aspek indah dari Taurat. Istilah yang dipakainya untuk Taurat adalah bahasa perasaan, bahasa orang yang enjoy; menyegarkan jiwa, menyukakan hati, membuat mata bercahaya, benar, adil, indah dan manis. Hanya orang yang senang hatinya yang mampu mencetuskan perasaan yang begitu dalam. Orang yang menggerutu, bersungut-sungut, suka mengomel, tidak pernah melihat yang indah. Kalau ia datang ke pesta pastilah yang dieritakan kepada temannya hal-hal yang jelek, berbagai kekurangan yang dilihatnya; ia datang sebagai tukang kritik bukan penikmat. Kalau kita mengahargai undangan pesta pastilah hati kita senang, berbunga-bunga sebab "masuk hitungan" menurut pengundang.

 

     Marilah kita menikmati hubungan dengan Tuhan sebagai kebahagian. Jikalau bersama dengan kekasih, suami-isteri, menyukakan hati, maka apa yang dimintanya dengan senang hati akan dipenuhi. Apakah kita suka punya hubungan dengan Tuhan, tentulah Taurat-Nya akan membahagiakan hati kita. Taurat Tuhan adalah peta perjalanan hidup agar hidup kita senang, bahagia dan bergairah dan manfaatnya pastilah melegakan seperti "mendapat upah yang besar".

 

Pdt. Dr. Einar M. Sitompul

PEMBAHARUAN PERLU DAN MENDESAK
 22 Sep

     Berbagai macam perlakuan jahat dialami Yeremia, sampai nyawanyapun terancam. Orang-orang Anatot yang menolak kebenaran pemberitaan firman-Nya terusik untuk melenyapkan Yeremia karena hati mereka justru dipenuhi dengan kegeraman dan kemarahan (19). Sesungguhnya mereka tidak tahan mendengar kebenaran firman-Nya yang telah membongkar ketidaksetiaan dan dosa mereka kepada Allah, namun mereka mengeraskan hati untuk bertobat, maka hamba-Nya yang menjadi sasaran kemarahan mereka. Tuhan ada di pihak hamba-Nya  dan tidak membiarkan hamba-Nya dikuasai oleh orang-orang yang memberontak kepada-Nya. Yeremia telah melakukan seturut kehendak dan perintak-Ya, maka sepenuh hidupnya menjadi tanggung jawab yang mengutusnya, yakni Allah sendiri. Ketika ada maksud jahat dari orang Anatot, segera tidak pernah berprasangka buruk terhadap orang-orang Anatot yang dilayaninya, namun Tuhan yang membukakan kebusukan hati mereka kepadanya. Mereka sepakat melenyapkan Yeremia agar suara kebenaran-Nya tidak lagi terdengar, dengan demikian amanlah hidup mereka dalam dosa. Namun Tuhan yang menguji batin dan hati membongkar semuanya. Setelah Yeremia mengetahui semuanya, ia kembali menyerahkan perkara dan hidupnya kepada Tuhan (20).

 

     Inilah langkah tepat yang telah diambil Yeremia, karena ia yakin bahwa Tuhan sendiri yang akan mendatangkan hukuman dahsyat atas mereka pada waktu yang telah ditentukan-Nya (22-23). Jaminan-Nya atas hidup hamba-Nya yang setia melakukan kehendak dan perintah-Nya memang sungguh nyata. Kemana pun dan apa pun yang hamba-Nya sedang lakukan di garis kehendak-Nya tidak pernah ditinggalkan-Nya sendirian. Tuhan memang tidak pernah berjanji membuat langkah hamba-Nya ringan dan lancar, justru di jalan yang berliku-liku dan penuh tantangan, janji perlindungan-Nya menjadi indah dan sangat melegakan. Yeremia benar-benar melakukan pembaharuan total. Untuk itulah setiap gerakan pembaharuan biasanya menimbulkan masalah khususnya bagi mereka yang sudah merasa nyaman dengan kebiasaan kebiasaan lama. Sebut saja para koruptor yang sudah merajalela di berbagai bidang, ketika pemimpin dan reformasi mengamantakan untuk memberantasnya,  ternyata secara tidak langsung ditentang bahkan mendapat serangan balik. Tak terkecuali di gereja, juga terdapat orang-orang yang menentang pembaharuan yang mengacu pata Tata Gereja misalnya, ada saja pihak-pihak yang berusaha menggunakan pengaruh dan jasanya untuk senantiasa mengedepankan apa yang  menjadi kemauannya. Dan menolak upaya-upaya pembaharuan yang mengacu pada tatanan.

 

      Demikian yang dialami Yeremia dalam upaya pembaharuan yang dilakukannya. Sebagai seorang nabi, yang datang dan hadir untuk menyampaikan dan memperjuangkan kebenaran Firman Tuhan namun menghadapi tantangan dan ancaman berat. Orang-orang Anatot yang menolak pemberitaan Firman-Nya dan berniat untuk melenyapkan Yeremia karena hati mereka dipenuhi dengan kemarahan (19). Sesungguhnya mereka tidak tahan mendengar kebenaran firman-Nya yang telah membongkar ketidaksetiaan dan dosa mereka, namun mereka mengeraskan hati untuk bertobat. Disinilah Yeremia menyampaikan peringatan dengan tegas dan ia yakin bahwa Tuhan sendiri yang akan mendatangkan hukuman dahsyat atas mereka pada waktu yang telah ditentukan-Nya (22-23). Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk menghayati kenabian kita, dan sebagi agen pembaruan di dalam hidup sehari-hari. Entah di dalam keluarga, tempat kerja maupun masyarakat pada umumnya. Dalam hidup beriman kita diharapkan tangguh dan tegas serta tidak mudah menyerah dalam menyatakan kebenaran firman. Tuhan memang tidak pernah berjanji membuat langkah hamba-Nya ringan. Justru di jalan yang berliku-liku, janji perlindungan-Nya menjadi indah dan sangat melegakan.

 

Pdt. Osator Simanjuntak, MTh

Siapa Yesus Bagi Gereja dan Orang Kristen
 17 Sep

     Perikop ini diberi judul: Pengakuan Petrus, yang menceritakan tentang Yesus yang bertanya tentang  ke-siapa-an dirinya terhadap murid-muridNya. Setelah mengungkapkan berbagai pendapat orang banyak, para murid juga ditanya mengenai pandangan mereka sendiri. Saat itulah, Petrus mencetuskan suatu pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Pengakuan ini merupakan dasar dan titik tolak dari keimanan Kristen sepanjang zaman. Karena itu, pengakuan ini merupakan suatu peristiwa yang penting dan patut dianggap sebagai "Naskah awal dari Proklamasi Ketuhanan Yesus Kristus yang menjadi pedoman utama Gereja Kristen sepanjang sejarah".

 

     Nama baru yang diberikan oleh Yesus kepada Simon adalah Petrus (yang artinya adalah batu karang). Nama Petrus menunjukkan keberadaan baru dari Simon, begitu juga nama baru Kristen, yang kita terima bukan oleh kemampuan manusiawi kita. Nama ini adalah karena kita telah menerima pernyataan dari Allah tentang keberkahan bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah yang hidup. Pengakuan inilah yang menjadi pondasi Gereja. Di atas dasar pengakuan tersebutlah Yesus mendirikan Jemaat atau GerejaNya. Gereja atau Jemaat Kristus hanya mungkin berdiri teguh di atas alas yang satu ini.

 

     Gereja atau jemaat yang benar hanya mungkin tumbuh atau lahir bukan oleh keinginan atau inisiatif manusiawi. Gereja atau jemaat tidak layak didirikan apalagi oleh karena unsur-unsur yang bertentangan dengan perintah. Dia yang adalah Kepala Gereja, seperti oleh  pertengkaran-pertengkaran, sakit hati, dendam dan yang bersumber dari nafsu dan kepentingan-kepentingan dangkal lainnya. Kita patut mengoreksi alasan berdirinya beberapa jemaat atau gedung-gedung gereja di sekitar kita. Benarkah jemaat atau gereja tersebut didirikan atas alasan Pengakuan yang dinyatakan oleh Petrus? Bila ya, maka kuasa apapun tidak akan dapat menggoyahkannya. Kekuatan gereja atau jemaat adalah dalam kesetiaannya untuk tetap berdiri di atas pondasi tersebut. Terhadap gereja atau jemaat seperti itulah dikatakan, "alam maut tidak akan menguasainya". Gereja dan persekutuan jemaat hanya mungkin hancur berantakan bila sudah lari bergeser atau menyeleweng dari pondasinya.

MENJADI PENDENGAR DAN PELAKU (Yak. 1 : 16 – 27)
 01 Sep

     Saudara-saudara sekalian. “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar,” demikian sebuah kalimat Yakobus yang amat terkenal di kalangan jemaat Kristen dan terasa akan diaminkan oleh banyak orang. Kita sering merasa gerah jikalau seseorang selalu “lancar berkata-kata,” tetapi kita tahu dia tidak melakukan ucapannya. Jemaat Kristen pada masa Yakobus rupanya ditengarai rajin membahas pokok-pokok iman Kristen. Berdebat kadang-kadang menyenangkan hati sebab menimbulkan gairah mengasah otak mencari argumen-argumen agar kita unggul. Mungkin sekali mereka menganggap keselamatan tidak memerlukan usaha. Bukankah cukup hanya dengan percaya kita sudah diselamatkan? Kita tidak perlu melakukan perbuatan-perbuatan baik, bukankah ia anugerah Allah semata? Maka cukuplah percaya saja. Berbuat baik? Ah, itu tidak penting, kira-kira begitu suasana hati orang-orang Kristen, dulu dan sekarang juga. Orang Kristen, ibarat seorang anak di dalam keluarga, ditetapkan menjadi anak sulung (buah sulung) oleh firman kebenaran (ayat 18). Pembaharuan dunia, pembaharuan seluruh ciptaan Allah sudah dimulai dari kehadiran kita orang-orang percaya. Maka kita tidak lagi boleh berdalih dan bersilat kata untuk menyenangkan diri sendiri saja tetapi mengabaikan tugas kita, tugas menjadi saksi Kristus di dalam masyarakat. Agar mampu memenuhi tugas kita harus mampu mengendalikan diri: jangan cepat marah dan menjauhkan segala sesuatu yang kotor dan kejahatan. Dan ada lagi: tidak memandang muka (2 : 1 – 13) dan menjaga lidah (3 : 1 – 12). Nasihat ini jelas-jelas berasal dari hikmat. Salah satu buku hikmat di dalam Perjanjian Lama ialah Amsal. Hikmat menurut Amsal ialah kemampuan mengendalikan diri; orang yang bijaksana (wiseman) terlihat dari mampu tidaknya ia mengendalikan dirinya. Untuk apa? Agar kita memperoleh kehidupan yang sejahtera dan mensejahterakan orang lain. Pusat aktivitas kita ialah hati bukan otak! Hati dijaga agar hidup kita memancarkan kebaikan. Dengan manis Amsal mengungkapkan

 

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan,

karna dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4 : 23).

 

     Jikalau orang hanya menjadi pendengar maka ia seperti orang yang mengamat-amati dirinya di depan cermin, tiap sebentar melakukannya, tetapi segera lupa (ayat 21). Ini peringatan halus kepada kita: agar jangan terus menerus melakukan kegiatan yang tidak bermanfaat bagi orang lain. Kegiatan jemaat, ibadah dan PA, hendaknya mendorong kita semakin rajin dan bersukacita melayani orang lain khususnya para yatim piatu dan janda yang sedang di dalam kesusahan. Iman yang dewasa ialah mampu mendengar dan terampil berbuat.

     Iman adalah soal batin. Mendengar firman Tuhan dan membahas adalah baik. Tetapi akan lebih baik apabila yang kita dengar kita lakukan sehingga dapat diteladani dan yang tidak kurang penting perilaku kita menyukakan hati, mencerahkan dan melegakan orang lain. Tuhan Yesus membagi dua golongan pengikut-Nya: orang bijaksana dan orang bodoh! Orang bijaksana adalah orang yang mendengar dan melakukan ajaran-Nya dan orang bodoh hanya mendengar tetapi tidak melakukan (Mat 7 : 24 – 27). Jadilah pelaku Firman agar kehidupan bertambah sejahtera. 

Pdt. Dr. Einar M. Sitompul

Allah Sebagai Perlindungan Mazmur 34:15-22
 24 Aug

Mazmur ini dalam teks aslinya ditulis berdasarkan alfabet dalam bahasa Ibrani. Sayang hal tersebut tidak dapat terlihat dalam terjemahannya. Pemazmur menuturkan pengalamannya, dimana ia berada dalam pergumulan dan mendapatkan pertolongan. Pengalamannya itu dijadikannya sebagai pengajaran bagi orang lain. Lalu pemazmur menuturkan apa yang dilakukan TUHAN bagi orang yang berlindung kepadanya, sebagaimana terlihat dalam nas kita.

Pemazmur dari pengalamannya mengatakan bahwa mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinganya mendengar teriakan mereka minta tolong. Allah yang dikenal orang beriman adalah Allah yang peduli dengan keberadaan orang yang percaya kepada-Nya.

Di sisi lain, sebagai wujud perhatian-Nya pada orang percaya, maka wajah TUHAN menentang orang jahat yang ingin melenyapkan orang benar di muka bumi ini. Fakta sejarah membuktikan hal ini. Dari sejak dahulu hingga sekarang, ada saja aliran tertentu, atau orang yang berusaha untuk melenyapkan Gereja Tuhan di dunia ini. Tetapi bukan Gereja yang lenyap, melainkan justru mereka yang merencanakan hal itulah yang lenyap. Salah satunya ialah: negara Uni Soviet.

Pemazmur mengajarkan kepada kita, bahwa TUHAN sangat dekat pada orang yang sedang berada dalam pergumulan. Orang-orang yang remuk hati, justru mengalami kedekatan yang akrab dengan Allah yang mereka percayai. Apa yang diutarakan pemazmur ini bukanlah sebuah teori, melainkan pengalamannya sendiri. Hal ini dapat menjadi sebuah pelajaran yang berharga bagi kita, bilamana menghadapi pergumulan.

Ada orang yang menganggap Allah itu sedang menjauh dari kita, pada saat menghadapi pergumulan. Pada hal berdasarkan pengalaman pemazmur, justru pada saat itulah Allah sangat dekat kepadanya, sehingga Allah bertindak untuk menyelamatkan dia dari persoalan yang sedang dihadapinya.

Pemazmur mengakui bahwa pergumulan orang benar itu banyak, tetapi sebanyak pergumulannya, sebanyak itu pula pertolongan yang dinikmatinya dari Allah. Bahkan pemazmur mengatakan tiada tulangnya yang patah oleh karena pergumulan yang dihadapinya. Nas ini secara khusus dikenakan kepada Tuhan Yesus yang tersalib. Memang tak ada tulang Yesus yang dipatahkan, sementara orang yang disalibkan bersama dengan Dia, tulang mereka dipatahkan agar dapat segera dikubur.

Sebuah keyakinan diutarakan pemazmur, yang dapat menghiburkan hati kita, setiap orang yang berlindung kepada TUHAN tidak akan menanggung hukuman. Hal itu mungkin karena Allah sendiri yang akan melindungi kita dari hukuman yang akan datang. Itulah sebabnya Rasul Paulus mengatakan bahwa mereka yang ada di dalam Kristus tidak akan dihukum lagi. Tuhan Yesus telah membebaskan kita dari hukuman  yang akan datang. Jadikanlah Tuhan sebagai tempat perlindungan dalam hidup ini.

DATANGLAH KEPADA HIKMAT (Amsal 9 : 1 - 6)
 23 Aug

Nats renungan ini berisi pengajaran hikmat bagi orang Israel, khususnya orang muda. Pengajaran ini berasal dari zaman sesudah pembuangan. Masyarakat umum, khususnya orang muda menghadapi godaan atau ancaman degradasi moral yang menghancurkan hidup. Untuk menghadapinya, pengajaran hikmat dikemas berisi khotbah dan instruksi, yang menuntun, mendidik dan menyerukan, mengundang serta mendorong masyarakat untuk menerimanya sehingga hidup sesuai dengan karakter moral. Pada perikop ini hikmat diperlawankan dengan kebodohan.

 

ayat 1 : tujuh tiang sering disebut dalam perjanjian lama untuk menjadi lambang rumah orang kaya. Biasanya rumah orang kaya dilukiskan dengan halaman/pelataran yang luas, rumah yang besar dengan tujuh (7) tiang penyangganya.

 

ayat 2 - 3 : juga menunjukkan kehidupan orang kaya yang memiliki ternak khusus untuk konsumsi sehari-hari keluarga itu. Dalam ayat itu disebutkan memotong ternaknya untuk dimakan, kemudian pelayan-pelayan perempuan mengidangkannya. Inipun menunjukkan kehidupan orang kaya dengan beberapa jumlah pelayan. Bahkan untuk makanpun harus dilayani.

 

ayat 6 : ingin menjelaskan bahwa, adalah kebodohan jika orang hanya berpikir tentang makanan dan minuman secara jasmani. Pada saatnya orang akan lapar dan haus lagi. Dan kehidupan hanya akan dinikmati jika orang mau membuang kebodohan. Orang adalah bodoh jika dalam hidupnya hanya berorientasi pada makanan dan minuman, sebab semua itu tidak kekal sifatnya. Oleh karenanya dalam Amsal hal itu disebut sebagai sebuah kebodohan.

 

Hikmat dan kebodohan sama-sama mengundang orang yang tak berpengalaman, tetapi dengan tujuan yang berbeda. Hikmat membawa manusia kepada pengertian dan kehidupan, sedangkan kebodohan membawa manusia kepada dosa dan kematian.

 

Undangan hikmat (9:1-6) mengingatkan kita akan undangan Allah kepada manusia (Matius 22:1-14; Lukas 14:15-24).

 

Undangan untuk makan dan minum juga mengingatkan kita kepada Tuhan Yesus yang menyebut diri-Nya sebagai "Roti Hidup" (Yohanes 6:48) dan yang menawarkan "Air Hidup" (Yohanes 4:11, 7:38). Undangan hikmat adalah undangan untuk hidup dalam takut akan Tuhan (Amsal 9:10) atau Undangan untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.

 

Undangan kebodohan (9:13-18) adalah undangan untuk melakukan dosa dan mengabaikan hikmat Allah. Undangan kebodohan adalah undangan untuk melakukan hal-hal yang tidak pantas yang harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Undangan kebodohan adalah undangan untuk memuaskan hawa nafsu dan berujung pada kematian.

 

Tanggapan kita terhadap kedua undangan di atas merupakan cermin dari tanggapan kita terhadap Allah. Orang yang berhikmat mengahargai koreksi sedangkan orang yang bodoh menolak koreksi. Bila kita bersikap terbuka terhadap koreksi yang Allah kerjakan di dalam kehidupan kita, kita sedang mengikuti undangan kebodohan. Menyambut undangan hikmat membuat kita terus bertumbuh secara rohani, sedangkan menyambut undangan kebodohan membuat kita tidak tumbuh secara rohani.

 

 

Pdt. Osator Simanjuntak, MTh

JANGAN TERSESAT! POHON DIKENAL DARI BUAHNYA (Matius, 7: 15-23)
 11 Aug

Di mana ada nabi-nabi yang benar, di situ juga ada nabi-nabi palsu. Itulah sebabnya  Tuhan Yesus mengingatkan agar waspada terhadap bahaya penyesatan dari nabi-nabi palsu. Ketika mereka berseru atas Nama Tuhan, mengusir setan dan melakukan mujizat demi nama Tuhan, orang yang melihatnya bisa dengan mudah tertipu. Ada nabi (hamba Tuhan) yang secara lahiriah  tampak rohani dan benar, pada hal hatinya  penuh dengan kemunafikan dan kedurjanaan (Mat. 23:28). Nabi yang menyamar layaknya seorang  rasul Kristus,  pada hal hati mereka dikuasai  hawa nafsu, kebejatan, keserakahan, kepentingan diri sendiri. Yesus menggambarkan nabi palsu itu seperti domba dari luarnya, tetapi ternyata mereka adalah serigala yang sangat buas. Penampilan mereka tidak mudah dikenali, sehingga banyak orang yang terjebak, tertipu,  dan disesatkan.

 

Bagaimana kita mengenal nabi palsu dengan nabi yang sejati? Untuk membedakan mana domba dan mana serigala, adalah dengan memperhatikan buah yang dihasilkan melalui tindakan atau perbuatan mereka. Pohon dikenal dari buahnya. Pohon yang baik akan menghasilkan  buah yang baik, dan pohon yang tidak baik akan menghasilkan buah yang tidak baik pula. Demikianlah nabi yang benar (yang berasal dari Allah) pasti akan menghasilkan buah yang baik, dan yang tidak berasal dari Allah akan menghasilkan buah yang tidak baik. Nabi yang sejati memberitakan Firman Tuhan dengan benar, bukan untuk mencari puji-pujian bagi dirinya, bukan pula untuk memperkaya diri sendiri,  melainkan untuk puji-pujian dan kemuliaan bagi Allah.

 

Yesus berkata: “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia  yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga”(ay.21). Banyak orang yang kelihatanya rajin, punya banyak aktivitas di gereja, rajin membaca firman Tuhan,
aktif melayani, namun kelakuannya jauh dari kehendak Tuhan. Bahkan ada orang yang memanggil nama Yesus dan mengaku percaya kepada-Nya, namun kelakuanya tidak seperti orang yang percaya kepada Yesus. Mungkin kita pernah mendengar kata sindiran “Kristen NATO” (No Action Talk Only), atau  “OMDO” (Omong Doang), orang Batak bilang “holan hata.” Kata tidak seturut dengan perbuatan. Kata-kata yang indah tidak menjamin perbuatan baik, tetapi iman yang sejati akan menghasilkan perbuatan-perbuatan yang baik (bnd. Gal 5:22).  Tuhan tidak menghendaki adanya kepalsuan dalam hidup kita sebagai orang yang percaya kepada-Nya. Tuhan menginginkan adanya kekonsistenan antara iman kita dengan perbuatan.  Amin.

Yesus Roti Hidup
 07 Aug

          Memaknai siapa Yesus adalah lebih penting dari pada cerita-cerita mujizat yang diperbuat Tuhan Yesus. Inijl Yohanes memilih memaknai, merenungkan apa arti mempercayai Kristus dari pada membicarakan tindakan-Nya yang ajaib. Salah satu penjelasan yang diketengahkan oleh penulis Injil keempat ialah Yesus adalah Roti Hidup (Yoh. 6:24-35). Tema-tema lain yang dituliskan Yohanes tentang Tuhan Yesus ialah Air Kehidupan, Pokok Anggur, Jalan, Hidup, Kebenaran dan Terang. Yesus sendiri, Pribadi Yesus, benar-benar sumber kehidupan kita. Yesus lebih penting dari pada perbuatan-Nya. Walaupun Dia telah memberi makan lima ribu orang hanya dengan lima roti dan dua ikan, yang lebih penting diharapkan-Nya agar para pengikut-Nya mempercayai Dia sepenuh hati.

           Yesus tahu betul bahwa setelah mereka makan, yang dikuatirkan-Nya akan terjadi, yakni orang banyak mencari Yesus bukan karena percaya melainkan karena ketagihan. Mereka hendak mengangkat Dia menjadi “Raja Roti”, menjadikan Dia “gudang makanan”; maka Ia menyingkir dari mereka, dari para penikmat mujizat (Yoh. 6:15). Tetapi mereka terus mencari. Mereka seperti orang yang sangat religius, ingin selalu dekat dengan Juruselamat. Mereka orang beragama! Benar! Tidak ada yang menyangkal itu. Siapa yang tidak takjub melihat peristiwa hebat? Siapa yang ragu-ragu bahwa Tuhan telah bekerja di antara mereka. Jika tidak mana mungkin muncul keajaiban. Sayang sekali, mereka dan kita juga orang-orang percaya hanya terpaku sebagai pengagum, sebagai pemuja, hanya pelantun pujian. Sebagian orang melihat agama hanya pelengkap kenikmatan. Yang lebih sedih apabila Tuhan dipercayai hanya sebatas pemberi makanan; Tuhan produsen, kita konsumen.

Mempercayai Tuhan mestilah bergerak maju. Dari “memuji” ke “memahami”, dari “melihat” ke “mengerti”. Yesus menegur mereka: agar mereka setelah menikmati makanan mengerti apa arti peristiwa itu. Mujizat bukan tinggal mujizat. Ia melakukannya agar orang yang mengikut-Nya percaya dalam arti menghayati bahwa Yesus adalah Roti Kehidupan. Mempercayai Dia, itu yang utama, Dia sekarang sumber kehidupan; barangsiapa percaya kepada-Nya “tidak akan lapar lagi” dan “tidak akan haus lagi” (6:35). Artinya, orang percaya memperoleh basis sejati hidupnya. Hidupnya tidak akan lagi mudah goyah. Dia beragama bukan untuk makan-minum, bukan untuk kemakmuran. Tanpa percaya orang dapat makan-minum, bahkan berlebihan sampai kekenyangan. Tanpa beragama banyak orang meraup kekayaan, sangat makmur hidupnya, hartanya banyak.

          Mereka bertanya apa yang harus diperbuat? Yesus yang telah memberi makan lima ribu orang berkata: “Percayalah kepada Dia yang telah diutus Allah” (ayat 29). Mempercayai, itulah yang ditekankan. Sebab sering sekali kita beragama tetapi tidak menyadari Allah bekerja di dalam hidup kita. Kita mengakui perintah-Nya tetapi kita merasa kita mampu menyelamatkan diri, merasa bahwa agama adalah usaha manusia. Yesus mau menegaskan Allah sedang bertindak, dalam Kristus Dia turun ke dunia untuk memberi hidup yang kekal (Yoh. 5:24). Karena itu Ia lebih dari roti, lebih dari manna pada masa Musa. Roti hanyalah simbol, hanya penunjuk kepada roti yang lain, roti hidup yakni Yesus sendiri. Mempercayai Yesus berarti mengaminkan perbuatan Allah: di dalam Yesus keselamatan kita dijamin! Kita tidak lagi mudah goyah melainkan akan terus teguh, kukuh dan terjamin. Kita sudah memilikinya di saat kita percaya.

Pdt. DR. Einar M. Sitompul.

KESATUAN SEJATI ADA DI DALAM KRISTUS YESUS Efesus. 2: 11-22
 20 Jul

Tentu kita semua mendambakan kesatuan, bukan? Baik itu kesatuan dalam keluarga,  gereja, masyarakat, bangsa dan negara.  Kesatuan itu sungguh indah dan menyenangkan. Di mana ada kesatuan di situ ada kekuatan  dan berkat. Orang Indonesia berkata: “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh,” dan orang Batak mengatakan:  “Tampakna do rantosna, rim ni tahi do gogona.” Yesus sendiri berdoa kepada Bapa yang di sorga, agar orag-orang yang percaya dan yang akan percaya senantiasa hidup dalam kesatuan, sebab kesatuan  orang percaya menjadi penentu percaya tidaknya dunia ini kepada Yesus( Yoh. 17: 21). Kesatuan di dalam Yesus Kristus jauh lebih kokoh, lebih kuat dari segala bentuk kesatuan yang ada di dunia ini. Melalui penebusan-Nya  di kayu salib, maka segala perseteruan dilenyapkan, dan damai sejahtera dinyatakan, sehingga mereka yang dulu jauh menjadi dekat.   Oleh penebusan-Nya, kita diangkat menjadi anak-anak-Nya, dan dipersatukan dalam satu kasih, satu iman,dan satu pengharapan.  Kita menjadi  satu keluarga yakni keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar iman kepada Yesus Kristus.

 

Pada  dasarnya manusia itu berbeda.  Perbedaan merupakan desain Allah sejak manusia diciptakan (Kej. 1:27). Perbedaan itu indah, nikmat, dan membahagiakan. Perbedaan juga merupakan kekayaan, potensi, kekuatan, untuk membangun sebuah persekutuan yang rukun, damai, dan harmonis.  Perbedaan  bukan untuk memisahkan kita,  namun justru memaksa kita untuk bersatu. Paulus menggambarkan keragaman dalam jemaat itu ibarat tubuh yang  banyak anggota (1 Kor. 12: 12-31), namun saling keterhubungan, saling melengkapi, saling membutuhkan, saling merasakan,  saling memperhatikan, saling menghormati, dan tidak ada anggota yang dianggap lebih utama dari anggota yang lain. Setiap orang yang sudah menjadi anggota tubuh Kristus statusnya sama dihadapan Tuhan. Paulus berkata: “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus (Gal. 3:28; bnd. BE. 369:1).

 

Meskipun kita senantiasa mendambakan kesatuan dalam persekutuan,  namun dalam realiata kadang ada terjadi keretakan,  perpecahan. Apa penyebabnya? Penyebab yang paling mendasar adalah adanya rasa superioritas, yakni perasaan yang selalu menganggap dirinya lebih hebat dari orang lain. Tinggi hati  adalah musuh utama dalam mewujudkan kesatuan.  Kesatuan menjadi sebuah realita bila masing-masing anggota memiliki sifat rendah hati,  yang seorang   mengganggap yang lain lebih utama dari dirinya sendiri (Fil. 2:3). Untuk itu hendaklah  kita meninggalkan dan melenyapkan segala tembok pemisah yang hanya merusak persekutuan.  Marilah kita membangun persekutuan kita di atas dasar iman kepada  Yesus Kristus. Paulus berkata: “Karena tidak seorang pun yang dapat  meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus (1 Kor. 3:11).   Kesatuan yang sejati hanya ada di dalam Yesus Kristus.  Amin.

DIPILIH UNTUK MENYATAKAN KEBENARAN DAN KEADILAN” Amos 7: 7-15
 14 Jul

Amos adalah nabi yang dipanggil dan dipilih Tuhan dari seorang peternak domba  di Tekoa. Ia diutus Tuhan untuk menyampaikan teguran yang keras dan peringatan akan hukuman Tuhan terhadap bangsa Israel pada zaman Uzia Raja Yehuda dan dalam zaman Yerobeam. Amos menyampaikan apa yang menjadi keputusan Tuhan terhadap Yerobeam dan juga apa yang akan terjadi kepada bangsa Israel. Tuhan melihat begitu  banyak penyimpangan dalam agama dan masyarakat, yang membuat kejahatan dan ketidakadilan semakin merajalela, orang lemah tertindas. Kekuasaan cenderung di salah gunakan, baik jabatan sebagai pemimpin negara atau pemimpin agama, tidak menggenapi tujuan Allah. Peringatan yang keras dari Tuhan yang disampaikan nabi Amos adalah, bahwa Yerobeam akan mati terbunuh oleh pedang dan Israel pasti pergi dari tanahnya sebagai orang buangan.

Amos ternyata mendapat tantangan yang keras, sebab suara kenabiannya ditolak. Amazia mengusir Amos dari Betel dengan menghinanya Amazia menganggap Amos sebagai pelihat atau “nabi bayaran” yang mencari nafkah dengan ‘bernubuat”. Amos dianggap sebagai pengganggu ketenangan dan menyusahkan. Alasan pengusiran bukan karena ditemukan kesalahan atas nubuat yang disampaikan Amos, tetapi alasan politis yang dikemukakan bahwa tempat ini adalah “tempat kudus raja” atau “bait suci kerajaan”. Amazia jelas-jelas merupakan alat pemerintah dan mengutamakan kepentingan pemerintah. Agama telah dijadikan menjadi alat tujuan-tujuan politik. Disinilah letak perbedaan Amos dengan Amazia, bahwa Amos berbicara atas nama Tuhan sedangkan Amazia berkata-kata atas nama penguasa. Amos tidak bernubuat atas kehendak manusia, tetapi karena panggilan langsung Allah yang menjadikannya nabi. Amos tidak takut terhadap intimidasi dan ancaman Amazia, sebab ia yakin bahwa Firman Tuhan ini harus disampaikan.

          Orang percaya adalah, umat pilihan Allah, yang telah dipilih sejak sebelum dunia dijadikan, untuk hidup kudus dan tak bercacat dihadapanNya. Tuhan yang telah menarik kita dari kegelapan kepada terang, melalui penebusan darah Yesus Kristus di Salib, menghendaki agar kita hidup sebagai anak-anak terang, sebab terang itu selalu berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran. Karena itu, kita mempunyai tugas untuk terus menyuarakan suara kenabian kepada pemerintah dan umat Tuhan, agar hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, supaya keadilan dan kebenaran nyata di dunia ini. Adalah tugas setiap kita untuk menyampaikan Firman Tuhan, menegakkan keadilan dan kebenaran. Oleh sebab itu, sambil menjaga diri, hidup menurut kehendak Tuhan dan tidak melakukan kejahatan,  beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. Tuhan  adalah sumber kekuatan bagi hamba-hambaNya untuk menyampaikan FirmanNya. Firman Tuhan berkata: Aku akan menyertaiMu sampai akhir zaman. Amin.

"Diutus Untuk Menyampaikan Firman Tuhan" Yehezkiel 2 : 1-5
 09 Jul

     Allah memanggil Yehezkiel menjadi hamba atau pelayan-Nya melalui suatu penglihatan yang luar biasa, pada waktu dia berada di pembuangan Babel bersama orang Israel. Dalam penglihatan itu Yehezkiel melihat langit tiba-tiba terbuka dan ia mendapat penglihatan tentang Allah. Dia mendengar Tuhan berbicara kepadanya, yang menyuruhnya untuk bangun dan berdiri. Tuhan mengutus Yehezkiel kepada bangsa Israel yang disebut Tuhan bangsa Pemberontak dan durhaka terhadap Tuhan. Mereka disebut juga sebagai bangsa yang keras kepala dan tegar hati. Tugas pengutusan itu memang tidak mudah, karena harus disampaikan kepada umat Israel yang karakternya keras kepala, tegar hati dan bangsa pemberontak. Tuhan bahkan mendiskripsikan bangsa Israel seperti lingkungan yang penuh onak dan duri, penuh dengan kalajengking. Artinya sebuah komunitas yang sangat tidak mudah untuk dihadapi. Ada kemungkinan dia akan ditolak.

 

     Tuhan mengingatkan Yehezkiel agar tidak perlu kuatir dan takut menghadapinya. Kunci yang harus menjadi dasar pemberitaannya adalah "Sampaikanlah perkataan-perkataan-Ku..."Artinya apa yang harus disampaikan atau diberitakan adalah firman Tuhan. Firman Tuhan adalah seperti pedang bermata dua yang sanggup menembus sampai ke sumsum tulang, tetapi firman Tuhan juga adalah pelita yang sanggup menerangi kegelapan hati manusia, bahkan firman Tuhan juga berkuasa untuk mengubah, memperbaiki dan mengarahkan hati yang tersesat menuju pada kebenaran.

 

     Allah memanggil, menetapkan dan mengutus Yehezkiel menjadi pelayan-Nya, demikian juga dengan setiap orang percaya dipanggil, ditetapkan dan diustus oleh Tuhan untuk memberitakan FirmanNya. Tugas kita adalah memberitakan FirmanNya, entah orang lain menolak atau menerima.

 

     Kita umat pilihan, juga diutus untuk memberitakan firman Tuhan kepada orang lain, agar orang lain hidup menurut kehendak Tuhan. Marilah kita terlebih dahulu menjadikan firman Tuhan itu kekuatan, pelita dan pedoman dalam hidup kita. Dengan demikian firman Tuhan itulah yang akan memampukan kita menjalankan tugas pengutusan itu. Tuhan menyertai hamba-hambaNya menyampaikan FirmanNya, dulu sekarang dan sampai akhir zaman. Selamat memberitakan Firman Tuhan. Amin.

Kasih Setia Ratapan 2:22-33
 30 Jun
Rasanya nas ini sangat terkenal bagi kita. Nas ini, khususnya ayat 22-23 sering dijadikan syair dari nyanyian rohani. Tetapi jika kita merenungkan konteks permasalahan yang dihadapi Yeremia, pada waktu ia mendendangkan ratapannya ini, keadaannya sungguh amat berat. Hal itu sangat jelas jika kita membaca dengan teliti ayat 1-20 dalam pasal ini. Namun satu pertanyaan muncul di dalam hati, apa yang menyebabkan Yeremia bisa berpaling kepada pengenalan akan kasih setia TUHAN, justru pada moment penderitaan sedang menerpa dirinya sendiri?

Tiada jawaban yang pas akan hal ini, selain kehadiran Allah untuk menjawab doanya. Sangat jelas, bukanlah nalar yang memberikan kepada Yeremia pemahaman yang mengatakan bahwa tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habisnya rahmat-Nya, selalu baru setiap pagi. Roh Kudus yang menjamah hatinya dan memberikan kepadanya iluminasi – pencerahan – sehingga Yeremia mampu berharap akan kasih setia TUHAN justru di dalam penderitaan yang sangat berat.

Saya jadi teringat akan bunyi syair dari BE nomor 487: “Tung halak na margogo sipartangiang i, dokdok pe sitaonon dang olo talu i. Pos situtu rohana di Debatana i. Tuhana manaluhon sude pangagoi”. Doa akan membukakan mata hati kita tentang hal yang tidak mungkin dapat kita lihat dengan nalar semata-mata. Yeremia mampu melihat dan berharap akan kasih setia TUHAN dalam pergumulannya yang sangat berat. Maka kita pun juga akan mendapatkan hal yang sama, sebab kita sama-sama beriman kepada Allah yang telah mengikat perjanjian dengan umat-Nya.

Dalam pergumulan itu Yeremia mempunyai pengharapan bahwa Tuhan adalah bagiannya Oleh karena itu sangat wajar jika ia berharap kepada Allah yang adalah bagiannya dalam hidup ini. Kita tahu Yeremia adalah keturunan seorang imam. Sebagai seorang imam keturunan Harun, memang sudah menjadi ketetapan mereka hanya mendapatkan bagian dari TUHAN dalam persembahan orang Israel. Kepada mereka tidak dibagikan Tanah Perjanjian.

Karena pengharapan yang pasti akan kasih setia TUHAN yang senantiasa baru setiap hari, keyakinan akan TUHAN sebagai bagian dari hidupnya, maka Yeremia mampu membuat sebuah pernyataan iman: adalah baik seorang muda memikul kuk pada masa mudanya. Kita ingat Yeremia  masih muda. Ia menasihati kita agar berdiam diri jika TUHAN memberi beban. Biarlah kita merendahkan diri dengan mengambil posisi terendah. Sekalipun dapat penghinaan hadapilah dengan tenang hati, sebab TUHAN punya kasih setia. Oleh karena itu tidak selamanya kita mengalami hal seperti itu. Hal tersebut terbukti dalam pengalaman orang Yehuda.

Hati ini mengingat HKBP Filadefia dan GKI Yasmin. Seemoga mereka memposisikan diri seperti yang diambil nabi Yeremia, lalu menantikan Tuhan dengan kasih setianya. Mereka bisa, kita pun secara pribadi bisa, sebab Allah kita adalah Allah yang kaya dengan kasih karunia.
MEMAHAMI YANG TAK TERPAHAMI (Ayub 38 : 1 - 11)
 23 Jun

Selamat Hari Minggu,

Rangkaian pertanyaan di perikop ini merupakan `bantahan` Allah atas pemahaman teman Ayub, Elihu, ketika menjelaskan atau mencoba memberikan jawaban terkait dengan penderitaan badani yang Ayub alami. Ayub adalah tokoh yang dibicarakan dalam perikop ini. Orangnya saleh, jujur dan takut akan Allah serta menjauhi kejahatan. Secara sosial dan ekonomi,  Ayub adalah pribadi yang mungkin bisa menjadi idola. Segalanya dia punya dan berlebih, bahkan dikatakan sebagai orang terkaya di beselah timur. Ayub kemudian mengalimi musibah yang menyebabkan ia kehilangan segalanya. Pengalaman Ayub seolah menyalahi hukum retribusi. Siapa yang saleh mendapat hukuman; siapa yang benar akan mendapat berkat/hadiah. Ayub orang yang taat, maka tidak seharusnya mengalami penderitaan. Mungkin kontradiksi inilah yang membuat teman-teman Ayub, termasuk istrinya menyalahkan Ayub. Secara manusiawi, Ayub pun tidak serta merta bisa mengerti dan menerima keadaan ini. Elihu, teman Ayub, berusaha menjelaskan Allah dalam hubungannya dengan kesalahan Ayub.

 

Pertanyaannya, benarkah Allah identik dengan keadaan yang tampak di depan mata untuk kemudian dengan mudah dimengerti dan dijelaksan? Apa ukurannya bahwa yang dijelaskan sama sepeti yang Allah inginkan? Dalam pengalaman hidup orang percaya, ada peristiwa yang mudah dimengerti dan diterima. Sebaliknya, ada juga hal-hal yang meskipun kita sudah berusaha memahami toh tetap tidak bisa dimengerti. Beragam upaya dilakukan termasuk meminta petunjuk kepada Allah melalui meditasi dan pengansingan diri, tetapi menyimpulkan makna dibalik peristiwa, bahkan menyamaratakan makna untuk setiap peristiwa. Seolah kedirian Allah berada dalam genggaman logika manusia yang terbatas. Inilah yang sedang dilakukan Elihu.

 

Sesungguhnya Allah tidak berdiam diri. Allah mempunyai cara unik menjelaskan diri dan kehadiranNya, seperti ketika berhadapan dengan Ayub. Allah menjelaskan kekuasaanNya yang tidak terpahami melalui badai (ayat 1). Dalam perenungannya, Ayub berhadapan dengan rangkaian pertanyaan yang mengajaknya merenungkan kembali keterbatasan manusia dalam memahami Allah yang tak terbatas. Itu sebabnya, rangkaian pertanyaan ini tidak memberikan jawaban langsung terhadap pergumulan yang dihadapi Ayub; juga tidak dimaksudkan sebagai jawaban bahwa Allah adalah pribadi yang paling bertanggung jawab atas penderitaannya. Tetapi mengajak Ayub untuk merendahkan diri di hadapan Allah yang maha kuasa dan tidak tertandingi itu. Allah mengajak Ayub untuk menemukan diriNya dalam jalinan peristiwa, tanpa terlalu cepat menuduh (atau "mencela", 39 : 35) bahwa Dialah penyebab penderitaanya. Dalam diamnya, Ayub justru sampai pada kesadaran bahwa, "aku ini terlalu hina; jawab apakah yang dapat kuberikan kepadaMu?" (39:37).

 

Memahami Allah bukan berarti menjadikanNya terbatas dalam batas logika kita. Dia yang tak terbatas punya cara unik menjelaskan diriNya, sehingga perjumpaan itu menjadi momen yang menyadarkan keterbatasan diri dan perlunya bergantung padaNya. pemahaman manusia bukan tolak ukur untuk segala karya Allah. Tuhan memberkati. Amin.

 

Pdt. Osator Simanjuntak, MTh

MEMPERHATIKAN YANG TIDAK KELIHATAN (2 Korintus 4 : 16 - 18)
 09 Jun

     Tujuan hidup kita yang percaya kepada Yesus Kristus adalah kota kekekalan, rumah Bapa yang di Sorga (Ibr. 3:14 bnd. 2 Kor. 5:1 ; 1 Kor.15:20; 1 Tes.4:13). Dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara bagi kita. Apa yang kita bangun, harta milik yang fana ini, suatu saat nanti akan kita tinggalkan, bahkan hidup kita kelak akan berakhir di dunia ini. Karena tujuan hidup kita di kota kekekalan, maka seharusnya kita berpikir dari akhir bukan berpikir dari akhir (dari kekekalan), maka kita akan tabah, tahan, kuat, giat bekerja, sekalipun kita mengahadapi tantangan dan mengalmi penderitaan. Seorang petani, harus menahan terik dan hujan, karena ada pengharapan bahwa kelak ia akan menuai.

 

     Dalam nats ini Paulus memakai kalimat yang antihesis, yaitu manusia lahiriah dan manusia bathiniah. Paulus berkata bahwa tubuh lahiriah akan mengalami kemerosostan. Secara alamiah manusia lahir, bertumbuh, dewasa, lanjut usia, lalu meninggal. Pemazmur berkata lahiriah merosot, namun manusia bathiniah terus-menerus dibaharui oleh Roh Kudus. Apa yang disampikan oleh Paulus, merupakan kenyataan hidup yang dialaminya. Secara lahiriah, ia semakin tua, kekuatannya semakin merosot, namun secara rohani tidak. Sekalipun daya fisiknya lemah, namun semangat untuk memberitakan Injil tetap kuat. Ini bisa terjadi, karena Tuhan menyertai, melindungi dan memberi kekuatan padanya (bnd. Fil.4:13). Bila manusia bathiniah menguasai dan  mengendalikan manusia lahiriah, maka keterbatasan fisik tidak akan penghalang untuk memberitakan Injil.

 

     Di dunia ini kita menderita, sama seperti yang dialami rasul Paulus. Namun bagi paulus penderitaan yang dialaminya ringan, tidak sebanding dengan kemuliaan yang disediakan oleh Allah (bnd. Rm.8:18). Penderitaan itu terasa ringan, ketika kita memandang kepada yang tidak kelihatan, bukan kepada yang kelihatan. Sebab yang kelihatan akan segera berakhir, memiliki keyakinan dan pengharapan akan masa depan yang jauh leibh indah dari apa yang dinikmati di dunia ini. Ketika kita memperhatikan pada kekekalan, maka nilai-nilai hidup, paradigma, mindset kita pasti akan berubah. Kita pasti memilih hidup menurut kehendak Tuhan bukan kehendak dunia ini, sehingga nilai-nilai kekristenan kita pun akan semakin meningkat. Orang yang memperhatikan yang tidak kelihatan, dialah yang setia kepada Tuhan sampai akhir hidupnya (bnd. Wahyu.2:10). Untuk itu, saudara-saudaraku! "Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang dibumi" (Kol. 3:2), sebab dari "yang di atas" datang berkat, kebahagiaan, dan hidup yang kekal. Amin.

 

Pdt. Kardi Simanjuntak, M.Min

"KITA BERASAL DARI ALLAH" (1 Yoh 5 : 18 - 21)
 02 Jun

     Sebagai makhluk sosial, anggota masyarakat, kita sering menanyakan asal-usul seseorang; dari man akota asal, apa suku, latar belakang, dsb. Seolah-olah ingin menyatakan asal-usul yang jelas akan menolong memahami/mengenal seseorang. Surat 1 Yohanes menegaskan mengenai asal-usul kita, bukan orang lain; asal-usul orang percaya. Kita harus mengetahui siapa kita, mengenal identitas diri, sebab identitas berguna agar orang tahu mengharapkan apa diri kita. Orang Kristen sering sekali dianggap mengutamakan kasih sebab kasih ajaran etis yang utama. Jika kita mengabaikannya orang akan sinis. "Katanya orang Kristen mengutamakan kasih tetapi mengapa mereka suka bertikai," demikian kira-kira pikiran orang lain.

 

     Disadari bahwa orang Kristen bukan manusia super yang tidak akan terpengaruh. Setiap orang Kristen mudah tergoda meniru dunia. Kita mengaku Kristen tetapi perilaku tidak berbeda dari orang-orang duniawi yakni, ikut-ikutan, menuruti hawa nafsu, materialistis, sombong, dan egois. Orang yang berasal dari Allah atau lahir dari Allah "tidak berbuat dosa." Maksudnya, orang yang berasal dari Allah, orang yang percaya pada Kristus, akan menjauhkan diri dari perilaku dosa dosa. Ia akan selalu mengandalkan Kristus sebelum bertindak. Ia akan meneladani Yesus yang penuh kasih, taat kepada perintah Allah Bapa dan rela mengorbankan diri demi keselamatan umat manusia. Orang Kristen tidak boleh tunduk pada kejahatan. Tetapi dari diri kita sendiri kita tidak mampu melawan "kuasa si jahat." Kita mesti bertumbuh terus, bertumbuh menjadi makin dewasa, untuk memperoleh pengertian sejati tentang Yang Benar di dalam Anak Allah, Yesus Kristus. Iman yang dewasa, yang tangguh, akan dapat melawan segala berhala. Berhala itu sekarang berbentuk memuja kekerasan, kemakmuran, kenikmatan, keberhasilan dan berhala terbesar sekarang adalah kepentingan diri sendiri. Ini ciri-ciri manusia lama, yang hanya melampiaskan keinginan memuaskan diri sendiri, mengahlalkan semua cara (band. Kol. 3 : 5-17). Manusia baru "tidak berbuat dosa." Artinya, tidak mencurahkan pikiran dan energi untuk hal-hal yang sia-sia yang akhirnya akan membawa maut (band. Yak. 1 : 13-15). Marilah terus menerus bertambah menuju iman yang dewas dengan menghayati firman Allah. Kita dipanggil untuk mengubah dunia bukan diubah oleh dunia.

 

Pdt. DR. Einar M. Sitompul

BERBAHAGIALAH YANG MENDENGARKAN SABDA ALLAH MAZMUR 1 : 1 - 6
 19 May

Mazmur pertama ini menyanjung puji orang "yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam". Seruan kebahagiaan Mazmur 1 mengingatkan kita kepada kata-kata Kristus: " Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan memeliharanya" (Luk.11:28, bnd. Yak. 1:19-25, Why 1:3). Dalam ini ukuran kebahagiaan bukan menurut ukuran orang fasik tetapi kebahagiaan menurut ukuran orang benar di dalam Tuhan.

 

Semua orang mendambakan kebahagiaan, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang-orang yang dikasihinya. Bagi sebagian orang, kebahagiaan itu sering sekali masih diukur berdasarkan nilai materi. Firman Tuhan mengajak kita untuk melakukan perubahan terhadap tolok ukur kebahagiaan. Materi adalah buah dari kebahagiaan, bukan jalan menuju kebahagiaan. Dengan kata lain, materi bukanlah menjadi tujuan, melainkan kebagahagiaan itulah yang menjadi tujuan. Untuk memperoleh kebahagiaan itu, firman Tuhan memberikan jalannya, yaitu menjadi orang benar: menyukai Taurat Tuhan dan merenungkannya siang dan malam.

 

Kebahagiaan yang ingin diberikan Tuhan adalah kebahagiaan yang berkelimpahan. Dengan menganalogikan pohon yang ditanam di tepi aliran air (ada jaminan sumber kehidupan, menghasilkan buah lebih banyak daripada pohon yang tumbuh jauh dari sumber air), hendak menegaskan bahwa kebahagiaan yang ingin dijanjikan Tuhan adalah kebahagiaan yang berkelimpahan. Bukan hidup yang biasa-biasa saja, melainkan hidup yang luar biasa (Yoh 10: 10). Janji itu telah diberikan sejak nenek moyang Israel (Kej. 22: 17; Bil. 6:3), dengan syarat berjalan sesuai dengan jalan Tuhan (Yes. 48: 18; Yeh. 20: 15).

 

Mungkin kita akan berkata bahwa ada orang yang kita kenal melakukan kefasikan namun tetap berkelimpahan (harta). Tidak jarang keadaan mereka mendatangkan rasa cemburu bagi kita. Melalui firman Tuhan dalam perikop ini, kita diajak untuk melihat sisi lain dari kebahagiaan itu. Bahwa hidup yang

berkelimpahan bukanlah satu-satunya yang dijanjikan Tuhan. Ada hal lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu ketahanan terhadap ujian (ay. 4-5). Sebab apa yang dimiliki seseorang, baik itu harta atau pengakuan telah merasakan bahagia, pada akhirnya akan diperhadapkan dengan penghakiman (ujian). Siapa yang bertahan dalam ujian itu, merekalah yang sungguh-sungguh merasakan kebahagiaan yang berkelimpahan (Why. 21:7)

Pdt. Osator Simanjuntak, STh

 

 

HIDUP DALAM DOA (Yakobus 5 : 13 18)
 12 May

     Nama Minggu hari ini adalah Rogate, artinya berdoa. Komunikasi kita dengan Tuhan adalah melalui doa. Doa adalah kebutuhan hidup kita terbesar, bahkan hidup kita sepnuhnya adalah doa. Marthin Luther berkata : Doa adalah nafas iman. Jika manusia berhenti bernafas, maka ia sudah mati. Manusia yang berhenti berdoa, maka ia sudah mati secara rohani. Karena itulah Pulus dalam 1 Tes. 5 : 17. Tetaplah berdoa. Berarti terus-menerus, tak putus-putusnya berdoa. Doa adalah sebuah sarana yang tercanggih (tanpa bayar, terbuka 24 jam) yang dianugerahkan Tuhan kepada orang percaya untuk membangun komunikasi dengan Tuhan. Dengan doa, kita sadar akan keterbatasan dan kelemahan kita, sehingga kita datang kepada Tuhan sumber pertolongan, sumber kekuatan, sumber kesembuhan, dan sumber segala berkat bagi kita orang yang percaya kepada-Nya.

 

     Doa orang benar bila dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya (ayat.16). Orang benar yang dimaksud adalah orang-orang yang taat dan setia kepad Tuhan, dan hidup sesuai dengan kehendak Tuha. Contohnya Elia, dia berdoa agar hujan tidak turun, benar hujan tidak turun tiga setengah tahun. kemudain dia berdoa agar hujan turun, benar, hujan pun turun. Keyakinan akan kuasa doa itulah, maka  Yakobus mengajak jemaat Tuhan untuk senantiasa berdoa yang saling mendoakan (ayat.14). Dengan doa yang sungguh-sungguh, SK (Surat Keputusan) Tuhan kepada  Hizkia akan kematiannya bisa berubah, dan Allah memperpanjang hidupnya 15 tahun lagi (2 Raja-raja 20). Ketika kita berdoa, kita tidak hanya memohon kesembuhan jasmaniah kita, tetapi juga pengakuan dosa kepada Tuhan. Sebab Tuhan bukan hanya menjanjikan kesembuhan jasmaniah, tetapi jauh lebih penting adalah keselamatan hidup di dalam Tuhan yang mau mengampuni dosa kita. Sebab tanpa adanya pengakuan dosa kepada Tuhan, membiarkan diri hidup dalam kubangan dosa, maka doa itu kehilangan arti dan kuasanya. Dalam doa yang diajrkan Yesus pun, ditekankan betapa pentingnya pengampunan dosa (matius 6:9-13).

 

     Dalam doa, kita belajar untuk memahami setiap rencana Tuhan dalam hidup kita. Kita belajar menunggu dan mencermati jawaban Tuhan atas permohonan doa-doa kita. Jawaban Tuhan atas doa kita, mungkin ya, tidak atau tunggu dulu. Namun bagaimana pun jawaban Tuhan, hendaklah dipahami dan diterima dalam iman bahwa itulah yang terbaik dalam hidup kita. Tuhan mengenal kita, dan tuahu apa yang perlu dalam kehidupan kita. Bahkan sebelum kita meminta, Tuhan sudah memberi. Karena itu di saat kita memohon kepada Tuhan, dengan rendah hati kita berkata seperti apa yang disampaikan Yesus ketika berdoa di Getsemani: Tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi (luk.22:42; bnd. Nyanyian KJ No.460.1 "Jika jiwaku berdoa.."). Dalam hidup kita, suka dan duka pasti kita alami. Di saat kita menderita baiklah kita berdoa, dan di saat kita bergembira marilah kita menyanyi. Itu pertanda bahwa dalam hidup kita hanya Tuhan yang kita andalkan, Dialah penolong kita yang setia, kepada-Nyalah puji-pujian, hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Akhirnya saudara-saudaraku yang terkasih: "Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa" (Roma 12 : 12). Tuhan memberkati kita semua.

 

Pdt. Kardi Simanjuntak, M.Min

TUHAN, GEMBALAKU YANG BAIK
 28 Apr

     Salah satu Mazmur paling indah ialah Mazmur 23. Sebuah perikop untuk "segala cuaca", selalu "menyentuh" perasaan baik di kala suka dan duka. Ia berbicara tentang "realita kehidupan" orang percaya. Nas yang memaparkan berbagai situasi : padang berumput hijau, air yang tenang, jalan, hidangan, minyak, piala dan rumah. Semua yang kita cari, kita perjuangkan, untuk mereka kita bekerja keras; sekarang ini istilah-istilah itu mengambil bentuk penghasilan, gaji, bonus, makanan lezat, dan perumahan. Tetapi ia juga membuka fakta keseharian : lembah kekelaman, bahaya dan lawan; mereka adalah ketakutan, ancaman dan permusuhan. Semua ini tentu bukan hal baru; dari dulu sudah. Mungkin ketakutan, ancaman dan permusuhan semakin sering kita alami. Mengapa? Sebab ketidak pastian semakin besar. Sering muncul tiba-tiba. Kita takut hari esok entah apa yang terjadi. Kita takut kalau-kalau kita sakit. Kita merasa tidak aman. Sikap permusuhan sulit dihindari. Selalu ada orang yang tidak suka melihat kita. Banyak juga yang merasa berkuasa menakut-nakuti orang lain, bahkan mengancam.

 

     Pemazmur sadar sekali situasinya. Bila suku Daud mempunyai segudang pengalaman pahit, diancam akan dibunuh, harus melarikan diri agar nyawanya selamat. Pengalaman Daud menyarakan pengalaman setiap orang : takut, terancam dan dimusuhi. Tetapi ia juga menyanyikan sukacita orang-orang beriman, orang-orang yang menyakini penyertaan Tuhan. Ia mewakili kita mengungkapkan sukacita berjalan di belakang gembala, di belakan Tuhan gembala kita. Mungkin kita  bertanya mengapa jemaat diibaratkan domba? Apakah karena domba hewan manis, baik dan penurut? Tidak! Justru domba itu lembah, sering tersesat, mudah dimangsa dan mudah berantem ( diadu doma ), jika tidak ada gembala mereka. Mereka sangat tergantung satu sama lain; hidup berkelmpok. Gembala dan domba sangat  dekat. Gembala mengenal mereka dengan baik. Ia memanggil domba-domba menurut nama masing-masing. Dan domba mengenal suara gembalanya. Gembala lain tidak akan mereka ikuti.

 

     Saudara-saudara, sungguh inda metafora domba dan gembal ini. Gembala berjalan di depan, domba ikut dari belakang. Karena gembal tahu kemana arah tujuan. melihat padang rumput dan sungai dan akan melawan pemangsa. Domba akan hidup sejahtera : menempuh bahaya tanpa takut dan menikmati tuntunan gembala. Tuhan adalah gembala. Kristus kehadiran Allah sehingga kita melihat dan mengikutiNya tanpa ragu-ragu!

 

Pdt. DR. Einar M. Sitompul

MENDENGAR PERKATAANKU DAN MELAKUKANNYA MATIUS 7: 24-27
 20 Aug

Selamat hari minggu bagi kita semuanya,

Dalam nats ini Tuhan Yesus memberikan suatu ilustrasi dengan gambaran dua macam rumah yang didirikan orang. Satu orang mendirikan rumahnya diatas batu, dan seorang lagi mendirikan rumahnya diatas pasir. Rumah yang diatas batu, banjir datang, angin melanda rumah itu tetapi tidak roboh. Rumah yang diatas pasir, banjir datang, angin melanda rumah itu dan rumah tersebut rubuh.

Gambaran yang telah dibuat Tuhan Yesus bukanlah suatu gambaran yang anaeh dan tidak dikenal, gambaran ini merupakan kenyataan yang sehari-hari, yang benar-benar bisa terjadi.Di Palestina, setiap orang yang akan membangun rumahnya harus memiliki perhitungan yang baik tentang keadaan tanahnya (perbukitan dan berpasir juga).Setiap orang harus mempunyai perhitungan dan berusaha menggali cukup dalam agar mendapat lapisan tanah yang kuat, kokoh dan dapat juga mendirikan fundasi yang kuat yang tahan terhadap serangan air hujan dan banjir.

Apa yang hendak dikatakan oleh firman ini kepada kita:

1.      Yesus menghendaki agar manusia mendengar. Salah satu kesulitan yang sering kita hadapi, bahwa banyak orang tidak tahu isi perkataan Yesus atau isi ajaran gereja karena tidak mau mendengar.Bahkan banyak yang memiliki pemahamannya sendiri sehingga membuat kekeliruan tanpa mau mendengar dan belajar dari kesalahan.

2.      Yesus menghendaki agar manusia melakukan sesuatu. Pengetahuan apapun hanya akan menjadi relevan kalau dinyatakan dalam perbuatan nyata. Tidak ada orang gunanya ke dokter kalau orang tersebut tidak bersedia  untuk mendengar dan melakukan kata-kata dokter tersebut.

Mendengar dan berbuat sesuai dengan ajaran Kristus  adalah sama dengan mentaati ajaranNya.Dan belajar taat adalah hal yang sangat penting dalam hidup ini. Ini adalah pondasi yang baik agar tidak mudah untuk diombang-ambingkan jaman ini.Mentaati firman Tuhan  sama seperti gambaran, banyaknya pasien yang menjadi korban, ketika petugas kesehatan tidak mentaati ketentuan-ketentuan yang sudah diajarkan, Kalau saja peraturan tersebut ditaati maka tidak banyak yang menjadi korban dan banyak yang selamat. Ketaatan seperti itulah yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus, dan itulah satu-satunya dasar hidup yang kokoh. Dan Yesus berjanji , bahwa hidup yang didasarkan pada ketaatanNya adalah aman meskipun ada gelombang besar yang mengamuk. Amen.

Pdt. Osator Simanjuntak, STh

Gereja Sebagai Pusat Dunia Yesaya 2:1-3
 13 Aug

Nabi Yesaya melihat dalam sebuah penglihatan, bahwa Yerusalem di akhir zaman menjadi sebuah kota yang menjadi pusat dunia. Namun satu hal yang diingatkan oleh Yesaya kepada bangsa itu ialah: mereka harus dibuang ke Babel lebih dahulu, karena keberdosaan mereka. Sepulangnya bangsa itu dari Babel, Allah akan membuat kota Yerusalem menjadi pusat pengajaran atas bangsa-bangsa.

Apa yang dilihat Yesaya tidak jadi kenyataan. Tetapi firman Allah tidak pernah gagal. Nabi Yesaya berkata: “Akan terjadi pada hari-hari terakhir”. Hal ini menunjuk kepada datangnya Raja Mesias. Sebab dengan datangnya Raja Mesias, maka zaman akhir pun telah tiba. Jadi pada hakekatnya apa yang dilihat oleh nabi Yesaya ialah: berdirinya Gereja Tuhan di dunia ini.

Rumah TUHAN yang dibicarakan nabi Yesaya tak lain tak bukan adalah Gereja. Gereja akan mengambil tempat di hulu dari segala gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit. Nabi Yesaya menubuatkan bahwa banyak bangsa akan berduyun duyun datang kepada Gereja-Nya karena merasa bahwa di sana Tuhan sedang mengajarkan apa yang menjadi kehendak-Nya.

Jika Gereja melakukan tugasnya dengan benar, dimana Tuhan hadir di sana dan mengajar semua orang yang ada di dalamnya, maka orang pun akan datang dari segala bangsa dan bahasa untuk diajar oleh TUHAN sendiri. Setiap orang menurut Nabi Yesaya akan saling mengajak satu sama lainnya, untuk datang ke Gereja agar mereka menerima pengajaran dan berjalan di jalan yang telah ditunjukkan Allah bagi mereka untuk dijalani.


Sekarang kita memusatkan diri pada Gereja dan tugasnya yang telah ditentukan Allah sebagai rekan sekerja-Nya di dunia ini. Dari dalam Gereja harus keluar pengajaran yang memperkenalkan jalan Allah bagi manusia yang ada di dunia ni. Tetapi satu pertanyaan harus dijawab lebih dahulu. Apakah bangsa-bangsa itu akan datang ke Gereja untuk diajar? Apa yang menjadi alasan bagi mereka, sehingga mereka mau datang dan menerima pengajaran? Gereja hidup sebagaimana dikehendaki Tuhan. Sayang seribu kali sayang, Gereja sudah tidak lagi dikuasai oleh roh Gerejai, yakni Roh Kudus. Tetapi roh dunia. Karena itu gagallah ia untuk melakukan tugas yang diembankan Tuhan padanya. Sebab roh dunia tidak mengenal Allah.


Namun sudah dikatakan di atas, firman Allah tidak mungkin gagal. Tuhan Yesus mengatakan: langit akan berlalu, tetapi firman-Ku tidak akan berlalu. Akan ada masanya, Gereja dipakai Tuhan sebagai alat untuk mengajar orang tentang jalan yang harus ditempuh sehingga ia akan sampai ke negeri tujuan, surga yang kekal. Satu hal yang menjadi pertanyaan bagi kita ialah: apakah Gereja kita akan turut dipakai Tuhan sebagai alat untuk menyampaikan pengajaran-Nya bagi bangsa bangsa lain. Atau Gereja kita sibuk dengan mengurus dirinya sendiri, sehingga tidak sempat untuk mengurus dalam rangka mengajar orang lain.

Apakah Gereja kita lebih menekankan pengajaran dan kesaksian akan kebenaran Tuhan, ketimbang aktifitas-aktifitas yang kelihatannya rohani, tetapi di dalamnya tidak ada pengajaran dan kesaksian. Bukti dari adanya pengajaran dan kesaksian yang benar tentunya banyak orang yang bertobat dan kembali berjalan di jalan Tuhan sendiri sebagaimana dinubuatkan Nabi Yesaya.

"HCS"

MENGAPA MANUSIA SERING MELIHAT KE ATAS DAN HEWAN MELIHAT KE BAWAH?
 06 Aug

Mengapa manusia sering melihat ke atas dan hewan melihat ke bawah? Ada ceritanya. Ketika Tuhan menciptakan bumi, Ia bertanya kepada hewan-hewan apa yang mereka harapkan, dan Tuhan mengabulkan semua permintaannya. Tetapi manusia mengetahui itu, ia merasa kecewa karena tidak pernah ditanyai. ”Aku tidak pernah puas dengan cara dunia ini diciptakan,” ia mengeluh kepada Tuhan. ”Engkau memang tidak diharapkan merasa puas di dunia ini. Bumi tidak dimaksudkan jadi rumahmu. Surga adalah rumahmu,” Tuhan menjawab. Itulah sebabnya sejak saat itu hewan berjalan dengan mata memandang bumi sementara manusia tegak berdiri dan sering melihat ke atas (surga).

 

Yesus menyebut diri-Nya Roti Hidup yang turun dari surga (Yoh. 6 : 30 – 35). Yesus didalam Injil Yohanes sering menyebut diri dengan istilah yang sangat berkaitan dengan kehidupan nyata : Ia adalah air hidup, roti hidup, jalan, pokok anggur, kebenaran dan hidup. ”Akulah Roti Hidup”, kata Tuhan Yesus (Yoh. 6 : 48). Sebutan ini ingin menegaskan kebutuhan sehari-hari memang penting tetapi ada yang lebih utama. Hampir sama tetapi sangat penting : barangsiapa menerima roti hidup ia tidak akan lapar lagi. Roti merupakan lambang kebutuhan manusia. Tanpa roti (makanan) umur kita hanya beberapa hari saja. Namun dengan memperoleh roti sebanyak-banyaknya tidak dapat memuaskan semua keinginan. Salah satu cobaan iblis ialah agar Yesus menjadikan roti dari batu. Tetapi Ia menjawab manusia hidup bukan hanya dari roti saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Mat 4 : 3 – 4). Ada yang lain. Ada yang lebih bernilai, jauh lebih utama dari semua materi, yakni anugerah-Nya. Allah ingin mensejahterakan manusia. Allah ingin menyongsong perjalanan kita yang penuh kegelisahan, diancam kekuatiran dan yang selalu dirasuk perasaan tidak puas. Memiliki kekayaan (materi) sering diibaratkan seperti minum air laut : ingin minum terus tetapi pada saat yang sama terus haus. Yesus menyebut diri-Nya roti hidup. Ia turun dari surga. Kita diingatkan bahwa Ia adalah Firman yang turun menjadi manusia. Dengan cara itu Allah menurunkan jaminan hidup. Kita tetap perlu makanan. Tetapi makanan utama mesti kita miliki dulu : Roti Hidup!

 

Kita memang harus melihat ke atas. Tetapi sekarang kebutuhan untuk hidup telah diturunkan.  Agar kita dapat terus berjalan, terus bekerja dan terus melayani tanpa kuatir. Kita adalah makhluk surgawi sebab apa yang menghidupkan kita datangnya dari atas, datang dari Tuhan, turun untuk membuat kita tidak (kuatir) lapar melainkan penuh rasa syukur. Allah telah menjawab doa umat manusia : Doa mohon kebutuhan hidup terpenuhi. Ia adalah roti hidup. Jangan takut hidup. Allah telah meneguhkan hidup kita.  Amin.                                 

Pdt. DR. Einar .M Sitompul

GEMBALA AGUNG ITU ADA DI SINI DIA ADA DI TENGAH-TENGAH KITA Yeheckiel 34: 11-19
 07 May

Selamat hari Minggu bagi bapa/ibu, saudara semuanya!

            Yeheckiel adalah Nabi Tuhan yang melayani dan bernubuat kepada bangsa Israel (khususnya Israel Selatan: Suku Yehuda, Benjamin dan Levi) ketika mereka terbuang ke Babel. Pembuangan Babel adalah kehinaan yang sangat mendalam bagi suatu bangsa yang dahulu merdeka. Mereka dipindahkan dari satu daerah milik sendiri ke daerah hak dan milik orang lain. Mereka dipindahkan dari budayanya sendiri kepada budaya orang lain yang harus dipelajari dengan terpaksa dan harus diterima juga dengan terpaksa.

            Pahitnya pembuangan itu tampak dari isi syair pemazmur: Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata: “Di manakah AllahMu?” (Maz.42:3-4). Aku berkata kepada Allah, gunung batuku” “Mengapa Engkau melupakan aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh?” Seperti tikaman maut ke dalam tulangku lawanku mencela aku, sambil berkata kepadaku sepanjang hari “di manakah Allahmu?”(ay. 10-11).  Israel telah kalah maka musuh menganggap Allah mereka sudah kalah. Allah mereka telah mati.

            Di saat orang percaya menderita betulkah Allah telah mati? Di saat pergumulan masing-masing pribadi di tengah-tengah umat-Nya telah terjadi betulkah Tuhan tidak ada lagi. Justru di saat pergumulan yang dahsyat itu Tuhan berkata kepada umat-Nya yang bergumul dari antara jemaat HKBP Menteng: Aku memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya. Aku akan membawa mereka keluar dari pergumulan mereka masing-masing dan membawa mereka ke atas gunung-gunung kemerdekaan dan damai sejahtera. Semua putra dan putriku, yang masih remaja, muda-mudi, keluarga muda, semua orang tua, ina ompung dan ama natua-tua: Aku di sini ada di tengah-tengah kamu. Aku melihat, Aku merasakan dan Aku bertindak atas sedu-sedanmu.

            Kalimat yang sangat lembut dan manis keluar dari mulut Allah: Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku. Yang hilang akan Kucari, yang tersesat Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya. Kalimat ini indah sekali tidak usah ditafsir sebab sudah sangat jelas. Firman Allah adalah jaminan tidak ada keraguan di dalamnya.

            Kepada semua umat Tuhan, firman ini mau mengatakan: Sehebat apapun penderitaan dan pergumulanmu, jangan pernah berkata Tuhan telah mati, Tuhan tidak melihat aku lagi. Gembala di dunia ini mungkin seperti itu, lupa atau tidak memperhatikan kita lagi bahkan menyakiti kita. Tetapi Gembala Baik itu tetap mendengarkan kita dan tetap berada di tengah-tengah kita. Mari asah pendengaran iman kita agar lebih jeli dan lebih tajam kepada suara Gembala Agung itu dibanding suara-suara dunia ini.    

            Selamat hari Minggu bapak/ibu dan saudara-saudaraku. Syalom, Horas. MP

SUDAHKAH YANG TERBAIK KITA PERSEMBAHKAN KEPADA TUHAN? Markus 12:41-44
 26 Mar

Ketika Yesus duduk menghadapi peti persembahan, Ia memperhatikan banyak orang yang memasukkan uang ke peti persembahan.  Banyak orang kaya yang memberikan dalam jumlah yang besar. Ada pula janda yang miskin memberikan dua peser, yaitu satu duit. Sangat mengherankan, ketika Yesus memanggil murid-muridNya dan mengatakan, bahwa sesungguhnya janda miskin itu memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Bukankah jumlah yang diberikan oleh janda miskin itu tidak seberapa bahkan tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan  yang diberikan semua orang kaya itu? Firman Tuhan hari ini mau menyadarkan dan mengingatkan kita bahwa nilai sebuah persembahan di mata Yesus tidak diukur dan ditentukan banyaknya JUMLAH uang yang dipersembahkan, melainkan BAGAIMANA sikap hati di saat mereka mempersembahkan uang tersebut.

Janda miskin itu dengan penuh penyerahan dan kerendahan hati telah memberikan  semua yang dimiliki, bahkan yang terbaik dari yang dia miliki untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Uang yang dipersembahkaan kepada Tuhan memang tidak banyak jumlahnya, tetapi sangat berharga bagi hidupnya. Mungkin tidak ada orang yang perduli  kepadanya. Ia dipandang sebagai orang yang tidak berarti, rendah dan tidak berguna menurut pandangan manusia. Namun ia sangat menarik perhatian Yesus, bahkan ia menjadi teladan bagi banyak orang. Berbeda dari semua orang kaya yang telah memberi jumlah yang banyak dari kelimpahannya. Ini adalah juga merupakan kritikan tajam terhadap orang-orang Yahudi, yang bersikap munafik, sombong dan mencari penghormatan dalam ibadah. Yang mereka persembahkan itu sebenarnya, belum seberapa dibandingkan dengan yang ada pada mereka.

Apakah kita sudah mempersembahkan yang terbaik kepada Tuhan? Inilah pertanyaan yang patut kita renungkan pada Minggu ini. Bagaimana sesungguhnya sikap hati kita selama ini dalam memberi persembahan kita? Apakah kita sadar bahwa semua hal yang kita miliki saat ini adalah semata-mata karena anugerah Tuhan? Sungguh tak terhitung berkat Tuhan yang patut kita syukuri dalam hidup kita; kesehatan, keluarga, pekerjaan, kehidupan, harta benda, semua yang kita miliki, teristimewa keselamatan yang kita terima di dalam penebusan Yesus Kristus.

Jika memang kita menyadari segala sesuatu yang ada dalam diri kita dan yang ada pada kita adalah sumbernya dari Tuhan dan itu adalah milik Allah, maka seyogianya kita mengatakan: “siapakah aku ini, ya Tuhan sehingga pantas memberi kepadaMu? Apakah yang ada padaku yang tidak berasal dari Engkau? Tubuh, jiwa dan rohku dan harta milikku sesungguhnya adalah pemberianMu. Aku adalah milikMu, maka semua yang ada padaku, bahkan hidupku, kupersembahkan padaMu  sebagai persembahan yang berkenan padaMu.

Dengan memberi persembahan kita mengaku bahwa tubuh, jiwa, dan roh serta segala yang ada pada kita adalah berasal dari Tuhan dan pada hakikatnya milik Tuhan. Semua anggota tubuh kita adalah milik Tuhan dan kita pakai untuk kemuliaan Tuhan, semua harta yang kita miliki adalah milik Tuhan, sebab itu kita akan mempergunakannya sesuai dengan kehendakNya dan untuk kemuliaanNya.

Persembahan yang kita berikan kepada Tuhan, hendaklah didorong oleh  ucapan syukur kepada Tuhan, sehingga kita termotivasi untuk selalu memberikan yang terbaik dan berkualitas kepada Tuhan. Kita percaya bahwa Tuhan mencukupkan kebutuhan kita dan menjamin masa depan kita. Sebab itu kita tidak perlu kuatir atau kikir. Dengan memberi persembahan kita mau mengatakan kepada diri kita bahwa kita tidak takut kekurangan di masa depan sebab Allah menjamin masa depan. Persembahan adalah tanda iman kita kepada pemeliharaan Allah di masa depan. Sebab itu kita memberi persembahan tidak hanya di masa kelimpahan tetapi juga di masa kekurangan, tidak saja sewaktu kaya namun juga saat miskin.  Oleh sebab itu, berikanlah yang terbaik untuk Tuhan. Amin.

 

Pdt. Mika br. Purba, STh

TEGUH BERIMAN MESKI TANPA TANDA (Matius 12: 38-42)
 19 Mar

Mungkin kita bertanya mengapa Yesus tidak memberikan tanda seperti yang dimintakan oleh ahli Taurat dan Farisi itu? Permintaan itukan bukan sesuatu yang berat bagi Yesus. Sebab beberapa kali dan di berbagai tempat Yesus juga melakukan tanda ajaib.

Sebenarnya bagi Yesus bukan persoalan membuat tanda, tetapi persoalan hati mereka yang masih menginginkan tanda sementara mereka mungkin sudah pernah melihat tanda beberapa kali atau paling sedikit sudah pernah mendengar cerita tentang suatu tanda seperti tanda kepada Yunus seperti diceritakan dalam nats ini. Tetapi mereka masih tidak percaya juga. Dengan melihat tanda memang banyak orang yang percaya bahkan menyaksikan Yesus dengan sungguh-sungguh. Misalnya Maria Madalena yang menerima muzizat kesembuhan dari Yesus (Lukas 8 : 2). Dia akhirnya menjadi pengikut Yesus yang setia. Kisahnya sangat terkenal ketika pagi-pagi benar dia pergi ke kubur Yesus (Matius 28 : 1 – 8) dan akhirnya dia berjumpa dengan Yesus yang bangkit (Mat. 28 : 9 – 10). Ada orang lumpuh yang disembuhkan oleh Yesus. Dia memuliakan Allah karena kesembuhan yang dia terima (Mat. 9 : 7 – 8) dan masih banyak lagi.

Namun tidak semua manusia seperti itu, ada kota Khorazim yang akhirnya dikecam Yesus, sebab penduduknya telah melihat banyak tanda muzizat namun tidak percaya (Mat. 11 : 20 – 21). Ada kota Betsaida juga telah menjadi tempat terjadinya banyak muzizat tetapi sama seperti Khorazim penduduknya tidak bertobat. Ada kota Kapernaum yang akan diturunkan sampai ke dunia orang mati juga karena kurang percaya walau banyak tanda (Mat. 11 : 23).

Kepada kita sekarang diperhadapkan pertanyaan, apakah kita akan percaya hanya jika masih melihat tanda? Jika tidak ada tanda apakah kita akan berbalik?Ayub bahkan dengan tubuh yang telah rusak sekalipun tetap percaya kepada Tuhan. Imannya tidak lagi sebatas ada tidaknya tanda bahkan di dalam penderitaan sekalipun imannya tetap kokoh (Ayub 1 : 20b). Mendengar berita penghukuman, Niniwe percaya dan mereka bertobat. Mendengar berita Salomo, ratu Syeba percaya dan rindu mendengar hikmat Salomo. Dari negerinya yang jauh dia mencari hikmat itu. Bagaimana dengan kita? Kepada Thomas, Yesus berkata: Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya (Yoh. 20 : 29).  Akhirnya, selamat mempergumulkan bapak-ibu saudara-saudariku.

Have a nice Sunday

 

Pdt. Maridup Purba, STh

Maria dan Marta (Lukas 10:38-42)
 07 Mar

Kisah Maria dan Marta ini adalah sesuatu yang sangat terkenal di kalangan orang Kristen. Pelajaran apakah yang dapat kita timba dari peristiwa tersebut? Marta terikat dengan tradisi, dimana setiap tamu harus dihormati dengan jalan dilayani sebagaimana mestinya. Ia menghormati Yesus sebagai seorang Rabbi. Maka ia menyibukkan diri dengan mempersiapkan segala sesuatunya dalam rangka menghormati orang besar yang berkenan berkunjung ke rumahnya. Marta tidak terlalu membutuhkan pengajaran dari Yesus. Rasanya hal itu tidak terlalu penting bagi dia.

 

Lain dengan saudaranya Maria. Ia tidak melihat Yesus sebagai tamu semata-mata. Ia membutuhkan pengajaran yang akan disampaikan Yesus kepadanya secara pribadi. Sebab Yesus telah datang ke rumahnya. Ia ingin mendapatkan pengajaran yang sangat berguna bagi hidupnya. Lagi pula, tradisi Yahudi membiasakan seorang Rabbi tidak mengajar perempuan. Perempuan diajar oleh suami atau orang tuanya. Sekarang ada kesempatan seorang rabbi datang ke rumahnya dan bersedia untuk memberi pengajaran kepadanya. Ia tidak menyianyiakan waktu itu. Menurut Marta, Maria tidak sopan dengan membiarkan dia sendirian repot di dalam persiapan melayani seorang tamu besar.

 

Tuhan Yesus dalam Injil Markus mengatakan: Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan banyak orang. Maria memahami hal ini, sehingga ia duduk di kaki Tuhan, suatu sikap merendahkan diri, untuk menerima pengajaran dari Tuhannya.

 

Inilah sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Yesus datang ke dalam hidup kita, pertama-tama, Ia melayani kita. Ia mati untuk kita, Ia bangkit untuk kita, Ia naik ke surga demi kita. Dia duduk di sebelah kanan Bapa untuk menjadi pembela bagi kita. Ia mengutus Roh Kudus untuk memimpin kita di sepanjang perjalanan hidup. Ia satu hari kelak datang untuk menjemput kita, supaya dimana Ia ada, di situ pun kita ada.

 

Setelah kita dilayani dalam uraian seperti di atas, barulah kita mungkin melayani Dia di dalam hidup ini. Kepada Petrus Yesus berkata: jika kau tidak membiarkan aku mencuci kakimu – dalam hal ini kita sebut dengan istilah melayani engkau – maka engkau tidak akan mendapat bagian di dalam Aku. Hal yang sama juga berlaku bagi kita. Yesus lebih dahulu melayani kita, barulah kita dimampukan untuk melayani dia di dalam setiap aspek kehidupan ini.

 

Ada banyak orang yang mengambil posisi seperti Marta. Mereka aktif di Gereja dengan berbagai kegiatan. Tetapi dalam kegiatan itu, mereka tidak menerima pengajaran dari Tuhan. Yesus menegor Marta dengan kesibukannya. Ia tidak tahu bahwa dialah sesungguhnya yang harus dilayani lebih dahulu, bukan Tuhan Yesus.

Sebuah pertanyaan: siapakah yang kita layani dalam aktifitas kita setiap hari? Diri kitakah atau Tuhan Yesus?

 

St. HOTMAN CH SIAHAAN

MANUSIA MENABUR, TUHAN MEMBERI PERTUMBUHAN (Markus 4:26-29)
 26 Feb

Yesus Kristus menggunakan perumpamaan hal seputar pertanian untuk menyampaikan pengajaranNya tentang Kerajaan Allah. Kerajaan Allah itu seumpama orang yang menaburkan benih di tanah. Setelah selesai menabur, pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi. Bagaimana proses terjadinya hal itu tidak diketahui penabur, tetapi dia hanya menabur benih dan yakin benih yang ditabur pasti tumbuh dan berbuah, serta akan tiba waktu menuai. Pertumbuhan adalah misteri ilahi, sebab hidup adalah milik Tuhan Sang Pencipta.

Penabur tersebut adalah gambaran dari para pemberita Firman dan benih yang ditabur adalah Firman Tuhan itu sendiri. Manusia (yang menaburkan Firman) itu, tidak mengetahui kapan dan bagaimana Firman yang ditabur itu bertumbuh di dalam kehidupan umat Tuhan. Firman Tuhan itu bertumbuh di dalam kuasaNya dan atas sekehendakNya. Manusia tidak mampu untuk melakukan apa pun untuk menjadikan orang-orang percaya atau beriman kepadaNya. Sebab iman itu sendiri bukanlah sesuatu yang diusahakan atau hasil dari suatu pekerjaan. Pergantian siang dan malam memperlihatkan pergantian masa dari hari ke hari, di mana pada masa-masa itulah Tuhan melalui Roh Kudus bekerja untuk menumbuhkan iman di dalam diri manusia itu. Pengajaran akan Firman Tuhan, penginjilan, khotbah, dan kunjungan pastoral, dan sebagainya hanyalah pendukung untuk pertumbuhan, sebagaimana air, tanah yang baik dan pupuk sebagai pendukung dalam pertumbuhan tanaman.

              Firman Tuhan sebagaimana yang disampaikan oleh rasul Paulus sangat tepat untuk menjelaskan ini. “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan”. Penabur yang bertugas menyampaikan firman itu sendiri tidak dapat bermegah jika pekerjaannya berhasil untuk menjadikan orang percaya kepada Yesus. Atau sebaliknya, berkecil hati jika pekerjaannya seolah-olah tidak menunjukkan perkembangan. Oleh sebab itu, dibutuhkan suatu ketekunan, kesabaran dan ketabahan dari seorang penabur untuk melihat hasil tuaian di masa depan. Penabur itu hendaknya memohon berkat Tuhan untuk menjaga dan memelihara benih yang telah ditabur itu, agar bertumbuh. Pada akhirnya, Penabur Agung itu sendirilah yang akan menuai hasilnya. Setiap orang yang menjadi pelaku Firman itulah yang akan dituai untuk dimasukkan Penabur Agung ke dalam Kerajaan Sorga. Tuhan menghargai setiap pelayanan dan pekerjaan baik yang kita lakukan dan Ia menjanjikan hari penuaian itu pasti akan tiba. Oleh sebab itu, marilah kita bekerja di ladang Tuhan dengan sungguh-sungguh. Tuhan memberkati. Amin. 

 

 

Pdt. Mika br. Purba, STh

PENGORBANAN DAN KETAATAN SEORANG HAMBA Luk. 17: 7-10
 19 Feb

Selamat hari Minggu saudara-saudaraku yang terkasih dalam Yesus Kritus!

 

                      Kita sudah memasuki minggu Septuagesima, yaitu minggu 70 hari sebelum kebangkitan Yesus Kristus. Pada khotbah minggu ini Yesus mengajak para murid-murid-Nya dan kita semua yang percaya kepada-Nya untuk bekerja (baca=melayani)  seperti seorang hamba sebagaimana  diuraikan dalam sebuah perumpamaan tentang “tuan dan hamba” (Judul versi: LAI) atau dalam versi yang lain biasa dikenal dengan judul “Hamba yang Tidak Berguna.” Sesungguhnya, yang mau ditekankan  dalam nats ini bukan sikap dan tindakan dari tuan yang memiliki ladang, tetapi sikap dan respons dari seorang hamba yang berusaha menyelesaikan seluruh perintah dan tugas dari tuannya.

                      Yesus menerangkan bahwa seorang hamba harus tunduk dan taat kepada tuannya.  Seorang hamba melakukan apa saja yang diperintahkan oleh tuannya, ia tidak punya hak atas dirinya, tetapi mutlak menjadi  hak tuannya. Seorang hamba  sekali-kali tidak berhak  mendapat pujian, penghargaan  dan upah, sebab ia hanya melakukan apa yang wajib  dilakukannya sebagai hamba. Ia harus melakukan pekerjaannya dengan baik, itulah kewajibannya.  Hamba identik dengan pengorbanan. Hamba akan memberi dan mengorbankan hidupnya sepenuhnya demi kesenangan dan kebahagian tuannya. Bahkan  setelah hamba itu menyelesaikan seluruh rangkaian tugas yang dipercayakan oleh tuanya, dia berkata: Kami adalah hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.

                    Yesus Kristus adalah hamba yang sejati, Dia melakukan apa saja yang dikehendaki Sang Bapa, taat bahkan mati di kayu salib  (Fil 2:1-11). Yesus meningggalkan  teladan bagi kita, dalam pengorbanan, ketaatan, ketulusan dan kerendahan hati. Kita adalah hamba Tuhan yang tidak berguna yang melakukan apa saja yang harus kita lakukan, artinya  kita adalah orang-orang yang sudah dipanggil Tuhan secara khusus dan diberi kepercayaan untuk melayani Dia.  Apa pun yang kita lakukan,  semuanya itu kita lakukan dengan   kesadaran bahwa kita adalah hamba yang tidak punya  hak lagi atas diri kita  tetapi hanya melakukan  apa yang menjadi kehendak Dia. Jika kita sudah melakukan  apa yang telah ditugaskan Tuhan kepada kita,  sebagai hamba hendaklah  kita berkata: saya adalah hamba yang tidak berguna, saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Allah tidak pernah dapat dianggap sebagai yang berhutang kepada kita,  dan kita tidak pernah dapat  membuat klaim terhadap-Nya.

                    Namun, dalam realita sering kali kita merasa cukup banyak berbuat, bahkan merasa telah melakukan tugas pekerjaan dengan baik, sehingga kita jatuh dalam bahaya membanggakan dan menyombongkan diri. Mempublikasikan apa yang kita sudah perbuat, dengan harapan ingin mencari pujian dari orang lain, sebagai upah dari pekerjaan kita, bukanlah sifat dari seorang hamba sejati. Satu hal yang harus kita ingat sebagai hamba Tuhan, bahwa dalam pelayanan kita Tuhan yang semakin besar, bukan kita (bnd. Kesaksian Yohanes tentang Yesus dalam Yoh. 3:30: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”).  Untuk itu perlu merenungkan  kembali dan menyelidiki apa sesungguhnya yang menjadi alasan dan motivasi bagi kita untuk melayani Tuhan. Apakah kita lakukan itu karena tuntutan tugas dalam gereja atau sekedar mengisi kekosongan atau karena uang? Ataukah kita melakukannya untuk mencari “pujian” bagi diri kita?   Melayani dengan sungguh-sunguh dan tulus, penuh pengorbanan, tanpa pamrih, serta memiliki ketaatan dan sifat rendah hati, itulah karekter dan sikap hidup seorang hamba yang dikehendaki Tuhan.  Selamat bekerja dan melayani untuk Tuhan. Amin.

 

Pdt. Kardi Simanjuntak, M.Min

PERCAYA DAN TAATI SERTA MULIAKANLAH TUHAN YESUS
 11 Feb

Allah menyatakan diri kepada manusia, merupakan inti dari pemberitaan Firman Tuhan kepada kita pada Minggu-Minggu Epiphanias.  Melalui kehadiranNya di dalam diri  Yesus Kristus ke dunia ini, Allah sendiri menyempurnakan penyataan dirinya sebagai penebus dosa dan Juruselamat bagi dunia ini. Di dalam diri Yesuslah, Allah menyatakan kehendakNya untuk membawa khabar baik, sukacita, pendamaian dan keselamatan bagi dunia ini. Dalam nas kotbah Minggu ini, diberitakan bahwa masa awal pelayanan Tuhan Yesus di dunia ini, ditandai dengan baptisanNya di sungai Yordan. Dengan segala kerendahan hati, Ia meminta Yohanes Pembaptis untuk membaptiskan Dia. Hal itu terjadi untuk menggenapkan seluruh kehendak Allah (Mat. 3:15).

Baptisan Yesus menjadi semacam peletakan batu pertama untuk memulai sebuah bangunan yang besar, sebab mulai saat itu, Ia melangkah ke dalam tugas suci-Nya sebagai Sang Juru Selamat dunia. Ketika langit terkoyak dan Roh Kudus turun atas-Nya, dilanjutkan dengan  terdengarnya suara Allah Bapa dari Sorga, semua itu  seolah merupakan sapaan “Selamat Berjuang dan Selamat melayani.” Sebuah pengalaman yang begitu kontras  segera di hadapi,  ketika Tuhan Yesus harus berhadapan dengan iblis di padang gurun. Gambaran penderitaan dalam seluruh tugas besar-Nya terpapar ketika Yesus menanggung kelaparan, kehausan, serangan iblis serta berada di antara binatang-binatang liar selama empat puluh hari di padang gurun.

Kebenaran yang ada dalam diri Yesus, diuji dengan pencobaan yang dialamiNya. Tiga pencobaan yang menjanjikan diriNya dapat luput dari penderitaan, berhasil dilewatiNya karena Yesus selalu mengedepankan kehendak dan rencana Allah atas hidupNya.  Yesus tetap menjadikan ketaatanNya kepada kehendak BapaNya sebagai yang utama dalam hidupNya. Kerendahan hati, persekutuan yang erat dan ketaatanNya pada kehendak Allah Bapa, menjadi kunci kemenangan Yesus menghadapi segala cobaan dan penderitaan sampai akhir hidupnya. Itulah pula yang membuat dia layak dipermuliakan dan ditinggikan.

Yesus yang menjadi pusat dari Injil Kerajaan Allah itu, juga memberitakan Injil dengan semangat yang tinggi. Ia menyerukan: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat, bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk.1:15). Seruan Yesus ini, juga dialamatkan kepada kita semua, agar kita bertobat dari segala kejahatan kita dan percaya kepada Injil. Jika Yesus yang adalah Allah mau merendahkan diri menjadi sama dengan manusia berdosa dan berhasil memenangkan pencobaan-pencobaan iblis dengan menolak segala godaan kesenangan dunia, menyedihkan sekali jika ternyata di zaman sekarang ini banyak pengikut Kristus yang cenderung malah bersikap sebaliknya. Banyak orang yang mengaku dirinya sebagai pengikut Kristus, justeru sering kalah dalam pencobaan. Ketiba cobaan hidup dan penderitaan menerpa, banyak orang memilih mengikuti kehendak dunia  dan pengaruh iblis untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak memuliakan dan meninggikan Tuhan dalam hidupnya. Godaan kemewahan, kekayaan dan kenikmatan dunia sering menyeret umat Tuhan menyimpang dari kebenaran Firman Tuhan. Tidak sedikit warga gereja yang akhirnya terjerat dalam berbagai macam kejahatan; korupsi, penyelewengan hukum, perjinahan jasmani dan rohani dan berbagai kejahatan lainnya.

Firman Tuhan hari ini menyapa kita semua, agar bertobat dari segala kejahatan kita dan sungguh-sungguh percaya kepada Injil di dalam Yesus Kristus. Tuhan menghendaki agar kita semua para pengikutNya mengalami pertobatan agar memperoleh hidup kekal bersama Yesus Kristus. Percaya dan taati serta muliakanlah Dia melalui sikap hidup dan interaksimu dengan sesamamu, sebab Tuhan Yesuslah satu-satunya yang memberikan jaminan hidup kepada kita, baik di dunia maupun di Surga. Dialah yang memelihara hidup dan memberi kekuatan kepada kita untuk memenangkan segala perkara dan cobaan hidup. Tuhan memberkati! Amin.

 

Pdt. Mika br. Purba, STh

IMAN TEGUH SANG PERWIRA DAN KASIH YESUS YANG TIADA TARA Matius 8: 5-13
 04 Feb

            Nats ini memberitakan suatu kisah yang sangat menarik yaitu kisah pertemuan seorang perwira yang baik hati dengan Yesus yang penuh kasih. Perwira itu berbeda dari kebanyakan orang di zamannya. Bagi bangsa Romawi di zaman itu hamba adalah alat yang hidup dan alat yang tidak berjiwa, karena itu dapat diperlakukan dengan sesuka hati. Namun bagi perwira itu, hamba adalah bagian dari diri dan juga bagian jiwa. Itu sebabnya dia berusaha untuk membawa dia berobat termasuk dengan memohon kepada Yesus.

            Perwira itu juga sangat rendah hati. Perhatikan kata-katanya: Aku tidak layak. Dalam zaman itu di daerah Palestina, tentara berpangkat perwira adalah jarang. Dia pasti seorang yang sangat dihormati dan ditakuti, apalagi di tanah Israel yang sedang dijajah oleh bangsa Romawi. Jadi rendah hatinya perlu ditiru, tidak ada kesombongan di dalam dirinya. Katanya lagi: Katakan saja sepatah kata, maka hambaku akan sembuh. Suatu iman (trust) yang sangat teguh kepada Yesus. Dia sangat mengimani, jika Yesus telah mengatakan sesuatu, maka hal itu pasti terjadi. Dia telah memohon, Yesus telah mau datang. Dalam imannya permohonannya itu telah amin. Bagaimana dengan kita, kita telah berdoa, kita telah memohon, di akhir doa kita telah mengatakan amin.  Apakah kita sungguh yakin seperti perwira itu bahwa Tuhan pasti menjawab doa kita dan sudah amin? Atau kita meragukannya dan keadaan kita kembali sama seperti keadaan sebelum kita berdoa? Itu berarti kata amin tadi kita tarik kembali. Jika demikian, kini Iman perwira itu mengkritik kita sekarang.

            Satu lagi yang lebih penting dari kisah ini. Yesus memiliki kasih dan perhatian yang luar biasa. Dia mau datang dan Dia mau menyembuhkan.  Faktanya, hamba perwira itu sembuh.  Singkatnya, mau dikatakan: Hai orang beriman: Yesusmu tidak pernah lalai, pertolongan-Nya tidak pernah datang terlambat, kehadiran-Nya adalah kepastian. Yang menjadi pertanyaan adalah: Adakah iman kita sebesar iman perwira itu? Sedih kalau Yesus hari ini berkata: Sesungguhnya iman sebesar itu tidak pernah saya jumpai di jemaat HKBP Menteng. Nah, bapak, ibu, dan saudara jadi malu, saya juga (penulis).  Akhirnya, selamat mempergumulkannya. Have a nice Sunday (MP).

 

Pdt. Maridup Purba, STh

Renungan Minggu, 05 Desember 2010
 04 Dec
Lukas 21 : 25 - 33
 HIDUP SENANTIASA BERJAGA-JAGALAH

Selamat Advent yang ke 2  bagi seluruh jemaat yang dikasihi Tuhan...
Nats ini bagian dari khotbah Tuhan Yesus "tentang akhir jaman" (parousia). Pertanyaan dari murid-muridNya muncul "Bilakah itu akan terjadi ?" (Luk. 21:7).Nats ini bukan berbicara "tentang ramalan" akan hidup yang akan datang sehubungan dengan parousia tadi, tetapi bertujuan menasehati, menghibur dan menguatkan iman seluruh pengikut Yesus agar tidak ada keragu-raguan lagi ketika Hari Tuhan itu datang. Kitapun tidak tahu kapan itu terjadi, tetapi yang pasti Allah akan sungguh-sungguh melaksanakan rancanganNya. (Bnd. nats ini dalam injil Markus 13 : 33 - 37 : akhir jaman).

Tanda-tanda akan akhir jaman terlihat dalam ay. 25 - 27 (kita baca sendiri Alkitab kita). Lalu ay.28 merupakan kata-kata penghiburan sekaligus menguatkan kita agar tetap lebih waspada dan lebih bijaksana. Ay.29 - 33, Yesus mengumpamakan keselamatan  dengan sebatang pohon " ara " atau "pohon apa saja" yang memiliki tunas. Artinya, setiap pohon yang ditebang jika akarnya tidak ikut tercabut maka pohon tersebut akan menumbuhkan tunas baru (cikal bakal pohon baru) . Tunas baru menandakan bahwa dia memperoleh kehidupan dari bagian pohon tersebut. Ada yang memberi hidupnya dan akan membuat tunas tersebut semakin lama semakin besar dan akhirnya bisa tempat berteduh ( ingat khotbah Advent I ).

Minggu Advent ke-2  ini kita akan melihat aktifitas orang baik instansi, sekolah, marga dll  yang merayakan Natal semakin banyak.(sebenarnya kalau kita lihat kalender gerejawi, aktifitas itu masih bagian dari Advent dan bukan perayaan Natal). Kita jangan terjebak melihat secara "aspek lahiriah" saja tetapi "aspek  spiritualnya " itu yang sangat penting. Kita jangan terkecok bagaimana "cara menyongsongnya" tetapi baiknya bagaimana "cara membuka hatinya, imannya untuk semakin "ready" akan pengharapan yang baru tersebut. Ingat, kita semakin dihimpit arus globalisasi yang semakin canggih. Analisis-teologis kita semakin diuji dan dipertajam akibat pengaruh "multi-keinginan". Jadikan dirimu TUNAS BARU dengan tetap  menjadi "garam dan terang dunia. (Mat.5 : 13 - 16). Maranatha : Datanglah ya Tuhan...Amen.
                                            
Pdt. Osator Simanjuntak, STh

 

Renungan Minggu 28 Nopember 2010
 22 Nov

 

Raja Syalom

Yesaya 32:1-8

Minggu ini kita memasuki tahun baru Gereja. Oleh karena itu, layaklah kita saling sapa satu sama lain dengan mengucapkan: Selat tahun baru Gerejawi. Firman Tuhan yang menyapa kita pada Minggu ini mengedepankan kepada kita akan hadirnya Sang Raja Syalom, yakni Sang Mesias Raja di atas segala raja dan Tuhan dari segala tuan.

Nabi Yesaya menggambarkan suasana maysarakat dalam pemerintahannya. Antara lain: Sang Raja akan memerintah menurut kebenaran, para pemimpin juga memimpin dalam keadilan. Oleh karena kebenaran dan keadilan terlaksana, maka para pemimpin itu terlihat seperti tempat perteduhan dan tempat perlindungan terhadap masalah dalam kehidupan.

Masyarakat pun akan mengalami perubahan yang sangat radikal. Mereka tidak lagi akan disebut sebagai orang yang buta dan tuli, melainkan melek dan mendengar serta memperhatikan pengajaran yang disampaikan oleh para pemimpin.

Pada masa itu, akan terjadi pertobatan yang luar biasa di tengah tengah masyarakat. Yesaya menggambarkannya dengan gambaran; orang yang terburu nafsu akan tahu menimbang masalah, orang yang gagap akan dapat berbicara dengan jelas, orang bebal akan disebut orang yang berbudi luhur, penipu menjadi orang terhormat.

Sang Mesias telah datang dalam diri Yesus Tuhan kita. Ia datang dan tinggal di dalam hati kita melalui Roh Kudus. Ia pun akan menghasilkan perubahan total di dalam hidup kita. Paulus mengatakan: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu, yang baru sudah datang.

Sama seperti yang digambarkan Yesaya dalam nubuatannya, Kristus menggenapinya di dalam Gereja-Nya. Gereja seharusnya adalah kumpulan dari orang orang yang telah mengalami pembaharuan hidup. Roh Kudus yang mengerjakannya di dalam hidup kita. Gereja sebagai satu persekutuan yang telah mengalami pembaharuan hidup, mereka dijadikan Allah sebagai partner-Nya untuk memperkenalkan kepada dunia ini pemerintahan Allah yang di dalamnya ada kebenaran dan keadilan.

Gereja seyogianya menjadi tempat perteduhan dan tempat perlindungan bagi orang yang merindukan kebenaran dan keadilan di dunia ini. Hal itu mungkin karena Gereja adalah tubuh Kristus. Allah sendiri pun tinggal di dalamnya. Marilah kita menampakkan pemerintahan Allah di dalam dunia ini melalui persekutuan kita.

 

St. Hotman Ch Siahaan

 

 

Doa Bapa kami 1
 30 Sep

Perjanjian Baru di tulis dalam Bahasa Yunani Koine, oleh karena itu penafsirannya banyak terkait dengan pengertian bahasa ini. Tidak dapat disangkal bahwa Tuhan Yesus mengajar Doa ini kepada para murid dalam bahasa Ibarani, oleh karena Yesus sendiri orang Yahudi dan merupakan bahasa yang dipakai di Sinagoge ataupun Bait Allah pada zaman Yesus. Yesus sendiri melakukan” aliyah “ dengan melakukan pembacaan hukum Taurat di Sinagoge ( Lukas 4 : 16 ).

Kapan Tuhan? Kapan?
 04 May
- Sumber Jawaban.com - Kita semua menginginkan hal-hal baik terjadi dalam hidup kita, tapi terlalu sering kita menginginkannya saat ini juga, bukan nanti. Jika tidak terjadi seperti itu, kita sering tergoda untuk bertanya, "Kapan Tuhan? Kapan?" Kebanyakan dari kita perlu bertumbuh untuk belajar mempercayai Tuhan dibanding berfokus pada pertanyaan "kapan".
Prepare Your Future!!
 04 May
Kebanyakan anak muda kalo ditanya ‘mo jadi apa nantinya?’ Jawaban yang paling sering kita dengar itu kayak gini, ‘Errr...gak tau.’ Ato ‘Liat aja nanti.’ Cuma sedikit banget anak muda yang tau pasti mo jadi apa nanti kalo udah dewasa. Padahal penting banget lagi buat kita tau bakal jadi apa kita nanti (minimal kalo belum tau bakal jadi apa, kita udah punya gambaran, kita bakal jadi apa) ato bahasa kerennya kita tau panggilan dan tujuan hidup kita.
Waah, seharusnya si, kita ga boleh besikap “ntar aja” lagi sekarang… we’re race against the time, so, get set… ready and prepare your future start from now.
Author
ADVERTISEMENT
    Place Your Ads Here!