Strict Standards: Declaration of objPR::encode_url() should be compatible with clsFrontEnd::encode_url($m, $s, $a, $id = '', $cid = '') in /home3/tessar/public_html/hkbpmenteng.org/mod/content/__hkbp.php on line 913
Gereja HKBP Menteng  | Renungan Harian HKBP Menteng
Website HKBP Menteng menyediakan informasi mengenai Gereja HKBP Menteng seperti : Warta Jemaat, Kegiatan, Renungan, Artikel, Informasi Jemaat, Galeri Foto, dsb. HKBP Menteng menjadi saluran berkat, damai sejahtera dan sukacita bagi jemaat dan masyarakat sekitarnya.

Kumpulan Renungan Harian

Renungan Harian : Jumat, 7 Maret 2014
 06 Mar

Nats : Jakobus 5 : 1+4-6

"E hamu angka na mora, tumatangis ma hamu jala mengangguhi managam haporsuhon, na naeng songgop tu hamu. Na maungaung do na nidobomuna, i ma angka pangula na manggotil angka haumamuna, jala panjouon ni angka panabi, nunga sahat tu pinggol ni Tuhan Sebaot! Tarlobi do pargadombusonmuna di tano on, dipamokmok hamu do dirimuna di ari pamotongan. Diuhumi dibunu hamu do Partigor i, ndang dialo Ibana hamu!”

 

(“Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu! Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka yang menyabit panenmu. Dalam kemewahan kamu telah hidup dan berfoya-foya di bumi, kamu telah memuaskan hatimu sama seperti pada hari penyembelihan. Kamu telah menghukum, bahkan membunuh orang yang benar dan ia tidak dapat melawan kamu!”)

Keadilan adalah melakukan dahulu apa yang menjadi tanggung-jawab kita, barulah kita menerima apa yang menjadi hak kita.

Itu adalah salah satu pemaknaan dari yang disebut sebagai keadilan.

 

Sebagai seorang dosen, kemarin saya menyerahkan nilai-nilai mahasiswa yang pekerjaan ujian mereka baru saja saya selesaikan pengoreksiannya. Seperti biasa saya datang ke Biro Akademik untuk menyerahkan segala berkas penilaian untuk direkap dan dibukukan. Sebagaimana sudah tergalangnya persahabatan di antara kami yang satu korps dalam institusi tempat saya mengajar, teman dari Biro Keuangan langsung mendatangi saya, menyalam dan menyampaikan amplop besar (berisi uang pembayaran atas hasil koreksi yang saya sedang berikan ke bagian Akademik). Demikian bersahabatnya teman yang dari Biro Keuangan itu yang dengan hangatnya membukakan tanda terima untuk saya tandatangani.

 

Tentu saja saya senang dengan pemberian uang itu. Memang itu hak saya karena saya telah menyelesaikan pengoreksian atas sejumlah mahasiswa saya. Akan tetapi pada saat itu proses penyerahan dan pencatatan ke Biro Akademik belum selesai. Saya masih di depan loket Biro Akademik. Melintaslah di kepala saya pemaknaan atas keadilan yang selalu saya junjung seperti yang saya tuliskan di atas. Lalu dengan senyum dan kata-kata yang sopan saya menyatakan kepada teman yang dari Biro Keuangan untuk bersabar sebentar menunggu tanda-tangan saya, setelah selesai dulu urusan saya ke Biro Akademik. Saya ucapkan keyakinan saya (yang saya tulis di atas itu) dengan lugas dan didengar oleh semua teman dan anggota-anggota Biro lain yang ada di sekitar saya saat itu.

 

Teman yang dari Biro Keuangan tersenyum dan sangat mengerti atas keyakinan saya. Diapun menunggu. Amplop uang dan tanda terima tetap di samping saya dan tidak saya sentuh sama sekali sampai urusan di Biro Akademik selesai tuntas. Setelah itu barulah saya menandatangani tanda terima uang dan menerima uang saya.

 

Walaupun itu perkara yang kecil, tetapi saya senang melakukannya. Apalagi di institut tempat saya mengajar itu semua orang lain adalah dari keyakinan agama yang berbeda dengan saya.

 

Kita adalah pengikut Tuhan. Kecil atau besar, sesungguhnya Tuhan mempercayakan banyak hal kepada kita. Mulai dari kehidupan berkeluarga, pekerjaan, pelayanan, dan lain sebagainya.

 

Kita harus mengingat bahwa Tuhan Yesuslah yang sedang kita ikuti dalam segala kehidupan kita. Tuhan sudah berfirman supaya kita pergi ke seluruh dunia untuk membuat murid bagi Tuhan. Itulah pekerjaan utama kita di dunia ini.

 

Seandainya kita selalu mengingat itu, kiranya kita selalu memrioritaskan segala yang kita miliki untuk mengutamakan orang lain yang ada di sekitar kita. Itulah sebenarnya inti ajaran Tuhan Yesus. Tuhan Yesus datang ke dunia untuk melayani, bukan untuk dilayani. Adakah kita muridNya lebih besar dari Tuhan sehingga berani melanggar perintah Tuhan dan membuat hal yang lain yang tidak dilakukan Guru kita yaitu Tuhan Yesus sendiri?

 

Marilah kita tetap waspada, bahwa di manapun kita berada haruslah kita mengutamakan semua orang di dalam lingkup kehidupan kita. Siapakah mereka yang kita utamakan lebih dari kita itu? Di keluarga, mereka adalah istri/suami dan anak-anak kita, meskipun kitalah sebenarnya kepala di dalam keluarga kita masing-masing. Semua anak buah dan orang yang ada dalam subordinat kita di pekerjaan kita, meskipun kita adalah pemimpin mereka. Semua jemaat dan anggota tubuh Kristus bahkan sampai yang terkecil, meskipun mungkin kita seorang pengurus gereja, Sintua, atau bahkan Pendeta pimpinan gereja kita. Demikianlah seterusnya.

 

Kalau kita selalu mengingat itu, alangkah indah kedatangan Tuan kita yang adalah Tuhan Yesus itu kelak, di mana Dia akan menemukan kita telah dengan baik menggunakan segala berkat dan kemampuan yang diberikan Tuhan kepada kita bagi orang lain yang selalu kita anggap lebih utama dari diri kita.

 

Selama hidup ini semuanya adalah merupakan tanggung-jawab kita yang harus kita kerjakan dengan baik. Kapan kita menerima upah yang menjadi hak kita? Hanya di Surga. Itu adalah upah yang tidak bisa kita lukiskan besarnya dan indahnya saat ini, kecuali bila kelak kita sudah mendapatkannya dengan penuh. Akan tetapi sukacita dan damai sejahtera Sorgawi itu telah perlahan-lahan dipenuhkan Tuhan di bejana hati kita, sejak saat kita hidup di dunia. Asalkan kita senantiasa menjalankan tugas kita, sebagai hamba yang setia.

(SM Parulian Tanjung)

 

Renungan Harian: Kamis, 6 Maret 2014
 06 Mar

Nats: Poda 1 : 7

"Biar mida Jahowa do parmulaan ni parbinotoan, alai anggo halak na oto manoisi hapistaran dohot pangajaran"

("Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan pendidikan".)

Pengetahuan adalah sesuatu yang bersinar. Dia tampil sangat mengagumkan. Sedemikian mencengangkan sehingga orang menjadi takjub.

Oleh karena itu banyak orang mengejar pengetahuan. Menumpuk sebanyak mungkin pengetahuan dengan harapan sekali waktu akan mencengangkan banyak orang. Sedemikian berbahagianya orang bila dia dipuji karena pengetahuan yang dikuasainya. Besarlah pujian atas nama seseorang yang menguasai suatu/beberapa pengetahuan.

Tetapi kita perlu mencermati dengan baik perbedaan memiliki pengetahuan dan menguasai pengetahuan. Ini dua hal yang sepintas mirip tapi sesungguhnya sangat berbeda.

 

Sesungguhnya yang membuat orang tercengang bukanlah orang yang memiliki pengetahuan, tetapi orang yang menguasai pengetahuan.

Menguasai pengetahuan mengandung maksud bahwa orang yang menguasai ini tampil dengan baik membuktikan pengetahuan yang dikuasainya dan menggunakan pengetahuan yang dikuasainya itu untuk memecahkan (bahkan segera/seketika) masalah yang timbul/tampak di permukaan. Ini sesungguhnya yang dikatakan sebagai menguasai pengetahuan.

 

Berbeda sekali dengan mereka yang seolah melihat ke dirinya sendiri untuk menggunakan segala waktu, tenaga, kesempatan bahkan uangnya untuk menimbun pengetahuan di kepalanya. Orang demikian biasanya menjadi “terisolir” dari lingkungannya. Dia merasa bahwa lingkungannya adalah berbagai buku, lingkungan tinggal, lingkungan sosial dan lain sebagainya sebagai sesuatu yang dia harapkan selalu mengisi dan mempertebal khazanah pengetahuannya. Pusat pikiran dan perhatiannya hanyalah pemasukan segala pengetahuan yang bisa dimilikinya dari berbagai sumber. Tolok ukur pencapaian bagi dia adalah banyaknya memori yang dia simpan di dalam perbendaharaan pengetahuannya.

Jadi orang-orang tipe ini adalah mereka yang memfokuskan kehidupannya pada timbunan khazanah pengetahuan yang dimilikinya. Betapa senangnya dia bila gelar akademiknya berderet-deret. 

Tentu saja kita tidak memaksudkan bahwa mereka yang bertipe ini adalah orang yang sombong dengan pengetahuannya (walaupun banyak dari mereka yang terjerat ke dalam kesombongan. Mereka mengukur orang dengan seberapa ilmu yang dimiliki oleh orang lain). Jadi orang ini berorientasi ke dalam (dirinya) dan justru menjauhkan dirinya dari lingkungan sosialnya.

 

Bila kita kembali kepada orang yang menguasai pengetahuan (seperti yang dinyatakan di atas), orang ini justru berorientasi kepada orang-orang sekelilingnya. Bahkan dia rindu untuk bertemu orang-orang untuk melihat apakah ada dari yang dia kuasai (pengetahuan) yang bisa diabdikannya untuk memecahkan masalah-masalah lingkungan (sosial) di sekitarnya. Jadi karena orang tipe ini berorientasi kepada terpecahkannya masalah-masalah sosial yang melingkupinya. Orang tipe ini ini justru melihat keluar/memfokuskan diri untuk prakarsa/karya yang baik untuk orang lain. Orang ini tidak memikirkan kepujian untuk dirinya.

Sebenarnya orang-orang seperti inilah yang dikatakan sebagai orang berhikmat/bijaksana.

 

Raja Salomo adalah contoh orang yang berhikmat. Dia tampil menjadi seorang yang senantiasa siap menggunakan hikmat yang dimilikinya untuk mengatasi banyak masalah. Cara dia berpikir dan berbicara adalah sedemikian bijaksana dan mengagumkan. Sebagai raja besar dia justru melayangkan pandangannya kepada orang-orang sekelilingnya untuk dapat berpartisipasi atas terpecahkannya banyak masalah di sekelilingnya. Dia membuka dirinya untuk turun dan melihat persoalan rakyatnya. Dia adalah raja yang bijak yang membangun hubungan sosial dengan baik dengan banyak orang. Dari persahabatannyalah tentunya dia mendapat banyak sekali sumbangan dari berbagai penjuru dunia dalam proses pembangunan Bait Tuhan yang sebenarnya cita-cita ayahnya (Daud). Jadi Salomopun adalah seorang anak yang baik, yang selalu mengingat contoh teladan dari ayahnya.

Salomo meneruskan apa yang telah didahului oleh Musa yaitu menuliskan banyak hikmat dan sejarah sebagai bekal dari semua generasi sesudah mereka.

 

Akan tetapi dorongan (passion) apakah yang sesungguhnya dimiliki Salomo (juga Musa dan banyak mereka yang disebut “berhikmat”)? Jawabannya adalah karena mereka sesungguhnya hanyalah mencari dan mengupayakan segala yang dimilikinya untuk kemuliaan Allah. Jadi orientasi dan passion mereka sesungguhnya adalah Tuhan Allah Pencipta Langit dan Bumi.

 

Tuhan Yesus memilih 12 orang muda di awal pelayananNya, yang digelarinya Rasul. Siapakah mereka? Mereka sama sekali bukan orang-orang yang memiliki pengetahuan.

Mereka hanyalah anak-anak muda yang memiliki banyak sekali kekurangan, terutama dalam pengetahuan. Tapi Tuhan memiliki mereka. Mengapa? Tuhan ingin mendidik mereka menjadi orang yang menguasai pengetahuan. Bijak dalam kehidupan ini.

Bagaimanakah mungkin orang-orang yang sepintas “tidak layak” ini yang justru dipilih oleh Tuhan Yesus? Jawabannya, Tuhan memberikan RohNya yang Kudus di hati mereka. (Yoh 14: 26). Tuhan mendidik mereka waktu-ke waktu dengan ketat setiap hari, walaupun total waktu keseluruhan tidak lama. Hanya sekitar 3 tahunan.

 

Ketika Tuhan meninggalkan mereka, apakah mereka sudah menjadi orang-orang yang sangat lengkap? Tidak. Mereka masih memiliki banyak sekali kekurangan. Ketika Tuhan disalib, satu dari mereka bunuh diri. Sepuluh yang lain menghindar mencari selamat. Hanya satu yang berani tetap hadir di kaki salib Tuhan.

Mengapa Tuhan hanya sebentar dan sesudah itu pulang ke Surga meninggalkan mereka? Jawabannya, Tuhan menyertai mereka sampai kepada akhir jaman melalui RohNya yang Kudus.

 

Marilah kita senantiasa melihat kepada Kebesaran Tuhan yang memperlayakkan kita ada di dalam naungan KasihNya. Roh Tuhan sesungguhnya ada pada kita dan akan menolong kita senantiasa.

Marilah kita keluar dan mengabdikan diri kepada banyak pekerjaan Tuhan, tanpa harus tertahan karena merasa tidak berpengetahuan. Kita perhatikan dengan baik segala hal sebagai hal yang membangun kita, kita belajar dan mendengarkan dengan hati lapang apa yang dinasihati orang bijak kepada kita, kita renungkan dan cari rujukan pengetahuan dengan dinamis dan kita serahkan semua kepada pertolongan Roh Tuhan.

 

Tuhan kiranya memberkati kita. (SM Parulian Tanjung)

Renungan Harian : Rabu, 5 Maret 2014
 04 Mar

BERSAAT TEDUH

(Markus 1 : 35)

 

Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi keluar. Ia pergi ketempat yang sunyi dan berdoa disana. Pada nas yang kita baca ini, kita melihat Yesus mengajarkan kita bagaimana kita orang-orang percaya melakukan saat teduh, agar iman percaya kita dapat terpelihara, bertumbuh dan berbuah. Pagi-pagi benar sebelum kita melakukan aktivitas kita sehari-hari, terlebih dahulu kita bersaat teduh. Hal ini penting kita lakukan agar segala pekerjaan dan aktivitas kita hari itu dipimpin, dikontrol oleh Tuhan. Artinya didalam setiap gerak, aktivitas maupun keputusan-keputusan yang kita ambil selalu dalam pikiran sadar kita “Ini adalah yang terbaikbagikemuliaanTuhan” artinya Tuhan berdaulat didalam aktivitas dan kegiatan kita.

 

Dengan demikian dan sejalan dengan yang saya Imani, Tuhan akan menuntun kita berjalan didalam kebenaran, dan apabila karena kelemahan atau kebodohan kita melakukan keputusan yang salah, pasti Tuhan juga akan menolong kita untuk mengembalikan kita kejalan yang benar. Kalau hal seperti ini dapat kita lakukan setiap hari, pasti kita dapat merasakan ketenangan, lepas dari kekhawatiranakan hari esok yang tidak jelas, karena kita selalu meminta Tuhan turut campur dalam kehidupan dan aktivitas kita sehari-hari.

 

Bersaat teduh, adalah saat-saat yang indah, dimana kita secara pribadi dapat bersekutu dengan Tuhan. Karena sifatnya pribadi, akan lebih mudah bagi kita mengutarakan hal-hal yang ada dalam hati pikiran kita apabila situasi lingkungannya juga mendukung, misalnya pada saat sepi atau sendirian. Tetapi menurut saya pribadi, apabila kita ingin membimbing atau menguatkan/mendukung saudara atau anak-anak kita bersaat teduh yang benar, maka bersaat teduh dapat dilakukan bersama-sama.

 

Bersaat teduh, adalah tempat kita berkomunikasi dengan Tuhan. Kita dapat membayangkan bagaimana indahnya Musa dapat bersoal-jawab langsung dengan Tuhan. Situasi atau kondisi demikian juga boleh kita dapatkan pada saat teduh, dimana kita membacakan firmanTuhan (minimum satu perikop), kemudian kita hayati ayatnya, kita mencoba mencari makna, maksud Tuhan didalam firmanNya itu. Hal itu sama artinyaTuhan berkata kepada kita sesuai dengan perikop yang kitabaca, sudah barang tentu firmanTuhan itu kita respon/jawab kembali melalui doa yang kita panjatkan kepadaNya, sehingga dengan demikian kita dapat merasakan indahnya berkomunikasi dengan Tuhan.

 

Coba kita bandingkan seseorang dapat berkomunikasi dengan Presiden harus melalui procedure yang panjang dan sulit, tetapi dengan bersaat teduh setiap pagi, kita dapat berkomunikasi dengan Tuhan pencipta langit, bumi dan segala isinya. Oleh karena itu marilah kita tiru Yesus yang senantiasa bersaat teduh untuk bersekutu/berkomunikasi dengan BapaNya di sorga.

 

Pada perikop ini Yesus juga menunjukan kepada kita, dengan iman yang terpeliharadan bertumbuh akan mendorong kita menghasilkan buah-buah iman, baik didalam memberitakan firmanTuhan maupun memberikan pertolongan kepada orang lain, sehingga nama Tuhan semakin dimuliakan.

(St. Maurits Napitupulu)

Renungan Harian : Selasa, 4 Maret 2014
 04 Mar

KASIHILAH MUSUHMU

(Luk 6 : 27 - 28)

 

Tetapi kepada kamu yang mendengarkan Aku, Aku berkata:

-          Kasihilah musuhmu,

-          Berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu,

-          Mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu,

-          Berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.

 

Itulah ciri- ciri khas orang Kristen. Orang Kristen harus mampu mengasihi orang, bukan hanya pihak yang berbuat baik kepadanya, tetapi justru yang membenci, mengutuk dan yang mencaci sekalipun. Namun anehnya, banyak orang Kristen lupa ciri khas  yang diajarkan oleh Yesus dan dalam hidupnya sehari-hari bertolak belakang dengan ajaran tersebut.

 

Lebih lanjut ajaran-ajaran Yesus dalam perikop ini kita lihat ciri-ciri khas yang membedakan kita dengan orang lain ialah karakter Allah Bapa yang diturunkan kepada Anak-Nya dan kita yang mengaku sebagai anak Allah harus juga bisa melakukan apa yang diteladani oleh Bapa.

 

Secara manusiawi tentu bukan hal yang mudah melakukan hal-hal yang baik seperti mendoakan, memberkati dan memberi pinjaman kepada orang yang telah berbuat jahat kepada kita.

 

Namun firman Tuhan mengajarkan bahwa mengasihi musuh adalah ciri khas yang harus kita pertahankan, karena itu merupakan sifat yang harus kita teladani dari Allah  Bapa kita. Keberadaan kita sebagai anak Allah ditentukan oleh kemurahan hati Allah dapat turun atas kita. Kemurahan hati yang tidak membeda-bedakan satu dengan lainnya.

 

Mungkin saja tidak terlalu mudah untuk segera memunculkan perasaan yang hangat terhadap orang yang memusuhi kita. Maka yang Tuhan minta dari kita adalah kasih yang mau atau rela mendahulukan yang baik bagi mereka. Tuhan juga mengajarkan agar kita bersikap terhadap orang lain seperti yang kita inginkan orang lain lakukan terhadap kita, maka kalau ada yang melukai hati anda atau ada orang yang bersikap memusuhi anda, tunjukkanlah kemurahan hati yang anda teladani dari Allah. Doakan mereka dan berbuat baik kepada mereka. Kita hrus memiliki kemurahan hati seperti Allah Maha Pemurah.

St. D.R. Nainggolan

 

Renungan Harian : Senin, 3 Maret 2014
 28 Feb

KEHIDUPAN ATAU KEMATIAN

(Ulangan 30 : 19)

 

Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini : Kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu.

 

Dalam Alkitab sering kita temukan bahwa orang secara pribadi ataupun keluarga atau kelompok atau suatu umat diberi kebebasan untuk memilih. Memilih yang baik atau tidak baik, yang menghidupkan atau mematikan. Beberapa contoh misalnya di Taman Eden Allah mengatakan Adam dan Hawa boleh makan buah apapun yang disukai kecuali buah satu pohon; dalam perikop kita sudah disuruh memilih kehidupan bukan kematian; dalam pidato Yosua kepada umat yang dia pimpin dia berkata :“Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yos 24:15).

 

Walaupun selalu diharapkan agar manusia memilih hal yang positif, seringkali manusia justru memilih yang negatif. Lihatlah Adam dan Hawa yang memetik buah yang jelas-jelas dilarang. Akibatnya mereka diusir dari Taman Edun. Dalam nats ini sudah jelas dikatakan atau diperintahkan agar kita memilih kehidupan agar kita sendiri dan keturunan kita hidup/ selamat. Bukankah karena situasi dan kondisi lingkungan kita tidak berani tegas memilih yang positif. Kita takut kepopuleran kita hilang, atau posisi jabatan yang sedang kita pangku dicopot, sehingga kita tidak berani mengemukakan kebenaran yaitu memilih yang baik.  St. D.R. Nainggolan

Renungan Harian : Sabtu, 1 Maret 2014
 28 Feb

DOA DALAM PERGUMULAN

(MAZMUR 6)

 

 

Pendahuluan

Kitab Mazmur adalah nyanyian terdiri dari 5 jilid. Jilid 1 Pasal

1-41; jilid 2 pasal 42-72; jilid 3 pasal 73-89; jilid 4 pasal 90-106 dan jilid 5 pasal 107-150. Tiap jilid ditutup dengan doxologi (pujian) satu ayat, kecuali jilid 5 satu pasal penuh. Tiap pasal dan ayat dinyanyikan oleh pemazmur untuk mengemukakan isi hatinya.

 

Pasal 6 masuk pada jilid 1 dan ayat 1 (satu) merupakan judul, ayat 2 samapi ayat terakhir adalah isi seluruh pasal.

 

Bahasan tentang isi

 

Bagaimana perasaan orang yang didera penyakit dengan kemungkinan bahwa penyakitnya tidak bisa sembuh bahkan sudah divonis mati sebagaimana ucapan dokter. Yang biasa muncul dalam pikiran orang yang mengalami penyakit adalah :”Dosa apa yang telah kulakukan hingga Tuhan marah dan menghukum aku dengan penyakit ini?” Tentu tidak semua penyakit merupakan hukuman Tuhan atau akibat dosa.

 

Pemazmur disini mengakui bahwa ia telah berbuat dosa kepada Tuhan. Ia sadar bahwa penderitaannya terjadi karena kesalahannya sendiri. Penderitaan itu dirasakan begitu menekan sehingga ia berseru kepada Tuhan “Berapa lama lagi?” (ayat 4). Penderitaannya  makin terasa berat karena musuh-musuhnya menggunakan kesempatan untuk menekan dia. Mungkin orang lain berkata “Ia kena tulah, Tuhan memukul dia”.

 

Di tengah pergumulannya, pemazmur tak kehilangan iman. Ia percaya akan kasih setia Tuhan yang tak pernah berubah. Maka ia berani mohon belas kasihan dan pengampunan-Nya, sebab kalau ia mati, ia tidak dapat lagi mengucap syukur kepada Tuhan. Kata “maut” disamakan dengan kata “dunia orang mati” yang menunjukkan tempat berakhirnya kehidupan. Pemazmur juga meminta Tuhan segera menolong dirinya, supaya para musuh tidak terus menerus menekan dan supaya fitnah mereka kehilangan sengatnya.

 

Pengalaman pemazmur bisa jadi pengalaman kita saat sakit mendera. Periksalah diri dihadapan Tuhan secara jujur, apakah ada dosa yang jadi penyebab. Kalau ya, bertobatlah dan mohon pengampunan-Nya. Mohon belas kasih-Nya dan kesembuhan. Ingatlah bahwa Allah tidak ingin anak-anak-Nya menderita. Namun Ia kadang-kadang mengizinkan penderitaan sebagai alat agar kita tidak lupa kepada-Nya dan supaya tidak melakukan dosa lagi.

St. D.R. Nainggolan

 

Renungan Harian : Jumat, 28 Pebruari 2014
 27 Feb

"HAI KEKHAWATIRAN KITA"

Bacaan : Matius 6 : 25 - 34

 

Mencari nafkah atas dasar "kekhawatiran" adalah sebuah kelemahan, bahkan satu kekeliruan. Allah menciptakan manusia, Allah memelihara dan mengerjakan segala sesuatu dalam diri kita. Manusia adalah ciptaan Tuhan yang lebih mulia dari segala ciptaan lainnya. Mengatasi suatu pergumulan tentang kekhawatiran, tentulah bukan sesuatu yang dapat diselesaikan dengan jawaban yang sederhana. Alkitab memberikan kita pandangan yang dapat menolong kita mengatasi kekhawatiran dan membawa kita untuk mempercayai Allah.

 

Ada dua jenis kekhawatiran yaitu kekhawatiran yang negatip yang melumpuhkan dan merusak diri kita, dan kekhawatiran yang positip yang membawa manfaat bagi kehidupan kita. Dengan demikian tidak semua kekhawatiran itu buruk. Kekhawatrian dapat membuahkan doa dan tindakan bermanfaat dan sebaliknya kekhawatiran negatip adalah keresahan yang membuat pikiran kita terus terpusat pada hal-hal yang tidak dapat kita atasi yang berarti kita meragukan kemampuan Allah dalam hidup kita. Mengelola kekhawatiran secara positip, apabila kita mengizinkan kekhawatiran kita mengarahkan perhatian kita kepada Allah. Dalam kelemahan yang dipicu oleh rasa takut, pada saat itulah kita berpegang pada jaminan kehadiran Allah. Tidak ada satu hal pun yang terjadi dalam hidup kita yang tidak diketahui-Nya. Jaminan ini muncul ketika kita mengarahkan perhatian kita pada sifat Allah sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya. Allah Mahahadir, Allah Mahatau dan Allah Mahakuasa; adakah sesuatu yang mustahil untuk Tuhan, oleh sebab itu serahkan kekhawatiran pada-Nya supaya beban kita dipikul-Nya. Kita harus mengakui bahwa Allah lebih besar daripada ketakutan kita. Daud mengalami sendiri kebaikan dan kasih Allah, itulah sebabnya Daud dapat mengatakan kepada kita bahwa sekalipun ia berjalan dalam lembah kekelaman, ia tidak takut bahwa (Mazmur 23:4). Hal itu dituliskannya sebagai pengalaman hidupnya yang sangat mengenaskan karena ditinggalkan teman-temannya dan diserang oleh musuh-musuhnya. Namun ia dapat berkata: Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya Tuhan dan masa hidupku ada dalam tangan-Mu. Oleh sebab itu kita pun dapat memanfaatkan kekhawatiran kita sebagai kesempatan di dalam Tuhan yang mendorong kita untuk menyatakan: “Sebab itu kita tidak akan takut sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut” (Mz 46:3)

Doa : Ya Tuhan, bebaskan kami dari semua bentuk kekhawatiran duniawi, sebab aku percaya Engkau memelihara kami. Amin.

St. Lukman Tambunan, M.Min

Renungan Harian : Kamis, 27 Pebruari 2014
 25 Feb

"NABI PALSU"

Bacaan : Yeremia 6 : 14 dan Yeremia 8 : 11

 

Orang-orang Yahudi tentu tahu masalah para nabi palsu sementara kita tidak tahu persis. Nabi Yeremia, umpamanya mengalami pertentangan dengan nabi palsu...damai sejahtera! damai sejahtera! tetapi tidak ada damai sejahtera (Yer 6 : 14; 8:11). Para pemimpin dan nabi palsu biasanya disebut serigala. Para nabi palsu memang memberikan pangajaran. Tetapi mereka melakukan itu bukan untuk memberikan sesuatu kepada orang lain, melainkan sebaliknya agar mereka memperoleh sesuatu dari orang lain tersebut. Orang-orang Yahudi sangat wapada terhadap nabi palsu. Mereka mempunyai guru-guru yaitu para rabi. Dan salah satu prinsip pokok Hukum Yahudi mengatakan, bahwa para nabi tersebut harus mempunyai mata pencaharian bagi pekerjaan pengajaran yang mereka lakukan. Rabi Zadok menegaskan: “Janganlah mempergunakan pengetahuan tentang Hukum Tuhan untuk menyombongkan diri atau untuk mencari keuntungan. Rabi Hillel mengatakan: “Orang yang memakai mahkota Hukum Tuhan untuk maksud-maksud yang tidak benar pasti binasa”. Orang-orang Yahudi sendiri mengetahui guru-guru yang memanfaatkan pengajarannya untuk kepentingan tiga cara : Ia mengajar hanya untuk memperoleh sesuatu: Ia mengajar hanya untuk prestise atau gengsi dan Ia mengajar hanya untuk menyampaikan idie-ide dan pendapatnya sendiri saja (Kebenaran sendiri).

 

Perikop ini mengandung banyak hal mengenai buah-buah palsu yang dihasilkan para nabi palsu. Bagaimanakah buah-buah palsu atau akibat-akibat palsu yang dihasilkan oleh para nabi palsu itu?

1. Suatu pengajaran disebut palsu apabila menghasilkan agama yang utamanya hanya terdiri dari ketaatan-ketaatan pada hal-hal yang lahiriah saja. Pergi ke Gereja, ikut Perjamuan Kudus, memberikan persembahan dan membaca Alkitab. Kekristenan adalah gaya hidup dan sikap hati kepada Tuhan dan sesame manusia.

2. Suatu pengajaran disebut palsu apabila menghasilkan agama yang hanya terdiri dari larangan-larangan.

3. Suatu pengajaran disebut palsu kalau menghasilkan suatu agama yang mudah dan gampang. Anugerah Allah cukup besar..mari kita terus-terus berdosa.

4. Suatu pengajaran disebut palsu apabila pengajaran itu memisahkan agama dari hidup. Orang Kristen adalah orang yang harus secara langsung terlibat di dalam kancah kehidupan nyata sehari-hari di dunia ini.

5. Suatu pengajaran adalah palsu apabila menghasilkan agama yang sombong dan bersifat memisahkan diri. St. Lukman Tambunan, M.Min

 

Renungan Harian : Rabu, 26 Pebruari 2014
 25 Feb

"KASIH DAN DAMAI"

Bacaan : 1 Petrus 3 : 8 - 12

 

Selama kita merasa bahwa diri kita yang paling penting dalam dunia ini, maka tidak akan berlaku istilah seperasaan (mangkuling mudar) dan sepenanggungan. Seperasaan bergantung pada

kerelaan melupakan diri sendiri dan mengidentifikasi diri dengan berbagai penderitaan dan kesedihan orang lain. Hal ini memang sangat krusial dalam hubungan gereja maupun sesama  saudara  dalam keluarga. Perasaan simpati baru lahir kedalam hati ketika Kristus memerintah hati dan pikiran kita. Petrus meletakkan kasih persaudaraan, pada kata-kata Yesus : “Aku memberikan perintah baru kepadamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi…dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi”. Kita tahu bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Manusia menerima pengampunan dari Allah untuk ia memberi pengampunan kepada sesama manusia. Itulah panggilan orang Kristen; hanya ketika kita mengampuni dosa-dosa orang lain yang melawan kita maka dosa-dosa kita terhadap Allah pun diampuni.. suatu hal yang sulit, tetapi kita harus dapat lakukan.

 

Surat ini ditulis ketika terjadi penindasan dimana orang-orang Kristen berada dalam pencobaan. Mereka difitnah sebagai pelaku kejahatan akibatnya siksaan yang berat sedang menguji mereka. Ketika mengalami penderitaan, mereka menyerahkan diri kepada Allah, mereka merasa lebih baik menderita demi kebenaran. Mereka turut mengambil bagian dalam penderitaan yang menimpa saudara-saudara Kristen di seluruh dunia yang dipanggil untuk tabah menanggung semuanya (5:9).

 

Bahkan Paulus berulang kali mengingatkan mereka tentang kesatuan ini dan berdoa untuknya. (Roma 12 : 4, 16). Bahwa pertengkaran dan perpecahan merupakan hal-hal kedangingan, yang menandakan bahwa mereka hidup menurut ukuran manusia tanpa pikiran Kristus. Orang Kristen harus mempertahankan kesatuan Roh dalam ikatan perdamaian dan mengingat bahwa hanya ada satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semuanya (Ef. 4:3-6). Perbedaan doktrin yang berasal dari pemahaman kita yang tidak sempurna mengenai Injil, bukanlah alasan untuk memisahkan diri seorang terhadap yang lain. Sebaliknya harus bersikap lebih jujur mencari persekutuan hidup bersama demi mendengar dan menaati suara Kristus. Amin.

St.Lukman Tambunan, M.Min

Renungan Harian : Jumat, 21 Pebruari 2014
 20 Feb

Jadi di na manghatai nasida songon i jala masipapuasan, ro ma Jesus sandiri mandapothon jala mardalan rap dohot nasida. Alai pangalelaon do matanasida, unang ditanda nasida Ibana.

 

(Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia)

 

Nats: LUKAS 24: 15 – 16

 

Dalam perjalanan ke Emaus ini dua orang murid Tuhan Yesus berjalan sambil mempercakapkan sesuatu yang sangat memenuhi pikiran mereka. Dari ayat-ayat selanjutnya dapat kita tangkap bahwa sebenarnya mereka sedang dalam perenungan dan kesedihan yang cukup berat, yaitu tentang kematian guru mereka (Tuhan Yesus) di kayu salib.

 

Demikianlah biasanya kita sebagai manusia. Sesuatu yang menekan hati kita adalah ketika suatu harapan yang cukup kita dambakan, seolah sirna. Bila kita mengalaminya bersama dengan beberapa orang, pastilah sepanjang waktu kebersamaan kita, kita akan membicarakan masalah yang merundung kita itu. Seolah tidak ada topik yang lain. Seolah semua kita sudah habis harapan. Seolah semua orang lainpun sama dengan kita, juga menyesali kesialan kita.

Sedemikian intensnya kemurungan dan kesedihan kita sehingga kitapun bisa tidak lagi melihat orang lain, dan selalu cuma melihat ke diri sendiri.

 

Terpaan hal yang kita anggap kesialan sering membungkus diri kita dalam kungkungan imajinasi kita sendiri dengan besar kandang pengungkung yang sebanding dengan hal yang kita anggap kesialan itu.

 

Tapi apakah kita tidak sadar bahwa sebagai orang yang dikasihi Tuhan, bahwa Tuhan Yesus senantiasa melihat kita dalam kesedihan kita itu? Jelas Tuhan Yesus melihat kita dengan mataNya yang penuh Kasih. Tuhan pasti datang dan mau berjalan bersama kita. Tuhan akan menunjukkan bagaimana kita akan melalui kesulitan yang kita hadapi.

 

Akan tetapi harus kita ingat beberapa hal. Pertama, hendaknya kita menguasai hati dan pikiran kita untuk menyadari betapa kita sesungguhnya tidak boleh terfokus terlalu sempit sehingga tidak menyadari bahwa Tuhan ada di samping kita dan bersedia berjalan bersama kita. Kedua, kita harus melihat segala hal dari perspektif Tuhan, bukan dari perspektif manusia. Bila kita mengandalkan perspektif kita, maka kita justru terjerumus kepada keadaan tanpa harapan. Tapi bila kita mencoba melihat segala kesulitan dan penderitaan dari perspektif Tuhan, maka pastilah Roh Tuhan akan menyelimuti hati dan pikiran kita untuk melihat bahwa segala kesulitan itu justru adalah jalan bagi Tuhan untuk menunjukkan kemuliaanNya.

 

Marilah kita ingat bahwa Tuhan Yesus menjalani rute kesengsaraanNya adalah karena kita dan kesalahan kita. Dia meninggalkan kemuliaanNya yang besar demi untuk kita yang hina. Tidak ada yang bisa kita angkat ke hadapan Tuhan sebagai suatu kelayakan sehingga Tuhan harus mati di Golgota menggantikan kita. Itulah KasihNya yang besar bagi kita.

Dengan demikian sadarlah kita tentunya bahwa bukan kita yang paling sial di dunia ini. Tuhan yang tidak ada urusannya apa-apa sebenarnya dengan kita yang jahat, rela mati dalam kehinaan besar terpaku di kayu salib. Itulah kesialan yang tidak ada taranya. Dia dihukum bukan karena kesalahanNya. Tapi Dia menjalaninya dengan tabah.

 

Dan kita jangan pernah lupa bahwa Dia telah bangkit dan telah naik ke Surga dengan KuasaNya yang besar. Itulah kuasa yang tiada taranya. Lebih besar dari kuasa apapun yang ada di dunia ini. Uang, Power, orang berpengaruh, orang yang punya keahlian apapun, segala kepercayaan mistis, dukun, segala kuasa kegelapan dan bahkan Iblis dan segala pasukannya, tidak akan dapat menandingi dan melawan Kuasa yang dimiliki Tuhan Yesus. Dan Tuhan dengan kegeraman dan kemarahanNya akan menumpas habis semua yang mau percaya kepada segala kuasa rendahan kelas kegelapan dan Iblis. Yang percaya kepada itu semua kelak akan dihancurkan Tuhan.

 

Augerah yang begitu besar ternyata diberikan Tuhan kepada kita. Tuhan memberikan KuasaNya kepada kita apabila kita mau percaya dan menerimaNya (Yoh 1: 12).

 

Sebagai pewaris Kasih dan Kuasa Allah, marilah kita mengarahkan hati kita untuk senantiasa mengandalkan Tuhan dan melihat dengan positif, bahwa peran kita menjalani segala persoalan dan kesulitan adalah sebenarnya hanya bagian dari kesaksian akan kemuliaan Tuhan Allah yang besar. Bagian dari suatu cerita kemenangan besar kelak yang mencantumkan Nama Tuhan.

Be positive and spirited through it all. (SM Parulian Tanjung)

 

 

Renungan Harian : Kamis, 20 Pebruari 2014
 18 Feb

Nang sahat di hadomuan dohot haubanon, sai unang tadingkon ahu, ale Debata, paima hubaritahon tanganMu tu na pinompar, hagogoonMu tu saluhut angka na ro sogot.

 

(Juga sampai masa tuaku dan putih rambutku, ya Allah, janganlah meninggalkan aku, supaya aku memberitakan kuasaMu kepada angkatan ini, keperkasaanMu kepada semua orang yang akan datang)

 

Nats: PSALM 71: 18

Apakah jenis berita yang ada pada saat ini di dunia? Rasanya tidak ada yang baru selain munculnya gadget atau teknologi yang lebih baru, atau pelbagai kehidupan mikro yang tidak kasat mata (mikroorganisme baru, kuman baru, penyakit baru dan lain sebagainya). Tapi itu tidak menjadi sesuatu yang terlalu menarik untuk diikuti oleh manusia. Karena selalu berganti generasi. Yang lalu langsung kadaluwarsa. Manusia mengikutinya hanya sebagai suatu rutinitas yang beriringan dengan kehidupan, atau mengatasinya (semua eksesnya), juga sebagai suatu rutinitas.

 

Segala jenis kisah cinta sudah tidak terhitung lagi bermunculan dalam sejarah dunia. Kisah kepahlawananpun telah begitu banyak bermunculan di dunia ini. Pengalamanan berkarya di berbagai bidang, juga telah menjadi isi jutaan buku yang dapat diperoleh di dunia ini.

Kisah kejayaan, kisah kegagalan, kisah kehancuran dan berbagai kisah negatif juga telah kita banyak ketahui melalui sejarah maupun kehidupan kontemporer.

 

Gempa bumi dan berbagai malapetaka baik alam dan kemanusiaan terlihat seperti menghancurkan banyak sisi dalam kehidupan. Tapi anehnya alam yang baru malah terbentuk, seperti pulau yang tadinya tidak pernah ada. Juga lereng dan lembah yang berpindah tempat. Air yang tadinya terperangkap di suatu tempat (misalnya di kutub), mencair dan mengalir ke pelbagai belahan dunia sebagai banjir, luapan atau tsunami.

Manusia lahir, bertumbuh, menjadi dewasa, mencapai puncak kematangan, lalu menua dan akhirnya semuanya juga berakhir pada kematian. Manusia yang lahir begitu cakap dan cantik secara perlahan mendapatkan tubuh yang semakin berkembang, tapi akhirnya menua, renta dan berakhir sebagai jasad yang harus dipendam di kedalaman bumi.

 

Tidak ada yang baru akan semua itu. Tidak ada yang aneh. Percumakah kalau begitu kehidupan ini? Atau bagi sejumlah orang dikatakan, ya sudah nikmati saja kehidupan yang sebentar itu sebaik-baiknya. Reguklah semua yang bisa didapatkan.

Itulah pendapat mereka yang melihat sisi kehidupan itu sebagai sisi fisik (keduniawian) saja.

 

Tetapi bagi mereka yang menangkap secara lengkap segala sisi kehidupan itu, sadar dan tahu betul bahwa ada satu sisi yang sangat menarik dan sama sekali tidak rutin dan tidak otomatis rutin terjadi. Itulah yang dikatakan sebagai kehidupan kerohanian.

 

Kehidupan kerohanian justru sebenarnya anugerah Tuhan yang Mahabesar. Karena Tuhan berkomunikasi dengan manusia secara rohani. Tuhan membuat sukacita yang penuh (bahkan sudah kita dapatkan sejak kita masih di dunia ini) adalah secara rohani, meskipun secara fisik/duniawi kita mungkin merasa sedih. Dan nanti kita akan hidup bersama Tuhan di Surga, juga secara rohani.

Segala yang bersifat fisik dan dunia itu kelak akan habis punah, sirna dan mati. Tapi kehidupan kerohanian manusia tidak pernah mati. Baik ke Surga (bagi yang percaya kepada Tuhan Yesus) maupun ke Neraka (bagi yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus), kita berjalan, sampai, dan hidup di situ selamanya, adalah juga secara rohani.

 

Sesungguhnya pula bahwa kesukacitaan rohani itu tidak dapat diukur dan didefinisikan secara fisik/dunia. Sebaliknya kesedihan rohani itulah yang sebetulnya paling menghancurkan hidup manusia. Untuk yang terakhir ini, meskipun manusia itu masih hidup secara fisik, tapi apabila rohaninya mati, dia adalah sudah mati pada hakekatnya. Ibarat para zombie mereka ini bergentayangan di dunia ini sebagai makhluk amoral, culas, kejam, penuh iri hati dan selalu ingin merusak.

 

Celakalah mereka yang hidupnya hanya mengandalkan sisi dunia di dalam hidupnya. Sesungguhnya kepedihan rohanilah yang senantiasa mereka usung.

 

Tetapi berbahagialah mereka yang hidup dalam sisi kerohanian. Yang melihat hidupnya adalah perpanjangan Kasih Tuhan bagi saudara-saudaranya yang lain. Mereka terpanggil bukan untuk mereguk, tapi justru untuk memberi.

Mereka memberikan segala yang terbaik dari dirinya bagi sesamanya, karena mereka tahu bahwa milik pusaka mereka selama-lamanya kelak adalah Rumah Tuhan Yesus yang sudah tersedia dan tidak akan tercabutkan lagi dari mereka.

 

Mereka ini berjalan dengan penuh kerinduan di hatinya. Membagikan segala sukacita rohani yang didapatkan dari Tuhan (Rat 3: 22 – 23). Meskipun secara fisik air matanya berlinag, tetapi di hatinya ada suatu sukacita dan pengharapan besar yang tidak pernah berhenti. Selalu baru setiap pagi.

Joseph M. Scriven menyeberangi dunia dan kehilangan mereka yang dicintainya, tetapi dengan indahnya menyaksikan bahwa Tuhan Yesuslah kawan yang paling setia baginya. Tuhan Yesus yang menguatkan dia dengan mengambil alih apa yang harusnya diderita dan dipikulnya. Horatio Spafford kehilangan seluruh anggota keluarganya, tetapi menyatakan bahwa semua itu baik bagi dia (karena Tuhan). Fanny Crosby (penulis lagu rohani yang luar biasa hebatnya) adalah perempuan yang buta. Suatu kesialan bagi dunia. Tapi dia menyatakan kebahagiaannya, bahwa kelak wajah pertama yang akan dilihatnya (di Surga) adalah wajah Tuhan Yesus yang mengasihinya.

 

Begitu banyak kisah indah tentang sukacita kehidupan kerohanian yang dikaruniakan Tuhan bagi manusia. Juga kepada kita. Alangkah indahnya bila kita bagikan. Tidak ada yang terlebih indah dari situ.

 

Marilah kita berdoa dan senantiasa menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, supaya dalam waktu yang sempit ini kita senantiasa bisa menceritakan Kasih Tuhan yang besar ke segala generasi. Jangan sampai kita sia-siakan waktu untuk membagikan Kasih Tuhan Yesus. (SM Parulian Tanjung)

Renungan Harian : Rabu, 19 Pebruari 2014
 18 Feb

Alai anggo Ahu nunga Husuan ho gabe hau anggur na denggan, boni hasintongan, hape gabe lambang do ho di porlak anggur ni halak sileban!

 

(Namun aku telah membuat engkau tumbuh sebagai pokok anggur pilihan, sebagai benih yang sungguh murni. Betapa engkau berubah menjadi pohon berbau busuk, pohon anggur liar!)

Nats: JEREMIA 2: 21

Sebagaimana diceritakan oleh Alkitab dari jaman ke jaman, maupun sebagaimana kita lihat dan pelajari dari kejadian-kejadian masa kini dan sejarah-sejarah, kehidupan manusia yang percaya adalah bagaikan pengiriman/pengutusan Tuhan ke berbagai situasi yang tidak mudah. Bahkan ada banyak yang tadinya seolah sudah hidup senang, malah seperti “dicampakkan” ke kubangan yang penuh derita.

 

Mereka yang bertekun, terus mengandalkan Tuhan dan bertahan untuk hidup tanpa pernah memalingkan muka dari Tuhan.

Alkitab mengisahkan Ayub yang menjadi sangat menderita. Juga Yusuf di masa mudanya yang penuh kepedihan yang tidak terperikan. Musa, sang pangeran calon raja dari kerajaan terbesar di dunia saat itu harus berpuluh tahun melarikan diri dan hidup bersama kawanan ternak di padang yang tandus.

Sejarah menceritakan tentang Corrie Ten Boom yang dengan kakaknya bertahan habis-habisan untuk hidup dalam penjara (kamp) konsentrasi Jerman dengan tetap mengandalkan Tuhan. Mandela yang mendekam puluhan tahun, dan lain sebagainya.

Semua mereka yang bertahan dan tetap mengandalkan Tuhan  ternyata tercatat dalam sejarah kehidupan sebagai pemenang-pemenang besar.

 

Mereka yang kecewa, merasa bahwa mereka telah percuma mengikut Tuhan. Mulai membuat teori dan ketentuan baru dalam kehidupan, bahkan banyak sekali yang akhirnya menghina dan melawan Tuhan. Lagipula bertegar-tengkuk dalam kekerasan hatinya.

Kita melihat Karl Marx, mantan rohaniwan yang kecewa melihat kemiskinan yang merebak dan merasa geram akan ketimpangan sosial yang ada, malahan mengeluarkan teori baru kehidupan (isme-isme yang baru) yang pada akhirnya mendorong manusia untuk melawan Tuhan. Hitler yang pemarah merasa bahwa dia bisa mengubah kehidupan Jerman dan dunia. Henry ke VIII yang mencoba mengatur gereja dan agama untuk membenarkan kesalahannya dalam mengikut Tuhan justru menjadi pelopor semakin jauhnya para pengikutnya mengikuti Tuhan. Gereja hanya menjadi alat pembenaran penguasa lalim, tamak dan pelawan Tuhan.

Apa yang kita dapati tentang hidup mereka ini semua? Tidak lain dari kehidupan yang tidak beradab, amoralitas, kekacauan hidup yang luar biasa, bahkan dikenang sebagai penghancur dunia.

 

Tuhan bukan tidak adil meletakkan kita di berbagai kesulitan dunia. Tuhan percaya dan tahu bahwa kita akan dapat melewati semuanya dengan baik, asalkan kita tetap hidup berpadanan dengan Kasih Tuhan. Ingatlah Yoh 15: 1 – 8 tentang perumpamaan pokok anggur yang benar. Tuhan berkata bahwa apabila kita sebagai carang-carang anggur, kita akan berbuah lebat apabila kita tetap terhubung kepada pokok anggur yang benar, yaitu Tuhan Allah kita yang Maha Pengasih. Dengan tetap terhubung kepada pokok yang benar, kita senantiasa akan hidup dan berbuah dengan baik.

 

Bukan tanpa alasan Tuhan menempatkan kita di berbagai kehidupan yang sulit. Tuhan mau kita bercahaya di dalam hidup kita dan cahaya itu adalah kemuliaan Allah sendiri. Tuhan mau memakai kita sebagai saksi akan Kasih Allah yang besar, demi meneruskan upaya Tuhan meluaskan kerajaanNya, yaitu memanggil banyak orang untuk kembali kepadaNya kelak di Surga.

 

Sesungguhnya dunia ini (manusia-manusia yang lahir ke dunia) telah hancur dan takluk kepada dosa dan Iblis. Tuhan tidak mau itu berlangsung terus, karena KasihNya akan dunia ini. Dia datang ke dunia untuk menebus dosa kita. Dan Dia mengutus kita untuk ikut dalam Karya Agung Penyelamatan Manusia. Tentulah kita diutusnya ke dunia yang sudah hancur ini. Tentulah kita akan menderita dan hidup jauh dari apa yang kita inginkan. Tuhan ingin kita bertekun dan berharap terus kepadaNya. Inilah kelak yang akan menjadi kesaksian yang hidup yang akan dilihat oleh saudara-saudara kita yang belum mengenal Jalan Keselamatan yang disediakan Tuhan.

Bagaimana dengan penderitaan yang kadang-kadang begitu pedih tak terperikan yang harus kita tanggung? Tuhan yang Mahabijaksana yang akan memutuskan semuanya. Pada saatnya Tuhan akan menyatakan melalui kehidupan kita siapa sebenarnya Dia. Tetapi yang terpenting, apapun dan bagaimanapun cara Tuhan campur tangan, bagi kita telah diberikan kehidupan penuh kesenangan yang disediakan Tuhan untuk selama-lamanya kelak di rumah Tuhan di Surga (Wahyu 21: 1 – 8). Hidup menderita selama hanya beberapa tahun di dunia ini sungguh tidak ada artinya dibandingkan dengan kehidupan selama-lamanya yang disediakan Tuhan itu.

 

Marilah kita bertekun dalam penderitaan dunia ini dan tetap mengandalkan Tuhan, karena segala yang terindah akan kita peroleh kelak dari Tuhan. Yaitu segala sesuatu yang tidak dapat diraih oleh semua yang mencemarkan dirinya dengan kesenangan di dunia dan melawan Tuhan. Yang mereka akan dapatkan selama-lamanya hanyalah neraka yang terkutuk. (SM Parulian Tanjung)

Renungan Harian : Sabtu, 25 Januari 2014
 24 Jan

Marah

Nas Bacaan : Markus 11 : 15 - 17

 

Marah adalah salah satu emosi manusia yang penting. Marah juga sangat melekat dengan kehidupan manusia. Siapapun dia pasti memiliki emosi yang satu ini. Meski demikian, apakah kita boleh menumpahkan amarah sepuas hati?

 

 

Dalam budaya Jepang ada 2 kata berbeda untuk “marah”, yakni “Okoru” dan “Shikaru”. Kata “Shikaru” digunakan untuk mendidik dan melecut mental lawan bicara agar memperbaiki diri guna lebih sukses. Namun, “Okoru” digunakan untuk marah yang bertujuan membuat lawan bicara takluk dan turut perintah orang yang marah. Dalam pemahaman Alkitab kita juga bisa membagi “marah” menjadi dua, yakni: 1. Marah yang dibenarkan (justified anger) dan 2. Marah yang berdosa (sinful anger).

 

Bacaan Alkitab kita kali ini adalah juga bagian yang sering dipakai banyak orang untuk membela diri ketika melampiaskan amarah. “Yesus juga pernah marah kok......!” Namun, kalau kita perhatikan baik-baik bacaan kita hari ini, tidak ada satupun kata “marah” di dalamnya. Padahal, Markus amat tegas menuliskan kata “marah” ketika Yesus memang benar-benar marah (Mrk 3:5; 8:33; 10:14). Demikian juga dalam kitab Injil lain yakni Matius, Lukas, dan Yohanes yg menuliskan peristiwa pengusiran serupa di bait suci, tidak ada satupun kata “marah” yang tercantum.

 

Peristiwa penyucian Bait Allah yang dicontohkan Yesus, bukanlah membawa pembenaran bagi kita untuk marah sesuka hati. Kalau kita mau dengan tenang dan rendah hati merenungkan kembali bagian Firman Tuhan ini, maka kita akan memahami bahwa ketika peristiwa itu terjadi, Yesus sepenuhnya ada dalam kendali diri dan emosinya. Dan tindakanNya itu adalah bagian dari rencana dan kegiatanNya untuk mengajar manusia.

 

Dalam kitab Amsal 29:11 “Orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang bijak meredakannya”. Ada juga dikatakan, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa ….” (Efesus 4:26). Jelas, Alkitab memiliki pandangan yang tegas mengenai “marah”. Alkitab lebih banyak mempromosikan hal-hal mengenai kelemahlembutan dan kesabaran dibanding kemarahan.

 

Jadi, meski kita memahami bahwa “marah” adalah emosi manusia yang memang perlu dilampiaskan pada saat tertentu, namun janganlah kita sampai hilang penguasaan diri. Roh Kudus akan membantu kita menguasai diri sehingga menjadi lebih sabar, lemah lembut dan jauh dari amarah yang menghanguskan. (St. Edward Napitupulu)

Renungan Harian : Jumat, 24 Januari 2014
 23 Jan

"Masalah Belas Kasihan"

Bacaan : Markus 6 : 34 - 44

 

Orang terkenal India yakni Mahatma Gandhi pernah berkata bahwa: Orang yang lapar hanya bisa mengerti kata-kata yang indah setelah mereka dikenyangkan". Masalah kelaparan dan kemiskinan bukanlah masalah sepele; makanya pemerintah Republik Indonesia selalu memonitor dan membuat program akan kebutuhan pokok manusia yakni sandang, pangan dan papan agar stabil. Bahkan gereja pun membuat program untuk memberikan perhatian kepada kemiskinan melalui bantuan pangan, pendidikan dan lain sebagainya yang dibutuhkan jemaat. Namun ada banyak gereja yang dikritik karena terlalu mementingkan pembinana rohani sehingga masalah sosial terabaikan.

 

            Melihat orang banyak itu tergeraklah hati Yesus oleh “belas kasihan”, Yesus tidak membiarkan mereka pergi dengan perut kelaparan, tetapi memberi mereka makan hingga kenyang. Belas kasihan yang di tunjukkan Yesus  menunjukkan kepekaan serta perhatian yang tulus terhadap kebutuhan sesama. Sebagai manusia 100 persent Dia tahu arti kelaparan. Memang belas kasihan sangat tergantung kepada kegentingan situasi, sebab andaikata pada saat itu banyak pertokoan dan restorant di sekitar mereka maka kegentingan dapat segera diatasi. Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam”

 

Dia mengambil lima roti dan dua ikan itu serta menengadah ke langit dan mengucap berkat lalu membagi-bagikan kepada orang-orang itu. Yesus ingin menunjukkan kepada orang banyak itu bahwa mereka telah melihat anugerah Allah;  Allah mampu memberikan makanan kepada orang banyak oleh karena belas kasihan. Pikiran mereka ditarik supaya tertuju kepada Allah bukan semata-mata memikirkan perut atau roti saja. Di dunia ini ada dua macam kelaparan yakni lapar jasmani yang dapat kenyangkan dengan makanan jasmani. Lapar rohani yang hanya bisa dikenyangkan oleh Yesus. Lapar kehidupan dan lapar akan kasih hanya di dalam Yesus saja terangkum dalam kasih yang melampaui dosa dan kematian. Hanya Yesus Kristus saja yang dapat mengenyangkan kelaparan hati dan jiwa manusia, sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah dengan meterai. Itulah sebabnya maka Yesus dapat mengenyangkan kelaparan abadi, Ia adalah kebenaran Allah yang telah diinkarnasikan. Dan sebenarnya adalah Allah sendiri saja yang bisa mengenyangkan jiwa-jiwa ciptaan-Nya yang lapar karena belas kasihan. Amin      Doa: Ajar kami menjadi orang yang selalu berbelas kasih kepada sesama.  (St. Lukman Tambunan M.Min).

Renungan Harian : Kamis, 23 Januari 2014
 21 Jan

"Misi Penyelamatan"

Bacaan : Lukas 4 : 16 - 19

 

Kitab Lukas membuat catatan ringkas mengenai pemunculan Yesus di Nazaret setalah mengasingkan diri selama 40 hari di padang gurun dan setelah pelantikan-Nya di sungai Yordan (Yesus dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan). Synagoge atau rumah ibadat adalah merupakan pusat kehidupan keagamaan di Palestina. Yesus tampil di synagoge pada hari Sabat , lalu berdiri hendak membaca Alkitab. Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya seakan suatu pidato inagurasi-Nya. Pada saat itulah Yesus menyampaikan misi penyelamatan dengan keberpihakan-Nya kepada orang kecil dan miskin sebagaimana telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya tujuh abad sebelumnya.

 

“ Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang “. Manusia yang diperbudak dosa, manusia yang tidak punya relasi dengan Tuhan akan mengalami hubungan sosial yang tidak baik di antara sesama. Sama halnya pada waktu bangsa Israel dalam pembuangan mereka mencari keselamatan sendiri-sendiri. Kerusakan kemanusiaan yang seperti inilah yang ingin dikembalikan Yesus dengan keberpihakan-Nya kepada kaum marginal. Yesus datang untuk memperbaharui pola pikir yang mementingkan diri sendiri dan memberikan Roh pada persaudaraan manusia.

 

            Apa yang mau dikatakan Yesus tentang isi Yesaya 61 ialah sebuah deklarasi yang menyatakan: “ Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” atau dengan perkataan lain, apapun yang dibayangkan mula-mula oleh penulis Yesaya 61 itu dengan perkataan ini, tetapi sekarang dalam kedatangan Yesus Kristus dan pekerjaan-Nya nas ini sudah “digenapi”. Dalam  arti  maksud dan tujuannya  sudah dilaksanakan dan diwujudkan. Dengan kehadiran Yesus Kristus dalam hidup kita akan mendatangkan damai sejahtera dalam kehidupan kita bersama orang lain dan pengenalan yang lebih baik kepada Allah.

 

            Hidup baru telah kita terima melalui baptisan. Oleh Yesus Sang Imam Agung, kita semua telah diperbaharui. Kita pun telah diangkat menjadi imam-imam, agar setiap saat dapat terhindar dari dosa serta perbuatan tercela.

 

Doa: Kami menyadari ya Tuhan, bahwa melalui imanku pada-Mu, hidupku akan selalu diperbaharui . Amin (St. Lukman Tambunan M.Min)

Renungan Harian : Rabu, 22 Januari 2014
 21 Jan

"Yesus Kristus Anak Allah"

Bacaan : Matius 16 : 13 - 16

 

Tidak dapat diragukan bahwa orang-orang Kristen mula-mula yakin bahwa Yesus adalah Anak Allah, namun kita lihat Perjanjian Lama terlihat bahwa gagasan tentang anak Allah dipakai dengan cara yang berbeda-beda. Didalam Kejadian 6: 1-4, disebut bahwa makhluk-makhluk malaikat disebut anak-anak Allah yang penggunaannya sering disebut mitos karena malaikat-malaikat dianggap mitos. Lebih lanjut hal ini merupakan dasar penggambaran Adam sebagai anak Allah (Luk. 3: 38). Bangsa Israel dianggap bangsa pilihan Allah, dan karena itu dibedakan dengan bangsa-bangsa lain disekelilingnya.

 

Nas ini menggabarkan bahwa Yesus ingin menguji para murid-Nya dan menanyakan kepada mereka, siapakah Yesus menurut mereka. Tempat yang dipilih Yesus untuk mengajukan pertanyaan itu adalah Kaisarea Filipi, dimana disana banyak sekali lembaga keagamaan. Terdapat banyak kuil ibadah Baal Siria kuno, ada juga gua  dalam yang dianggap tempat kelahiran dewa alam semesta serta dianggap sebagai mata air sungai Yordan.

Ketika para murid-murid-Nya mengidentifikasikan Yesus dengan Elia dan Yeremia, maka menurut pandangan mereka, mereka sedang memberi penghormatan besar kepada Yesus dan menempatkan-Nya di tempat yang tinggi. Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?  Sungguh menarik untuk kita perhatikan bahwa ketiga Injil sinopsis memuat ucapan Petrus dengan versi masing-masing.

 

Dalam Matius: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup”. Dalam Markus: “Engkau adalah Mesias”. Lukas lebih jelas: “Engkaulah Mesias dari Allah”. Yesus tahu sekarang bahwa paling sedikit ada seorang yang mengenali-Nya sebagai Mesias.

 

Hal ini memperdalam pengetahuan kita bahwa penemuan kita akan Yesus Kristus haruslah merupakan penemuan yang bersifat pribadi. Yesus Kristus selalu menuntut suatu sikap dan jawaban pribadi mengenai Dia. Yesus tidak hanya bertanya kepada Petrus, tetapi kepada setiap orang sebagaima dalamnya keyakinannya kepada Kristus. “ Tetapi apa katamu, siapa Aku ini?”

 

Doa: Ya Tuhan, bantulah aku agar mampu menghayati imanku di mana saja berada dan berbuat kasih agar orang mengenal kasih-Mu. Bantulah aku dalam melaksanakan tugas perutusan yang Engkau percayakan kepadaku sebagai perwujutan pengenalanku kepada-Mu.Amin. (St. Lukman Tambunan M.Min)

 

Renungan Harian : Senin, 20 Januari 2014
 20 Jan

Catatan Perjalanan Tahun 2013

Roma 14 : 12 "Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah".

Hidup adalah suatu perjalanan ! Satu ukuran atau quantum waktu dalam perjalanan itu yang bernama Tahun 2013 yang  berisikan 365 hari, akan segera kita lewati atau lebih  tepat akan melewati kita. Seperti berjalan di lorong waktu dan  waktu itu juga berjalan, kita tidak dapat menghentikan atau memperlambat waktu itu. Waktu berjalan terus dan waktu itu tidak akan pernah kembali lagi. Tahun 2013 adalah unik tidak sama dengan Tahun 2014 yang akan segera datang menghampiri kita. Tahun 2014 akan ada kejadian dan peristiwa baru/berbeda yang dapat kita maknai

 

Saat-saat berahirnya  Tahun 2013 ini  , sadar atau tidak , kita tentu sejenak menoleh kebelakang untuk mengingat dan merenungkan peristiwa dan kejadian apa saja yang terjadi di sekitar kita di Tahun 2013 ini. Lebih dari itu, apa saja dari peristiwa dan kejadian itu yang memberi makna bagi setiap kita dalam perjalanan itu . Banyak peristiwa dan kejadian yang ada disekitar kita. Kita melihat, mendengar, mengetahuinya dari berbagai media yang begitu cepat membawa berita dan informasi ini  kepada indera dan kesadaran kita. Namun informasi ini belum tentu bermakna bagi kita. Tidak semua informasi itu penting dan bermakna. Perlu dipilah dan dipilih.  Yang perlu kita evaluasi adalah peristiwa dan kejadian yang bersinggungan atau kita alami atau berpengaruh bagi kita dalam perjalanan itu . “Kita” disini dapat saja berarti pribadi ,keluarga, gereja atau masyarakat kita. Peristiwa dan kejadian itulah yang perlu kita renungkan atau evaluasi sebagai kejadian yang bermakna. Memaknai suatu peristiwa atau kejadian , baik itu menyenangkan atau tidak, dapat kita lakukan dengan membuat catatan-catatan spiritual yang berisikan pemahaman, sikap dan hikmat yang kita peroleh dari peristiwa dan kejadian itu makna itu bisa berupa penyesalan yang memerlukan perbaikan atau dorongan untuk berbuat lebih baik lagi, atau bisa berupa pujian atau ucapan syukur atas kebesaran dan kemurahan dan kasih Tuhan bagi kita, keluarga, gereja atau masyarakat kita. Semua itu di ukur dengan kehendak dan rencana Tuhan bagi hidup kita. Apakah kita sudah hidup sesuai kehendak dan rencana Allah bagi hidup kita ? Ini akan memperkaya kita selama dan setelah perjalanan itu. Catatan-catatan spiritual  yang memuat makna itu akan membangun karakter kita sebagai murid Kristus dalam proses transformasi yang sedang kita jalani selama perjalanan itu.

 

Mari saudara-saudaraku, menjelang berahirnya Tahun 2013 ini, kita masuk  dalam saat hening dan teduh sejenak untuk memaknai peristiwa dan kejadian yang kita alami dalam Tahun 2013 dan  menggoreskan makna dari kejadian dan peristiwa itu dalam catatan-catan spiritual kita sebagai laporan tahunan (annual report ) dan pertanggungan jawab ( akuntabilitas ) kita kepada Tuhan yang mengutus dan meng-anugerahkan kita perjalanan itu ! Selamat mengakhiri dan merayakan  perjalanan di Tahun 2013 dan selamat melanjutkan perjalanan di Tahun 2014 bersama Tuhan ! amin . St Giunseng EP Manullang

Renungan Harian : Senin, 23 Desember 2013
 20 Dec

KENAPA TUHAN MENGIJINKAN ADANYA PENDERITAAN?

"Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar." Roma 5;19

Bila kita mengingat hal buruk yang pernah terjadi pada tanggal 5 Agustus 2003 (Bom Marriot Jakarta), pertanyaan yang umum adalah, “Mengapa Tuhan yang mengasihi, mengijinkan terjadinya banyak penderitaan dan kejahatan di dunia ini?”  Pertanyaan ini memang sulit digumuli senantiasa bagi ahli philosofi dan theologi. Belum pernah ada jawaban yang dapat memuaskan, akan tetapi perlu kita ketahui bahwa seringkali Tuhan dipersalahkan untuk pelanggaran yang dilakukan oleh manusia..

Sewaktu Tuhan menciptakan manusia, Dia memberikan kita semua kebebasan untuk memilih.  Dia tidak memprogramkan kita sebagai robot untuk melakukan apa yang selalu benar atau kehendak-Nya saja.  Robot tidak bisa memilih, tapi manusia dapat.  Kita dapat memilih untuk percaya dan mematuhi Tuhan, atau melakukan kehendak kita sendiri.

Sejak manusia pertama diciptakan, setiap orang telah memilih untuk mejalankan hidupnya masing-masing, bukan seperti yang Tuhan kehendaki. Akibat dari dosa manusia adalah penyakit, penderitaan dan kematian.

Tuhan telah melakukan yang dramatis untuk menghadapi masalah ini. Dia merendahkan diri-Nya menjadi seperti kita, dalam pribadi Yesus Kristus, untuk menjadi teladan bagaimana kita harus menjalani hidup di dunia ini. Dengan iman didalam Dia, kita akan mulai memutar balikan lingkaran kejahatan dan penderitaan ini. (Tonny Bako)

 

Renungan Harian : Sabtu, 21 Desember 2013
 20 Dec

MENGENAL TUHAN

Nats bacaan : Mazmur 63 : 2

 

Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair.

Untuk mengenal seseorang dengan mendalam, kita tidak perlu menjadi orang yang jenius, punya communication skill yang hebat, pandai berbicara, pintar mengorek-orek kepribadian, dst. Lupakan semua cara-cara itu, karena ada cara yang lebih sederhana, lebih mudah, dan jauh lebih efektif, yaitu hanya dengan meluangkan sebanyak mungkin waktu bersama orang yang ingin kita kenal tersebut. Semakin banyak waktu yang kita habiskan bersama dengan orang tersebut, secara otomatis pengenalan kita akan lebih dalam lagi. Bagaimana Anda bisa mengenal pasangan Anda? Apakah Anda harus belajar tentang kepribadian manusia lebih dulu atau belajar communication skill dulu? Tidak, bukan? Karena tiap saat Anda bertemu dengan pasangan dan menghabiskan banyak waktu dengannya, maka secara otomatis Anda bisa mengenalnya.

Bahkan, sepandai-pandainya pasangan Anda menyembunyikan kepribadiannya atau “belangnya”, toh suatu saat Anda akan mengetahuinya juga. Kita rindu mengenal Tuhan lebih dalam. Itulah sepenggal pujian yang kerap kita nyanyikan. Kita rindu mengenal Pribadi-Nya, namun sayang kita tidak pernah melewatkan waktu bersama-Nya. Jelas itu hal yang mustahil. Untuk mengenal Allah lebih dalam hingga kita tahu seperti apa karakter-Nya, sifat-sifat-Nya, kebiasaan-Nya, bahkan seperti apa selera Tuhan, kita harus melewatkan waktu lebih banyak lagi dengan Tuhan. Contoh di dalam Alkitab adalah Daud. Mengapa Daud bisa mengenal Tuhan sedemikian dalam? Tidak perlu heran, karena Daud selalu melewatkan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan. Sebagian besar mazmur yang ditulisnya cukup menggambarkan bagaimana Daud selalu bersekutu dengan Tuhan dalam doa, mazmur, dan pujian penyembahan. Bagaimana dengan kita? (Tonny Bako)

Renungan Harian : Jumat, 29 Nopember 2013
 28 Nov

Kuasa Tuhan Tidak Dapat Bekerja Tanpa Imana Kita

Nats Bacaan : Matius 13 : 53 - 58

Matius 13 : 58 : "Dan karena ketidak percayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ."

 

Tuhan memang Maha Kuasa, Maha Ajaib. Dia tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu. Segala masalah dapat diselesaikan kalau Tuhan sendiri yang turun tangan. Tetapi ada satu hal yang dapat menghalangi kuasanya yang

luar biasa itu untuk bekerja dalam hidup hidup kita, yaitu ketika kita tidak percaya kepada-Nya. Ketika kita melihat masalah kita dan membiarkan masalah tersebut menguasai pikiran dan hati kita, saat itulah Tuhan tidak bisa bekerja dalam hidup kita. Dan yang lebih parah, pola pikir atau mindset kita mulai berpikir, “ saya tidak bisa, saya tidak mampu, mujizat sekalipun sudah tidak mungkin menolong saya..”

 

Seandainya Daud memiliki pola pikir yang negatif saat dalam pertempuran dengan Goliat, sudah pasti dia kalah terhadap Goliat. Karena pikirannya sudah merancang dirinya untuk kalah. Dan sudah pasti Tuhan tidak bisa bekerja dalam kondisi hati dan pikiran yang negatif.

Akan tetapi, saudaraku yang dikasihi Tuhan. Sejarah membuktikan, Daud bisa mengalahkan Goliat meskipun banyak kemustahilan bila dipandang dari segi fisik. Mengapa? Karena Daud percaya, bahwa Tuhan Allahnya itu hidup dan berkuasa, bukan hanya untuk membebaskan bangsanya dari bangsa Filistin, bahkan sampai mengalahkannya. Daud melakukan apa yang dia bisa (menembakkan batu ke arah Goliat) dan Tuhan

 

Tuhan Allah kita, Tuhan Yesus Kristus, adalah Allah yang dahsyat. Tidak perduli sebesar apapun masalah saudara, Tuhan kita itu jauh lebih besar dari pada masalah atau persoalan kita. Yang penting adalah kita tetap percaya Tuhan bisa menyelesaikan masalah kita. Jadi saat kita sedang berhadapan dengan masalah, kuatkan hatimu, saudaraku. Ingatlah dan berserulah kepada Tuhan dengan hati yang percaya bahwa Tuhan sanggup dan akan segera menyelesaikan persoalan masalahmu. Dan persoalanmu pasti selesai. Amen!

 

Doa : Bapa, ajarku untuk memiliki hati dan pikiran yang bersandar kepadaMu saja. Karena Engkau adalah sumber kekuatanku. Aku percaya Tuhan, saat ini Engkau bertindak memberikan jalan keluar bagi semua masalah dan persoalan yang sedang aku hadapi. Terima kasih Tuhan. Dengan iman aku katakan, masalahku sudah selesai dengan pertolongan Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus, aku berdoa. Amen!

(Ny. Rumia Sitompul-Matondang)

 

Renungan Harian : Kamis, 28 Nopember 2013
 27 Nov

Memahami antar generasi

Nas Bacaan :  Mazmur 145 : 4

Memiliki seorang puteri yang beranjak remaja pada zaman  sekarang bukanlah hal yang mudah. Puteri saya yang berusia 12 tahun dan menginjak SMP kelas 2 memiliki begitu banyak informasi tentang barbagai hal di seluruh dunia. Kemudahan mengakses informasi dari internet dan Handphone membuat jaringan pertemanannya begitu luas dan tidak terbatas. Apalagi, kemampuan berbahasa Inggris yang jauh lebih memadai dibanding masa ketika saya SMP dulu, membuatnya mudah sekali mengetahui berbagai informasi tentang penyanyi pop yang paling digemari di Korea, mengakses Wikipedia untuk mengerjakan PR, mengikuti hal yang sedang digemari di Amerika Serikat, atau bahkan sekedar mengunduh video dari internet untuk referensi belajar piano.

Namun, bahayanya adalah tidak semua informasi yang didapat oleh kita sekarang adalah sesuatu yang berguna bagi pertumbuhan iman. Bahkan banyak informasi yang dialirkan untuk merusak iman percaya kita.

Hal ini membuat orangtua jaman sekarang sering khawatir dan kehabisan akal untuk memberikan nasehat yang tepat bagi anak-anaknya ketika bermasalah. Karena sang anak lebih mempercayai informasi yang dimilikinya dibanding ucapan/nasehat dari orangtua. Akibatnya lagi, komunikasi dengan orangtua jadi berkurang bahkan sering terjadi bentrok.

Ketika penulis mendapatkan kesempatan untuk menghadiri seminar yang dibawakan oleh Cheryl Cran, seorang motivator dari Kanada yang juga adalah penulis buku “101 Ways to Make Generations X, Y and Zoomers Happy at Work”, disampaikan bahwa setiap generasi memiliki ciri khas masing-masing beserta kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Tidak seharusnya kita menganggap bahwa satu generasi adalah yang paling benar dan generasi lain adalah salah. Tiap generasi memiliki karakter yang menyesuaikan diri pada masa di mana mereka hidup.

Dalam Firman Tuhan di Mazmur 145:4 (dan tentunya ayat berkaitan yang lain) kita memahami dengan jelas bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk memperkuat pondasi iman yang telah dibangun oleh generasi sebelumnya. Karena itu, seluruh generasi memiliki kebutuhan yang besar akan satu dengan yamg lainnya untuk melengkapi/menyempurnakan pekerjaan Allah yang telah ditugaskannya kepada seluruh generasi umat manusia yang dikasihiNya. Perbedaan generasi yang ada antara orangtua dan anak memang menimbulkan adanya jarak yang sulit dijembatani begitu saja. Namun, pertolongan Tuhan pasti akan memampukan kita untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawab yang dibebankan pada kita. (St. Edward Napitupulu)

 

Renungan Harian : Rabu, 27 Nopember 2013
 27 Nov

Semasa kanak-kanak, penulis bermain dengan berbagai alat permainan yang dibuat sendiri dengan memanfaatkan barang-barang bekas yang ada di lingkungan rumah dahulu. Mobil-mobilan yang rodanya berbuat dari kaleng susu, pedang dari batang bambu, kuda-kudaan dari pelepah pisang adalah beberapa mainan ciptaan yang telah menemani masa kecil penulis bermain dengan teman-teman.

Manusia memiliki daya cipta berdasarkan imajinasi yang menakjubkan. Daya cipta manusia adalah sesuatu yang sangat terbatas dan dipengaruhi latar belakang dan tempat kehidupannya. Kita sebagai orang percaya meyakini bahwa daya cipta dan imajinasi adalah karunia dari Tuhan Allah pencipta semesta yang kita puji dan sembah dalam Yesus Kristus.

Namun, betapa seringnya manusia menggunakan daya cipta dan imajinasi yang sama, yang sangat terbatas itu, untuk memahami Allah penciptanya. Akibatnya adalah terjadinya hal-hal yang janggal dan lucu yang lebih sulit lagi diterima oleh akal. Ketika tidak sanggup memahami bagaimana Allah menciptakan dunia ini, manusia mengatakan bahwa dunia dengan segala keteraturannya tercipta begitu saja. Atau, ketika manusia tidak bisa melihat wujud Allah, maka dijadikanlah pohon, gunung dan patung-patung yang berwujud untuk disembah. Bahkan ada masyarakat di Negara sangat maju yang mempercayai adanya hantu, padahal di sisi lain mengatakan tidak percaya adanya Tuhan.

Firman Tuhan kali ini jelas mengatakan bahwa: Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." (Yoh 4:24). Artinya, kita hanya mampu menyembah dan memahami Allah yang benar, yang pada hakikatnya adalah Roh, adalah hanya dengan cara menyembah dan memahami Dia dalam roh dan kebenaran. Bukan menyembah Allah dengan menggunakan segenap akal dan kemampuan (fisik) kita semata. Allah yang tidak terbatas, tidak akan bisa dipahami oleh pikiran manusia yang terbatas. Sebaliknya, kalau kita bisa memahami Allah dengan pikiran yang terbatas ini, maka tentunya itu bukanlah Allah tidak terbatas yang menciptakan kita.

Jadi, ketika kita kebingungan dan tidak mampu memahami Allah pencipta kita, tidak seharusnyalah kita malah frustrasi dan berhenti menyembahNya. Sebaliknya, tetaplah kita tekun berdoa dan meningkatkan iman pengharapan kita padaNya melalui pembacaan firman Tuhan yang lebih teratur, persekutuan yang erat dengan Dia dan juga jemaatNya. Sehingga mata hati iman kita akan terbuka dan kita juga akan bisa memahami Allah dari ciptaanNya yang ada di dunia. Bahkan lebih dari itu, kita bisa memahami apa yang menjadi rencana Tuhan bagi hidup kita.

(St. Edward Napitupulu)

 

Renungan Harian : Sabtu, 23 Nopember 2013
 22 Nov

Peringatan orang yang telah meninggal

Bacaan : Wahyu 3 : 8 - 21

 

Nas khotbah untuk minggu akhir tahun yang sekaligus minggu "peringatan orang yang telah meninggal" sangat dalam dipikiri oleh pimpinan gereja untuk menyatukan Tahun Gereja (nama-nama Minggu dan Hari Raya Gereja). Karena habis minggu Akhir Tahun, langsung memasuki Minggu Advent yang merupakan Tahun Baru Gereja. Nas yang dipilih harus dapat membuat pengertian bahwa minggu akhir tahun bukan merupakan akhir dari segalanya, melainkan berakhir dalam Yesus Kristus yang telah datang, dan menang mengalahkan kematian serta yang akan datang kelak.

 

            Dalam doa syafaat pada waktu peringatan akan orang yang telah mati antara lain disebutkan bahwa: Pada hari ini hati kami tersentuh merenungkan akhir hidup kami dan hari kebangkitan kelak. Kami berterimakasih ke pada-Mu karena Tuhan melahirkan kami kembali ke dalam pengharapan yang hidup, sehingga kami dapat dibebaskan beroleh hidup yang kekal, selanjutnya dikatakan; Jauhkan dari kami hati yang bimbang dan ragu agar iman kami tetap berpegang teguh kepada Tuhan Yesus pohon kehidupan. Bila mata semakin kabur, bukalah mata hati kami agar dengan jelas melihat jalan ke pada kehidupan yang kekal. Bila lidah kami menjadi kelu dan tidak dapat berkata-kata, kuatkanlah kami denga Roh Kudus agar kami dapat mengucapkan: Ya bapa ke dalam tangan-Mu kuserahkan rohku.

 

            Kematian Yesus di kayu salib serta kebangkitan-Nya membawa kemenangan bagi orang percaya dan kematian tidak perlu lagi ditakuti karena kita menang bersama Yesus. Dalam ayat-8 dikatakan bahwa: “Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal  firman-Ku”.

 

Selama kita di dunia ini, kita mengalami kesukaran, kesusahan yang berupa ancaman, tantangan,  hambatan dan gangguan secara pribadi maupun gereja, tetapi yang paling penting bagaimana kita menghadapi kesukaran tersebut bersama Yesus.

 

Yesus tahu apa yang kita hadapi, Yesus tahu pergumulan kita, oleh sebab itu tetaplah teguh berpengharapan serta mohon perlindungan-Nya untuk mengatasinya.Dalam ayat-11, dengan jelas dikatakan: Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu.

 

Doa: Ya Tuhan, mampukan kami untuk selalu dengar-dengarlah tentang firman-mu, dan atas pimpinan Roh-Mu, selalu berpengharapan hanya kepada-Mu. Amin. (St. Lukman Tambunan M.Min)

 

Renungan Harian : Jumat, 22 Nopember 2013
 21 Nov

Keabadian

Nas Bacaan : Yohanes 3 : 16

 

Firman Tuhan dalam Yohanes 3:16 ini adalah salah satu ayat yang sering dikutip dan dibahas dari persepektif pengampunan dalam kasih Tuhan terhadap manusia. Namun, ayat ini juga mencantumkan janji Tuhan yang akan memberikan "hidup kekal = keabadian" bagi umat manusia. Penulis bermaksud menyampaikan perspektif lain dari ayat ini khususnya dalam hal Keabadian.

Manusia yang mengenal maupun tidak mengenal Tuhan, yang primitif atau modern, tua atau muda semua memiliki keinginan untuk hidup panjang umur. Bukankah kita sering berdoa meminta umur panjang kepada Tuhan ? Tentunya, kita juga meminta kesehatan dan kebahagiaan dalam satu paket permintaan tersebut. Dan dunia ini menyambut keinginan tersebut dengan menyediakan berbagai “produk” yang dapat memperpanjang umur, kesehatan, dan kebahagiaan. Manusia menyukai apa yang dinamakan Keabadian.

Faktanya, tidak ada satupun yang abadi di dunia ini. Fisik manusia pasti terus menua hingga akhir usianya. Benda buatan manusia juga akan hancur dan lenyap dimakan karat atau terdegradasi oleh alam. Demikian juga pemikiran dan ide-ide yang diciptakan oleh manusia, tidak satupun yang abadi.

Seperti dalam ilmu Fisika, kita mengenal hukum gerak dan gravitasi Newton. Hukum yang dikenal juga sebagai hukum Mekanika Klasik ini, selama ratusan tahun diaplikasikan dalam berbagai bidang kehidupan seperti membangun gedung, mesin, gerak dan lain-lain. Namun, ternyata Mekanika Klasik tidak berlaku terhadap fenomena alam yang lebih rumit seperti cahaya dan gelombang. Sampai pada tahun 1900 Max Planck memperkenalkan ide bahwa energi dapat dibagi-bagi menjadi beberapa paket atau kuanta. Ide ini dikembangkan lagi oleh Albert Einstein dengan teori relativitasnya yang terkenal itu, sehingga berkembanglah hukum Mekanika Kuantum. Akankah hukum yang ditemukan oleh manusia ini akan abadi (=sempurna) untuk menjelaskan fenomena alam semesta ?

Tentu saja tidak ada keabadian dalam dunia ini. Umat Kristen jelas memahami bahwa Keabadian yang dijanjikan oleh Bapa di surga bukanlah hal-hal yang menyangkut dunia. Karena dunia ini pasti akan berakhir dan akan punah. Musa, seorang yang bijaksana, memahami bahwa tidak ada kebadian dalam dunia ini sehingga dia memohon kepada Allah: ”Ajarilah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mzm. 90:12). Firman Tuhan dalam Yohanes ini mengajarkan kita untuk hidup dan percaya kepada AnakNya yang tunggal untuk mendapatkan keabadian yang sejati. Yakni hidup kekal bersama Bapa di dalam surga. Bukan di dunia ini.

Sudahkah hidup kita diarahkan untuk memperoleh Keabadian yang sejati dalam kerajaan Allah ? (St. Edward Napitupulu)

 

Renungan Harian : Rabu, 20 Nopember 2013
 19 Nov

Kesaksian Yesus tentang diri-Nya

Bacaan : Yohanes 5 : 25-29

 

Pada umumnya Batak Kristen apabila mendengar berita kematian akan terkejut dan mengatakan...bah, boha parmatena (matinya kenapa)?. Kalimat ini tidak Alkitabiah, makanya banyak jemaat menanyakan pada para pendeta, kalimat apa yang harus sebaiknya dikatakan sebagai orang Kristen apabila mendengar adanya kematian. Bagi agama lain disebut..inna lilahi….dan kita sebaiknya jangan menanyakan bagaimana matinya. Dari Alkitab dapat kita berikan jawaban yang baik apabila ada berita duka, seperti jawaban Ayub: “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan. (Ayub 1:21) kalau dalam bahasa Batak disebutkan: “ Jahowa do na mangalehonsa, Jahowa do muse mambuatsa, pinuji ma goar ni Jahowa “. Dari kalimat ini sudah terkandung aspek eskatologis yang perlu dipahami, sudah bicara tentang kekekalan. Kalimat ini perlu dijemaatkan. Bukan cara matinya yang penting tetapi apakah dia mati dalam Tuhan Yesus yang telah diberikan Allah kuasa untuk menghakimi karena Ia adalah Anak Manusia. Sebagai manusia Dia tahu tentang segala keadaan manusia sebagai ciptaan Allah, segala kelemahan serta dosa-dosanya. Dia tahu kepura-puraannya, kebohongannya, tipu-daya dan bahkan keterikatannya kepada roh-roh jahat. Karena Yesus mengenal manusia, maka Allah menetapkan Dia sebagai hakim atas manusia. Hakim yang melaksanakan kejujuran, kebenaran dan keadilan bagi semua umat manusia. Oleh sebab itu maka hanya dalam diri Yesuslah kepenuhan nilai-nilai tertinggi secara sempurna.

 

Sedemikian besar kuasanya sehingga semua orang yang dalam kuburan akan mendengar suaranya. Suara Yesus itu akan disertai sangkakala sorgawi seperti disebut dalam : 1 Tessalonika 4: 16

 

Bagi mereka yang selama hidupnya berbuat baik, mendengar suara Yesus dan menerima Dia sebagai Juruselamat karena hidupnya menjauh dari segala ragam kejahatan dan dosa, dan hidup sebagai orang benar, maka mereka akan bangkit untuk hidup yang kekal. Tetapi mereka yang berbuat jahat, yaitu menolak Injil Kristus dan Keselamatan oleh karena mereka hidup dalam kegelapan dan dalam segala jenis dosa, mereka akan bangkit juga tetapi untuk dihukum selama-lamanya.

 

Doa: Tolong kami Tuhan dan kuatkan agar  selalu berjalan dalam kehendak-Mu saja untuk menjadi pewaris Kerajaan-Mu. Amin.    (St. Lukman Tambunan M.Min.)

Renungan Harian : Selasa, 19 Nopember 2013
 19 Nov

PENAFSIRAN APOKALIPTIK

Bacaan : Wahyu  20 : 11 - 15

 

Bagi mereka yang telah membaca buku Perjanjian Baru, akan segera melihat perbedaan antara buku Wahyu dengan buku yang lain yakni berita pelayanan  Tuhan Yesus Kristus di dunia ini. Para Rasul memberitakan firman Tuhan serta bimbingan yang dilakukan untuk menguatkkan iman kepercayaan para jemaat di gereja mula-mula.

 

Buku Wahyu atau Penyataan, Penyingkapan merupakan penglihatan iman dari seorang hamba Tuhan yang bernama Yohanes tentang hal yang akan terjadi besok. Dalam bahasa Yahudi (Ibrani) Wahyu disebut Apokaliptik atau Apokalipsis. Ada Apokalitik Yahudi ada juga Apokaliptik Kristen yang tentu berbeda. Tetapi beberapa rujukan terhadap Apokaliptik, betapapun ringkasnya, diperlukan pembahasan mengingat keduanya ada kesinambungan. Malah kelihatannya, sejak permulaan terhadap apokaliptik Yahudi sudah disisipkan hal-hal lain sedemikian rupa supaya dapat ditafsirkan dari sudut Kristen. Apokalipsis-apokalipsis Kristen banyak kesamaan dengan tulisan-tulisan Yahudi yang sejenis; perbedaan pokoknya adalah bahwa apokalipsis-apokalipsis Kristen memusatkan diri pada wahyu Allah yang dibukakan melalui Yesus Kristus Raja Gereja.

 

            Agar kita mengerti kitab Wahyu, maka kita harus mengingat latar belakang yang terjadi pada gereja-gereja awal. Mereka disiksa oleh Kaisar Roma pada saat Yohanes menuliskan buku ini. Kaisar Domitianus memerintah dari tahun 81 sampai tahun 96 yang menganggap dirinya dewa yang harus disembah. Jemaat Kristen pada saat itu telah mendapat ajaran bahwa hanya Tuhan dalam Yesus Kristus yang boleh disembah dan dipatuhi. Yohanes sebagai pimpinan jemaat Efesus, dibuang ke satu pulau kecil yakni Padmos; disitulah Yohanes mendapat Wahyu dan dituliskan, kemudian dikirim kepada jemaat dan orang Kristen yang menderita supaya mereka tidak tawar hati menerima hukuman dari penguasa.

 

            Sebagian dari Wahyu yang di tunjukkan dan disingkapkan oleh Kristus kepada Yohanes adalah yang tertulis dalam nas ini yakni tentang “Hukuman yang terakhir yang akan dihadapi oleh semua orang pada hari penghakiman yang mati maupun yang hidup.

 

Biarpun Yesus telah memberitakan akhir zaman sewaktu Dia berada di dunia ini, tetapi kapan akan terjadi tidak ada yang tahu selain Allah Bapa di sorga, namun manusia sering kali menghitung hari terakhir berdasarkan kitab Wahyu. Doa: Ingatkan kami selalu akan hari Penghakiman-Mu. (St. Lukman Tambunan M.Min.)

Renungan Harian : Senin, 18 Nopember 2013
 16 Nov

LAWAN YANG TERKUTUK

Hai, Isteri, tunduklah kepada suami seperti kepada TUHAN

(Efesus 5 : 22)

 

Yang terpenting bagi kita untuk dapat memahami maksud Paulus dengan jelas adalah peran kalimat ini dalam konteks yang lebih besar dan arti khusus dari istilah dan kata-kata dalam kalimat ini dan teks-teks disekitarnya. Konteks yang lebih besar dari kalimat ini membahas keprihatinan Paulus bahwa orang beriman, sebagai masyarakat dan individu, akan dikuatkan oleh Roh Kudus sehingga mereka akan tumbuh menuju kedewasaan iman. Kedewasaan ini akan datang jika mereka “ ramah dan penuh kasih mesra satu terhadap yang lain, mejalani kehidupan yang penuh kasih seperti Allah, yang diteladankan dalam pelayanan Kristus yang penuh pengorbanan dan penyerahan diri.

 

            Bagaimana peneladanan Kristus ini terlaksana secara konkrit dalam persekutuan dan hubungan manusia secara umum ? Inilah pokok bahasan yang menjadi dasar dari Efesus 5 : 22 tersebut. Pembahasan umum yang dikatakan Paulus tentang tingkah laku orang Kristen berdasarkan nasehat yang dikatakannya : “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa “ diikuti oleh beberapa perintah yang lebih khusus mengenai hubungan dalam persekutuan dan konteks lainnya, misalnya di dalam keluarga. Bagian ini dimulai dengan nasehat yang berkata : “ usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Allah…..hendaklah kamu penuh dnegan Roh ( Efesus 5 : 17 – 18 ). Kemudian, melalui empat kalimat yang berkaitan erat, Paulus menunjukkan bagaimana kehidupan orang percaya yang penuh dengan Roh Kudus dan berjalan sesuai dengan kehendak Allah Allah itu terwujud, yaitu :    “ berkata-kata seorang kepada yang lain dalam mazmur, bernyanyi dan bersorak bagi Tuhan, mengucap syukur atas segala sesuatu, merendahkan diri seorang kepada yang lain “. Perbuatan inilah yang mendasari Efesus 5 : 22.

 

            Sepanjang surat-suratnya, Paulus dengan jelas telah menunjukkan bahwa orang Kristen merupakan tatanan sosial baru yang diciptakan untuk menyatakan kepenuhan Kristus ditengah-tengah tatatanan lama yang sudah rusak. Apa yang dikatakan Paulus dalam Efesus 5 : 21 adalah Roh Kudus memberi kekuatan kepada orang Kristen untuk saling berhubungan dengan cara baru dan sama sekali berobah, yaitu saling menunduikkan diri. Dasr pendekatan yang sama sekali baru dalam hubungan manusia ini adalah “ demi penghormatan kepada Kristus”. Alasan penghormatan tersebut adalah hakikat kehidupan Kristus yang radikal dibumi, penyerahan diriNya secara total dan bebas sebagai hamba Allah yang menderita, yang mencapai puncaknya pada penyerahan diriNya di kayu salib ( Efesus 5 : 2, 25 ). Penghormatan dan kehikmatan terhadap kasih yang menyerahkan diri itulah yang seharusnya mendorong kita untuk saling menyerahkan diri kepada yang lain.

 

            Jadi sikap merendahkan diri seorang kepada yang lain, membuktikan kepenuhan Roh Kudus dan itulah implikasi hubungan antara suami dan isteri. Dengan kata lain suatu bentuk sikap merendahkan diri yang meneladani Kristus di dalam perkawinan. Isteri harus tunduk kepada suami “ seperti krepada Tuhan “. Sikap tunduk ini bukan lagi seperti yang terdapat dalam norma budaya yang dipaksakan kepada wanita yang menganggap bahwa wanita lebih rendah dari pada laki-laki. Tetapi tunduk yang berdasarnya saling mengasihi yang berlandaskan kasih Kritus, melalui sikap yang saling menghormati ini, berkat-berkat akan Tuhan tambahkan.

 

            Dalam bentuk penyerahan diri isteri kepada suami, Paulus juga melanjutkan pengajarannya dengan menunjukkan bagaimana bentuk penyerahan diri seorang suami kepada isterinya. Penyerahan diri suami itu ( Efesus 5 : 21 ) harus terwujud dalam bentuk kasih yang menyerahkan diri sepenuhnya, yang didemonstrasikan Yesus ketika Ia menyerahkan diriNya untuk jemaat ( Efesus 5 : 22 ). Kedudukan suami yang lebih tinggi ( pada budaya Yahudi dan Yunani ) dengan berani ditantang oleh Paulus dengan menyerukan kepada suami untuk mengasihi ( agapao) isteri mereka dengan sungguh-sungguh. Isteri adalah pendamping yang memberikan pertolongan dan secara bersama-sama menyerahkan diri, memelihara dan melayani seperti Krstus yang melayani Jemaat.

 

            Didalam suratnya,  Petrus berkata : “ Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah “ Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang ( 1 Petrus 2 : 7 ). Berbahagialah suami dan isteri yang saling mengasihi dan saling menghormati, kesehatian mereka akan membawa berkat di dalam kehidupan rumah tangga mereka.

 

Doa : Terpujilah Engkau Bapa untuk kasihMu yang menyertai kehidupan kami sebagai suami dan isteri yang takut akan TUHAN. BerkatMu senantiasa melimpah dalam kehidupan kami. Amen (TSH)

Renungan Harian : Sabtu, 16 Nopember 2013
 15 Nov

PASANGAN YANG TIDAK SEIMBANG

Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya.

(2 Korintus 6:14)

Pernyataan ini dapat dipandang sebagai ucapan yang sulit.Hal ini mengakibatkan adanya batasan hubungan kita dengan orang-orang lain yang tidak percaya. Paulus menuliskan perintah ini bagi orang percaya di Korintus, agar mereka tidak boleh berkompromi dengan mengikat perkawinan dengan orang lain yang tidak percaya kepada Kristus. Dalam dua Surat Paulus yang dituliskan kepada Jemaat Korintus, kita bisa membaca bahwa hubungan Paulus dengan Jemaat penuh dengan kerusuhan.Ada unsur-unsur jemaat yang menantang ajaran Paulus dan akibatnya jemaat di Korintus sering dalam keadaan bahaya.

 

            Sesuai dengan ajaran Paulus pada 2 Korintus 5 : 17, dikatakan : “ di dalam Kristus orang beriman telah menjadi ciptaan baru “, kesetiaan mereka yang lama (kafir) telah digantikan oleh hubungan yang baru dengan Allah, “ yang mendamaikan kita dengan diriNya sendiri “ ( 2 Korintus 5 : 17 -18 ).Itulah dasar mengapa orang percaya tidak lagi boleh berhubungan ataupun mengikat perkawinan dengan orang yang bukan Kristen.

 

            Pernyataan “ Janganlah kamu menjadi pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya “ diikuti oleh lima rangkaian pernyataan yang saling bertentangan yang mendefinisikan hakikat ketidak-sesuaian antara orang percaya dan orang-orang yang tidak percaya. Pernyataan tersebut bersifat retoris, dikatakan : “ Apakah persamaan kebenaran dan kedurhakaan, terang dengan gelap, Kristus dengan Belial, orang yang percaya dan yang tidak percaya, Bait Allah dengan berhala “ ! Tidak ada sama-sekali ! Karena kita adalah Bait dari Allah yang hidup “ ( 2 Korintus 6 : 16 ).

 

            Gagasan menegenai orang Kristen, yang adalah Bait Allah, sudah dikemukakan kepada Jemaat di Korintus ( 1 Korintus 3 : 16 ). Disitu diingatkan bahwa Bait Allah itu kudus, oleh karena itu mereka harus menjauhkan diri dari kenajisan berhala.Kondisi ini membuat orang Kristen harus menjaga dirinya agar tidak menjadi najis oleh karena hubungan yang mereka buat dengan orang yang tidak percaya.Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan yang terus menerus diperbaharui oleh Roh Kudus.

 

            Roh Kudus yang dimiliki oleh pasangan yang sepadan ( Efesus 1 : 13 ) merupakan dasar bagi berkat-berkat yang Tuhan curahkan dalam kehidupan pasangan yang sepadan tersebut. Kata Yesus : “ Dan lagi Aku kepadamu : Jika dua orang dari padamu sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh BapaKu yang di sorga “ ( Matius 18 : 19 ). Itulah dasarnya agar orang Kristen mencari pasangan yang seimbang, yaitu sama-sama orang percaya.

 

            Menjadi pasangan yang tidak seimbang, berarti menjadi satu hati dalam pikiran dan iman yang berbeda.Didalam perbedaan itu, mereka berkompromi dengan nilai-nilai yang tidak Alkitabiah, mereka terbujuk oleh kesepakatan yang tidak berdasarkan kasih Kristus.Kasih yang mereka hayati adalah dasar kepantasan humanitas, kasih Allah menjadi kering.Karena kasih Allah menjadi kering maka dalam konflik, perceraian merupakan pilihan karena tidak ada lagi kompromi yang disepakati bersama.Apabila kita temukan ada pasangan orang percaya yang bercerai, maka hal ini disebabkan oleh fondasi kasih di dalam Kristus tidak dimengerti dan dibangun di dalam perkawinan. Tetapi apabila fondasi kasih Tuhan ini dibangun sejak awal oleh pasangan yang sepadan maka, perkawinan itu akan tumbuh dalam berkat-berkat yang melimpah dari Allah. Oleh karena itu, janganlah menjadi pasangan yang tidak seimbang.

 

Doa : Bapa, bimbinglah kami mendapatkan pasangan yang seimbang. Amen (TSH)

 

Renungan Harian : Jumat, 15 Nopember 2013
 15 Nov

YANG LAMA SUDAH BERLALU

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang

(2 Korintus 5 : 17)

Ayat hari ini sudah sering kita dengar di percakapkan di Gereja atau persekutan orang Kristen.Menjadi baru adalah tujuan keKristenan, kita tidak lagi hidup dalam kebiasaan hidup lama yang dikuasai oleh daging. Didalam Kitab Roma Pasal 8 dikatakan : hiduplah oleh roh jangan lagi oleh daging.

 

            Pemberitaan Paulus yang penuh sukacita dalam Korintus 5 : 17 mengungkapkan sebuah keyakinan yang sertingkali nampaknya bertentangan dengan pengalaman kita. Kita mengakui bahwa kehidupan di dalam Kristus menghasilkan sikap yang baru dan merasa malu ketika kita melihat betapa kecilnya perbedaan antara kehidupan kita yang nyata dengan kehidupan orang lain yang tidak percaya kepada Kristus. Kita bersukacita atas pengampunan Allah terhadap dosa-dosa kita dan kemudian menyadari betapa sering kita gagal memperlihatkan realitas ini kepada orang lain.

 

            Seperti juga kita saat ini, jemaat Kristen pada zaman Paulus mengakui bahwa dalam banyak hal “ hidup yang lama” tetap bersama mereka dan kehidupan iman yang “baru” di dalam Kristus perlu dilatih secara terus menerus. Jemaat Kristen pada masa itu melihat bahwa Kerajaan Romawi dan kekuasaannya yang menindas terus kehidupan mereka.Ketidak adilan dan kebejatan terus terjadi di tengah-tengah kehidupan mereka.Mereka mengalami tekanan secara terus menerus dalam kehidupan pribadi mereka, perselisihan yang sengit diantara orang yang percaya kepada Yesus, kegagalan pribadi, kecemasan, frustasi, dan hidup dalam dosa yang terus menerus terjadi. Dalama suasana yang menekan tersbut, timbul pertanyaan : “ Mengapa yang “lama”  itu harus tetap bersama-sama dengan mereka ketika yang “baru” sudah tiba “ ?

 

            Dalam suasana ketegangan itu Paulus mengajarkan bahwa orang percaya harus memahami bahwa ketegangan itu terjadi oleh karena konflik antara : jasmani (daging) dan rohani (jiwa) dalam diri manusia. Daging itu cenderung membuahkan kejahatan, seperti kata Yesus : “ dari dalam hati, timbil segala pikiran jahat “ ( Markus 7 : 21 ). Sifat jahat inilah yang menjerat daging membuat manusia tetap melakukan hidup lamanya. Dalam jerat kejahatan ini, Paulus berkata : “ waktu aku ingin berbuat baik, yang jahat itu ada padaku” ( Roma 7 : 21 ).

 

            Dosa yang membuahkan kejahatan adalah masalah rohani.Tidak ada yang dapat dilakukan oleh manusia untuk membebaskan dirinya dari kuasa kejahatan di dalam dagingnya.Untuk itu, kita harus mengerti bahwa dosa adalah masalah rohani, maka kejahatan itu dapat dicabut dari tubuh manusia dengan kuasa Roh.Itulah anugerah Tuhan kepada kita untuk membebaskan kita dari akar kejahatan yang ada didalam daging. Roh telah dikaruniakan kepada kita karena kita percaya kepada Yesus ( Efesus 1 : 13 ). Roh itulah “ alat “ yang dapat kita pakai untuk mencabut akar kejahatan yang melekat di dalam daging. Paulus berkata : “ Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Kahaliknya.”( Kolose 3 : 8 – 10 ).

 

            Ciptaan baru adalah proses pembaharuan diri kita yang mau dan dengan sadar mencabut akar-akar kejahatan yang melekat di dalam hati dengan kuasa Roh Kudus. Kita harus sadar bahwa kejahatan itu menanamkan jangkarnya dihati kita, tetapi kuasa Roh Kudus akan mencabutnya dari dalam hati dalam doa dan permohonan kita kepada Tuhan agar buah-buah Roh tumbuh di dalam hati menggantikan akar kejahatan. Hiduplah dalam roh, sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.

 

Doa: Bapa, cabutlah akar kejahatan yang ada didalam hatiku, biarlah kuasa RohMu membangun hidupku dalam damai sejahteraMu. Amen. (TSH)

Renungan Harian : Kamis, 14 Nopember 2013
 13 Nov

Berpadanan

Nas Bacaan : Filipi 1 : 27-30

 

Kita sudah mengatakan  di depan, ucapan Martin Luther yang mengatakan bahwa orang Kristen itu adalah Kristus sendiri. Kita juga sudah mengungkapkan alasan mengapa Luther mengatakan hal tersebut. Atas Keberadaan yang luar biasa itu. Paulus menasehati kita agar membuat hidup yang kita jalani, berpadanan dengan Injil Yesus Kristus. Paulus telah mendemonstrasikan hidup yang berpadanan dengan Injil Yesus Kristus. Kita dapat ulang di sini, Paulus mengasihi dengan kasih mesra Kristus. Bagi Paulus hidup itu adalah Kristus sendiri. Tujuan hidup pun menjadi serupa dengan Kristus dalam penderitaan-Nya. Kekuatan dan kekayaannya pun adalah kekuatan dan kekayaan Kristus.

 

Jika Paulus dapat mendemonstrasikan hidup yang berpadanan dengan Injil Yesus Kristus, tentunya kita pun dapat melakukannya, sebab Paulus dapat melakukannya karena kasih karunia juga. Injil menjadi sesuatu yang sentral dalam kehidupan orang beriman. Karena Injil adalah kekuatan Allah untuk menyelamatkan setiap orang, maka tidaklah mungkin kita akan dapat digentarkan oleh musuh. Bahkan Paulus dengan tegas mengatakan, Injil adalah tanda kebinasaan bagi orang yang menolaknya. Sebab Tuhan sendiri mengatakan, barang siapa yang percaya akan diselamatkan, barang siapa yang tidak percaya dihukum.

 

Paulus sadar dari pengalamannya sendiri, kesulitan dan penderitaan adalah bagian dari orang beriman kepada Yesus Kristus. Hal ini ditegaskannya dalam nas kita. “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia.” Paulus mengalami derita, namun ia dapat bersukacita dalam penderitaan yang dihadapinya.

 

Ada orang mungkin akan mengatakan: saya tidak akan mampu membuat hidup ini berpadanan dengan Injil. Untuk ini, Paulus sendiri akan menjawabnya, sebagaimana diutarakannya dalam 4:13. Di sana Paulus berkata: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberikan kekuatan kepadaku”. Dari ungkapan ini jelas sekali, bukan Paulus sendiri yang melakukan keberpadanan hidupnya dengan Injil Yesus Kristus. Roh Kuduslah yang berkarya di dalam dirinya, sehingga ia dimampukan untuk menjalani satu hidup yang berpadanan dengan Injil Yesus Kristus.

 

Sebuah kisah akan menjadi bahan renungan bagi kita. Seorang pemuda dalam masa mudanya, mulai menerapkan apa yang diyakininya dalam hidup sehari hari. Ia tidak pernah memahami, bahwa ia sudah sempurna dalam menerapkan imannya. Namun orang lain melihat kehidupan yang dijalaninya. Tak disangka, ada seorang bapa yang masih muda, bukan orang percaya, meminta dia untuk mengajarkan kepadanya iman Kristen. Pemuda kita itu bertanya kepada sang bapa tadi: mengapa saudara mau menjadi orang Kristen?”. Jawabannya sungguh sangat mengejutkan hati pemuda ini. Sebab sang bapa berkata: saya melihat hidupmu menggambarkan hidup beriman, sebagaimana sering saya dengar dari orang lain.

 

Jika kita menjalani hidup beriman, sebagaimana kita yakini, maka pada dasarnya Roh Kudus akan membuat hal tersebut sebagai satu hidup yang berpadanan dengan Injil. Pemuda itu adalah sebagai contoh nyata bagi kita. Hidupnya dapat berpadanan dengan Injil Yesus Kristus.

(St. Hotman Ch. Siahaan)

 

Renungan Harian : Rabu, 13 Nopember 2013
 13 Nov

SUKACITA

Nas Bacaan : Filipi 1 : 12 - 16

 

Sura Filipi sering disebutkan orang sebagai surat sukacita. Dalam surat ini, Paulus mengungkapkan sukacitanya kepada jemaat di Filipi. Nas kita pada pagi hari ini pun berbicara tentang sukacita Paulus. Acap kita bersukacita. Tatkala segala sesuatu yang kita inginkan menjadi sebuah kenyataan. Sangat langka bagi kita untuk bersukacita, tatkala keadaan kita secara fisik tidak dalam keadaan baik. Paulus berada di penjara. Ia ditahan dalam ruang tahanan yang tidak manusiawi, jikalau ditinjau dari sudut pandang dewasa ini. Namun dari sel yang tidak menyenangkan secara fisik itu, Paulus menulis surat, lalu mengajak orang yang ada di luar penjara, bersukacita bersama dengan dia. Bersukacita di dalam Tuhan.

 

Dalam nas kita ini, Paulus mengungkapkan alasannya bersukacita. Itu sebuah pelajaran bagi kita. Paulus telah menetapkan bahwa hidup baginya adalah Kristus. Mati adalah sebuah  keuntungan. Urusannya di dunia ini hanyalah satu. Menunaikan tugas pelayanan yang diembankan Allah ke atas pundaknya. Apa pun yang terjadi dalam hidupnya, jika melalui segala sesuatu yang dihadapinya, ia semakin dekat dengan tujuan hidupnya, maka ia bersukacita.

 

Paulus bersaksi: ia berada di penjara, justru membuat Injil semakin tersebar. Sebab dengan dipenjaranya dia, ada kesempatan bagi orang di istana raja mendengarkan berita Injil. Penjara itu membawa ketidaknyamaan, bagi dia secara fisik. Tetapi karena penahamannya, ia mendapatkan kesempatan untuk memberitakan Injil. Di sisi lain, ada juga dampak dari penahamannya. Sebagian orang termotivasi untuk turut bersama Paulus memberitakan Injil. Mereka melakukannya dengan niat yang tulus.

 

Tetapi ada juga orang yang memberitakan Injil dengan maksud yang tidak baik. Mereka mengira, dengan diberitakannya Injil di kerajaan Romawi, maka perkara Paulus semakin berat di pengadilan. Untuk kedua perkara tersebut, Paulus bersukacita. Inilah satu pelajaran berharga bagi kita. Paulus menentukan tujuan hidupnya. Jika ia semakin dekat dengan tujuan hidup tersebut, ia bersukacita, sekalipun secara fisik menderita. Paulus memperkenalkan kepada kita, bentuk dari sukacita yang lain dari pada yang lain. Sukacita dalam Tuhan. Sukacita ini tidak ditentukan oleh keadaan lahiriah yang kita hadapi. Sukacita ini lebih dalam dari pada sukacita yang kita kenal sehari-hari.

 

Sebagai seorang yang menikmati persekutuan dengan Tuhannya, Paulus dengan tulus mengatakan bahwa bersama dengan Tuhan, jauh lebih baik dari pada tinggal di dunia ini. Mati adalah sebuah keuntungan, katanya. Bukankah hal ini sungguh bertentangan dengan keinginan manusia pada umumnya? Chairil Anwar pernah mengatakan dalam syairnya: “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”. Namun Paulus ingin segera mengahiri hidup ini, jika hal itu diperkenankan Tuhan. Satu-satunya alasan bagi Paulus untuk tetap berada di dalam dunia ini ialah: agar orang beriman semakin maju dalam sukacita, sebagaimana dinikmati Paulus. Sebuah pertanyaan yang perlu direnungkan secara pribadi: faktor apakah yang membuat saya bersukacita? Adakah hal itu ada kaitannya dengan Tuhan? Apakah alasan yang pasti, mengapa saya harus tinggal di dunia ini? Adakah semua alasan itu ada sangkut pautnya dengan rencana Allah bagi dunia ini? (St. Hotman Ch. Siahaan)

Renungan Harian : Jumat, 8 Nopember 2013
 07 Nov

Rumah Yang Tahan Banjir

(Mat 7 : 24 - 27)

 

Yang dengar kata-Ku terang dan jelas (2x)

Berbuat tak mau, (2x) bak si Bodoh

Yang mendirikan rumah di atas pasir yang lemah

 

Bila hujan turun, air membanjir,

Dengan dahsyat taufan menderu

Memukul dan mengguncang rumah

Dan mencobanya dan rebah.

 

                        Yang dengar kata-Ku terang dan jelas (2x)

                        Mengamalkannya, (2x) bak si Arif

                        Yang mendirikan rumah diatas batu yang teguh

 

Bila hujan turun, air membanjir,

Dengan dahsyat taufan menderu

Memukul dan mengguncang rumah

Dan mencobanya

Tak terguncang karena alasnya batu teguh !

 

Itulah syair nyanyian yang di sanjak kembali dari perikop penutup dari “Khotbah di Bukit”. Isi syair nyanyian ini terang dan jelas, hanya dua kemungkinan respons dari pendengar ajaran Yesus, yaitu hanya mendengar saja tapi tidak melakukannya (si Bodoh) atau melakukan serta menerapkan dalam hidup sehari-hari apa yang sudah didengar dari ajaran Yesus (si Arif).

 

Masuk kelompok manakah anda, apakah kelompok si Bodoh atau si Arif?

Amin. (St. D.R. Nainggolan)

 

Renungan Harian : Kamis, 7 Nopember 2013
 06 Nov

Menyesatkan Anak Kecil?

(Mat 18 : 6)

 

Dalam keadaan waras semua orang biasanya mengaku tidak mau sesat apalagi menyesatkan orang lain. Tetapi pada kenyataan sehari-hari kita sering sesat dan menyesatkan orang lain dengan sengaja.

Contohnya kita sering minum minuman keras sampai mabuk dan tidak sadarkan diri. Atau berbohong mengatakan hal-hal yang tidak benar tanpa merasa itu hal yang tidak disukai Tuhan. Atau serakah dan mengambil hak orang lain atau dengan istilah yang sangat populer di negara kita korupsi. Bahkan ada yang mengatakan di Indonesia sudah ada korupsi berjamaah. Banyak yang sudah ditangkap, diadili dan dipenjarakan. Diantaranya ada yang mengaku percaya pada Yesus. Dapatkah mereka berkata bahwa mereka tidak sesat dan tidak menyesatkan orang? Bukankah anak-anak yang tadinya sudah percaya kepada Yesus masih suka meniru tingkah laku orang dewasa apalagi orang tua mereka sendiri?

 

Perhatikan bagaimana beratnya hukuman orang yang menyesatkan orang lain apalagi anak kecil yang sudah percaya kepada Yesus. Siapa saja yang merusak kerohanian seorang anak yang masih polos namun sudah percaya akan membangkitkan murka Kristus yang paling besar, orang tua secara khusus harus memperhatikan perkataan Kristus ini. Tanggung jawab orang tua justru harus mengajar anak-anak dalam jalan Allah, dan melindungi mereka dari pengaruh iblis. Orang tua seharusnya mencegah anak-anaknya dari pengaruh teman-teman sebayanya yang tidak beriman.

 

Dapatkah kita melakukannya? Tentu dapat apabila kita sadar dan tentu mohon pertolongan Tuhan serta terus mendekatkan diri kepada-Nya. Amin.

(St. D.R. Nainggolan)

Renungan Harian : Rabu, 6 Nopember 2013
 06 Nov

Kamu adalah Sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu

(Yoh 15 : 14)

Sahabat Yesus? Ya sangat jelas, kita adalah sahabat-Nya. Hanya dengan satu syarat : kita berbuat apa yang diperintahkan-Nya. Penjelasan lebih lanjut dapat kita gali dari perikop yang sama.

-      

-       Perintah utama adalah saling mengasihi (ay 9-14). Kita tahu bahwa hukum/ perintah Allah ada 10. Hukum 1-4 adalah supaya kita mengasihi Allah dan Hukum 5-10 supaya kita saling mengasihi. Dan kalau kita peras lagi menjadi satu kata saja yaitu “KASIH”. Seluruh isi Alkitab berbicara mengenai KASIH, yaitu supaya kita mengasihi Allah dan mengasihi sesama, karena Allah itu adalah KASIH. Orang percaya harus tetap hidup dalam suasana kasih Kristus.

 

-       Kita bukan lagi hamba (ay 15). Yang dimaksud dengan hamba dalam kitab-kitab Perjanjian Baru adalah budak, yaitu orang yang dimiliki atau dikuasai oleh orang lain. Mereka bukan pegawai, karena itu tidak berhak mendapat upah/ gaji. Para budak bertugas melakukan berbagai macam pekerjaan rumah tangga. Hubungan kita dengan Yesus bukan seperti hamba dan tuan, tetapi sebagai sahabat.

 

-       Kita harus menghasilkan buah (ay 16). Semua orang Kristen dipilih dari dunia untuk berbuah. Buah yang dimaksud adalah kebajikan-kebajikan rohani, seperti buah Roh yang disebutkan dalam Gal 5 : 22-23 yaitu : kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan dan penguasaan diri. Dengan demikian kita diharapkan bisa membantu orang lain menjadi pengikut Kristus.

 

Saudara,

Perikop ini diakhiri Yesus dengan berkata “Inilah perintah-Ku kepadamu : “Kasihilah seorang akan yang lain” (ay 17).  Berarti iman kita harus terus bertumbuh, makin matang. Kita sekarang berada antara minggu ke 22 dan 23 setelah Trinitas, artinya ktritunggalan Allah dan respon kita terhadap karya penyelamatan Allah. Sebentar lagi kita akan meninggalkan tahun gereja yang lama dan masuk ke Tahun Baru Gereja yaitu Minggu Advent. Iman percaya kita harus semakin matang. Kita bukan lagi budak tapi sahabat Yesus. Amin.

(St. D.R. Nainggolan)

Renungan Harian : Jumat 1 Nopember 2013
 01 Nov

MELIMPAH

Nas Bacaan : Filipi 1 : 1 - 11

 

Tatkala merenungkan nas kita ini, lantas teringat perkataan Martin Luther tentang surat Paulus kepada jemaat Filipi ini. Luther berkata: orang Kristen itu adalah Kristus sendiri. ia mengatakan perkataan itu , karena merenungkan bagaimana Paulus mengungkapkan apa yang dialaminy. Paulus mengatakan: ia mengasihi jemaat itu dengan kasih mesra Kristus 1:8. Jadi perasaannya adalah perasaan Kristus. Dalam nas berikutnya pun Paulus menggambarkan pengalamannya dengan dikaitkan pada Kristus.

 

Dalam nas kita ini, kita menemukan doa Paulus untuk jemaat. Ia berdoa agar jemaat itu mengalami kelimpahan kasih. Kita harus mengasihi. Tetapi bukan hanya itu saja. Kasih yang kita demonstrasikan itu, adalah kasih yang melimpah. Karena kita pun telah menerima kasih Allah yang melimpah pula. Tentang kasih yang melimpah ini, Paulus pun membicarakannya kepada jemaat di Tesalonika cf I Tes 4:9-10. Kata sungguh sungguh dalam 4:10 dalam bahasa Yunani artinya adalah melimpah. Yesus Kristus datang ke dalam dunia agar orang percaya memperoleh hidup, dan memperolehnya dalam kelimpahan Yoh 10:10. Kita dirancang Allah supaya hidup berkelimpahan dalam berkat dan kasih, terhadap Allah dan terhadap sesama.

 

Kelimpahan kasih itu menurut Paulus terlaksana dalam pengetahuan yang benar. Kasih kita tidaklah membabi buta. Kasih kita melimpah dalam pengetahuan dan pengertian. Kasih kita itu dilaksanakan dengan kesadaran yang pasti, serta tahu pula arah dan tujuannya. Tentunya Roh Kuduslah yang mengajar kita, sehingga kita tahu dan kita mengerti apa yang seharusnya dilakukan. Itulah keistimewaan orang beriman.

 

Karena kita tahu dan kita mengerti, maka kita pun dapat memilih apa yang baik dan dan yang berkenan kepada Allah. Hal itu pula yang memungkinkan kita, dapat menjadi suci dan tidak bercacat pada hari Kristus menyatakan diri-Nya kelak. Sebab kita hanya melakukan kehendak Allah di sepanjang kehidupan yang kita jalani. Itulah doa Paulus untuk jemaat. Bukan hanya untuk jemaat di Filipi, tetapi buat jemaat di seluruh dunia dan sepanjang masa. Juga buat saya dan saudara sekalian.

 

Karena kita telah ditentukan menjadi pribadi yang suci dan tak bercacat di hadapan Allah, produknya pun adalah buah kebenaran. Menarik untuk disimak di sini, bukan kita yang mengerjakan semuanya itu di dalam diri kita, melainkan Kristus sendiri. Kristus diam di dalam kita. Oleh karena itu, kasih kita menjadi menjadi kasih Kristus 1:8. Pikiran dan perasaan kita pun adalah pikiran dan perasaan Kristus 2:5. Kekuatan kita pun adalah kekuatan Kristus 4:13. Kekayaan kita pun adalah kekayaan Kristus 4:19. Kristuslah yang berkarya di dalam hidup kita, sehingga dari dalam hidup kita mengalir kelimpahan hidup.

 

Kristus melakukan semuanya itu dari dalam kehidupan kita, menurut Paulus dalam nas kita, semuanya itu dilakukan dalam rangka memuliakan dan memuji Allah. Dari dalam diri kita sendiri, mustahillah hal itu dapat terlaksana. Allah sendiri sadar akan hal itu. Sehingga Ia bertindak melalui Yesus Kristus Tuhan kita. Satu hal yang luar biasa ialah: sekali pun Yesus yang mengerjakannya, tetapi itu dianggap karya kita bagi Dia. Tidakkah itu sesuatu yang luar biasa? (St. Hotman Ch. Siahaan)

Renungan Harian : Rabu, 30 Oktober 2013
 29 Oct

Perbuatan Baik Manusia

Titus 3 : 5

 

"Pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmatNya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaruan yang dikerjakan oleh Roh Kudus".

 

 

Dalam budaya dan kehidupan umat manusia, kita sering mendengar “berbuatlah” atau “lakukanlah sesuatu”. Berbuat sesuatu untuk memperbaiki sesuatu yang rusak atau untuk menolong diri sendiri atau orang lain adalah merupakan sikap terpuji dan didorong dalam budaya dan peradaban manusia sepanjang sejarah. “Do something about it”. Jangan diam atau berdiam diri saja!. Sikap ini tentu merupakan salah satu pendorong bagi umat manusia untuk terus menerus giat melakukan sesuatu. Mencoba dan melakukan sesuatu yang baik guna membuat hidup lebih mudah, melalui inovasi, paten, hak cipta dalam berbagai bidang ilmu dan teknologi.

 

Dalam budaya kita khususnya masyarakat Batak, kita didorong oleh nilai-nilai budaya kita untuk (i) mengenali diri (“tanda dirim”) dan (ii) mengejar kemajuan (“mangeahi hamajuon”). Berbuat untuk memperbaiki sesuatu atau untuk keluar dari suatu keadaan yang kurang baik, adalah hal yang  sangat perlu bahkan harus terus menerus dilakukan. Kebodohan harus diatasi dengan rajin belajar di dalam dan di luar sekolah. Kemiskinan harus diatasi dengan rajin untuk memperbaiki cara dan metode untuk memproduksi barang dan jasa yang dapat men-sejahterakan masyarakat. Keterbelakangan harus diatasi dengan mengejar kemajuan melalui ilmu dan teknologi.

 

Betapapun berbuat atau melakukan sesuatu yang baik harus terus menerus kita lakukan dalam hidup ini, namun ada sesuatu hal yang terpenting dalam hidup kita yang tidak dapat diperoleh dengan cara berbuat!. Apa itu? Yaitu, memperoleh keselamatan dari kebinasaan kekal . Tidak ada perbuatan manusia, sebaik apapun, yang dapat menggapai atau memperolehnya dengan usaha dan perbuatan.  Kita ke gereja tidak menyelamatkan. Kita berdoa tidak menyelamatkan.  Kita menolong orang miskin tidak menyelamatkan. Kita memberikan persembahan tidak menyelamatkan, bersekutu dengan teratur  tidak menyelamatkan, kita melakukan banyak perbuatan-perbuatan yang terpuji lainnya tetap tidak menyelamatkan.

 

Kalau perbuatan baik manusia tidak menyelamatkan, lalu dari mana keselamatan itu datangnya? Firman Tuhan dalam Titus 3:5 ini menyatakan bahwa perbuatan baik manusia tidak menyelamatkan.  Perbuatan baik manusia tidak sanggup menyelamatkan dirinya dari kebinasaan kekal. Kita selamat hanya karena rahmatNya atau anugerahNya yang kita terima. Kita memperoleh keselamatan itu hanya dengan percaya kepada Yesus sebagai Juru selamat dan Tuhan kita yang melakukan perbuatan baik bagi kita dengan mencurahkan darahNya di Golgata. Setelah kita percaya dan menerima keselamatan itu, kita mengalami proses pembaruan terus menerus (transformasi) yang dipimpin Roh Kudus. Selama masa proses transformasi ini, kita akan dibentuk dan diproses untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik, rajin berdoa, memuji Tuhan, rajin ke gereja, gemar menolong orang lain sebagai way of  life dan wujud nyata atau buah keselamatan yang kita peroleh. Perbuatan-perbuatan baik ini kita lakukan untuk menyenangkan hati Tuhan dan untuk menjadi berkat bagi sesama!. Mari kita gemar melakukan perbuatan-perbuatan baik sebagai sikap hidup untuk memuliakan Allah Bapa di sorga!.

(St. Giunseng EP. Manullang)

 

Renungan Harian : Selasa, 29 Oktober 2013
 26 Oct

Tampil Beda

 Roma 12 : 2

 

"Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna".

Manusia sebagai warga dari suatu komunitas, diminta atau tidak, cenderung menyesuaikan dirinya dengan kebiasaan yang ada dalam komunitas itu. Hal itu tentu untuk memelihara agar tidak ada penolakan atas kehadiran warga yang bersangkutan dalam komunitas termaksud. Kecenderungan ini berlaku bagi komunitas bisnis, keluarga, lingkungan tempat tinggal dan komunitas remaja, pemuda, bahkan di komunitas gereja sekalipun.

 

Seseorang memerlukan keberanian untuk menampilkan sesuatu yang berbeda!. Ada risiko bahwa ia akan dikucilkan jika perbedaan yang ditampilkan itu ditolak oleh komunitasnya.  Dia dapat dianggap aneh (anomali) dalam lingkungan komunitasnya. Jauh lebih mudah, ikut arus saja!, Sikap ini gampang diterima oleh komunitasnya. Sikap ikut arus itu dapat terjadi kalau niat tampil beda tersebut tidak kuat, atau ongkosnya terlalu mahal. Sedikit saja ada tantangan dari komunitasnya, ia akan menyerah dan ikut arus. Sebaliknya jika sikap berbeda untuk kebaikan itu dapat diterima oleh komunitas yang bersangkutan, orang itu akan diterima sebagai pembawa perubahan dan kebaikan bagi komunitasnya. Dalam prakteknya tentu sikap “tampil beda” ini tidaklah sesederhana seperti digambarkan di atas, banyak tantangan dan lika-likunya. Tergantung bidang apa yang disentuh sikap “tampil beda” itu. Misalnya tampil beda dalam “fashion” relatif lebih mudah daripada tampil beda dalam hal-hal yang non-lahiriah seperti pola pikir. Sebagai contoh, masyarakat Jakarta sekarang ini sedang merasakan proses perubahan ke arah perbaikan. Ini terjadi karena sikap tampil beda yang berani ditunjukkan oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Bapak Jokowi-Ahok.

 

Nats di atas, merupakan perintah agar kita tidak serupa dengan dunia ini!. Sangat sulit untuk tidak serupa dengan dunia dimana kita berdiam dan beraktifitas.  Kita ada dan berada di dunia sangat mengagungkan dan mengejar hal-hal yang sifatnya temporal seperti kekuasaan, dominasi, harta benda, kenikmatan, kemasyuran. Dengan cepat kita dapat mengenal dan mengetahui apa yang dikejar oleh dunia dari iklan yang ada di sekitar kita. Misalnya: iklan dan ungkapan-ungkapan populer ”you are what you drive” atau”you are where you live”, “you are what you wear, eat”, “you are what you do”,  dan lain sebagainya. Semuanya ini mengumbar kenikmatan dan kehormatan seputar ego. Disamping itu,  banyak orang enggan beranjak dari zona nyaman, sehingga sering perubahan tidak popular walaupun perubahan itu akan membawa kebaikan.

 

Namun, sebagai murid Kristus, sikap tampil beda untuk kebaikan secara terus menerus merupakan suatu hal yang mestinya menjadi way of  life kita. Sesudah  diselamatkan dan mengalami lahir baru, kita menjadi ciptaan baru total secara rohani (Yohanes 3:3).  Tuhan menghendaki agar kita juga tampil beda bukan hanya dari dalam secara rohani tetapi juga menampilkan pembaruan atau perbedaan dalam kehidupan fisik (1 Tesalonika 5:23 –Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita”; dan  Matius 26:41 –“ Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.``).

 

Bagaimana melakukannya? Yaitu: melalui pembaruan pikiran kita melalui Firman  Tuhan dan pimpinan Roh Kudus. Pembaruan budi (pola pikir)  perlu, agar pikiran kita dapat selaras dengan status baru kita secara rohani (ciptaan baru). Proses pembaruan pikiran tentu tidaklah mudah. Pola  pikir baru akan melahirkan sikap dan perbuatan, dan akhirnya kebiasaan dan karakter baru!.  Kita tidak mampu melakukannya dengan kekuatan sendiri, tetapi kita dimampukan oleh Roh Kudus!.  Tampil beda untuk membawa kebaikan dengan melakukan kehendak Tuhan ada ongkos yang harus dibayar!. Ditolak, mendapat tantangan, bersabar dan kerja keras!. Namun percayalah ongkos yang dibayar itu tidak sia-sia. Firman Tuhan Roma 8:18 akan menguatkan kitaSebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita”.

 

Pola pikir yang baru akan memperbarui tujuan hidup kita dan merubah prioritas-prioritas kita dalam hidup.  Yang dulu kita anggap penting, kini menjadi tidak penting lagi!. Yang terpenting mengetahui dan melakukan kehendak Tuhan dalam hidup kita. Menyenangkan hati Tuhan dan mengasihi sesama.  Mari sebagai murid-murid Kristus, tampil beda dalam pola pikir, sikap, perbuatan dan karakter untuk membawa kebaikan bagi sesama dan terutama menyenangkan hati Tuhan. (St. Giunseng EP. Manullang)

 

Renungan Harian : Senin, 28 Oktober 2013
 26 Oct

Menghadapi Kesulitan Dan Ketidakpastian

Filipi 4:6-7

 

"Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus."

Dalam  masyarakat kita di Indonesia sekarang ini, makin terasa banyak kesulitan dan ketidakpastian yang kita alami dalam  kehidupan sehari-hari. Persoalan ekonomi semakin lama semakin menekan. Harga-harga keperluan sehari-hari seperti sandang, pangan, biaya sekolah, biaya kesehatan bahkan harga rumah semakin tidak terjangkau oleh kebanyakan orang. Peningkatan pendapatan berjalan sangat lambat. Sementara harga barang dan jasa naik tidak terkejar. Demikian juga dalam kehidupan politik semakin sulit untuk mencari pemimpin yang dapat dipercaya. Kelihatan pada mulanya baik, tetapi sesudah berkuasa gemar ikut korupsi.  Keadaan ekonomi semakin fluktuatif , baik karena sebab-sebab dari dalam atau dari luar negeri. Sungguh semakin banyak kesulitan dan ketidakpastian!. Yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri.

Ditingkat global pun terjadi hal yang sama. Di negara-negara maju pun terjadi berbagai krisis. Di Eropa, beberapa negara maju mengalami krisis ekonomi seperti di Yunani, Spanyol, Portugal dan bahkan Italia. Terjadi pengangguran yang sangat tinggi di negara-negara tersebut. Di Amerika Serikat pun terjadi krisis ekonomi, pengangguran yang tinggi, dan krisis dalam pemerintahan. Di wilayah Timur Tengah proses demokratisasi yang dimulai di Tunisia, kemudian ke Mesir, Libya, dan sekarang di Siria yang dikenal dengan “Arab Spring”, yang awalnya memberi harapan bagi kelas menengah di wilayah tersebut untuk lepas dari kediktatoran pemimpin lama. Sekarang berbalik lagi ke suasana yang memprihatinkan,  karena terjadinya perang saudara dan perseteruan sipil. Alam pun tidak bersahabat, pemanasan global dan bencana alam yang silih berganti hampir di semua wilayah dimuka bumi ini, seperti banjir besar, gempa bumi, angin topan, kebakaran hutan.

Keadaan-keadaan yang sulit dan menimbulkan ketidakpastian itu, membuat hati kita menjadi risau dan tidak sedikit yang kehilangan pegangan dalam menjalani kehidupan. Harapan kita agar kehidupan semakin baik makin terasa jauh dari realitas. Rasa kuatir dan ketidakpastian itu makin bertambah,  karena pemberitaan tentang keadaan sulit tersebut sangat cepat menyebar dalam era teknologi informasi dewasa ini.  Suatu peristiwa yang terjadi di belahan dunia lain dapat dengan segera kita ketahui bahkan kadang-kadang dapat dilihat secara langsung via televisi atau internet di tempat kita berada. Alkitab  sudah menubuatkan keadaan-keadaan sulit seperti disebutkan di atas dalam  2Timotius 3:1-2 “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.  Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama” .

Dalam keadaan seperti itu, apa yang dapat kita lakukan? Tentu kita dengan kekuatan sendiri tidak kuasa untuk merubah keadaan yang terjadi saat ini.  Namun ada kabar baik!. Firman Tuhan dalam Filipi 4:6-7 ini memberikan solusi tentang bagaimana kita bersikap menghadapi keadaan ini. Dengan kekuatan dari Tuhan kita diminta bersikap: (i) jangan kuatir mengenai apapun juga;  Kekuatiran ini tidak membuat kita menjadi lebih baik, tetapi lebih sulit . Tidak kuatir, tetapi tetap aktif dan pro aktif berusaha atasi setiap masalah. Dengan demikian yang perlu kita jaga adalah hati dan pikiran kita.  Tidak terfokus pada kesulitan dan masalah yang terjadi disekitar kita. Sebaliknya,  kita mengarahkan pandangan kita kepada Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita; (ii) menyatakan segala keinginan kita kepada Tuhan (termasuk permintaan untuk terhindar dari kesulitan). Agar kita diberi kekuatan untuk mengatasi segala masalah yang terjadi. Untuk itu, kita perlu memelihara hubungan yang erat dengan Tuhan Yesus; (iii) mengucap syukur atas segala kebaikan yang Tuhan telah berikan kepada kita. Tidak bersungut-sungut karena keadaan tidak sesuai dengan harapan kita. Namun, mengarahkan pikiran dan hati kita kepada kebaikan Tuhan yang tidak pernah berubah dan yang telah memberikan anugerah keselamatan, agar kehidupan kita dipenuhi rasa syukur.

Dengan  mengambil sikap seperti yang diamanatkan firman ini, kita akan mengalami dan menikmati damai sejahtera  Tuhan yang luar biasa. Damai sejahtera yang melampaui segala akal dan  pikiran manusia itu akan memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus, dalam masa sesulit apapun!. Amin. (St. Giunseng EP. Manullang)

 

Renungan Harian : Kamis, 24 Oktober 2013
 23 Oct

Ayat Renungan : Mikha 6:8

 

"Nunga dipabotohon ibana tu ho, ale jolma manang aha na denggan, jala manang aha na niluluan ni Jahowa sian ho, nda holan na mangulahon ukum dohot holong ni roha di habasan, jala marpangalaho haserepon maradophon Debatam".

 

“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik dan apakah yang dituntut Tuhan daipadamu ; selain berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati dihadapan Allahmu.

 

Ayat Bacaan : 2 Tawarikh 19 ; 8 – 11.

                        1 Tesalonika 3 ; 8 – 7.

 

Renungan :     

Ayat ini adalah bagian dari perikop Mikha 6 ; 1 – 16, “Pengaduan, tuntutan dan Hukuman Tuhan terhadap umat-Nya”.

Kekesalan Allah atas umat-Nya memuncak karena ketidaksetiaan Israel. Israel lupa atas pembebasan yang Tuhan berikan melalui utusan-Nya Musa, Harun dan Miryam.

Secara khusus ayat ini menjelaskan apa sebenarnya yang dikehendaki Allah dari bangsa Israel !!!

 

“Perlakuan Yang Adil”

-        Tuhan tidak melupakan harta benda yang dikumpulkan dengan cara kefasikan.

-        Takaran efa yang kurang dan terkutuk.

-        Membiarkan tidak dihukum orang yang membawa neraca palsu atau pundi-pundi berisi batu timbangan tipu.

-        Orang-orang kaya di kota yang melakukan kekerasan.

 

“Mencintai Kesetiaan”

-        Engkau telah berpaut kepada ketetapan-ketetapan Omri, kepada segala perbuatan keluarga Ahab.

-        Engkau telah bertindak menurut rancangan mereka.

 

“Hidup Dengan Rendah Hati”

Di jaman kita saat ini dapatkah kita memelihara untuk selalu berlaku adil, adil terhadap semua orang dan adil terhadap diri kita sendiri. Kita setia dan tidak mengandalkan kekuatan orang lain atau diri kita sendiri, hingga lupa untuk berserah dan memohon penyertaan Tuhan. Menjadi congkak karena harta, pangkat, kuasa dan tidak menunjukan ajaran Tuhan untuk selalu rendah hati.

 

Benar, bukan hal yang mudah, tapi Dia selalu siap dan dengan tangan terbuka, dan mari kita mulai hari ini ; adil, setia dan rendah hati. Tuhan memberkati.

(St. Victor H. Sianipar)

 

Renungan Harian : Rabu, 23 Oktober 2013
 22 Oct

Ayat Renungan : Markus 12 : 33

 

Jala mangkaholongi Ibana sian nasa ateate, sian nasa roha dohot sian nasa gogo huhut mangkaholongi dongan songon diriniba, ummangat do i sian saluhut angka pekan situtungan nang pekan na asing pe.

 

Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari semua korban bakaran dan korban sembelihan.

 

Ayat Bacaan : 2 Tawarikh 19 ; 1-7.

1 Tesalonika 3 ; 4-7.

 

Renungan :     

Dalam membenarkan diri, maka salah satu upaya yang dilakukan oleh para Imam adalah mencobai Yesus, dengan harapan untuk memperoleh jawaban yang sesuai dengan apa yang sudah mereka lakukan, sebagai pembenaran atau agar Yesus menjawab salah sehingga Yesus dipersalahkan. Perintah Tuhan yang terutama yang disampaikan Musa kepada bangsa Israel (Ul 6 ; 5) oleh Imam dipertanyakan kepada Yesus, namun Yesus tidak pernah salah.

Yesus juga mengingatkan kualitas ketaatan dalam mengikuti perintah Allah, tidak boleh setengah hati, asal-asalan atau tidak sungguh-sungguh. Maka sangat tepat apabila dalam setiap Ibadah kita mendoakan : “ Ya Tuhan Allah kuatkanlah kami untuk dapat melakukan yang sesuai dengan kehendak-Mu”.

Ukuran kualitas “kasih” sering dibandingkan, sebagaimana kita terhadap diri kita sendiri. Jangan kita menghendaki yang terbaik untuk diri sendiri, untuk teman dan saudara-saudara kita asal-asalan saja. Gambaran lain adalah sebagaimana kasih dalam perkawinan, kasih dalam hubungan Allah dan bangsa Israel (Hos 6 ; 4-6). Yesaya menggambarkan kasih Allah kepada Israel sebagaimana seorang Ibu kepada anaknya (Yes 49 ; 15).

Maka renungan berikut adalah masalah korban bakaran dan korban sembelihan. Korban bukan tujuan, korban adalah alat, perantara yang harus menunjukan kesungguhan.

Maka Yesaya 1 ; 10-20 menjelaskan ; bertobat jauh lebih baik dari mempersembahkan korban.

Saudaraku yang kekasih, mari kita camkan dan renungkan kembali :

-        Jangan cobai Tuhan Allahmu.

-        Kasihilah Tuhan Allahmu dengan sungguh-sungguh.

-        Kasihilah sesamamu manusia dengan tulus.

-        Pertobatan jauh lebih baik daripada mempersembahkan korban atau korban sembelihan.

Salam sejahtera, mari kita bersemangat untuk mengisi hari ini dengan hal-hal yang terbaik. (St. Victor H. Sianipar)

Renungan Harian : Selasa, 22 Oktober 2013
 21 Oct

Nats Renungan ; 5 Musa 7 : 9

Dibahen i tama ingkon boonmu, Jahowa do Debatam, Ibana do Debata na sintong jala na bonar, na pasintong padan dohot asi ni roha tu halak, angka na manghaholongi Ibana dohot tu angka na mangaradoti tonana, pola maribu-ribu sudut.

 

Sebab itu haruslah kau ketahui, bahwa Tuhan, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang  pada perintah-Nya, sampai beribu-ribu keturunan.

Bacaan : 2 Kronika 18:23-24

1 Tesalonika 3:1-3

Renungan

Terlaksananya perjanjian (padan) dengan baik, bukanlah semata-mata karena kesempurnaan isi Perjanjian. Bagi mereka yang menulis perjanjian ada kaidah-kaidah pokok yang menjadi dasar membuat perjanjian yang baik, a.l :

·         Isinya harus memuat aturan-aturan, sehingga untuk pihak-pihak yang berjanji akan lebih baik memenuhi dan menyelesaikan perjanjian itu daripada menghentikan dan ingkar di tengah jalan.

·         Memuat hak dan tanggung jawab masing-masing pihak secara jelas, bukan abu-abu.

·         Memperhatikan berbagai risiko/risk dan menyediakan aturan penyelesaian, terutama apabila timbul perselisihan.

Namun suksesnya perjanjian bukan itu, tetapi kualitas dari mereka yang berjanji. Membuat

perjanjian dengan orang yang tidak baik, bersiagalah untuk bertengkar.

Apakah kita meragukan Tuhan Allah yang menjadi pihak yang berjanji? Kalau kita meyakini dan  percaya, Tuhan adalah pihak yang setia dan tidak akan mangkir akan janjinya, mari kita lihat diri kita, saya, dan Anda sebagai pihak lain yang berjanji. Sudahkah kita setia dan memenuhi janji kita kepada Allah? Kalau belum mari kita berdoa memohon ampunan serta meminta kekuatan dan bimbingan

Allah agar kita dimampukan untuk melaksanakan dan menjalankan hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Selamat beraktifitas. (St. Victor H. Sianipar)

Renungan Harian : Sabtu, 19 Oktober 2013
 18 Oct

KETIKA KITA MENGASIHI SAUDARA KITA, ALLAH HADIR BERSAMA-SAMA DENGAN KITA

(1 Johanes  4; 20) Jikalau seorang berkata : "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena  barang siapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.

Jikalau kita baca kitab para nabi dibuku perjanjian lama, alangkah indahnya kita melihat Musa misalnya, dapat berdialog dengan Allah. Allah yang mahabesar, maha kudus, mahamulia, yang menciptakan alam semesta melalui firmanNya, sedang dilain pihak Musa adalah manusia biasa yang melarikan diri keMidian karena takut kepada Firaun setelah rahasianya membunuh orang Mesir diketahui orang. Siapakah kita ini dibandingkan dengan Tuhan yang mahakudus dan mahamulia itu? Musa menjadi orang penting, orang yang luarbiasa, oleh karena kasih Tuhan kepada bangsa Israel, Musa yang tadinya bukan siapa-siapa menjadi nabi yang besar, yang dipakai Tuhan memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Disini kita lihat kasih Tuhan begitu berkuasa. Yang menjadi pertanyaan sekarang apakah kita masih punya kesempatan seperti para nabi pada masa-masa Perjanjian Lama untuk berjumpa atau berbicara dengan Tuhan kita yang kudus itu?

 

Kasih itu begitu berkuasa karena sebenarnya kasih itu adalah Allah sendiri (1 Johanes 4; 16), sehing gaji kalau kita hidup didalam kasih, maka sebenarnya Allah itu sedang bersama-sama kita. Oh,…sungguh indah sekali, kita dapat merasakan hadiratNya. Dan kalau kita merasakan hadiratNya, Roh Kudus akan berkarya menuntun, membimbing, melindungi serta menguatkan kita, didalam kehidupan, pekerjaan kita.

 

Kasih menurut bahasa Yunani ada empat kata untuk kata “kasih/ cinta”. Agape adalah kasih yang tak bersyarat, eros adalah kasih yang menginginkan, philia adalah kasih antara sahabat/ saudara, dan storge adalah ungkapan kasihk odrati, seperti antara orang tua kepada anak (jarang dipakai)

Apabila kita melihat betapa besarnya kasih Allah kepada manusia, sehingga dikaruniakan NyaAnakNya yang Tunggal itu, supaya barang siapa percayaakan Dia akan memperoleh keselamatan (Yohanes 3; 16). Kita melihat kuasa kasih yang demikian besar yang dapat menyelamatkan seluruh umat manusia yang percayaakan Dia, kasih yang yang tidak menuntut balas/jasa (kasih agape).

 

Demikian juga pada saat Tuhan Yesus menampakan diriNya di pantai Danau Tiberias, Yesus menanyakan kepada Simon Petrus sampai tiga kali, apakah Petrus mencintaiNya? Jikalauya, Yesus berkata “gembalakanlah domba-dombaKu”  dan kita tahu kemudian Petrus memegang perkataan Yesus untuk memberitakan injil, sampai-sampai ia mati disalibkan dengan kaki keatas dan kepala kebawah, semuanya itu terjadi karena kuasa kasih yang terbangun antara Yesus dengan murid-muridNya, ataukasih yang biasa terjadi antar sahabat, (kasihphilia).

Demikian juga kalau kita baca kitab Kidung Agung, disana kasih kepada Tuhan juga kasih yang menggairahkan, yang melibatkan tubuh dan jiwa kita (kasih Eros), sebenar akhir-akhir ini, kita sering menyalah artikan kasih eros hanya kasih berdasarkan seks saja, tetapi sebenarnya kasih antara kedua mempelai yang melibatkan tubuh dan jiwa mereka. Alkitab beberapa kali menggambarkan kedatangan Yesus yang kedua kalinya sebagai mempelai laki-laki yang ingin bertemu/ berjumpa dengan kita orang-orang percaya sebagai mempelai perempuan.

 

Dari rumusan kasih tersebut mengasihi saudara kitas endiri adalah merupakan katagori kasih philia, atau juga bagian dari pada hokum taurat yang diberikan Allah, dimana kita juga harus mengasihi sesame manusia. Sudah tentu jikalau kita mengasihi Allah, maka kita juga akan melaksanakan segala perintahnya dengan sukacita, serta mengasihi sesama kita manusia yang diciptakanNya. Dengan demikian benarlah yang dikatakan nas ini, adalah tidak mungkin kita mengasihi Allah, tetapi kita tidak mengasihi saudara kita sendiri. Amen. (St.Maurits Napitupulu)

Renungan Harian : Jumat, 18 Oktober 2013
 17 Oct

MERENUNGKAN DAN MELAKSANAKAN TAURAT TUHAN ADALAH KUNCI

KEBERHASILAN DAN KEBERUNTUNGAN DALAM HIDUP KITA

 

(Josua 1;8) Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis didalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.

Nas ini merupakan firman Tuhan kepada Yosua yang menggantikan Musa setelah dia meninggal, dapat kita bayangkan situasi saat itu, Yosua masih muda, dan juga pada saat Musa yang didampingi Yosua menghadap Tuhan, Tuhan memberitahukan bahwa setelah Musa mati, makabangsa Israel yang tegar tengkuk itu akan memberontak kepadaTuhan dengan menyembah ilah-ilahlain, sehinggaTuhan menghukum mereka. Hal demikian membuat Yosua galau, apakah dia mampu melanjutkan tugas menggantikan Musa memimpin bangsa Israel itu memasuki tanah perjanjian (tanah Kanaan). Oleh karena itu Tuhan membimbing Yosua dan menguatkan dia agar tidak gentar. Tuhan memberikan kepada Yosua dua kunci menuju keberhasilan dan keberuntungan, yaitu, pertama, supaya memperkatakan dan merenungkan Taurat Tuhan siang dan malam, serta yang kedua supaya Yosua hati-hati dan tidak menyimpang dari taurat Tuhan tersebut.

 

Kunci yang pertama: memperkatakan dan merenungkan taurat Tuhan siang dan malam dimaksudkan agar Yosua paham, mengerti akan taurat tersebut serta memegangnya dalam kehidupan sehari-harinya, sehingga taurat Tuhan tersebut bukan menjadi hukum atau undang-undang yang harus ditaati, bahkan merupakan pedoman hidup yang menuntun kita terhadap sesuatu yang akan kita lakukan. Yosua juga diminta untuk memperkatakan taurat Tuhan tersebut dengan orang lain, agar orang lain bersama-sama Yosua melakukan dan menjadikan taurat Tuhan tersebut pedoman hidupnya.

 

Kunci yang kedua: Yosua harus hati-hati dalam bertindak, apakah tindakan yang dilakukan atau yang akan dilakukannya masih sejalan dengan taurat Tuhan tersebut, sebab si iblis itu sangat licik dan telah memiliki jam terbang yang lama/ pengalaman didalam menjerumuskan orang kedalam dosa (dari sejak Adam dan Hawa), oleh karena itu Yosua harus pandai-pandai membedakan suara Tuhan atau suara si iblis. Biasanya Roh Tuhan akan membimbing kita yang berkepentingan dengan roh, sedang si iblis selalu mendorong kita yang berkaitan dengan hal-hal kedagingan.

 

Selanjutnya dapat kita lihat bukti bahwa firman Tuhan itu benaradanya, Yosua benar dimata Tuhan didalam melaksanakan firmanNya, sehingga dia berhasil memimpin bangsa Israel memasuki tanah Kanaan setelah menaklukan suku, bangsa-bangsa, yang harus dilaluinya menuju tanah perjanjian itu.

Bagaimana dengan kita sekarang ini, apakah kunci-kunci keberhasilan dan keberuntungan yang disampaikan oleh Tuhan kepada Yosua masih relevan dengan kehidupan kita sekarang ini? Yesus merumuskan atau menjadikan saripati dari hukum taurat itu adalah: Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap jiwamu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama manusia harus kita renungkan siang dan malam dan memperkatakannya dengan orang lain serta mengimplementasikannya, agar Roh Tuhan membimbing/ menuntun kita, serta melindungi/ membungkus kita menuju damai sejahtera yang dariTuhan, sebagaimana juga Tuhan memimpin bangsa Israel menuju tanah perjanjian berupa tiang awan dan tiang api. Amen (St. Maurits Napitupulu)

Renungan Harian : Kamis, 17 Oktober 2013
 16 Oct

MENJADI ORANG BENAR DIHADAPAN TUHAN, MENJADIKAN KITA IKUT AMBIL BAHAGIAN DALAM RENCANA ALLAH

(Lukas 1;6) Keduanya adalah benar dihadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat.

Nas ini mengatakan, Tuhan memilih orang benar, Zakaria dan Elizabeth didalam mempersiapkan rencana penyelamatan manusia dari dosa-dosanya. Rencana yang sudah dinubuatkan oleh nabi Yesaya, akan datang kelak seorang yang berseru-seru di padang gurun, yang menyerukan persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagiNya. Orang itu adalah Yohanes pembabtis putra dari Zakariadan Elizabeth, dia ditugaskan oleh Tuhan mempersiapkan umat yang layak bagi kedatangan penebus kitaYesus Kristus. Sungguh suatu kebahagiaan dan sukacita bagi Zakaria dan Elizabeth dan tentunya bagi kita semua apabila kita dipakai Tuhan bagian darirencanaNya untuk keselamatan manusia.

 

Sebenarnya jika kita pahami perintah agung dari Tuhan kita agar kita pergi menjadikan seluruh bangsa muridNya dan membatis mereka dan mengajar mereka melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkanNya, maka sebenarnya kita pun sama dengan Zakaria dan Elizabeth sebagai orang-orang pilihan Tuhan untuk melaksanakan penyelamatan manusia. Oleh karena itu sudah sepantasnya kita juga bersukacita. Mari kita belajar dari peristiwa Zakaria yang semula dia tidak percaya, bahwa istrinya yang sudah tua akan mengandung, sehingga dia ditegur Tuhan menjadi bisu hingga saat anaknya Yohanes akan diberikan nama. Kita juga harus percaya perintah agung kepada kita merupakan penghargaan, dan kesempatan kepada kita, untuk ambil bagian dalam rencanaTuhan.

 

Jika kita lihat nas diatas, Tuhan memilih Zakaria dan Elizabeth karena mereka adalah orang benar dihadapan Allah, kita juga harus meniru mereka sebagai orang benar, supaya kita ikut serta didalam rencana Allah, sebab Tuhan telah bersabda, bahwa Tuhan telah menaruh tauratNya didalam batin kita manusia dan menuliskannya didalam hati kita (Yeremia 31;33). Sehingga kita tahu apa benar dimata Tuhan, tinggal sekarang yang menjadi persoalan adalah, siiblissukamenyamarsepertimalaikat yang bijaksana untuk menipu kita, sebagaimana si Hawa istrinya Adam diperdayai si iblis untuk melanggar perintah Tuhan, sehingga kita jatuh ke dalam dosa. Oleh karena itu, supaya kita bagian dari rencana Allah, rencana damai sejahtera. Maka kita harus waspada terhadap tipudaya si iblis, pikiran-pikiran, ide dan keinginan yang muncul didalam hati kita harus senantiasa kita uji apakah itu datang dari Allah atau si iblis, dan supaya kita mampu menguji, kita harus senantiasa bergumul, memahami firmanTuhan, baik melalui saat-saat teduh yang dilakukan secara teratur, persekutuan untuk pemahaman alkitab maupun pada ibadah. Kita jadikan Yesus itu sahabat kita, sudah tentu sebagai sahabat kita langsung mengerti apakah yang menjadi keinginan atau sahabat kita. Amen (St.MauritsNapitupulu)

 

 

Renungan Harian : Senin, 14 Oktober 2013
 12 Oct

Mengapa Koruspsi

Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagi-bagi duka.

(1 Timotius 6 : 10)

Saat ini, masalah korupsi telah melilit seluruh sendi kehidupan kita bernegara. Mata semua masyarakat tertuju kepada KPK untuk melihat dan mendengarkan apa keputusan TIPIKOR terhadap kasus-kasus korupsi yang diadili. Atas semua keputusan yang di tetapkan, ada yang puas dan banyak yang kecewa. Banyak yang berkomenter bahwa diperlukan hukuman yang keras agar membuat jera para koruptor dan membuat rasa takut terhadap orang-orang lain yang mencoba untuk korupsi. Untuk mencari cara-cara yang tetap guna membuat para koruptor jera, ahli  dari berbagai bidang Ilmu berkumpul untuk mencarikan solusi bagaimana mengatasi penyakit kejahatan korupsi yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita.

 

Kejahatan korupsi bukan sekedar kebejatan moral belaka, bukan masalah kelicikan atau nafsu merampas harta Negara. Apabila solusi pencegahan korupsi hanya persoalan hukum berat saja, maka korupsi akan terus menjalar dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hukuman mati yang dilakukan oleh Pemerintah Cina saat ini tidak membuat jera orang-orang lain di Cina yang memiliki kesempatan untuk korupsi, tahun lepas tahun kejahatan itu tetap berlangsung. Di Negara Barat seperti Amerika atau Eropah, korupsi masih tetap berlangsung dengan cara yang teratur rapi.

 

Kejahatan yang dilakukan oleh manusia mempunyai akar yang sangat dalam, yaitu di dalam hati manusia. Kata Tuhan Yesus : “ …dari dalam, dari hati orang timbul segala pikiran jahat… ( Markus 7 : 21). Pikiran jahat inilah yang menggerakkan manusia untuk melakukan berbagai tindakan kejahatan.Itulah yang terjadi dalam kehidupan manusia dari zaman ke zaman. Kejahatan itu berawal dari dosa manusia sehingga masalah dosa adalah masalah rohani. Pada saat manusia jatuh kedalam dosa, manusia hidup di dalam kegelapan karena TUHAN tidak lagi bersama manusia ( Roma 3 : 23 ).

 

Didalam kegelapan itulah manusia mencari arti kehidupannya. Seperti pada piramidal Abraham Moslow dalam Teori Motivasi, manusia secara bertahap mengejar kebutuhan hidupnya. Hal ini dimulai pada kebutuhan dasar seperti : makan, rumah dan kenyamanan. Kebutuhan ini berjalan secara bertingkat seperti : hidup mapan, bebas dari rasa takut dan pada ujungnya adalah aktualisasi diri.Maslow menggunakan istilah aktualisasi diri untuk menggambarkan motivasi yang dapat menyebabkan terwujudnya keinginan seseorang.Selanjunya Maslow tidak merasa bahwa aktualisasi diri ditentukan oleh hidup seseorang, melainkan, ia merasa bahwa hal itu memberi individu keinginan, atau motivasi untuk mencapai ambisinya.

 

Dalam memenuhi ambisi inilah manusia mencari alat untuk bisa memuaskan dirinya. Dari semua yang ada dan yang bisa dipergunakan manusia untuk memuaskan dirinya, ternyata “uang” adalah satu-satunya alat yang bisa dipergunakan. Dengan uang, manusia bisa membeli kekuasaan, membangun harga diri, merawat kesehatan, menikmati kesenangan dan kebahagiaan.Semua ambisi bisa diperoleh melalui kepemilikan uang yang melimpah. Oleh karena itu, dengan segala cara dan upaya, manusia berlomba-lomba untuk memiliki uang guna memuaskan hasratnya. Itulah penyebab adan akar motivasi manusia memburu uang. Dan hal ini sesuai dengan dasar firman pada 1 Timotius 6 : 10 adalah akar segala kejahatan.

Kejahatan adalah masalah rohani dan masalah rohani hanya bisa diselesaikan oleh kuasa Roh.Roh inilah yang menuntun manusia berjalan dalam kebenaran. Keinginan daging adalah perseteruan dngan Allah, karena ia tidak berjalan di dalam kebenaran; tetapi keinginan Roh adalah membawa kita di dalam kebenaran dan damai sejahtera. Didalam damai sejahtera Allah itu, kita tidak lagi dikuasi oleh motivasi daging untuk mengejar nafsu serakah yang memabukkan. Kehidupan dalam damai sehjahtera itu membuat hidup kita tentram untuk selama-lamanya. Disitu tidak ada lagi kekhawatiran, tidak ada lagi kegelisahan, tetapi hidup dalam pengharapan yang terjamin oleh Tuhan di dunia ini dan sampai pada akhir zaman.

(Ev. Togu S. Hutagaol)

 

Renungan Harian : Sabtu, 12 Oktober 2013
 11 Oct

Rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi

Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?

(1 Petrus 4 : 17)

Kita pasti tidak suka untuk memikirkan tentang penghakiman yang terjadi terhadap siapapun, khususnya apabila penghakiman tersebut menyangkut diri kita sendiri.Oleh karena itu mungkin perasaan kita menjadi terganggu ketika Rasul Petrus menyebutkan bahwa penghakiman dimulai pada rumah Allah sendiri. Mungkin kita tidak merasa terganggu apabila dikatakan bahwa penghakiman akan dimulai pada orang yang tidak percaya kepada Yesus. Tetapi, apabila Petrus mengatakan : bahwa pertama-tama penghakiman dimulai pada rumah Allah sendiri; apa yang Petrus maksudkan ?

 

            Rasul Petrus menyebutkan kata penghakiman beberapa kali yaitu pada 1 Petrus 2 : 17;     2 : 23 dan 4 : 5 – 6. Dalam semua ayat itu penghakiman tersebut adalah penghakiman Allah atas ketidak setiaan umat.Penghakiman ( Krima = Yunani, adalah keputusan setelah pertimbangan hukum). Pokok pengajaran ini menjadi lebih jelas jika kita menyelidiki maksud penghakiman Allah atas tradisi Yahudi dalam Perjanjian Lama. Dalam Yehezkiel 9 : 5 – 6, dikatakan : “ Ikutilah dia dari belakang melalui kota itu dan pukullah sampai mati….. Dan mulailah dari tempatkudusKu “. Nabi Yeremia juga mengatakan hal yang sama : “ Sebab sesungguhnya di kota yang namaKu telah diserukan diatasnya, Aku akan memulai mendatangkan malapetaka; masakah kamu ini bebas dari hukuman ? ( Yeremia 9 : 29 ). Oleh karena itu, bangsa-bangsa lain tidakakan bebas dari penghukuman karena penghakiman telah dimulai atas umat Allah sendiri.

 

            Apabila penghakiman dimulai dari rumah Allah sendiri, apa maksud Allah untuk semuanya itu. Apakah Allah menghukum kita untuk membuang kita jauh dariNya ? Ternyata didalam hati Allah yang penuh kasih karunia dan panjang sabar itu, Ia  melakukansemuanya itu agar kita dididikNya untuk kembali kepadaNya. Allah penuh kasih dan panjang sabar, tanganNya terbuka untuk umat yang kembali kepadaNya. Dalam Korintus 11 : 31-32, dikatakan : “ Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukum tidak menimpa kita. Tetapi kalau kita menderita hukuman dari Tuhan, kita dididik, supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dunia “. Dalam penjelasan itu, kita mengerti sekarang bahwa apabila kita jatuh di dalam berbagai pencobaan, maka kita percaya bahwa Allah sedang menuntun kita untuk mengenalNya lebih baik lagi.

 

            Pencobaan bisa terjadi dalam berbagai pengalaman dalam kehidupan kita, untuk itu bagaimana kita memaknainya ?Apakah kita menjadi putus asa dalam menghadapinya ?Rasul Yakobus mengatakan : “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagi pencobaan “ ( Yakobus 1 : 2 ). Pencobaan yang dimaksudkan disini adalah untuk membuat kita tahan uji dan membangun pertumbuhan iman ( Yakobus 1 : 3 – 4). Tuhan tidak ingin anak-anakNya dan hamba-hambaNya terlena oleh pesona dunia.Pergumulan adalah lonceng untuk menyadarkan kita bahwa TUHAN senantiasa membuka tanaganNya untuk menerima kita. Kata Yesus : “ datanglah kepadaKu yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadaMu “.  Alangkah ajaibnya cara Allah untuk menuntun kita setia kepadaNya. Tidak terjangkau akal pikiran semua yang dilakukanNya kepada kita. Amen.

(Ev. Togu S. Hutagaol)

Renungan Harian : Jumat, 11 Oktober 2013
 11 Oct

Persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah

Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.

(Yakobus 4 : 4)

Bagaimana rasanya apabila kita disebut sebagai orang yang tidak setia oleh Pendeta  gereja kita di muka umum? Pasti muka kita merah, dan perasaan malu membuat kita menghindar dari kumpulan orang banyak, lari dan marah. Yakobus suka mengucapkan perkataan-perkataan yang sangat tajam, seperti ucapannya dalam Kitab Yakobus 4 : 4 ini merupakan salah satunya. Tampaknya Yakobus bukan bermaksud untuk mengkritik jemaatnya, tetapiia berargumentasi bahwa seseorang tidak mungkin mengasihi Allah dan sekaligus juga mengasihi dunia.Bahasa yang digunakan oleh Rasul Yakobus dalam ayat ini sangat keras. Secara harafiah Yakobus menyebut para pembacanya “ orang yang tidak setia “.

 

Untuk memahami dasar peringatan ini, kita perlu melihat bahwa dalam Perjanjian Lama Israel disebutkan sebagai mempelai perempuan Allah. Dalam kitab Yesaya dan para nabi lainnya dikatakan dalam penyelewenganyang dilakukan Israel adalah :ingin memiliki “ kekasih-kekasih” lain; hal ini menggambarkan bahwa Israel juga menyembah dewa-dewa lain dan kuasa-kuasa kegelapan disamping Allah. Sejalan dengan gambaran ini, dalam Perjanjian Baru disebutkan bahwa orang percaya adalah mempelai Kristus.Oleh karena itu” mempelai Kristus” yang bersahabat dengan dunia adalah orang-orang yang tidak setia.

 

Yesus menggambarkan situasi yang serupa ketika Dia mengatakan : “ Tidak seorangpun mengabdi kepada dua tuan, kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon ( Matius 6 : 24 ). Masalahnya disini bukanlah sebaik apa kita bisa melayani dua tuan, tetapi pada dasarnya kita tidak bisa melayani dua tuan sekaligus. Misalnya; Apakah kita bisa berdiri diatas dua “sampan” sekali gus diatas air ? Coba kita lihat : apabila kaki yang satu menginjak sampan yang satu dan kaki lain menginjak sampan yang lain, apakah kita bisa terus berdiri tegak ? Jawabnya tentu tidak. Lama-kelamaan kedua kaki kita akan terentang dan salah satu dari kaki kita akan terlepas dari sampan, kemudian kita akan terlempar ke air. Hal itupun bisa terjadi dalam mengabdi kepada dua tuan. Lama-kelamaan akan terjadi kecenderungan untuk mengasi salah satu tuan. Dalam konteks pengajaran Yesus, kita harus mengingat bahwa TUHAN adalah kekasih yang pencemburu.

 

Yang dimintakan oleh Yakobus kepada jemaatnya adalah semata-mata agar mereka menyerahkan hidupnya secara total kepada TUHAN. Dengan demikian ayat ini merupakan sebuah peringatan, karena mereka akan menjadi musuh Allah apabila mereka masih mementingkan dunia. Hal ini tidak berarti bahwa kita harus “meninggalkan” dunia, tetapi yang dimaksudkan adalah  jangan kita jatuh dalam pelukan “pesona” dunia. Pesona dunia tersebut yang berupa Mamon, dapat berupa “ kekayaan dan kenikmatan hidup ”. Ketergantungan manusia kepada kenikmatan hidup dan kekayaan, bukan kepada TUHAN akan membuat pertumbuhan rohani kita terhimpit. Dikatakan :  “ Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh…..kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang “ ( Lukas 8 : 14 ). Buah yang matang adalah buah kehidupan yang diinginkan Yesus yang membuat kita menjadi garam dan terang dunia. Dan buah itu akan terhilang apabila kita bersahabat dengan dunia. Amen. (Ev. Togu S. Hutagaol)

Renungan Harian : Kamis, 10 Oktober 2013
 10 Oct

"Keadilan dan Hukum di mata Tuhan"

Nas Bacaan : Mazmur 33 : 5

Dalam tradisi Yahudi pembacaan Mazmur ini ; Mazmur 33 : 1 - 22 dibacakan pada hari sabat ibadah pagi Pesukei Dezimra dan hari raya Yom Tov dan juga pada hari-hari puasa Behab. Keadilan dan pelaksanaan hukum dalam masyarakat manusia, Tuhan selalu melihat bagaimana pelaksanaan hukum untuk menegakkan keadilan dalam kehidupan manusia.

 

Tuhan sebagai pencipta alam semesta adalah adil dan mengasihi keadilan, sehingga orang yang tulus dan jujur yang memutuskan pelaksanaan hukum secara adil, akan selalu memandang wajah-Nya (takut akan Tuhan), sebagaimana dikatakan di Mazmur 11 : 7.

 

Puji-pujian pada Mazmur ini menyebutkan sifat-sifat moral Allah sebagaimana ditunjukkan selama dalam sejarah manusia yaitu ; Ketulusan , Kesetiaan , Kebenaran , Keadilan dan Kasih Setia ( 5 K ) yang semuanya memberikan gambaran tentang Dia.

 

Sehingga untuk me-respon sifat-sifat moral Allah tersebut, pe-mazmur menyatakan dengan ketulusan dan keiklasan, sebagaimana tertera pada mazmur 4 : 10 – 11 “ Aku mengabarkan keadilan dalam  dalam jemaah yang besar (konteks : sidang pengadilan) bahkan tidak kutahan bibirku (menyatakan azas kebenaran dan keadilan ), Engkau juga yang tahu, ya Tuhan. Keadilan tidaklah kusembunyikan dalam hatiku, kesetiaan-Mu dan keselamatan dari pada-Mu kubicarakan (kasih dan anugrah dari Tuhan Jesus), kasih-Mu dan kebenaran-Mu tidak kudiamkan kepada jemaah yang besar.

 

Oleh karena itu , para penegak keadilan terutama Hakim Pengadilan ; sebelum memutuskan perkara pengadilan harus melandaskan atas kesetiaan dan keselamatan Tuhan yang akan diberikan-Nya. Kasih dan kebenaran hendaknya menjadi dasar dan jiwa hukum.  

A m e n (St.Ir. Jonas S.C Siregar)

Renungan Harian : Rabu, 9 Oktober 2013
 08 Oct

"Menjadi Kaya...? takut akan Tuhan..!!"

Nas bacaan : Mazmur 49 : 17 - 18

 

Ayat ini mengajarkan bahwa kekayaan adalah akar keruntuhan dan untuk mengajari bahwa hidup di bumi adalah untuk mengembangkan spiritual dan bersiap untuk alam baka (Ibarani : olam haba).

 

Tradisi kaum Yahudi ; ayat ini sering dibacakan pada ibadah Parshat Shekalim atau pada pembacaan Maariv di dalam rumah duka (Ibrani : Shiva).

 

Kadang manusia mengejar kekayaannya hanya untuk kemuliaannya semata , falsafa batak : “malului hamoraon, mangalap hasangapon, sehingga ada pepatah (umpasa) : “jala mardosir mardosar aek ni pora-pora, na lipe i gabe toho molo hata ni na mora “, yang artinya ; bila orang kaya yang bicara walaupun salah akan dianggap benar “.

 

Pepatah lainnya : “Nunut (keuletan) do siRaja ni ompuna, molo naeng jumpangan uli ingkon olo do loja”, itulah kata-kata bijak orang tua, untuk menjadi kaya harus ada norma-norma, aturan dan hukum , etika sosial serta etika berbisnis, terpenting adalah Dekalog Sosial seperti yang ditunjukkan kepada umat-nya di Mazmur 15 : 1 – 5.

 

 Ayat 17 dan 18 ini menyatakan Kemuliaan bukan terletak pada kekayaan, tetapi kemuliaan bertambah karena dimata Tuhan ; dia benar..!! (orang benar dan jujur), meskipun orang fasik-pun bisa diberkati kaya, yang mana masa hidupnya karena mereka percaya akan harta bendanya dan memegahkan diri dengan banyaknya kekayaan mereka (ayat 7), karena tebusanya adalah Hukum Maut…!).

Namum kekayaannya tidak pernah dipuji orang setelah mati, tetapi orang benar dipuji karena berbuat baik, dan selalu dipuji orang setelah meninggal dunia, oleh kebenarannya dahulu (jujur), karena kesejahteraan itu sementara dan bersifat semu, tetapi kematian akan mengakhiri semua.

Tuhan Jesus memberikan perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus orang miskin di Injil Lukas 16 : 19 – 31, pada ayat 19 merupakan refleksi dari pernyataan di Mazmur 49: 7 – 8, meskipun si orang kaya itu tidak jelas berbuat dosa, tetapi orang kaya itu memegahkan diri dengan bayak kekayaan ; tetapi dia tidak mematuhi  Hukum Tuhan yang ke-Dua ( Markus 12 :31 “dan hukum yang kedua ialah : Kasihilah sesamu manusia seperti dirimu sendiri ) yang berarti orang kaya itu hanya memegahkan dirinya dengan kekayaannya, tetapi dia tidak memegahkan Tuhan untuk mengasihi orang yang tertindas (orang miskin), Sehingga orang kaya itu akhirnya meninggal, lalu dikubur, dan sementara ia menderita sengsara di alam maut (hukum maut), sangat kesakitan dalam nyala api (api neraka) atau disebut di-alam Hades (Yunani) atau Sheol (Ibrani : tempat penghukuman).

 

Alam Hades yang suram dan mengerikan dan digunakan sebagai tempat penyiksaan dan penderitaan (Matius 23 : 33 perkataan Tuhan Jesus “hukum neraka”), sehingga pada ayat penutup di pe-mazmur ini (ayat 21) mengatakan : “manusia, yang dengan segala kegemilangannya ( kekayaan, kehormatan dan kemuliaan ) tidak mempunyai pengertian (“Hikmat dan pengertian” pada Amsal 16:16 ), boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan”. Sungguh tragis menjadi kaya, tetapi tidak takut akan Tuhan……!!,  A m e n

(St.Ir. Jonas S.C Siregar)

Renungan Harian : Selasa, 8 Oktober 2013
 07 Oct

"JANJI YANG TIDAK MENERIMA SUAP"

Nas Bacaan : Mazmur 15 : 1 - 5

 

Mazmur ini  dibacakan oleh kaum Yahudi sebagai pembukaan Liturgi ibadah mereka, terutama pada penekanan pada ayat 4 dan  5 dalam doa berulang Amidah pada hari raya Roh Hashanah atau perayaan Pondok daun, sebagai kidung yang dinyanyikan pada waktu kaum ziarah datang ke Bait Allah.

 

Judul dalam pasal ini adalah “Siapa yang boleh datang kepada Tuhan “, dimulai dengan ayat sebagai intropeksi bagi umatNya yang ingin memuji dan memuliakanNya, dengan suatu pertanyaan pada diri sendiri dan suatu kewajiban untuk sebelum beribadah ( semacam Dekalog Sosial).

 

“ Tuhan, Siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu ? “

“ Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus ?”.

 

( Artinya datang ke Bait Allah dan tinggal disitu sebagai tamu Tuhan, Bait Allah sering disebut “kemah”, sebagai kenangan akan kemah pertemuan yang menyertai suku-suku Israel di gurun dahulu ).

Jawaban atas kedua pertanyaan itu diberikan di ayat-ayat selanjutnya, yaitu “ dia yang “ :

1.      Berlaku tidak bercela.

2.      Melakukan apa yang adil

3.      Mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya.

4.      Tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya.

5.      Tidak berbuat jahat terhadap temannya dan tidak menimpakan cela kepada tetangganya.

6.      Tidak memandang hina orang yang tersingkir.

7.      Memuliakan orang yang takut akan Tuhan.

8.      Berpegang pada sumpah , walau rugi.

9.      Tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan

10.  Tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah.

 

Untuk ayat renungan ini , khususnya ialah : “ tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah “, ternyata pe-mazmur sudah mengetahui bahwasanya hakim-hakim (angka panguhum) suka menerima suap pada setiap perkara yang ditanganinya. Perkara dapat dimenangkan  dipengadilan apabila siapa yang dapat memberikan uang (suap) kepada hakim, tidak perduli mana yang benar dan salah di-mata hukum (azas kebenaran dan keadilan), yang penting bagi siapapun yang berpekara di pengadilan “uang-lah” yang memutuskan perkara.

Sebagai pebanding lihat;  Keluaran 23: 8 “Suap janganlah kau terima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikan perkara orang-orang yang benar “.

Ulangan 16 : 19 “ Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang benar “.

 

 Yesaya 1 : 23 “ para pemimpinmu adalah pemberontak dan bersekongkol dengan pencuri. Semuanya suka menerima suap dan mengejar sogok. “

Mika 3 : 11 “ Para kepalanya memutuskan Hukum karena suap…..”

Sudah tidak heran bagi kita, bila mendengar perilaku yang tidak terpuji terhadap Hakim-Hakim di tingkat Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, Mahkamah Agung sampai tingkat suprema hukum lembaga tinggi negara yaitu Mahkamah Konstitusi  (kasus ketua hakim Mahkamah Konstitusi yang tertangkap tangan; OTT oleh institusi KPK karena menerima suap dari Bupati yang berpekara).

 

Nabi-nabi terdahulu sudah menubuatkan tentang perilaku para penegak Hukum (mulai dari Polisi, Jaksa Penuntut, sampai Hakim Pengadilan ) akan terjadi demoralisasi (kemerosotan ahlak), sampai dengan ucapan Tuhan Jesus-pun sudah diingatkan di Injil Lukas 18 :1-8 “perumpamaan tentang hakim yang tak benar”.

 

Oleh karena itu Tuhan mengingatkan kita (terutama para penegak hukum), tentang hukum yang terutama : Markus 12 : 30-31 “Kasihinilah Tuhan Allah-Mu dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu “

Selamat melayani Hamba Hukum………..!!! A m e n

(St.Ir. Jonas S.C Siregar)

Renungan Harian : Senin, 7 Oktober 2013
 05 Oct

APA YANG ENGKAU LAKUKAN KETIKA MASALAH MENGGEMPURMU

Nahum 1 : 7

 

"TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya"

 

Apa yang perlu kita lakukan ketika masalah hadir silih berganti datang menggempur dan menghantam kehidupan kita. Biasanya ketika sebuah masalah sudah terjadi didalam rumah kita, di pekerjaan, dan bahkan di dalam negara yang sedang kita pimpin, setiap orang (kita) akan mencoba membandingkan kondisi kehidupan yang kita alami dengan orang lain. Kita mungkin bisa berkata dalam hati, orang itu selalu ceria dan bersenang-senang, tetapi aku selalu bersedih dan menderita. Perhatikanlah mereka tidak pernah ada masalah, tetapi masalah dalam diriku datang bertubu-tubi. Banyak orang kristen (yang percaya kepada Kristus) bersikap membanding-bandingkan kesediahan dan penderitaannya. Tetapi ada banyak juga orang percaya yang berkata demikian “hai sahabat-sahabatku sebenarnya apa yang kau alami sekarang ini, aku juga mengalaminya”.

 

Apa arti dari pernyataan diatas ini, bahwa sesungguhnya tak seorangpun manusia di dunia ini yang bisa terlepas dari masalah. Dan semua masalah itu adalah berat dan kompleks. Jika masalah yang kita hadapi (kita katakan) sifatnya ringan maka itu bukan masalah tetapi pekerjaan rutin.  Tetapi yang perlu kita sadari adalah, bahwa Tuhan telah menyesuaikan berapa berat yang harus kita pikul, itu disesuaikan dengan kemampuan kita ( …….). Karena itu kita haruslah benar-benar memikul salib kita masing-masing dengan suka cita. Betapapun banyaknya masalah yang menggempur kehidupan kita, bagi kita (setiap orang percaya) selalu tersedia tempat mengungsi untuk berlindung, Tuhan kita Kristus Yesus adalah tempatmu dan tempatku untuk berlindung sampai maranatha.

 

Hati kita tidak boleh gelisah berlebihan, kita harus percaya, Tuhan akan menyelesaikan masalah (yang kita hadapi) secara tuntas. Setiap masalah kita, diselesaikan-Nya pada waktu yang tepat dan tidak pernah terlambat. (Joh 14: 1)

(St. PM Banjarnahor)

 

Renungan Harian : Sabtu, 5 Oktober 2013
 05 Oct

ARTI SEBUAH PENGORBANAN

1 Rajaraja 3 : 9

 

"Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?"

 

Melalui tenaga, waktu, pikiran, keahlian, harta milik dan lain sebagainya mungkin Anda pernah berkoban membantu seorang teman, Saudara. Ketika pengorbanan Anda memberi hasil tentu Anda bangga dan yang Anda tolong bahagia dan senang. Ketika teman Anda sudah tertolong dari kesusahannya, dia sama sekali tidak berbuat atau berkata apa-apa kepada Anda. Bahkan ketika Anda meminta tolong kepada teman yang pernah Anda tolong, bisa terjadi suara dari yang pernah Anda tolong serta merta menolak permohonan Anda, itulah dunia.

 

Tetapi apa yang kita lihat dalam nats ini, dari sebuah pengorbanan Salomo (seribu korban bakaran dipersembhakan) kepada Tuhan Allah, dan telah memberikan segalanya oleh Tuhan kepada Salomo

 

Tuhan bersabda kepada Salomo, mintalah apa yang hendak kuberikan kepadamu. Dalam konteks ini sesungguhnya Salomo memiliki kebebasan untuk menentukan pilihannya, tetapi kita melihat pilihan Salomo sangat berbeda jauh dari pikiran manusia, Salomo tidak meminta “hamoraon”, “hagabeon”, “hasangapon” melainkan dia hanya meminta “berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?"

 

Biarlah kita setiap orang percaya difahamkan oleh Roh Kudus untuk membedakan yang baik dan yang jahat. Sebab Tuhan Allah sudah memberikan kita hati yang penuh hikmat dan pengertian sehingga kita boleh hidup menurut jalan yang ditunjukkan Allah kepada kita orang percaya sebagaimana Tuhan telah memberikannya kepada Salomo dan kepada kita juga. Amen

(St. PM Banjarnahor)

Renungan Harian : Jumat, 4 Oktober 2013
 04 Oct

DIDALAM KRISTUS PUTUS ASA TIDAK ADA

1 Petrus 1 : 6 - 9

 

"Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu"

 

Putus asa itu sama dengan tamat, selesai, atau berakhir dan sama sekali tidak mempunyai pengharapan lagi. Sehingga seseorang yang tidak memiliki pengharapan lagi berarti dia sudah dapat dinamakan sebagai putus asa. Kenapa orang bisa menjadi putus asa, ada berbagai hal yang menjadi pemicunya, misalnya kegagalan ditengah keluarga, anak kesayangan kecanduan narkoba, suami tidak lagi pernah memberi perhatian kepada istri yang sudah bertahun-tahun duduk di kursi roda akibat struk, istri tidak lagi menghargai suami sebagai kepala rumah tangga karena sudah pensiun dan tidak lagi menghasilkan, anak terus menerus berontak menuntut ini dan itu untuk tetap bisa berfoya-foya dan masih banyak lagi. Bahkan tidak jarang seseorang yang putus asa akhirnya mengambil jalan pintas untuk menyudahi pergumulan dan perderitaannya dengan cara bunuh diri. Dan itu semua dilakukannya karena bersandar dengan kekuatan diri sendiri.

 

Kondisi demikian ada banyak dialami orang-orang pemercaya yang selalu berusaha pada kemampuan sendiri. Dia berkeyakinan bahwa dengan mengandalkan kemampuan diri sendiri

 

Karena itu kita harus percaya bahwa tanpa campur tangan Tuhan, kehidupan tidak akan pernah berarti apa-apa. Tetapi akan mejadi berarti jika kita sepenuhnya bersandar kepada Yesus Kristus. Kita harus menyerahkan segala pergumulan kita kepada Dia, biarkan Kristus Yesus yang berperang atas setiap perkaramu. Amen (St. PM Banjarnahor)

Renungan Harian : Kamis, 3 Oktober 2013
 02 Oct

Sukacita

Nas Bacaan : Filipi 1 : 12 - 26

Surat Filipi sering disebutkan orang sebagai surat sukacita. Dalam surat ini, Paulus mengungkapkan sukacitanya kepada jemaat di Filipi. Nas kita pada pagi hari ini pun berbicara tengan sukacita Paulus. Acap kita bersukacita, tatkala segala sesuatu yang kita inginkan menjadi sebuah kenyataan. Sangat langka bagi kita untuk bersukacita, tatkala keadaan kita secara fisik tidak dalam  keadaan baik. Paulus berada di penjara. Ia ditahan dalam ruang tahanan yang tidak manusiawi, jikalau ditinjau dari sudut pandang dewasa ini. Namun dari sel tahanan yang tidak menyenangkan secara fisik itu, Paulus menulis surat, lalu mengajak orang yang ada di luar penjara, bersukacita bersama dengan dia. Bersukacita di dalam Tuhan.

 

Dalam nas kita ini, Paulus mengungkapkan alasannya bersukacita. Itu sebuah pelajaran bagi kita. Paulus telah menetapkan bahwa hidup baginya adalah Kristus. Mati adalah sebuah  keuntungan. Urusannya di dunia ini hanyalah satu. Menunaikan tugas pelayanan yang diembankan Allah ke atas pundaknya. Apa pun yang terjadi dalam hidupnya, jika melalui segala sesuatu yang dihadapinya, ia semakin dekat dengan tujuan hidupnya, maka ia bersukacita.

 

Paulus bersaksi: ia berada di penjara, justru membuat Injil semakin tersebar. Sebab dengan dipenjaranya dia, ada kesempatan bagi orang di istana raja mendengarkan berita Injil. Penjara itu membawa ketidaknyamaan, bagi dia secara fisik. Tetapi karena penahamannya, ia mendapatkan kesempatan untuk memberitakan Injil. Di sisi lain, ada juga dampak dari penahamannya. Sebagian orang termotivasi untuk turut bersama Paulus memberitakan Injil. Mereka melakukannya dengan niat yang tulus. Tetapi ada juga orang yang memberitakan Injil dengan maksud yang tidak baik. Mereka mengira, dengan diberitakannya Injil di kerajaan Romawi, maka perkara Paulus semakin berat di pengadilan. Untuk kedua perkara tersebut, Paulus bersukacita.

 

Inilah satu pelajaran berharga bagi kita. Paulus menentukan tujuan hidupnya. Jika ia semakin dekat dengan tujuan hidup tersebut, ia bersukacita, sekalipun secara fisik menderita. Paulus memperkenalkan kepada kita, bentuk dari sukacita yang lain dari pada yang lain. Sukacita dalam Tuhan. Sukacita ini tidak ditentukan oleh keadaan lahiriah yang kita hadapi. Sukacita ini lebih dalam dari pada sukacita yang kita kenal sehari-hari.

 

Sebagai seorang yang menikmati persekutuan dengan Tuhannya, Paulus dengan tulus mengatakan bahwa bersama dengan Tuhan, jauh lebih baik dari pada tinggal di dunia ini. Mati adalah sebuah keuntungan, katanya. Bukankah hal ini sungguh bertentangan dengan keinginan manusia pada umumnya? Chairil Anwar pernah mengatakan dalam syairnya: “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”. Namun Paulus ingin segera mengahiri hidup ini, jika hal itu diperkenankan Tuhan. Satu-satunya alasan bagi Paulus untuk tetap berada di dalam dunia ini ialah: agar orang beriman semakin maju dalam sukacita, sebagaimana dinikmati Paulus. Sebuah pertanyaan yang perlu direnungkan secara pribadi: faktor apakah yang membuat saya bersukacita? Adakah hal itu ada kaitannya dengan Tuhan? Apakah alasan yang pasti, mengapa saya harus tinggal di dunia ini? Adakah semua alasan itu ada sangkut pautnya dengan rencana Allah bagi dunia ini? (St. Hotman Ch. Siahaan)

Renungan Harian : Rabu, 2 Oktober 2013
 01 Oct

Melimpah

Nas Bacaan : Filipi 1 : 1 - 11

 

Tatkala merenungkan nas kita ini, lantas teringat perkataan Martin Luther tentang surat Paulus kepada jemaat Filipi ini. Luther berkata: orang Kristen itu adalah Kristus sendiri. ia mengatakan perkataan itu, karena merenungakan bagaimana Paulus mengungkapkan apa yang dialaminya. Paulus mengatakan: ia mengasihi jemaat itu dengan kasih mesra Kristus 1 : 8. Jadi perasaannya adalah perasaan Kristus. Dalam nas berikutnya pun Paulus menggambarkan pengalamannya dengan dikaitkan pada Kristus.

 

Dalam nas kita ini, kita menemukan doa Paulus untuk jemaat. Ia berdoa agar jemaat itu mengalami kelimpahan kasih. Kita harus mengasihi. Tetapi bukan hanya itu saja. Kasih yang kita demonstrasikan itu, adalah kasih yang melimpah. Karena kita pun telah menerima kasih Allah yang melimpah pula. Tentang kasih yang melimpah ini, Paulus pun membicarakannya kepada jemaat di Tesalonika cf I Tes 4:9-10. Kata sungguh sungguh dalam 4:10 dalam bahasa Yunani artinya adalah melimpah. Yesus Kristus datang ke dalam dunia agar orang percaya memperoleh hidup, dan memperolehnya dalam kelimpahan Yoh 10:10. Kita dirancang Allah supaya hidup berkelimpahan dalam berkat dan kasih, terhadap Allah dan terhadap sesama.

 

Kelimpahan kasih itu menurut Paulus terlaksana dalam pengetahuan yang benar. Kasih kita tidaklah membabi buta. Kasih kita melimpah dalam pengetahuan dan pengertian. Kasih kita itu dilaksanakan dengan kesadaran yang pasti, serta tahu pula arah dan tujuannya. Tentunya Roh Kuduslah yang mengajar kita, sehingga kita tahu dan kita mengerti apa yang seharusnya dilakukan. Itulah keistimewaan orang beriman.

 

Karena kita tahu dan kita mengerti, maka kita pun dapat memilih apa yang baik dan dan yang berkenan kepada Allah. Hal itu pula yang memungkinkan kita, dapat menjadi suci dan tidak bercacat pada hari Kristus menyatakan diri-Nya kelak. Sebab kita hanya melakukan kehendak Allah di sepanjang kehidupan yang kita jalani. Itulah doa Paulus untuk jemaat. Bukan hanya untuk jemaat di Filipi, tetapi buat jemaat di seluruh dunia dan sepanjang masa. Juga buat saya dan saudara sekalian.

 

Karena kita telah ditentukan menjadi pribadi yang suci dan tak bercacat di hadapan Allah, produknya pun adalah buah kebenaran. Menarik untuk disimak di sini, bukan kita yang mengerjakan semuanya itu di dalam diri kita, melainkan Kristus sendiri. Kristus diam di dalam kita. Oleh karena itu, kasih kita menjadi menjadi kasih Kristus 1:8. Pikiran dan perasaan kita pun adalah pikiran dan perasaan Kristus 2:5. Kekuatan kita pun adalah kekuatan Kristus 4:13. Kekayaan kita pun adalah kekayaan Kristus 4:19. Kristuslah yang berkarya di dalam hidup kita, sehingga dari dalam hidup kita mengalir kelimpahan hidup.

 

Kristus melakukan semuanya itu dari dalam kehidupan kita, menurut Paulus dalam nas kita, semuanya itu dilakukan dalam rangka memuliakan dan memuji Allah. Dari dalam diri kita sendiri, mustahillah hal itu dapat terlaksana. Allah sendiri sadar akan hal itu. Sehingga Ia bertindak melalui Yesus Kristus Tuhan kita. Satu hal yang luar biasa ialah: sekali pun Yesus yang mengerjakannya, tetapi itu dianggap karya kita bagi Dia. Tidakkah itu sesuatu yang luar biasa? (St. Hotman Ch. Siahaan)

Renungan Harian : Selasa, 1 Oktober 2013
 30 Sep

Setia

Nas Bacaan : Efesus 6:21-24

 

Nas kita adalah kata-kata penutup dari rasul Paulus kepada jemaat Efesus, yang menerima suratnya ini. Seperti biasa, Paulus senantiasa melibatkan rekan sekerjnya dalam berhubungan dengan jemaat yang dilayaninya. Paulus senantiasa berada dalam satu tim. Orang yang sering turut ambil bagian dalam pelayanan bersama Paulus ialah: Timoteus, Titus dan Tikhikus yang disebutnya dalam surat ini. Ia menyebut mereka sebagai saudara kita yang kekasih dan pelayan yang setia di dalam Tuhan.

 

Saya percaya Paulus tidak pernah berbasa-basi dalam berbicara. Bukankah ia sendiri pernah mengatakan: “…perbuatlah untuk Tuhan!”. Tatkala Paulus mengatakan bahwa Tikhikus adalah pelayan yang setia di dalam Tuhan, memang demikianlah adanya. Tikhikus mendapat pujian dari Tuhan melalui dia yang menjadi duta besar-Nya. Duta besar yang berkuasa penuh untuk mengatasnamakan Tuhan dalam bertindak. Seorang pekerja Tuhan, memang akan mendapatkan pujian dari Allah Bapa di surga. Persolannya sekarang ialah: apakah kita akan mendapatkan pujian kelak, tatkala kita mengakhiri karya kita di dunia ini?

 

Saya teringat akan sebuah kisah di Inggris, kisah pasukan yang bertempur dalam perang dunia pertama. Pasukan itu berdefile di depan istana Buckingham. Ratu Victoria berdiri di panggung kehormatan, untuk menerima penghormatan dari para serdadu yang pulang dari peperangan. Di akhir barisan, ada tiga orang serdadu yang berjalan. Salah satu dari orang tersebut adalah serdadu yang sudah cacat. Kedua kakinya sudah diamputasi. Dua orang serdadu menopang dia untuk dapat berjalan. Mereka dengan sikap sempurna, berjalan dan memberi penghormatan kepada Ratu Victoria. Sang ratu mengangkat tangannya untuk memberi tanda, agar serdadu itu berhenti sejenak. Sang ratu turun dari panggung kehormatan. Ia mendatangi ketiga serdadu itu. Ratu mencium kening dari serdadu yang sudah cacat tersebut. Ratu berkata pada serdadu tersebut: “well done, good and faithful soldier”.

 

Akankah kita kelak akan menerima pujian dari Tuhan Yesus, tatkala kita masuk ke dalam surga? Apakah Tuhan Yesus akan berkata kepada kita, seperti Ratu Victoria mengatakannya pada serdadunya yang telah pulang dari peperangan? Alangkah rindunya hati ini, seandainya Yesus akan mengatakan kepada kita: “Well done, good and faithful servant.”  Tatkala ratu Victoria turun dari podium, dan mencium kening dari serdadu tersebut, maka terdengarlah standing applause yang membahana dari seluruh hadirin yang diundang untuk menyaksikan perayaan tersebut.

 

Tentunya soraksorai makhluk surgawi jauh lebih gegap gempita lagi kita dengar kelak, tatkala Tuhan sendiri mengatakan perkataan yang sudah kita kutip di atas, diucapkan secara pribadi kepada kita. Bukan hanya mahluk surgawi yang bersorak sorai, tetapi seluruh mahluk di alam semesta ini akan bersorak sorai, untuk pujian yang diberikan Allah kepada seorang hamba yang setia. Oleh karena itu, posisi yang tertinggi yang dapat diraih oleh seorang manusia di dalam masa kehidupannya ialah: predikat: hamba yang setia. Tuhan Yesus mengatakan dalam pengajarannya, tuan itu sendiri akan melayani hamba yang setiawan ini. Sungguh sangat luar biasa!

(St. Hotman Ch. Siahaan)

Renungan Harian : Senin, 23 September 2013
 14 Sep

"KESETIAAN DAN KETAATAN"

Bacaan : Yohanes 6 : 60 - 66

 

Sebagian besar kita yang hidup sekrang masih merasakan bagaimana pahitnya penghianatan G-30-S, negara tercabik-cabik oleh ulah sebagian orang yang ingin memaksakan ideologinya sehingga mencederai negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Untuk mengingatkan peristiwa tersebut dibuatlah monumen di lubang buaya suatu tanda peringatan agar hal tersebut tidak terulang kembali. Kesetiaan dan ketaatan kepada dasar dan falsafah negara perlu dihayati dan dilaksanakan.

 

Kesetiaan adalah merupakan sikap hati yang tidak pernah berubah, tidak gampang goyah ataupun terpengaruh oleh siapapun karena berpegang teguh pada janji atau pendirian. Oleh sebab itu kesetiaan itu perlu di bina, baik sebagai warga negara maupun dalam hubungan suami istri, terlebih lagi hubungan kita kepada Tuhan. Tuhan yang setia, memberikan jaminan hidup yang berkelimpahhan dan berkemenangan bagi orang-orang yang percaya. Yesus memberikan hidup-Nya sebagai tebusan dosa kita….suatu hal yang luar biasa. Dia adalah Allah yang setia dan Dia mau agar setiap kita juga menjadi orang Kristen yang setia kepada-Nya. Jangan takut terhadap apa yang engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan (Wahyu 2: 10c).

 

Oleh sebab itu Tuhan ingin melihat  dalam kehidupan kita sebagai tanda kesetiaan maupun ketaatan yaitu:  setia dan taat menjadi murid-murid Tuhan (tangguh menghadapi masalah); setia dan taat beribadah (persekutuan dengan Tuhan) serta setia dan taat melayani Tuhan walaupun banyak tantangan yang akan kita hadapi. Kesetiaan dan ketaatan adalah bukti keakraban kita dengan Allah karena ketaatan juga merupakan sikap hati yang mau tunduk kepada kehendak Allah, bukan hidup seturut dengan kehendak manusia karena kita tidak mampu berjalan dengan kekuatan kita sendiri.

Kita meyakini bahwa kasih Kristus dan kesetiaan-Nya yang tidak pernah berubah itulah yang memampukan kita untuk tetap dapat bertahan sampai akhir, dan menjadi pemenang dalam menyelesaikan pertandingan iman dengan baik.

 

Doa: Kesetiaan dn ketaatan bukanlah hal yang mudah karena bukan kondisi sesaat, oleh sebab itu minta pertolongan Tuhan supaya kita dimampukan melaksanakannya sampai mati.

(St. Lukman Tambunan M.Min)

 

Renungan Harian : Sabtu, 21 September 2013
 14 Sep

"MENJADI MURID TELADAN"

Bacaan : Matius 10 : 5 - 8

 

Sebuah lonceng akan menjadi lonceng apabila ia berbunyi; sebuah lagu akan menjadi nyanyian apabila ia dinyanyikan; demikian juga dengan kasih, ia akan menjadi kasih apabila keluar dari dirinya dan berarti bagi orang lain. Panggilan kedua belas murid di latar belakangi oleh rasa kasihan Yesus kepada orang banyak yang datang mengikuti-Nya. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “:Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit”

Banyak sekali umat Israel yang haus akan bimbingan haus akan pemimpin yang berbudi, dan lapar akan kehadiran manusia-manusia yang mau berkorban, manusia yang benar, jujur dan adil. Kelangkaan akan manusia yang benar membuat dunia semakin rusak dan sakit bahkan mati secara rohani. Para murid yang dipilih oleh Yesus itu diberi tugas dan kuasa untuk: “Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan Cuma-Cuma, karena itu berikanlah pula dengan Cuma-Cuma”. (ayat-8).

Manusia harus saling membantu karena itulah Yesus memanggil para murid untuk memberi contoh atau teladan untuk mengurus dunia. Problem manusia sepanjang zaman adalah tidak perduli kepada sesama, cenderung untuk mengurus diri sendiri, tidak mau terlibat kepada kehidupan orang lain, terutama yang membutuhkan pengorbanan.

Orang miskin dan yang menderita tidak akan pernah lenyap dari muka bumi selama manusia yang mau berkorban sangat langka, banyak manusia yang kaya tetapi pelit dan serakah.

Menjadi murid teladan yang berbahagia adalah apabila kita keluar dari diri sendiri, melihat orang lain dan membalas perbuatan orang lain. Oleh sebab itu resep untuk hidup berbahagia atau menjadi murid teladan adalah meningkatkan kesadaran bahwa saya lebih membutuhkan orang lain dan bukan sebaliknya saya lebih dibutuhkan orang lain.

            Jika  ingin merasakan arti kehidupan ini, maka jadilah murid teladan dari Yesus yang telah mengajarkan arti kehidupan ini.

Doa: Ajari kami untuk selalu meneliti kehidupan kami apakah berguna buat orang lain terlebih orang-orang yang membutuhkan kehadiran kami. Amin.

(St. Lukman Tambunan M.Min)

 

Renungan Harian : Jumat, 20 September 2013
 14 Sep

“BERBAHAGIALAH ORANG YANG MENCARI TUHAN“

Bacaan: Mazmur 105: 1-5

 

            Orang bijak mengatakan: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghagai sejarah atau para pahlawannya”. Artinya dengan mengingat serta menghargai perjalanan sejarah masa lampau kita akan senantiasa mengingat apa yang pernah dialami sehingga akhirnya kita dapat belajar akan hal-hal di masa silam. Ada keindahan serta keberhasilan namun tentu ada juga kegagalan serta keprihatianan yang dirasakan.

Bukan karena pahit sehingga di muntahkan, tetapi sebagai obat penawar hal itu akan menyembuhkan, tetapi bukan juga karena manis lalu kita cepat-cepat menelannya karena yang manis belum tentu akan meningkatkan kesehatan kita.

 

            Demikian juga halnya pengalaman rohani, apabila kita membangun hubungan yang indah bersama Tuhan, terlebih dahulu kita harus berangkat dari pengalaman rohani bersama-Nya. Apakah yang dapat kita wariskan kepada anak-anak kita sebagai generasi penerus tentang perbuatan Tuhan dalam hidup keseharian kita?. Tentu kita tidak dapat menghitungnya satu per satu. Kita tidak sanggup menuliskannya satu per satu. Dalam Efesus 3: 18-19, dikatakan: “ Aku berdoa,  supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah”.

 

Demikian halnya pengalaman bangsa Israel, bangsa pilihan itu, dituntun, dipelihara, diberkati dan ditopang dalam segala perjalanan hidup mereka. Penyertaan Tuhan tidak pernah berhenti sepanjang sejarah bangsa itu. Demikian juga dalam hidup kita, Dia tidak pernah meninggalkan kita, bahkan Tuhan tidak pernah tertidur, tetapi senantiasa terjaga bahkan pada saat kita tertidur lelap. Oleh sebab itu kita harus sesalu “ bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus”. Artinya kita patut bersukacita atas segala kemurahan dan penyertaan Tuhan atas semua kehidupan kita.  Perlu direnungkan: “ Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka akan ditambahkan segala sesuatu kepadamu”.

 

 Terimalah Yesus dengan segala keyakinan dan kesetiaan. Sebab bukan hanya hari ini saja Dia peduli atas kehidupan kita, namun setiap saat dan sepanjang zaman.   Amin.  

Doa: Penyertaan-Mu dalam kehidupan kami tidak pernah berhenti pada waktu kami terjaga maupun pada waktu kami tertidur. Sungguh kami dapat bermegah dalam nama-Mu yang kudus. Amin

(St. Lukman Tambunan M.Min)

Renungan Harian : Kamis, 19 September 2013
 14 Sep

“PUJILAH TUHAN ALLAH”

Bacaan: Mazmur 33: 1-3

 

Mazmur ini berakar dalam tradisi puji-pujian di Bait Suci di Yerusalem dan berdasar pada pemberitaan para nabi dan guru kebijaksanaan. Itulah sebabnya dapat disimpulkan bahwa ia dikarang sesudah pembuangan untuk ibadah hari raya. Di dalam Mazmur ini tampak bentuk khas puji-pujian Israel: “pujilah TUHAN, hai orang-orang……sebab Ia………

 

Ayat 1-3: Di mana Tuhan berfirman bahwa Ia akan segera menyelamatkan umat-Nya, di situ kedengaran sorak-sorai. Demikian anak dara Israel / putri Sion disuruh bersorak-sorai karena Tuhan mengikat perjanjian baru dengan umat-Nya dan datang diam bersamanya, bahkan alam semesta bersorak sorai karena Tuhan membebaskan umat-Nya. Karena hidup kita dikaruniakan dan diselamatkan oleh Tuhan, maka tempat utama untuk bersorak-sorai adalah ibadah, di Bait Suci  di mana firman keselamatan diperdengarkan dan tindakan pembebasan diperingati.

 

Orang yang dapat memuji Tuhan dengan penuh kesukaan itu adalah mereka yang benar dan jujur yaitu mereka yang dengan tulus ikhlas mengindahkan kehendak Allah, seperti yang diminta dari mereka yang datang beribadah, yaitu mereka yang tidak menipu diri, melainkan mengaku dosanya kepada Tuhan agar diampuni dan dibenarkan-Nya.

 

Pada hari raya mereka itu bersyukur dan bermazmur diiringi dengan dua alat musik yang terkenal di Timur Tengah dari sejak dua ribu  tahun sebelum Masehi, yakni kecapi, yang terdapat dalam berbagai-bagai bentuk dengan jumlah tali yang berlainan pula, dan gambus yang bertali empat sampai dua belas.  Dalam hidup sehari-hari seseorang dapat memetik kecapi sambil bernyanyi (seperti kini dengan gitar), tetapi di kraton-kraton dan puri-puri demikian juga di Bait Suci, orkes,  koor dan penyanyi solo dapat saling melengkapi.

 

Karena Tuhan berulang-ulang menolong umat-Nya dengan cara yang baru, sesuai dengan daya cipta-Nya yang tidak terbatas itu, maka nyanyian umat yang dibebaskan-Nya hendaklah baru pula.

Doa: Hanya kepada-Mu kami Allah menaikkan pujian dan pengharapan, karena Engkau-lah penyelamat kami. Mampukan kami agar selalu bersyukur kepada-Mu sebagai tanda kesetiaan serta ketaatan kami atas kasih-Mu yang luar biasa dalam kehidupan kami. Amin (St. Lukman Tambunan M.Min)

 

Renungan Harian : Rabu, 18 September 2013
 13 Sep

Perlengkapan Senjata Allah

Nats Alkitab: Efesus 6 : 13-15

 

Efesus 6:13-15 “Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; “

 

Tuhan mengingatkan kita, bahwa hari-hari ini adalah hari yang jahat. Dimana iblis selalu mengintai dan berusaha menjatuhkan kita dan membuat kita berpikir bahwa kita adalah orang yang gagal dan tidak ada harapan, di saat kita sedang berjalan mengiring Tuhan dalam hidup ini. Oleh sebab itu, marilah kita memakai perlengkapan senjata Allah.

 

Tuhan meminta kita :

1.       Untuk berdiri tegap : artinya siap siaga, berjaga-jaga. Karena iblis menyerang tanpa pemberitahuan lebih dahulu. Berjaga-jaga artinya mempersiapkan diri kita dengan mengisi hati dan pikiran kita dengan firman Tuhan dan berpegang teguh pada janji-janjiNya.

2.       Berikat pinggangkan kebenaran : artinya hiduplah sesuai perintah Tuhan (semua hal yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, itu yang kita lakukan)

3.       Berbaju zirahkan keadilan : artinya hiduplah dengan adil. Hormatilah mereka yang layak untuk dihormati. Tegur dan nasehati orang yang melakukan di waktu yang tepat dan dengan cara tepat juga. Disiplinkan anak-anak kita di masa mudanya.

4.       Berkasutkan kerelaan untuk memberitakan injil damai sejahtera : artinya milikilah hati yang rela dan mau bertindak untuk memberitakan injil kepada orang lain. Karena masih banyak orang yang belum percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat pribadinya.

 

Dengan melakukan apa yang Tuhan perintahkan kepada kita, kita pasti bisa bertahan melawan tipu muslihat iblis. Dan Tuhan pastikan, kita akan melewati hidup kita penuh dengan kemenangan. Amen.

(Ny. Rumia Sitompul-Matondang)

Renungan Harian : Selasa, 17 September 2013
 13 Sep

Siapa musuh kita sebenarnya…?

Nats Alkitab: Efesus 6 : 10-12

 

Efesus 6:10-12 “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

 

Sebenarnya, iblis sudah dikalahkan sejak Yesus mati di kayu salib. Tetapi mengapa sampai sekarang pekerjaan iblis masih tampak nyata di tengah masyarakat kita? Bukankah Yesus berkata :” Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” dalam Matius 28:18?

 

Ternyata iblis tidak rela dan tidak suka, kalau hanya mereka yang masuk ke dalam neraka. Iblis berusaha menarik manusia sebanyak-banyaknya untuk ikut masuk ke dalam neraka. Dengan demikian, akan lebih menyakiti hati Tuhan, karena sebenarnya neraka bukan diciptakan untuk manusia.

 

Iblis berusaha merebut manusia melalui alam roh, alam bawah sadar kita, pikiran kita. Iblis memasukkan ajakan-ajakan nya yang sesat dan cemar ke dalam pikiran kita sehingga menimbulkan pikiran-pikiran yang negatif. Iblis memberikan ide-idenya atau pengajaran, gaya hidup, yang mungkin terdengar sepertinya baik. Iblis juga menggunakan media elektronik, internet dan sebagainya untuk mengajak manusia mengikuti gaya hidup yang diinginkan iblis.

 

Ingatlah, iblis musuh kita itu cerdik. Kadang-kadang suami dengan istri berantam atau ribut hanya karena masalah yang sederhana. Hati-hati, mungkin salah satu atau keduanya sudah dihasut oleh iblis. Dan karena tidak bisa mengendalikan diri akibatnya terjadilah konflik rumah tangga, terjadilah perceraian.

 

Oleh karena itu, marilah kita isi hati dan pikiran kita dengan firman Tuhan setiap hari. Supaya tidak ada lagi tempat untuk ide, saran dan ajakan untuk iblis masukkan. Dengan membaca firman Tuhan setiap hari, hati dan pikiran kita dimurnikan dan disucikan. Iblis tidak punya peluang/kesempatan. Dengan demikian kita dapat menang melawan tipu muslihat iblis.  Amen.

(Ny. Rumia Sitompul-Matondang)

Renungan Harian : Senin, 16 September 2013
 13 Sep

Tuhan adalah Tuhan yang memperhatikan kita.

Nats Alkitab : Efesus 6:8-9

 

Efesus 6:8-9 : ”Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan. Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka.”

 

Ada sebuah kisah tentang seorang satpam yang sangat setia dalam menjalankan tugasnya di suatu perusahaan. Dia senang menolong membuka pintu mobil pemilik perusahaan dan mengantar sampai masuk ke gedung kantornya. Satpam ini selalu menyapa dengan senyum dan ramah kepada setiap pegawai di perusahaan itu. Dia juga setia menjaga keamanan lingkungan perusahaan. Bertahun-tahun lamanya dia tetap mengerjakan tugasnya dengan sikap yang baik. Sampai suatu malam, pemilik perusahaan sedang mengerjakan tugasnya dan ketika pulang ia bertemu dengan satpam tersebut. Pemilik perusahaan berkata:” Bapak, saya sangat senang dengan hasil kerja bapak selama ini. Bapak sungguh-sungguh bertanggung jawab. Oleh karena itu, saya akan memberi bapak penghargaan.” Satpam ini menjawab :” terima kasih pak. Tapi ada orang lain yang lebih rajin dari saya. Sepertinya bapak harus cari tahu siapa dia. Karena hampir setiap malam dia bekerja.”

 

Akhirnya pemilik perusahaan memeriksa siapa orang tersebut. Dan ternyata dia adalah salah seorang pegawainya yang menjual rahasia perusahaan tersebut kepada perusahaan saingan yang menyebabkan perusahaan miliknya merugi. Segera pegawai tersebut dipecat dan satpam ini diberi penghargaan karena kesetiaannya dalam bertugas dan tanpa sengaja telah menyelamatkan perusahaan tempat ia bekerja.

 

Kita tidak pernah tahu kapan Tuhan akan mengangkat kita ke posisi atau keadaan yang lebih baik. Bila saudara sedang dalam kesusahan, tetaplah setia kepada Tuhan dan melakukan semua firmanNya. Taruhlah dalam hati kita, Tuhan selalu memperhatikan kita. Dia lebih tahu waktu yang terbaik untuk kita memperoleh berkatNya yang melimpah. Jadi, tetaplah setia dalam berbuat baik sambil menantikan pertolongan Tuhan bagi diri kita. Amen.

(Ny. Rumia Sitompul-Matondang)

Renungan Harian : Sabtu, 14 September 2013
 13 Sep

Terjual di bawah kuasa dosa

Sebab kita tahu, bahwa Hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa...Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.

(Roma 7 : 14, 19)

            Sepintas, apa yang kita baca diatas adalah suatu pengakuan tentang konflik yang terjadidi dalam diri Paulus, suatu perpecahan batin yang menimbulkan kelemahan semata-mata. Pernyataan akhir dalam diri Paulus mengenai kondisi tersebut, kita baca pada Roma 7 : 24  mengatakan : “ Aku manusia celaka! Siapkah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? “. Dari kondisi batin tersebut, kelihatannya kuasa dosa dalam daging masih bisa menjebak dan menenggelamkan manusia untuk melakukan perbuatan daging yang menjerumuskan manusia berbuat dosa. Inilah yang dimaksudkan oleh Paulus : “Terjual dibawah kuasa dosa“.

            Apabila kita membaca ayat-ayat lain dalam Bab 7 tersebut, kita mendapatkan gambaran tentang kehidupan kita sebagai orang percaya. Dalam Bab 7 ini, kondisi orang percaya sangat bertentangan dengan sukacita, kebebasan dan hidup yang baru seperti pada penjelasan Paulus pada Bab 8 yang mengatakan : “ Demikianlah sekarang, tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh yang member hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hokum dosa dan hokum maut“. Berita Injil yang baik itu, telah menjadi beritaburukkarenabagaimanakah Paulus dapat mengatakan bahwa“ manusia lama kita telah tururt disalibkan, supayatubuhdosakitahilangkuasanya, agar jangan kita menghambakan dirilagi kepada dosa dan didalam Roma 7 : 26, Paulus mengatakan : “ dengan tubuh insaniku, aku melayani hokum dosa “ ? Apa maksud Pulus disini ?

            Pembahasan Paulus mengenai pembenaran atas dasar pekerjaan Allah di dalam Kristus, menunjukkan bahwa manusia secara utuh diperdamaiakan dengan Allah, yaitu tubuh, jiwadanroh.Tetapi yang perlu dipahami adalah, bahwa : Pembenaran tidak menciptakan inti moral ataukondisirohanibarudalamdirikita, tetapi dalam kuasa Roh Kudus yang kita terima karena kita percaya kepeda Yesus (Efesus 1 : 13) kita harus bertempur melawan naluri kita yang mendasar yaitu keinginan daging dengan gairahnya.

            Ketika Paulus berbicara tentang “hidup di dalam daging” dalam surat-suratnya, ia tidak berbicara tentang hakikat jasmani atau keinginan jasmani kita. Yang Paulus maksudkan adalah :Tentang cara hidup kita, orientasi hidup atau hidup yang dijalani terpisah dari tujuan Allah karena kuasa dosa yang menyeret hati kita menyeleweng dari tujuan Allah. Hal itu terjadi karena semua manusia ada dibawah kuasa dosa (Roma 3 : 9).

            Peringatan ini menyadarkan kita untuk tidak terjebak dalam kuasa tipu daya dosa yang ada disekitar kehidupan kita. Sifat daging yang bisa terjual dibawah kuasadosaakan membuat kita lalai untuk membangun suatu perobahan hidup yang Tuhan Yesus inginkan. Perumpamaan Yesus tentang 5 gadis bodoh dan 5 gadis bijaksana memberikan kita gambaran bahwa kualitas kesetiaan kita kepada Yesus membuat kita layak hadir dalam pesta perkawinan. Lima gadis bijaksana memelihara minyak pada pelitanya , tetapi 5 gadis bodoh lalai untuk menjaga pelitanya; sehingga pada malam waktu pengantin tiba, gadis bodoh tersebut tidak dapat ikut masuk kedalam pesta perkawinan. Semua pengajaran Yesus berintikan perobahan hidup, ciptaan baru adalah rencana Tuhan untuk membawa kita ikut didalam pesta perkawinan akhir zaman. Sifat daging yang bisa lemah oleh kuasa dosa, sekarang telah dikuatkan oleh kuasa Roh Kudus yang menyertai hidup kita hari lepas hari. Jangan lagi jatuh kedalam dosa, tetapi nikmatilah hidup yang berkemenangan, bersama TuhanYesus yang menyertai kita sampai kepada akhir zaman.

Doa : Bapa, kuatkanlah kami mengalahkan kuasa dosa yang mencoba memisahkan kami darikasih karuniaMu. Amen

(Ev. Togu S. Hutagaol)

Renungan Harian : Jumat, 13 September 2013
 12 Sep

Mati bagi dosa

Kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup didalamnya? Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa.

(Roma 6 : 2, 7)

Pilihan kehidupan yang diungkapkan dalam pertanyaan dan jawaban di atas adalah hubungan kehidupan kita yang baru di dalam Kristus, yaitu kehidupan yang bebas dari dosa dengan kenyataan kehidupan kita sehari-hari, dimana dosa – dosa tersebut sering timbul dalam kehidupan kita.Untuk dapat memahami ayat tersebut; pertama-tama kita harus memahami hakekat orang yang beriman dengan Kristus Yesus.

 

Tema dari Surat Roma Pasal 6, adalah perbandingan antara hidup yang dikuasai oleh maut dan hidup yang dikuasai oleh Roh. Untuk perbandingan yang pertama, yaitu hidup yang dikuasi oleh maut adalah contoh dari orang percaya yang membiarkan kehidupan baru mereka dimasuki oleh kekuatan dosa dan perbandingan yang kedua adalah contoh orang percaya yang menyerahkan hidupnya terus menerus dikuasai oleh Roh Kudus melalui firmanNya.

 

Inti dari kehidupan orang percaya adalah hidup di dalam Yesus dan mengenakan manusia baru. Manusia baru tersebut adalah realita kehidupan orang percaya diantara orang-orang lain yang ada disekitarnya, sehingga kita bisa mengerti apa yang dimaksudkan oleh Yesus bahwa :kita adalah garam dan terang dunia. Itulah realita yang harus bisa terlihat dan dirasakan oleh banyak orang seperti yang terjadi pada Jemaat mula-mula yang disukai oleh semua orang.

 

Hidup yang dikuasai oleh daging adalah orang percaya yang membiarkan dirinya terus tenggelam oleh tipu daya dosa yang melekat di dalam daging, seperti kata Yesus : “ Dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat…” ( Matkus 7 : 21 ). Pikiran jahat inilah yang menjerat kehidupan manusia.Orang ini hanya menjadi orang percaya tetapi kehidupannya tetap seperti kehidupan lama yang dikuasi oleh daging. Tidak memperlihatkan hidup baru.

 

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita menjadi manusia baru. Tentunya semua orang yang percaya kepada Yesus ingin menjadi manusia baru. Apakah kesetiaaan kita mengikuti ibadah-ibadah di Gereja bukankah itu menjadi tanda bahwa kita sudah menjadi manusia baru ? Manusia baru adalah wujud perobahan hidup lama yang dikuasi oleh daging menjadi manusia baru yang kehidupannya dikuasai oleh Roh Kudus (bukandaginglagi), sehingga perilaku dari hidup baru tersebut memunculkan realita kehidupan yang penuh dengan damai-sejahtera, sukacita, kelemahlembutan, kesabaran dll. Itulah hidup baru orang percaya yang dikerjakan oleh kuasaRoh Kudus setiap hari. Oleh karenaitu, Yesus berkata :Akulah pokok anggur, kamu adalah carangnya, tinggallah didalam Aku supaya kamu berbuah. Inti dari proses perobahan ini adalah melekat didalam Yesus setiap hari. Buahnya adalah hidup baru yang indah.

 

Apabila hidup kita melekat terus menerus kepada Yesus, maka kuasa dosa yang dirangsang oleh daging tidak lagi dapat bekerja untuk menjerumuskan kita ditenggelamkan oleh hawa nafsu daging yang sering merangsang hati kita. Itulah perjuangan batin kita seperti kata Paulus : “ Jika aku mengkehendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Aku manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini ?Dengan kekuatan dirisen diri, kuasa dosa itu menjebak dan menenggelamkan manusia, tetapi dengan kuasa Yesus, maka kuasa dosa dihancurkan. Itulah kemenangan orang percaya, sehingga kita telah matibagi dosa dan kita tidak mungkin lagi hidup didalamnya karena kuasaYesus telah mengalahkannya. Itulah tandanya bahwa kita tidak lagi dikuasi oleh dosa.

 

Doa :Bapa, terimakasih untuk kuasaMu yang mengalahkan kelemahan daging kami sehingga kami boleh hidup menikmati kasih karuniaMu. Amen (Ev. Togu S. Hutagaol)

 

Renungan Harian : Kamis, 12 September 2013
 12 Sep

Dosa yang Betambah

Tetapi Hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak

(Roma 15 : 20)

Apaila kita sepintas membaca Surat

Roma 20 : 15, seolah olah tujuan dari Hukum Taurat adalah untuk menambah dosa manusia. Tetapi apabila kita berpikir lebih dalam, apakah mungkin Allah yang kita kenal didalam Tuhan kita Yesus Kristus sengaja bertindak demikian sehingga dosa bertambah? Tidakkah bahwa sejak semula, firman TUHAN mulai dari awalsampai akhir sejarah penebusan menceritakan tentang Allah yang dalam kasihNya berusaha membawa ciptaanNya yang hilang kepada pemulihan hubungan dengan diriNya? Untuk memahami Surat Paulus tersebut dengan tepat, kita perlu memperhatikan konteks dari bacaan ini, juga beberapa pernyataan lainnya tentang tujuan Hukum Taurat.

 

            Dalam Roma 5 : 12 – 21, Paulus menggambarkan pertentangan antara konsekuensi dosa manusia dan keagungan keselamatan dari Allah di dalam Yesus Kristus. Disin kita bias mengerti bahwa dosa memasuki hidup manusia melaluikejatuhan Adam yang menolak tujuan Allah, dan dosa itu menjalar kepada keturuanannya sampai kepada seluruh umat manusia saat ini melalui ketidaktaatan manusia yang dilakukannya secara terus menerus (Roma 5 : 12). Dalam pemahaman tentang dosa tersebut yang menjerat hidup manusia secara menyeluruh dan akibatnya bahwa setiap pribadi harus bertanggungjawab atas dosa yang dilakukannya, maka Roma : 15 : 20 ini bias dapat dipahami sehubungan ketetapan dalam hukum Taurat tersebut. Dikatakan: “ Tetapi Hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak “. Kalau kita memperhatikan maksud Hukum Taurat tersebut dengan teliti ;hal ini tidak berarti bahwa Allah bermaksud menambahkan dosamanusia, tetapi Hukum Taurat menyadarkan manusia tentang dosanya.

 

            Setelah Adam jatuh kedalam dosa, Allah belummemberikan ketetapan tentang ukuran serta definisi apa itu dosa. Tetapi di gunung Sinai Allah kemudian menetapkan hukum yang harus dipatuhiumatNya supaya merekasetia kepada perjanjianNya dantaat kepadahukumNya sehingga berkat TUHAN menyertai mereka. Melalui hal ini, kita bias mengerti bahwa Hukum Taurat diberikan adalahuntuk membukakan pengertian manusia tentang apa dosa yang bias membuat Allah jauh dari manusia. Hakekat dosa yang merusak dan menghancurkan benar-benar diungkapkan ketika tujuan Allah yang baik, yang dinyatakan dalam Hukum Taurat dilanggar.

 

            Pemahaman tentang ayat 20 ini, dapat kita baca pada pernyataan Paulus dalam Roma 3 : 20, dikatakan : “ Karena justru oleh hokum Taurat orang mengenal dosa. Bukan Hukum Taurat membawa kita kepada dosa. Hukum Taurat itu ditetapkan TUHAN untuk menunjukkan seperti apakah dosa itu dan bagaimana dosa itu menyatakan dirinya.

 

            Dari uraian tersebut diatas, jelaslah bahwa “dosa yang bertambah“ tidak mengacu kepada bertumpuknya dosa atau dosa-dosa tersebut kemudian bertambah besar (karena Hukum Taurat). Tetapi yang dimaksudkan disini adalah, bahwa : Dalam terang Hukum Taurat dan kasih karunia Allah didalam Kritus Yesus (Roma 5 : 20 – 21), besarnya dosa manusia dinyatakan dan diungkapkan kepada kesadaran kita.

 

Doa : Terimakasih Bapa,  Engkau membuka mata hati  kami untuk lebih mengenal dosa-dosa yang  kami  perbuat.  Ampuni  kami  Bapa dan perbaharui hidup kami. Amen.

(Ev.Togu Hutagaol)

Renungan Harian : Selasa, 10 September 2013
 09 Sep

"Buah Roh"

Nas Bacaan : Galatia 5 : 22 - 23

 

Bagian Kedua

Damai sejahtera (Yunani : eirene, Latin: pax)

“Damai sejahtera” ini mer che upakan hasil penyandaran (bersandar) pada hubungan dengan Allah, damai ini adalah keadaan istrahat yang tenang, dihasilkan dari mencari Allah, dan berlawanan dengan keadaan “kacau balau” (English :chaos). Kata aslinya dalam bahasa Yunani “eirene” merupakan terjemahan dari kata bahasa Ibrani “Bo’achem le-shalom malache ha-shalom” (English : come in peace, messengers of peace, messengers of the most high) yang merupakan ekspresi dari kepenuhan, kesempurnaan atau ketenangan jiwa yang tidak dipengaruhi oleh keadaan ataupun tekanan dari luar.

K e s a b a r a n   (Yunani : makrothumia  ,Latin : longanimitas )

Kesabaran dalam bahasa Yunani “makrothumia” terdiri dari dua kata “makros” : panjang dan “thumos”: temperamen”, yang memberikan makna “kelunakan”, “mau menanggung”, “panjang sabar”, “tabah”, “tahan menderita”. Juga termasuk dalam kata makrothumia ini kekuatan untuk menanggung aniaya dan perlakuan buruk. Menggambarkan orang yang memliki kemampuan untuk tidak membalas dendam, tetapi sebaliknya memilih untuk menahan diri.

K e m u r a h a n   (Yunani : chrestotes , Latin : benignitas)

Kemurahan bukan hanya berlaku manis. Orang dapat berbuat murah hati tetapi tidak berperilaku manis, kelakuan manis lebih bermakna “dapat diterima”, sedangkan kemurahan merupakan tindakan yang bermanfaat bagi orang lain tampa peduli tindakan sebelumnya. Kata chrestotes merupakan perbuatan baik yang nyata, kelembutan dalam berlaku terhadap yang lain, bersikap penuh rahmat.

 K e b a i k a n   (Yunani : agathosune, Latin : bonitas )

1.       Keadaan atau kualitas untuk berbuat baik.

2.       Kemuliaan perilaku ; kebajikan.

3.       Murah hati dan ringan tangan.

4.       Karakter umum yang dikenali dalam kualitas atau perbuatan.

K e s e t i a a n   (Yunani : pistis , Latin : fides)

Kesetiaan adalah mendedikasikan diri kepada sesuatu atau seseorang, misalnya pasangan hidup, atau suatu hal atau suatu kepercayaan/agama. Menjadi setia membutuhkan tekad pribadi untuk tidak menyimpang jauh dari komitmen atau janji, tidak selalu mudah untuk menjadi setia. Iman Kristen membutuhkan kepercayaan kepada Allah.

Kelemahlembutan  (Yunani : prautes , Latin : modestia)

Dalam bahasa Yunani ; prautes dikenal sebagai “kelemahlembutan”, New Spirit Filled Life Bible mendefinisikan kelemahlembutan sebagai disposisi yang bertemperamen stabil, tenang, seimbang dalam jiwa, tidak sombong dan dapat menguasai emosi. kata ini diterjemahkan sebagai “kelemahlembutan” , bukan merupakan indikasi kelemahan, melainkan kemampuan menguasai energi dan kekuatan. Orang yang mempunyai kualitas ini mampu mengampuni kesalahan, memperbaiki kekeliruan, dan menguasai jiwanya sendiri dengan baik.

Penguasaan diri  (Yunani : egkrateia, Latin : continentia )

kata Yunani “egkrateia” (engkrateia) bermakna “mempunyai kuasa atas”  (kata dasar “krat” seperti pada kata “demokrat”, yang berarti “pemerintahan” ), atau “kepemilikan atas kelakuan sendiri”. Kata yang sama dipergunakan oleh rasul Paulus pada surat 2 Petrus 1 : 5 – 7.

A m e n  (St.Ir.Jonas S.C Siregar)

 

Renungan Harian : Senin, 9 September 2013
 07 Sep

Merasa Tidak Layak

Nas Bacaan : Keluaran 4 : 1 - 17

 

"Lalu kata Musa kepada Tuhan: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." (Keluaran 4:10)

Salah satu hal yang sering menjadi ganjalan dalam hubungan kita dengan Tuhan adalah perasaan tidak layak dan rendah diri. Seperti juga banyak tokoh dalam Alkitab yang merasa tidak sanggup dan minder ketika menerima tugas dari Tuhan. Tidak selamanya rasa tidak layak dan minder merupakan kerendahan hati. Adakalanya itu merupakan alasan kita yang “halus” untuk tidak melakukan tugas dan pekerjaan yang dibebankan kepada kita.

 

Perasaan tidak layak yang berlebihan justru akan menghambat hubungan kita yang akrab dengan Tuhan. Lebih parahnya lagi, membuat kita semakin jauh dari Tuhan. Misalnya, karena kita merasa kotor dan berdosa, kita tidak pergi ke gereja untuk beribadah. Padahal, ketika kita berbuat dosa, justru kita perlu datang ke gereja untuk meminta pengampunan pada Tuhan saat ibadah.

 

Tuhan tidak bisa dibatasi hanya memakai orang kaya atau sebaliknya, hanya memakai orang miskin saja untuk menyatakan kemuliaanNya. Namun, Tuhan sering memakai orang yang dianggap tidak layak dan rendah dalam pekerjaanNya. Seperti nelayan dan petani yang menjadi murid-murid Yesus. Mungkin karena kerendahan hati dan sikap penurut lebih dimiliki oleh mereka yang dianggap “biasa-biasa saja” atau bahkan mereka yang miskin dan memiliki intelektualitas yang terbatas. Sementara mereka yang memiliki kekuasaan, kepintaraan atau kekayaan jauh lebih sulit untuk dipakai dalam pelayanan kerajaanNya. Bukankah Yesus sendiri mengatakan bahwa lebih sulit bagi seorang kaya untuk masuk dalam kerajaanNya daripada seekor unta masuk melewati lubang jarum ? Atau, cobalah kita melihat Lazarus, pengemis hina yang sampai pada akhir hayatnya begitu miskin dan menderita (Lukas 16:19-31) tapi kemudian diangkat dan dimuliakan oleh Tuhan di surga.

 

Kita bisa memahami bahwa seberapa pun rendah dan tidak layaknya diri kita, bagi Tuhan yang terpenting hanyalah kesetiaan dan sikap kita untuk mematuhi kehendakNya. Dialah yang akan menyempurnakan apa yang kurang dalam diri kita. Karena itu, marilah kita tetap bergiat dalam pelayanan kita masing-masing. Saling mendukung dan menguatkan. Seberapapun kecilnya peran dan kontribusi yang kita berikan, biarkan Tuhan yang menyempurnakannya. (St. Edward Napitupulu)

Renungan Harian : Sabtu, 7 September 2013
 06 Sep

"Buah Roh"

Nas Bacaan : Galatia 5 : 22 - 23

 

22: Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran,

      kemurahan, kebaikan, kesetiaan.

23: kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal

      itu.

 

Karena Tuhan telah mengenal kita ; apa yang harus kita perbuat dalam iman kristiani kia..?, apakah kita sudah menghasilkan “buah” yang baik..?, sebagai refleksi pada kehidupan kristiani kita, alangkah baiknya kita memahami tentang “ buah Roh “.

Bagian Pertama.

Buah Roh Kudus (Yunani ; karpos : buah ; pneumatos : Roh), adalah istilah alkitab yang merangkum 9 sifat nyata dari kristen yang sejati menurut rasul Paulus. Meskipun tertulis ada 9 sifat (atau “atribut”) tetapi istilah aslinya dalam bahasa Yunani untuk “buah” adalah kata tunggal, menegaskan bahwa hanya ada satu macam “buah” dengan 9 sifat. Diseluruh Alkitab , orang saleh diibaratkan seperti pohon (Mazmur 92 : 13 “Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon “), dalam pasal ini rasul Paulus menjelaskan buah macam apa yang dihasilkan oleh “pohon yang baik” yaitu orang saleh atau orang benar. Buah ini akan dihasilkan oleh mereka yang sungguh-sungguh bertobat, yang menjadi pengikut sejati Jesus Kristus. Sebaliknya, jika seseorang tidak menghasilkan buah ini, ia bukanlah seorang Kristen sejati.

Penyampaian sifat-sifat buah Roh ini didahului dengan peringatan untuk tidak melakukan “perbuatan daging” yang diikuti dengan sejumlah sifat-sifat yang buruk, berlawan dengan buah Roh. Sifat-sifat baik dari buah Roh disampaikan dalam bentuk “pleonasme” yang menurut ahli retorik George A.Kennedy adalah “penggabungan runtunan kata yang mengalir ke luar dari hatinya  rasul Paulus, ini merupakan ciri khas tulisan rasul Paulus (George A.Kennedy : New Testament interpretation through Rhetorical Criticism).

K a s i h  (Yunani:  agape (ayann), latin : caritas )

Kasih “agape” menunjukkan kehendak hati dan tidak dapat dikuasai yang mana selalu menginginkan kebaikan orang lain, tampa peduli apa yang dilakukan orang itu. Merupakan kasih yang menberi dan diberikan secara cuma-cuma tampa mengharapkan balasan dan tidak mempertimbangkan nilai pemberiannya. agape berbeda dengan philos yang merupakan kasih yang kebetulan ; dan menunjukkan keinginan dari pada emosi. agape menggambarkan kasih Allah yang tampa  pamrih kepada dunia ini, serta “kasih akan semua orang”. Kata ini terutama dipakai  oleh rasul Paulus dalam 1 Korintus 13 (“Kasih”) yang menggambarkan pengorbanan seperti yang dilakukan oleh Jesus Kristus dengan kematiannya di kayu salib untuk menebus dosa manusia, yang tidak memegahkan diri.

Sukacita  (Yunani : chara, Latin : gaudium )

Dalam bahasa Yunani “sukacita” berasal dari kata charis, yaitu kata Yunani untuk “rahmat”, dalam kaitan ini “sukacita” (chara) dihasilkan oleh “rahmat” (charis) Allah. Jadi “sukacita” ini bukan kebahagian manusia yang sesaat saja (English : enjoy oneself be happy) , melainkan “sukacita sejati” yang bersumber dari Khalik Kudus. Merupakan ekspresi dari Roh yang berkembang paling bagus pada saat kesusahan.

Misalnya dalam 1 Tesalonika 1 : 6 , jemaat Tesalonika mengalami tekanan berat akibat penganiayaan ; tetapi di tengah kesusahan itu, mereka terus mengalami sukacita besar, kata chara memberi makna sukacita yang luar biasa, karena Roh Kudus bekerja di dalam orang itu (“sukacita Roh Kudus”), kitab Nehemia 8 : 11 mengatakan “ ….sukacita karena Tuhan itulah perlindunganmu.!” ….

(St.Ir. Jonas S.C Siregar)

Renungan Harian : Jumat, 6 September 2013
 05 Sep

"Apakah Tuhan mengenal kita..?"

Nas Bacaan : 1 Korintus 13 : 12 - 13

 

12: "Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal".

13: "Demikianlah tinggal ketiga hal ini yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar diantaranya ialah kasih" (Yunani : nyni de menei pistis elpis agape (ayann), ta tria ; tauta meizon de touton he agape (ayann) )

Pada setiap pertemuan kita dengan Tuhan, apakah pada ibadah hari minggu maupun dalam pertemuan-pertemuan rohaniah seperti di partangiangan wijk, sermon parhalado/kategorial maupun pemahaman Alkitab, dan lain-lain, kita akan bertanya-tanya dalam hati dan pikiran kita ; apakah pertemuan kita tersebut dengan Tuhan, Tuhan telah mengenal kita..?

 

Seperti halnya didalam kehidupan keseharian kita, baik ditempat kerja maupun ditempat kuliah (kampus), pimpinan atau atasan kita maupun dosen kita ; tidak akan mengenal kita , apabila kita tidak pernah “memberikan perhatian/gagasan” akan proses kerja maupun kinerja perusahaan yang baik terhadap pimpinan atau atasan kita, atau sebagai mahasiswa yang bersifat “pasif” dalam setiap diskusi-diskusi tentang “problem seeking dan problem solving” di mata kuliah yang diajarkan dosen yang bersangkutan.

 

Demikian pula apabila kita dihadapi pada masa-masa krisis didalam pergumulan hidup kita, kita dihadapi keragu-raguan  lagi, bila Doa kita belum terjawab..! Sebelum hal itu kita yakini (imani), Rasul Paulus mengingatkan pada jemaat Korintus : “ tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal Allah ( 1 Kor.8: 3), bagaimana kita memahami perkataan ini..? “mengenal” disini mempunyai makna Alkitabiah, sehingga se-arti dengan “mengasihi” Allah, sebelumnya hendaklah kita sungguh-sungguh mengenal Tuhan, sebagaimana di kitab Hosea 6 : 3 “ Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal Tuhan, Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan.” (wouu…, sungguh luar biasa janjiNya ).

 

Oleh karena itu pemazmur didalam Doanya dihadapan Allah yang maha tahu (Mazmur 139 : 1-4 “Tuhan, Engkau menyelidiki dan  mengenal aku ; Engkau mengetahui kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya Tuhan “).

 

Pemazmur ini sadar bahwasanya manusia yang mengasihi Allah, harus terlebih dahulu memahami dan mengenal Tuhan ; sebagaimana Tuhan-pun mengenal kita. Kita pasti mengenal dan pernah menyanyikan B.E No.128 “ Di tanda Debatanta “, sebagaimana pada ayat 2 : “ Di tanda do nasida dibaen porsea do nasida di hataNa naung tu nasida ro …”

Oleh karena Tuhan telah mengenal kita, sebaiknya-pun kita tidak lagi hidup didalam keinginan daging (hidup menurut daging) dan berbalik lagi kepada keinginan duniawi (roh-roh duniawi), sebagaimana ditekankan Rasul Paulus di jemaat Galatia ( Galatia 4 : 9 ). A m e n….(St.Ir. Jonas S.C Siregar)

Renungan Harian : Kamis, 5 September 2013
 03 Sep

Zakaria

Nas Bacaan : Lukas 1 : 57 - 80

 

Zakaria ayah dari Yohanes Pembaptis adalah seorang imam. Ia sudah tua dan tidak punyak anak. Di masa tuanya ia mendapat pesan dari malaikat bahwa ia akan mendapatkan  seorang anak. Ia tidak percaya, karena itu ia dihukum dengan jalan tidak dapat bicara hingga ia menyebut nama dari anaknya itu, yakni Yohanes. Dua hal terjadi pada dirinya. Ia mendapatkan anak setelah ia sudah tua. Ia bisu dan dapat berbicara kembali setelah ia memberi nama bagi anaknya. Kedua peristiwa itu membuat semua penduduk di Yudea tercengang.

 

Setelah Zakaria kembali bisa bicara, setelah ia dipulihkan karena ketidakpercayaannya, ia menaikkan sebuah pujian kepada Allah. Lukas mengatakan bahwa Zakaria dipenuhi Roh Kudus, lalu ia menaikkan pujian. Kita mencatat di sini bahwa mereka yang dipakai Allah adalah orang orang yang dipenuhi Roh Kudus. Yohanes Pembaptis dipenuhi Roh Kudus dari sejak rahim ibunya. Kita tahu bagaimana Allah memakai dia untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan Yesus.

 

Zakaria yang dipenuhi Roh Kudus menaikkan pujian kepada Allah. Kita akan merenungkan pujian Zakaria yang dipenuhi Roh Kudus itu. Zakaria melihat apa yang dialaminya sebagai satu pertanda bahwa Allah telah melawat umat-Nya. Kehadiran Roh Kudus adalah sebuah tanda bahwa Allah telah melawat umat-Nya. Bahkan bagi kita sekarang ini, Allah tidak hanya melawat umat, tetapi bahkan lebih dari itu, Ia telah tinggal bersama dengan kita. Oleh karena itu, layaklah kita menaikkan pujian kepada-Nya, karena Allah telah tinggal bersama dengan kita.

 

Kehadiran Allah di dalam hidup kita menandakan bahwa kita telah dilepaskan dari musuh kita. Musuh kita yang paling utama ialah dosa dan maut. Kristus telah mengalahkan itu bagi kita, maka layaklah kita menaikkan pujian bagi Dia. Adapun wujud dari pujian yang benar kepada Allah bukanlah ucapan bibir yang memuliakan Allah. Memang hal itu adalah sesuatu yang harus dilakukan. Tetapi itu adalah bagian terkecil dari pujian kita kepada Allah. Makna terdalam dari pujian kepada Allah ialah: ibadah.

 

Zakaria mengatakan hal itu di dalam ayat 74-75 “Supaya kita terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita”. Beribadah seumur hidup kita dalam kekudusan dan kebenaran adalah pujian yang paling disukai Allah dari dalam kehidupan kita. Beribadah artinya adalah berbakti kepada Allah. Hidup ini pada hakekatnya adalah sebuah ibadah. Jika memang demikian, maka ibadah itu  sekaligus adalah syukur kita kepada Allah.

 

Beribadah dalam kekudusan, artinya berbakti dalam arti tidak sama dengan cara dunia beribadah. Kudus artinya terpisah, tersendiri. Kita membaktikan diri kita kepada Allah dengan cara tersendiri. Jika manusia hidup untuk diri sendiri, maka kita hidup bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk Tuhan. Itulah ibadah yang kudus di hadirat Allah. Dengan cara beribadah seperti itu, kita akan mempersiapkan jalan bagi Allah untuk hadir di dalam dunia ini melalui kita. Itulah yang ditugaskan Allah bagi kita yang telah menikmati kasih-Nya. Sudahkah saudara beribadah kepada Allah? (St. Hotman Ch. Siahaan)

Renungan Harian : Rabu, 4 September 2013
 03 Sep

Pekabaran Injil

Nas Bacaan : Matius 10 : 7 - 15

 

Injil artinya adalah kabar baik. Kabar baik dari Allah di surga, melalui Yesus Kristus yang telah mati dan bangkit dalam rangka membenarkan manusia di hadapan Allah. Kabar baik itu harus diberitakan kepada seluruh umat manusia, agar mereka diperdamaikan dengan Allah. Setiap orang yang telah diperhadapkan dengan kabar baik dari surga itu, pada hakekatnya kepadanya diberikan dua pilihan. Pertama, menerima kabar baik itu bagi dirinya sendiri. Akibatnya ia akan menikmati manfaat dari kabar baik itu sendiri. Pilihan kedua ialah: menolak kabar baik itu. Setiap orang yang menolak kabar baik itu, maka dari orang itu akan diminta pertanggung jawabannya kelak di hari penghakiman.

 

Catatan bagi kita dari nas pagi ini ialah: Yesus berpesan agar para murid yang memberitakan kabar baik itu tidak membawa perbekalan di dalam melaksanakan tugas pemberitaan kabar baik itu sendiri. Alasan Tuhan Yesus ialah: seorang pekerja patut mendapat upahnya. Artinya, mereka yang menerima kabar baik itu, harus menghargai para pemberita kabar baik itu sendiri, dengan jalan mencukupkan apa yang perlu di dalam kehidupan mereka yang memberitakan kabar baik.

 

Di tempat lain, Paulus mengatakan kepada jemaat di Galatia: “Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu” Gal 6:6. Kabar baik membuat sesama manusia menjadi saling menutupi kekurangan masing masing. Yesus mengatakan bahwa para pemberita kabar baik menerimanya secara gratis, maka mereka pun mengabarkannya secara gratis. Giliran mereka yang menerima kabar baik itu untuk memberikan keperluan dari pemberita kabar baik secara gratis juga. Dengan jalan demikian tercipta persekutuan – kiononia – artinya dalam bahasa Yunani ialah: saling berbagi.

 

Bagi mereka yang menolak kabar baik, maka apa yang ada di dalam kabar baik tidak akan diterimanya. Bahkan syalom yang diucapkan pada saat pemberita kabar baik memasuki rumahnya pun akan meninggalkan dia. Itu berarti, orang tersebut tidak akan mendapatkan syalom lagi dari Allah. Sudah sering diungkapkan di dalam renungan pagi ini makna  syalom itu ialah: utuh dan komplit. Orang tersebut tidak akan mendapatkan keutuhan dengan Allah, dan apa yang dimilikinya tidak akan komplit lagi. Sebab dia telah menolak kabar baik yang dari Allah.

 

Tetapi mereka yang menerima kabar baik itu, maka syalom yang diserukan pemberita kabar baik tatkala memasuki rumahnya, syalom itu akan tinggal di rumahnya untuk selama lamanya. Jangan kita lupa bahwa yang mengucapkan syalom itu adalah utusan Allah sendiri. Seorang utusan berkuasa penuh untuk mengatasnamakan sang pengutus yakni Allah sendiri. Jadi syalom itu adalah syalomnya Allah sendiri yang tinggal di dalam rumah dan hidup dari mereka yang menerima kabar baik. Catatan terakhir pada pagi ini dari nas kita ialah: Yesus menubuatkan bahwa hukuman dari Sodom dan Gomora akan lebih ringan dari hukuman mereka yang menolak kabar baik. Di mata Tuhan Yesus, kejahatan yang luar biasa ialah mengabaikan karya-Nya sendiri yang menyelamatkan manusia. Itu lebih besar dosanya dari pada kejahatan moral seperti Sodom dan Gomora.

(St. Hotman Ch. Siahaan)

Renungan Harian : Selasa, 3 September 2013
 03 Sep

Takut akan Allah

Nas Bacaan: Pengkhotbah 4 : 17 - 5 : 6

 

Minggu Minggu Trinitatis memberi tekanan utama pada respon terhadap ajaran Firman Allah. Nas kita pun pada pagi hari ini berbicara tentang respon kita, tatkala ibadah dilaksanakan di Bait Allah. Guru hikmat mengajar kita untuk memberi perhatian yang cukup untuk mendengar apa yang diajarkan di dalam ibadah. Rasul Paulus mengatakan : Jadi iman timbul dari pendengaran, pendengaran akan Firman Kristus. Tatkala Firman diberitakan, apakah kita sungguh sungguh mendengar, sehingga kita diubahkan apa yang kita dengar? Bukankah firman Allah berkuasa untuk mengubah hati manusia?

 

Guru hikmat pun berbicara tentang persembahan. Ada orang merasa telah memberi persembahan yang memadai jika ia mempersembahkan materi yang cukup banyak. Pada hal persembahan yang sejati pada hakekatnya ketaatan kepada kehendak Allah. Samuel mengatakan hal seperti itu kepada Saul dalam I Sam 15:22. Mezbah persembahan lainnya ialah: belas kasihan. Pertanyaan yang perlu diajukan pada kita ialah: sejauh mana kita telah menaati Firman Allah? Sejauh itu pula persembahan yang kita persembahkan di hadapan-Nya.

 

Dalam 5:1 guru hikmat berbicara tentang perkataan. Menurut Alkitab, seorang yang bijak ialah mereka yang dapat mengendalikan perkataannya. Salah satu dari wujud perkataan dalam ibadah ialah doa. Yesus pun mengajar kita agar tidak berdoa seperti ahli Taurat yang berdoa di perempatan jalan. Alasan guru hikmat ialah: Allah di surga, sementara kita di dunia. Oleh karena itu biarlah perkataanmu sedikit.

 

Bukan berarti kita tidak dapat berdoa panjang. Tetapi seharusnya hal itu adalah sebuah acara pribadi. Luther berdoa tiga jam secara terus menerus tiap hari. Tetapi itu dilakukannya sendiri, bukan di dalam kebaktian. Sekarang ini ada banyak doa yang panjang dinaikkan orang di dalam kebaktian. Ada doa semalam suntuk. Yesus berdoa semalam suntuk sendirian, bukan bersama dengan para murid.

 

Guru hikmat pun berbicara tentang perkataan dan nazar. Guru hikmat ini peduli dengan perkataan manusia (ayat 1) dan juga perbuatan manusia, dalam hal ini adalah nazar. Sudah kita katakan di atas, alasan dari guru hikmat untuk memperhatikan seluruh perilaku kita ialah: Allah ada di surga dan kita di bumi. Karena Allah ada di surga Maha Tinggi, maka takutlah akan Dia, sebab ada jurang pemisah yang sangat lebar antara surga dan dunia. Namun Allah memperhatikan orang yang ada di bumi. Sementara manusia tidak dapat memperhatikan Allah yang ada di surga.

 

Sekarang ini ada banyak orang membuat Allah itu sangat dekat dengan mereka, sehingga tidak ada lagi jurang pemisah antara manusia dengan Allah. Mereka tidak sadar bahwa dengan jalan demikian mereka telah merendahkan derajat Allah yang adalah Allah Yang Maha Kudus dan berada di atas segala sesuatu. Kasih karunia Allah tidak menghilangkan kekudusan Allah dan kemuliaan-Nya yang menurut Paulus ia ada di dalam terang yang tiada terhampiri. Takutlah terhadap Allah yang seperti itu. Sekalipun Ia adalah sahabat orang berdosa dan Bapa bagi kita di dalam Kristus.

(St. Hotman Ch. Siahaan)

Renungan Harian : Jumat, 30 Agustus 2013
 28 Aug

Sempurna adalah Ketidaksempurnaan

Nas Bacaan: 2 Korintus 12:1-10

Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." (2 Korintus 12:9)

Dalam sebuah film yang dibintangi oleh aktor Robin Williams dikisahkan tentang sebuah robot Humanoid (Robot yang menyamai manusia) yang dibuat untuk membantu sebuah keluarga. Dalam perjalanan waktu, dan mungkin karena begitu canggihnya robot itu, sang robot mulai memiliki perasaan seperti manusia. Dia bisa bergembira, marah, sedih, bahkan menangis. Sehingga timbullah keinginan untuk menjadi manusia yang sesungguhnya. Namun, pada akhirnya disadari bahwa sang robot tidak bisa menjadi manusia justru karena “Kesempurnaannya”.

Tubuh sang robot dibuat begitu simetris, sehingga mata, telinga, pipi, tangan kanan dan kiri sama persis seperti dicerminkan saja. Sementara tubuh manusia tidak ada yang simetris 100%. Antara alis kanan dan kiri, pasti ada sedikit beda. Demikian juga pipi, mata, telinga dan lain-lain. Ternyata tubuh manusia yang tidak sempurna ini adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna.

Sering kali kita menganggap penderitaan yang kita alami, bencana dan cobaan yang berat merupakan hukuman Tuhan. Ketika hidup kita tidak “sempurna”, yakni ketika kita tidak memiliki kesuksesan, keberhasilan, kekayaan, kehormatan dan lain-lain maka artinya Tuhan sudah membenci dan tidak perduli kepada kita.  Padahal, sering sekali itu adalah proses “penyempurnaan” diri kita yang sedang dimulai oleh Tuhan.

Surat Paulus kali ini juga mengajarkan bahwa manusia adalah tidak sempurna yang memiliki banyak kekurangan. Kita adalah manusia yang berdosa dan tidak mampu lepas dari kuasa dosa dengan kemampuan kita sendiri. Manusia hanya mampu lepas dari kuasa dosa dengan kuasa Tuhan saja. Justru ketika kita menyadari kelemahan dan kekurangan kita, maka mulailah Tuhan bekerja untuk menyempurnakan. Semakin kita tidak menyadari dan bermegah atas kekuatan dan kemampuan sendiri, maka kuasa Tuhan tidak akan bisa masuk untuk menyempurnakan sesuai dengan renacanaNya yang indah.

Ya, kita adalah ciptaan Tuhan yang sempurna justru karena tubuh kita dan hidup kita tidak sempurna seperti kesempurnaan yang sering kita bayangkan. Kita hanya akan menjadi sempurna ketika membiarkan Tuhan bekerja dalam hidup kita. (St. Edward Napitupulu)

Renungan Harian : Kamis, 29 Agustus 2013
 28 Aug

Penuh Tapi Kosong

Nas Bacaan: Mazmur 42

 

Ilmuwan dan Filsuf Perancis, Blaise Pascal, berbicara mengenai kebutuhan  manusia akan Tuhan saat dia berkata, "Ada satu kekosongan yang telah diciptakan Tuhan dalam hati setiap orang, yang hanya dapat diisi oleh Tuhan sendiri melalui Putera-Nya Tuhan Yesus Kristus."

 

 

Bangsa Jepang adalah bangsa yang amat longgar dalam hal beragama. Sebagian besar dari mereka tidak mengikuti praktik keagamaan secara teratur dan kosisten selain untuk acara-acara tertentu saja (seperti: kelahiran, perkawinan dan kematian). Hal ini mungkin berkaitan dengan sejarah bangsa Jepang sejak restorasi Meiji pada tahun 1866-1869 yang membawa perubahan besar-besaran pada struktur politik dan sosial Jepang sampai sekarang, bisa dikatakan bahwa profesi dan pekerjaanlah yang dijadikan semacam tujuan dan pegangan hidup. Keberhasilan pekerjaan dan profesilah yang membawa kebahagiaan. Sehingga itu yang menjadi prioritas dalam hidup.

Namun, meskipun begitu banyak prestasi dan keberhasilan yang dicapai sebagai negara maju dengan tingkat kesejahteraan dan ekonomi yang tinggi, ada fakta yang menyedihkan bahwa di antara negara-negara maju di dunia Jepang memiliki angka bunuh diri yang tertinggi di dunia yakni hampir 30.000 orang/tahun. Ini menjadikan kita bertanya-tanya, kenapa ? Ternyata walaupun dipenuhi oleh keberhasilan dan kesuksesan karir dan ekonomi, ada satu kekosongan dalam banyak hati orang Jepang yang tidak dapat tergantikan oleh semua itu.

Kesuksesan karir, kekayaan materi, atau popularitas memang mampu memuaskan jiwa kita sesaat. Namun ketika pencobaan dan badai hidup menerjang, seringkali semua itu jadi tidak berarti. Kita merindukan sesuatu yang mampu mengobati kesedihan dan memenuhi kekosongan hati kita. Firman Tuhan bagi kita hari ini mampu menjawab pertanyaan tersebut dengan jelas. Bahwa hanya Tuhanlah yang mampu menjawab kehausan jiwa. Hanya Dia yang mampu mengisi ruang hampa kekosongan hati manusia. Kita hanya mampu menemukan sumber damai sejahtera yang sejati pada Tuhan Yesus. Tidak ada yang lain !

Untuk kita bisa memahami Tuhan yang menjadi sumber kehidupan kita, tentunya kita harus memiliki hubungan yang erat dan akrab. Melalui doa pribadi, persekutuan dengan saudara seiman akan meningkatkan hubungan yang akrab dengan Tuhan. Sehingga, ketika datang pencobaan, tempat lari kita hanya padaNya. Maka ketenangan dan damai sejahtera akan kita dapatkan. Jiwa kita akan terpuaskan.

(St. Edward Napitupulu)

 

Renungan Harian : Rabu, 28 Agustus 2013
 27 Aug

Nats: Yesaya 9:4

"Sebab setiap sepatu tentara yang berderap-derap dan setiap jubah yang berlumuran darah akan menjadi umpan api"

Bacaan: 1 Tawarikh 23 : 1 - 20; Efesus 4 : 25 - 27

Yesaya adalah seorang terpelajar dan ahli politik, tinggal di Jerusalem, ibukota Yehuda, yang digunakan Allah menyampaikan pertobatan dan menulis banyak nubuat tentang kedatangan Penasehat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai (Jes 9 ; 5).

 

Menubuat timbulnya terang yang besar (Jes 9 ; 5) yang menimbulkan sorak-sorai dan sukacita yang besar. Seperti sukacita di waktu panen, sorak-sorai diwaktu membagi-bagi jarahan (?)

 

Inilah bagian dari nubuat kelahiran Raja Damai, yang membebaskan Yehuda dari kuk, tongkat si penindas, derap sepatu tentara dan jubah yang berlumuran darah yang menjadi umpan api.

 

Nubuat Jesaya digenapi oleh Yesus dan dinyatakan kembali dalam Perjanjian Baru.

 

1.       Jesaya 6 ; 9               “Orang tidak akan mengerti Dia”                          Mat 13 ; 13-14.

2.       Jesaya 6 ; 10            “Orang tidak akan percaya kepada-Nya”          Yoh 12 ; 39-41.

3.       Jesaya 7 ; 14            “Ia akan dilahirkan dari seorang perawan”       Mat 1 ; 18-25.

4.       Jesaya 9 ; 1-2    “Ia harus meninggalkan negeri itu”                           Mat 4 ; 12-16.

5.       Jesaya 42 ; 1-3  “Ia tidak mempromosikan Diri-Nya”                          Mat 12 ; 14-21.

6.       Jesaya 53 ; 3     “Ia akanditolak oleh manusia”                                      Luk 9 ; 22.

7.       Jesaya 59 ; 4     “Ia akan menanggung penyakit kita”                         Mat 8 ; 16-17.

8.       Jesaya 53 ; 9     “Ia akan mati diantara para pencuri”                         Mat 27 ; 38.

9.       Jesaya 53 ; 9            “Ia akan dikubur ditengah orang kaya”              Mat 15 ; 43.

10.   Jesaya 61 ; 1-2  “Ia akan menggenapi Kitab Suci”                                Luk 4 ; 16-21

 

Mari kita sambut Raja Damai, kekuatan dan kekuasaan (tentara dan ancaman pertumpahan darah) tidaklah kuasa untuk mengurungkan Kasih dan Damai Sejahtera yang dijanjikan menjadi anugrah untuk yang mengikuti kehendak-Nya. Amin. (St. Victor H. Sianipar)

 

Renungan Harian: Selasa, 27 Agustus 2013
 27 Aug

Nats: 3 Musa 26:13

"Ahu do Jahowa, Debatamuna I, naung manogihon hamu ruar sian tano Misir, asa unang be hamu hatobannasida, jala nunga Ahu mamonggolhon hau ni augamunai, jala Ahu mambahen marsihohot langkamuna"

 

Bacaan: 1 Tawarikh 22 : 1 - 19; Efesus 4 : 20 - 24 

Nats ini adalah ayat terakhir dari perikop “Berkat 3 Musa 26 ; 1-13” yang kemudian dilanjutkan ke perikop berikut “Kutuk 26 ; 14-46”.

Allah mengingatkan berbagai penderitaan, kesulitan yang dialami bangsa Israel, di dalam nats ini :

 

-        sebagai budak (hatoban).

-        memikul beban/kuk (auga).

 

Allah tidak hanya menjelaskan penderitaan tapi Allah menjelaskan jalan keluar dari berbagai kesulitan tersebut

 

26 ; 1      “… janganlah membuat berhala …”

 

26 ; 2      “… peliharalah hari-hari Sabat-Ku …”

 

                “… hormatilah tempat kudus-Ku …”

 

26 ; 3      “… hiduplah menurut ketetapan-Ku …”

 

                “… berpeganglah pada perintah-Ku …” dan lain-lain.

 

Mari kita perhatikan, apakah perolehan hanya karena sebab dan akibat dari perbuatan manusia ? Apakah padi yang bernas semata-mata karena upaya menyemai oleh manusia ? Tidaklah hujan, angin dan alam bukan kita yang kuasai dan kendalikan ?

 

Allah berperan, berada dan menyertai perbuatan tangan, hati dan pikiran kita, memberi karunia, anugrah dan berkat yang melimpah hanya karena kemurahan hati Allah (band Ulangan 28 ; 8, Efesus 1 ; 3, Kisah Para Rasul 3 ; 25, dan lain-lain).

 

Mari kita lakukan kehendak Allah dan berdoa, memohon agar berkat, karunia dan kemurahan-Nya mengalir dan melimpah. Amin (St. Victor H. Sianipar)

Renungan Harian : Senin, 26 Agustus 2013
 26 Aug

Nas: Yesaya 10:27

Bacaan: Efesus 4:17-19; 1 Tawarikh 21:18-30

"Pada waktu itu beban yang ditimpakan mereka atas bahumu akan terbuang, dan kuk yang diletakkan mereka atas tengkukmu akan lenyap".

 

Dalam kehidupan sehari-hari beban memiliki makna dan beberapa pemahaman ; beban bisa diartikan dalam mengukur berat, sering juga digunakan dalam “beban pikiran” , “beban usaha” dan berbagai penggunaan lain. Semua ini menggambarkan skala kesulitan untuk dilaksanakan. Bandingkan kata beban dalam Alkitab , diantaranya ;

-      Mat, 11 ; 28 – 30, Yesus tidak memberikan beban berat.

 

Palang kayu dengan jepitan kayu vertical yang memisahkan kedua binatang penarik, sehingga bersama-sama dapat menarik beban berat. Kuk adalah palang kayu tunggal dimaksud, dilengkapi dengan jerat tali yang diikatkan ke leher binatang penarik.

 

Maka dalam hal tersebut kuk adalah alat penghantar beban yang harus ditarik/dilaksanakan binatang penarik atas kereta atau beban.

 

Dalam Alkitab kuk adalah hiasan atas kesulitan.

 

(Bandingkan, Yer 27:2) “Buatlah tali pengikat dan gandar, lalu pasanglah itu pada tengkukmu”

 

Maka beban dan kuk adalah gambaran kesulitan yang dihadapi oleh sisa Israel saat berdiam di Sion, dan Allah menjanjikan untuk melenyapkannya.

 

Beban dan kuk juga kita alami saat ini, baik dalam kehidupan duniawi maupun dalam menjalankan keyakinan. Apakah janji Allah masih berlaku ? Apakah pengorbanan Yesus di kayu salib menjadi jawaban ?

 

Iman dan keyakinan kita, lebih dekat dan ikut dengan kehendak Allah melalui Tuhan kita Yesus, Juru Selamat Yang Agung adalah jaminan, membebaskan kita dari segala beban dan kuk masa kini maupun masa mendatang. Amen (St. Victor H. Sianipar)

 

Notes : Arti beban dan kuk dikutip dari Kamus Alkitab, WRF   

             Browning,

                 diterjemahkan oleh Dr Liem Khiem dan Bambang Subandriyo, MTh.

 

Renungan Harian : Sabtu, 24 Agustus 2013
 22 Aug

"TUHAN MEMULIHKAN UMAT-NYA"

Nas Bacaan:Yeremia 30:8

"Maka pada hari itu, demikianlah firman Tuhan semesta alam, Aku akan mematahkan kuk dari tengkuk mereka dan memutuskan tali-tali pengikat mereka, dan mereka tidak mengabdi lagi kepada orang-orang asing"

 

Kitab Yeremia bin Hilkia dalam bahasa Ibrani Sefer Yirmayahu yang berarti YHWH meningkatkan, nabi Yeremia yang berperasaan halus sama sekali tidak suka menubuatkan hukuman ke-atas Yehuda dan Israel. Perkataan Tuhan adalah seperti “api” didalam hatinya ; mau tidak mau, ia harus menyampaikan kepada bangsanya, janji Tuhan pada masa itu adalah suatu ikatan janji yang “baru” dengan Tuhan, janji itu akan tertulis didalam hati mereka  (pasal 31:31-34 “…..Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda…” ) .

 

Nubuat-nubuat nabi Yeremia mencangkup pemulihan orang Yahudi dari Babel yang akan terjadi pada waktu dekat, dari waktu kesusahan besar itu ; suatu sisa bangsa Israel akan diselamatkan, mereka akan dibebaskan dari para penindas bangsa asing ; untuk melayani Allah dan Mesias (ayat 9 : “ …yang akan Ku-bangkitkan bagi mereka.”), dan berbagai peristiwa yang jauh kedepan (future time ) ; yang berkaitan dengan Mesias pada akhir zaman, disaat Kristus akan memerintah atas umat-Nya.

 

Nabi Yeremia meyakinkan para buangan Yahudi yang menghadapi masa depan yang kelihatannya tampa harapan , bahwa umat pilihan Allah tidak akan musnah ; suatu sisa akan tetap ada (exsist dan survive) dan melalui mereka (tokoh gereja awal/perdana) ; Allah akan melaksanakan kehendak-Nya bagi dunia.

Kesusahan Yakub akan berakhir (ayat 10);  pada saat kedatangan Kristus untuk mendirikan kerajaan-Nya di bumi, oknum yang akan dilayani oleh bangsa tersebut ialah Jesus sang Mesias, keturunan Daud .

“Yakub” (ayat 10 : “….hai hamba-Ku Yakub,…”) mengacu kepada suatu kaum sisa yang benar dari Israel dan Yehuda ; mereka akan hidup dalam damai sejahtera dan keamanan (Ibrani : Bo^ achem le- shalom malache ha-shalom malache elyon, lihat pasal 33 : 6).

 

 “Mematahkan kuk” istilah yang dipakai nabi Yesaya (Yeshayahu) tentang nubuat kelahiran Raja Damai (Yesaya 9 : 3), “ dan memutuskan tali-tali “ sebagaimana dikatakan di Mazmur 107 :14 “dibawa-Nya mereka keluar dari gelap dan kelam, dan diputuskankan-Nya belenggu-belenggu mereka “.

Yang kemudian digenapi oleh Tuhan Jesus sebagai ajakan juruselamat (Matius 11 : 28 -30 : “ Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Ku-pasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah-lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapatkan ketenangan.Sebab kuk yang kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan “).

Jesus Kristus akhirnya akan menjadi pemimpin baru yang akan menuntun bangsa Yahudi maupun bangsa non-Yahudi kepada Allah. A m e n.

(St.Ir. Jonas S.C Siregar)

Renungan Harian : Jumat, 23 Agustus 2013
 22 Aug

"MENANTIKAN TUHAN"

Nas Bacaan: Yesaya 40 : 31

"Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru : mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah".

 

Kitab Yesaya dalam bahasa Ibrani Yeshayahu yang berarti “penyelamatan YHWH “ (Yahweh), latar belakang pasal ini ditulis untuk memberitakan bahwa tak lama lagi Tuhan membebaskan umatNya dari pembuangan di Babel dan membawa mereka pulang ke Jerusalem. Orang-orang Yehuda dalam keadaan hancur dan tampa harapan, sebagaimana di ayat 1 : “ Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu ( Ibrani : “ na-ha-mu  na-ha-mu  am-mi  yo-mar  e-lo-he-kem “).

 

Pada ayat 31 ini ; istilah “seumpama rajawali” pernah difirmankan Tuhan kepada Musa pada kitab Keluaran 19:4 b “…dan bagaimana Aku telah mendukung kamu diatas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku “.

 

Berharap kepada Tuhan ialah mempercayakan sepenuhnya kehidupan kita kepadaNya, hal itu meliputi juga memandang Dia sebagai sumber pertolongan dan kasih karunia ketika diperlukan, sebagaimana sahabat Daniel yaitu Sadrakh, Mesakh dan Abednego meminta pertolongan Tuhan dari hukuman Nebukadnezar (Daniel 3 : 1-30).

 

“ Tetapi orang-orang yang menantikan –nantikan Tuhan…” , juga ditekankan pada Mazmur 27: 14 “ Nantikalah Tuhan..! kuatkanalah dan teguhkanlah hatimu..! Ya, nantikanlah Tuhan..! “, sebagaimana juga Simeon di Jerusalem yang menantikan penghiburan bagi Israel Roh Kudus ada diatasNya (Lukas 2 : 25-32 ), dengan demikian orang yang berharap kepada Tuhan dijanjikan, antara lain :

1.       Kekuatan Allah untuk menyegarkan mereka ditengah-tengah kelelahan dan kelemahan,  penderitaan dan pencobaan.

2.       Kemampuan untuk mengatasi persoalan-persoalan mereka bagaikan rajawali yang terbang naik ke langit ; dan..

3.       Kesanggupan untuk berlari secara rohani tampa merasa lelah dan terus berjalan maju tampa merasa letih, bila Allah  menangguhkan pertolonganNya. Allah berjanji bahwa jikalau umatNya dengan sabar mengandalkan Dia, maka Dia akan memberikan apapun yang mereka perlukan  untuk menopang mereka senantiasa ( 1 Petrus 1 : 5 ). A m e n (St.Ir.Jonas S.C Siregar)

Renungan Harian : Kamis, 22 Agustus 2013
 21 Aug

"BERSERAH KEHENDAK ALLAH"

Nas Bacaan : Daniel 3 : 17-18

17; "JIka Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan

      melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam

      tanganmu, ya raja;

 

18; "tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami

      tidak akan memuja dewa tuanku,  dan tidak akan menyembah patung emas

      yang tuanku dirikan itu".

 

Kata “dilemma “  adalah suatu bentuk keputusan yang harus dipilih (pilihan rasional), suatu keputusan yang sangat berat, meskipun taruhannya pada nyawa diri kita sendiri, ataupun repurtasi yang telah kita bangun menjadi hancur berantakan, resiko dari suatu keputusan mempunyai imbas dan effek yang sangat berat ; iman, jiwa/nyawa bahkan badanpun akan menjadi taruhannya.

Demikian pada Hananya  (Sadrakh) , Misael (Mesakh) dan Azarya (Abednego) memberi jawaban yang tegas atas keputusan yang harus diambil , untuk menolak perintah Nebukadnezar untuk menyembah dewa buatan raja itu. Mereka bertekun dalam imannya  atas 10 perintah Tuhan (Ibrani : a sereth, ha-devarim ) yaitu  ;

Hukum 1 (pertama) : Akulah Tuhan Allahmu, Jangan ada padamu Allah lain dihadapanKu (Ibrani: a-no-khi  YHWH  e-lo-hei-kha,  lo-yih-yeh-le-kha  e-lo-him  a-khe-rim  al-pa-na-ya  (e-lo-him : berarti Allah-Allah, bentuk jamak ).

Hukum 2 (kedua) : Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun …. (Ibrani : lo ta-‘a-she-le-kha  fe-sel….) .

Suatu jawaban dengan berlandaskan “berserah kehendak Allah”. sebagaimana dikatakan pada ayat 17 dan dilanjutkan ayat 18 (sebagai contrary) : “ tetapi seandainya tidak……, inilah suatu jawaban bagi orang yang ber-iman, karena Tuhanlah yang menentukan hidup dan matinya seseorang;  sakit dan sehat seseorang maupun  mujur dan tidak mujurnya suatu karier seseorang.

Ke-tiga pemuda tersebut menyatakan kesaksian yang berani dan sangat terus terang tentang kesetiaan mereka kepada satu-satunya Allah yang benar, mereka mempunyai pengharapan dan iman yang terpaut pada Dia yang adalah perlindungan dan kekuatan mereka (sebagaimana di Mazmur 46:2 “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan….dan Mzm 56:5 b “kepada Allah aku percaya, aku tidak takut.Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku..? ).

Mereka juga tahu bahwa murka Allah terhadap dosa dan ketidak-taatan jauh lebih hebat ketimbang akan kemarahan manusia (bd. Imamat 26 : 1-46 dan Ulangan 28: 1-68 ), oleh karena itu sebagai ungkapan iman yang kokoh, kepercayaan mutlak dan kesetiaan penuh kepada Allah, mereka menyatakan “ seandainya Ia tidak menolong “ , mereka memiliki imam yang mengandalkan dan menaati Allah tampa menghiraukan akibat akibatnya, ketaatan dan kepercayaan yang tabah kepada Allah memberikan bukti sejati iman alkitabiah, ke-tiga sahabat Daniel ini “diuji” amat sangat.

Sebaimana kita ingat perkataan Tuhan Jesus disaat  Dia akan ditangkap : “ tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” ( Markus 14: 36 b dan Matius 26:39 ), adalah juga suatu keputusan yang tidak mengedepankan ‘kehendakku, tetapi “kehendak-Mu yang terjadi “. A m e n (St. Ir.Jonas S.C Siregar)

Renungan Harian : Rabu, 21 Agustus 2013
 20 Aug

Kepemimpinan Yang Menghamba

Firman Tuhan:

Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatnya ke pinggan-Nya kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi dan mulai membasuh kaki murid-muridNya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. (Yoh. 13:4,5).

Kepemimpin Yesus menekankan pada perendahkan diri, melayani, mengosongkan diri sebagai hamba,  karena upah yang diterima oleh seorang pemimpin bukan dari dunia ini tetapi dari sorga. Yesus datang ke dunia ini bukan untuk dilayani atau  menguasai orang-orang yang dilayaninya, tetapi merendahkan hati dan pikiran kepada orang yang dilayaninya dengan penuh kasih dan tanggung jawab, sebagaimana yang diajarkan-Nya, bila seseorang mau menjadi yang pemimpin, maka dia harus memimpin sebagai seorang hamba, jangan sebaliknya untuk menguasainya serta memanfaatkannya untuk kepentingan pribadinya, sebagai mana yang dikecam oleh nabi Yehezkiel kepada para pemimpin bangsa Israel pada masa itu:

Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan. Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman  (Yeh34: 3,4) .

Di dalam pelaksanaannya,  kepemimpinan Kristen memiliki banyak persamaan dan pendekatan teori dan praktek dengan kepemimpinan umum di dunia sekuler. Namun ada satu hal yang paling mendasar dan sekaligus yang  membedakan keduanya, adalah bahwa kepemimpinan di dunia sekuler ditujukan  untuk menguasai dengan pendekatan kekuasaan dari atas, sementara kepemimpinan Kristen adalah melayani dengan pedekatan kerendahan hati dari bawah,  seperti antara lain dinyatakan oleh injil Markus, kalau mau memimpin atau mau menjadi yang terbesar maka harus mau menjadi yang terkecil dan melayani, karena Yesus sebagai Pemimpin, datang untuk melayani, dan berkorban dengan memberikan hidup-Nya bagi banyak orang. Shalom.    

(St. Dr.Ir.Tagor Pasaribu, M.Div)

 

Renungan Harian : Selasa, 20 Agustus 2013
 19 Aug

Kepemimpinan yang Mentransformasi

Firman Tuhan :

Jawabnya: "Bagaimana aku dapat mengerti kalau tidak ada yang membimbing aku? (Kis. 8:31a)

Setelah Tuhan Allah menciptakan manusia pertama Adam dan Hawa, kepada mereka langsung diberikan tugas untuk menguasai ciptaan. Banyak ayat-ayat pada Alkitab yang menjadi landasan dasar bagi manusia untuk melaksanakan tugas kepemimpinan  tersebut seperti yang dinyatakan oleh penulis Kitab Kejadian yang mengatakan bahwa manusia diciptakan untuk memimpin,  menguasai, merawat mentransformasi kehidupan  serta mengembangkan dan memelihara ciptaan Tuhan yang ada di dunia ini sebagai rekan sekerja Allah.   

Pada tulisan sebelumnya dinyatakan, bahwa setiap orang Kristen tanpa kecuali terpanggil menjadi pemimpin yang transformatif, yang mengambil bagian di dalam kepemimpinan di manapun mereka berada,  serta yang memiliki kemauan untuk mentransformasi.  Istilah transformasi mengandung arti “mengubah bentuk”,  dari bentuk yang lama kepada bentuk yang baru, dan maksudnya di sini adalah dari bentuk yang tak baik menjadi baik, yang lama menjadi baru. Kepemimpinan yang transformatif ini bertujuan untuk mengubah manusia dan lingkungan untuk menjadi lebih baik, dan semakin baik, dengan cara mengajak orang lain untuk meneladani Yesus, memotivasi yang kurang percaya menjadi sunguh-sungguh percaya kepada Yesus Kristus, selanjutnya mengikut Yesus serta meniru perbuatan-Nya, demikian seterusnya tanpa henti, karena dunia juga berubah dari hari ke hari.

Nas di atas yang mempertanyakan, “…bagaimana aku dapat mengerti kalau tidak ada yang membimbing aku?yang menekankan perlunya pemimpin yang dapat membimbing (memimpin) bangsa, kelompok atau masyarakatnya, bahkan memimpin orang per orang untuk  menuju kehidupan yang baik. Banyak contoh yang dapat dilihat betapa kepemimpin yang baik dapat membawa kelompok atau masyarakat atau bahkan bangsa menjadi baik dan maju, dan sebaliknya pemimpin yang tidak baik menghancurkan masa depan bangsa, seperti dinyatakan oleh Dr.Jimmy Oentoro, dari Harvest International Theology Seminary (HITS) dengan mengatakan: “Jatuh bangunnya satu negara, gereja, atau rumah tangga, terletak di pundak pemimpinnya. Sejarah dunia diwarnai oleh pemimpin, yang agung maupun yang kejam. Ada kebaikan yang tak terbatas, bahkan ada kehancuran yang tak terbayangkan. Abad ke-21 menginginkan pemimpin yang mempunyai kemauan untuk mentransformasi kehidupan, memiliki visi, trampil dan berdedikasi tinggi”. Kita terpanggil untuk menjadi pemimpin yang transformatif, untuk mengubah dunia kita menjadi lebih baik. Shalom (St. Dr.Ir.Tagor Pasaribu, M.Div)

Renungan Harian : Senin, 19 Agustus 2013
 19 Aug

Kepemimpinan yang Berdasar pada Alkitab

 

Firman Tuhan:

Jikalau tidak ada Pimpinan, jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasehat banyak, keselamatan ada. (Ams. 11:4)

Kepemimpinan adalah karya dan inisiatif  Tuhan di dalam kekekalan-Nya,  dan oleh Tuhan dengan kemahakuasaan-Nya, menciptakan umat-Nya, selanjutnya memimpin umat-Nya, dan memeliharanya, agar umat-Nya memuliakan Tuhan. Penulis Kitab Amsal menyatakan betapa pentingnya kehadiran para pemimpin di tengah-tengah bangsa, kalau tidak demikian maka bangsa akan binasa. Untuk melaksanakan tugas kepemimpinan itu Tuhan memanggil orang yang dikasihi-Nya untuk dan atas nama Tuhan melakukan tugas kepemimpinan itu.

Secara sederhana, kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan untuk memotivasi orang lain, menggerakkan, dan membawa sekaligus mengarahkan kepada suatu tujuan tertentu. Sebagaimana dinyatakan di atas, kepemimpinan sangat penting di dalam kehidupan manusia, sehingga Tuhan memanggil kita orang Kristen untuk menjadi pemimpin di manapun kita berada dan berkarya, berorganisasi maupun melayani, sebab semua aktifitas kehidupan kita behubungan dengan kepemimpinan, seperti para guru di sekolah atau dosen di kampus, di bidang bisnis dan industri, wartawan, hakim, dokter politisi, pekerja sosial, dan kehidupan keluarga, semuanya  mengemban tanggung jawab kepemimpinan dalam lingkungannya masing-masing untuk membawa orang lain kepada kehidupan yang lebih baik.

Dari berbagai jenis kepemimpinan, maka jenis kepemimpinan Kristenlah  yang berdampak luas di dalam kehidupan manusia yang menjadi dasar dari kepemimpinan yang transformatif yang mengubah dunia. Dunia membutuhkan pemimpin-pemimpin yang dapat mengubah dunia menjadi lebih baik, namun sekarang justru  dunia diperhadapkan dengan kekurangan pemimpin.

Kepemimpinan yang diajarkan oleh Yesus Kristus kepada kita adalah dengan cara mengajar sekaligus memberi contoh dan teladan kepada para murid-murid-Nya. Kewajiban kita sebagai orang Kristen adalah untuk belajar dan mempersiapkan diri sebagai pemimpin dan sekaligus siap untuk dipimpin oleh Tuhan, dan  dipakai oleh Tuhan untuk melaksanakan tugas yang  diberikan Tuhan kepada kita, yang dimulai dengan menjadi pemimpin di dalam lingkungan keluarga dan rumah tangga, mengajar mereka akan firman Tuhan, mengenalkan Yesus Kristus di dalam kehidupan mereka.

Kepemimpinan Kristen didasarkan kepada  Alkitab, yang antara lain mengajarkan kepada kita, patuhilah dan hormatilah majikanmu, kasihilah anakbuahmu, berkatilah musuhmu, balaslah kebaikan terhadap kejahatan, arahkan sesamamu untuk melakukan yang terbaik di dalam kehidupannya untuk memuji dan memuliakan Tuhan, dan tabahlah dalam berbagai pencobaan. Shalom. (St. Dr.Ir.Tagor Pasaribu, M.Div)

Renungan Harian : Jumat, 16 Agustus 2013
 16 Aug

Jubileum

Nas Bacaan : Imamat 25 : 1 - 10

Kata Jubileum berasal dari kata Yobel dalam bahasa Ibrani. Tahun Yobel adalah tahun kelima puluh, dan tahun itu adalah tahun sabat bagi orang Israel. Kita tahu berdasarkan Hukum Taurat, ada hari Sabat, Minggu Sabat, Bulan Sabat, dan Tahun Sabat. Puncaknya adalah tahun Yobel yang juga adalah Sabat.

Pertama tama, marilah kita merenungkan makna Sabat, lalu nanti kita kaitkan dengan Tahun Yobel. Sabat adalah hari peristirahatan. Sudah kita katakan di atas bahwa ada Hari, Minggu, Bulan, dan Tahun Sabat. Itu berarti beristirahat adalah sesuatu yang sangat penting menurut Allah. Istirahat adalah sebuah ibadah di hadapan Allah.

 

Dari ilmu pengetahuan kita tahu bahwa tubuh kita butuh istirahat. Dengan jalan istirahat, sel sel tubuh kita mengalami pembaharuan. Tubuh pun mengeluarkan racun yang masuk ke dalam tubuh kita melalui makanan, minuman dan udara yang kita hirup, pada waktu kita istirahat. Kita membutuhkan istirahat. Allah pun memerintahkannya untuk kita lakukan. Ia tahu apa yang dibutuhkan tubuh yang diciptakan-Nya untuk kita.

 

Pada tahun Yobel, seluruh hutang piutang lunas, jika memang ada transaksi antara dua orang yang melibatkan tanah pusaka orang Israel. Di sini kita melihat tanah yang digadaikan harus kembali kepada yang punya hak atas tanah tersebut. sebab yang punya tanah itu. pada hakekatnya adalah Allah, bukan bangsa Israel. Oleh karena itu Allah mememerintahkan mereka agar tanah itu dikembalikan kepada-Nya, sehingga dapat Dia berikan kembali kepada mereka yang telah mewariskan tanah itu untuk mereka melalui Yosua.

 

Melalui Tahun Yobel, orang boleh beristirahat dari hutang yang selama ini menimpa dirinya. Ia dipulihkan kembali. Jika karena hutang ia menjadi budak, karena tidak mampu membayar hutangnya, maka pada tahun Yobel, ia  beristirahat dari pekerjaan seorang budak. Ia dikembalikan pada harkatnya semula sebagai satu pribadi yang punya harga diri. Itulah sebabnya orang Israel menyebut juga tahun Yobel sebagai tahun rahmat TUHAN.

 

Bagi kita sekarang ini, tahun rahmat Tuhan, atau tahun Yobel adalah dimana kita ada di dalam Kristus. Sebab di dalam Kristus kita benar benar beristirahat, sebab bukan lagi kita yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam kita. Hidup yang kita hidupi sekarang adalah hidup karena iman kepada Anak Allah yang mengasihi kita dan yang menyerahkan diri-Nya untuk kita (Gal.2:20).

 

Di dalam Kristus kita diciptakan kembali menjadi manusia baru. Kita bukan lagi hamba melainkan anak. Tahun Yobel yang disuarakan Musa untuk Israel telah digenapi Yesus di dalam diri-Nya. Dalam tahun Yobel itu, kita mengalami pendamaian dengan sesama manusia, juga mendapatkan pendamaian dengan Allah. Satu pertanyaan diajukan kepada kita: sudahkah saudara dan saya menikmati tahun Yobel atau Jubileum yang disediakan Kristus bagi kita? (St. Hotman Ch. Siahaan)

Renungan Harian : Kamis, 15 Agustus 2013
 15 Aug

Ingat

Nas Bacaan : Pengkhotbah 12 : 1 - 8

 

Kitab Pengkhotbah adalah satu kitab yang ditulis oleh seorang guru hikmat. Kita perlu membuat perenungan yang intens untuk dapat memahami makna dari ajaran yang terdapat di dalamnya. Dalam nas kita, guru hikmat berbicara terhadap orang muda. Dalam ayat sebelumnya ia sudah berbicara terhadap orang tua. 

 

Langkah pertama bagi orang muda – maksudnya dimulai dari remaja – ialah mereka mengingat Allah. Jika kita berbicara tentang mengingat, itu berarti menghadirkan Allah di dalam ingatan kita. Guru hikmat menghendaki agar mengingat Allah itu adalah bagian terpenting dari hidup seorang remaja, hingga ia mencapai usia tua. Mengapa hal itu sangat perlu? Karena guru hikmat ini mengatakan bahwa semuanya adalah sia sia. Apa pun yang dicapai seseorang, tanpa Allah hadir di dalam kehidupannya, maka segala sesuatu yang dicapainya adalah sebuah kesiasiaan belaka (12:8).

 

Guru hikmat mengatakan bahwa pada akhirnya, setelah orang sudah tua, mereka akan mengatakan: “Tidak ada kesenangan bagiku di dalamnya”. Mengapa? Karena akan datang kegelapan. Itu jelas dikatakannya dalam ayat 2. Mulai dari ayat 3 guru hikmat membuat sebuah perumpamaan yang ada hubungannya dengan keberadaan seseorang setelah sudah tua.

 

Marilah kita melihatnya sejenak. Penjaga rumah yang gemetar adalah tangan kita yang sudah gemetaran, orang kuat yang membungkuk adalah gambaran dari kaki yang mulai lemah karena pengeroposan. Perempuan penggiling gambaran dari gigi yang sudah mulai pada rontok. Yang melihat dari jendela adalah gambaran dari mata yang sudah mulai kabur penglihatannya.

 

Dalam ayat 4 kita mendengar guru hikmat mengatakan bahwa kita akan membutuhkan alat bantu dengar. Dalam ayat 5 guru hikmat mengatakan bahwa kita akan merasa takut akan ketinggian, takut kaki kita akan patah. Bukankah semua yang dikatakan sang guru  hikmat ini adalah sebuah kenyataan yang dihadapi orang? Jika semuanya itu telah menghadang dan tidak ada kesadaran akan hadirat Allah yang menyertai, maka memang kita akan mengatakan: “Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya”.

 

Jika semuanya itu sudah datang, tetapi Allah tetap hadir di dalam hidup kita dan kita menikmati persekutuan yang akrab dengan Dia, maka kita dapat berkata sama seperti Rasul Paulus: “…tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari” II Kor 4:16.

 

Guru hikmat telah mengajar para orang tua dalam nas sebelumnya agar mereka bersukacita (11:8) dan bersukaria (11:9). Sekalipun bagi orang pada umumnya hidup itu adalah sebuah kesiasiaan, tetapi bagi mereka yang mengingat penciptanya sejak masa mudanya, hingga ia menjalani usia sampai tua, ia dapat bersukacita dan bersukaria, sebab manusia batiniahnya dibaharui setiap hari. Hal seperti itu telah dialami oleh Rasul Paulus. Jika ia telah mengalaminya, maka kita pun akan mengalami hal yang sama pula. Ingatlah akan Tuhan dalam hidup ini, supaya kita dapat bersukacita dan bersukaria di dalamnya. (St. Hotman Ch. Siahaan)

Renungan Harian : Rabu, 14 Agustus 2013
 13 Aug

Doa Bapa kami

Bagian 6

Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.

Ki lekha ha-maelakha ve-hagevurah veha-tiferet,

Le’olemei ‘olamim amein.

 

Kata akhir dalam Doa Bapa kami adalah : Doxology ( nyanyian pujian kepada Allah )

 

Yesus mengajar kita berdoa dalam bentuk dan rumusan orang Yahudi. Pada tiga bagian pertama “ doa Bapa kami “ mencerminkan Kaddish orang Yahudi yang menyucikan nama Allah ( “ Shema Yisrael Y_H_W_H  Eloheinu, Y_H_W_H ekhad  = Dengarlah, hai orang Israel, TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa). Permohonan selanjutnya adalah ikhtisar dari permohoann pokok dalam doa kuno Amidah orang Yahudi, kemudian pada puncaknya mengambarkan ucapan syukur Raja Salomo yang dipanjatkan dalam mempersembahkan Bait Allah yang pertama ( 1 Tawarikh 29 : 11 – 13 ), dikatakan : “ Ya TUHAN, punyaMulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyuran dan ke agungan, ya segala-galanya yang ada di langit dan di bumi ! Ya TUHAN, punyaMulah Kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala….dst….”. Semua dan segala-galanya, inilah bentuk doa orang Yahudi yang disampaikan oleh Yesus Kristus dan Penyelamat kita.

 

Seperti halnya dengan doa orang Yahudi yang lainnya, akhir dari doa tersebut memakai suatu kata tambahan : “ Amen “ artinya “ benar “ atau “ sesungguh betul-betul nyata “. Kata Amen berasal dari akar kata “ Aman “ yang berarti memeliharakan, mendukung, dan memastikan dengan sungguh-sungguh.  Kata bahasa Ibrani untuk kesetiaan, adalah emunah, yang berasal dari akar kata yang sama pula.

 

Orang Yahudi mengajarkan bahwa “ Amen “ dapat di ajarkan sebagai akronim untuk kata “ el melekh ne’eman, ( = “ Tuhan adalah Raja yang setia “ ), ini merupakan sebuah ungkapan dalam shema yang diucapkan tiap hari oleh setiap orang Yahudi. Sesungguhnya Tuhan Yesus adalah “ Amen “ itu, yang setia dan benar ( Wahyu 3 : 14 ), yang telah menyatakan bagi kita kuasa dan kemuliaanNya yang harus disembah selama-lamanya dalam Roh dan kebenaran.

 

Kata pertama dalam Kitab Perjanjian lama adalah “ b’reishit “ = pada mulanya                  ( Kejadian 1 : 1 ) dan kata terakhir dalam Perjanjian Baru adalah “ Amen “ ( Wahyu 22 : 21 ). Dengan menyatukan kedua kata ini, kita akan mendapatkan kalimat : “ Pada mulanya adalah Amen”. Dalam menggali kata-kata, orang Yahudi sering bisa mengungkapkan rahasia dan makna dari suatu kata . Dari kedua kata tersebut diatas : b’reishit dan Amen  digabungkan kata awal  “ b  dari b’reishit“ dan kata akhir “n “ dari kata Amen, maka didapatkanlah kata : bn = “ ben “ yang artinya : “Anak”.

 

Dari mulanya sampai kepada akhirnya,  kita melihat Alkitab menunjuk kepada Yesus Kristus sebagai Yang Setia dan Anak Bapa, Raja yang benar dari Kerajaan Allah. Terpujilah namaNya kekal sampai selama-lamanya.

 

Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan

Sampai selama-lamanya. Amin

 

Ki lekha ha-maelakha ve-hagevurah veha-tiferet,

Le’olemei ‘olamim amein.

(Ev. Togu S. Hutagaol)

 

Renungan Harian : Selasa, 13 Agustus 2013
 12 Aug

Doa Bapa kami

Bagian 5

Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat (Matius 6 : 13)

 

ve’al – tevieinu lidei massah, ki-‘im hatzileinu min-hara

 “ Kekuasaan dari - Massah “

Kata Massah berasal dari akar kata yang berarti “melebur’ atau meleleh, larut atau terbakar yang disebabkan oleh api dalam rangka menguji kualitas dari sesuatu benda. Sebagai kata benda, kata ini sering diterjemahkan sebagai “tempat pengujian “, “tempat pengadilan “ atau “ tempat pencobaan “ dan tempat itu dialamatkan ke tempat dimana bangsa Israel memberontak terhadap Allah di padang gurun ( Keluaran 17 : 7; Ulangan 6 : 16, Mazmur 95 : 8; Ibrani 3 : 7 – 9 ). Artinya, “ massah “ : dapat juga berarti “ putus asa “, dalam pengertian “ hati yang hancur “, dan hal ini pada umumnya akan mengakibatkan bahan :  “ ejekan “ atau penghinaan ( Ayub 9 : 23 ).

 

Apabila kiita memohon kepada Bapa agar kita : “ tidak dibawa ke dalam pencobaan “, maksudnya adalah : agar hati kita diarahkan menjauhi kesukaran atau masa pencobaan yang bisa membuat kita putus asa. Jatuh kedalam “ kuasa Massah “ berarti menyerah kepada keputusasaan dan perasaan hancur yang akan mengakibatkan kepahitan, penghinaan dan ejekan.

 

Lepaskanlah kami dari : Yetzer Hara

Kata dasar dari putus asa yang dikenal dalam tradisi Yahudi, disebut : Yetzer Hara, atau perasaan hati yang cenderung kepada mementingkan diri sendiri (  = dapat pula diartikan menjadi  penyembahan berhala ). Konsep ini bermula terdapat pada Kejadian 6 : 5, dimana kejahatan manusia dilukiskan sebagai : “ segala kecenderungan ( yetzer ) hatinya selalu membuahkan kejahatan ( ra ). Dalam Perjanjian Baru , yetzer hara disebut sebagai : “ pikiran kedagingan “, atau “ manusia lama “, atau manusia alamiah yang dikuasai oleh dosa.

 

Kata “yetzer” pada dasarnya merupakan kata umum yang dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang akan dibentuk, seperti sebuah bejana yang bagus ditangan seorang pembuat bejana. Oleh karena itu, seperti apa yang di kehendaki oleh sipembuat bejana sebelum tanah liat itu dibentuknya dia merencanakan bejana yang akan dibuatnya sesuai dengan hati dan pikirannya agar tercipta suatu bejana yang indah. Seperti halnya sipembuat bejana tersebut, maka apa yang timbul didalam hati kita akan  membentuk karakter dan sifat kita yang dapat dibaca oleh orang lain. Tetapi oleh karena Allah “ mempunyai kuasa terhadap tanah liat “ yang dipegangNya, maka Allah akan membentuk kita sesuai dengan kehendaknya ( Roma 9 : 21 ). Kita memohonkan kepada Bapa agar kita jangan jatuh ke dalam kuasa kejahatan.

 

Kekuatan atau kuasa dari kejahatan bersumber dari “hara” dan itu adalah “ kuasa kejahatan “ yang menghadang kehidupan manusia, melalui itu iblis menjebak dan membujuk manusia untuk masuk kepada penyembahan berhala ( = meninggalkan Tuhan atau mengandalkan diri sendiri ataupun kuasa kegelapan ). Iblis melakukan ini untuk merampas kemuliaan TUHAN dengan membutakan kita dari Kasih dan kebenaranNya serta penyerahan diri kita kedalam kuasa TUHAN. Iblis akan merayu kita dengan pesona palsu yang kelihatannya seolah-olah dapat memberikan kita kesenangan yang berbeda dari apa yang diberikan oleh TUHAN. Tetapi ingatlah bahwa Yeshua ha Mashiach ( Yesus Kristus ) memerintahkan kita untuk berdoa agar kita dilepaskan dari pada yang jahat dengan kuasa keselamatanNya.

(Ev. Togu S. Hutagaol)

 

Renungan Harian : Senin, 12 Agustus 2013
 10 Aug

Doa Bapa Kami

Bagian 4

Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami (Matius 6 : 12)

u’selach lanu et ashmateinu, ka’asher

solechim anachnu la’asher ashemu lanu.

Selichah = mengampuni

 

“ Ampunilah kami…..seperti kami juga mengampuni….” , artinya bahwa pengampunan yang kita berikan kepada orang lain merupakan ukuran bagi permohonan kita untuk diampuni oleh Bapa, “ Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu “ ( Lukas 6 : 38 ).

Apabila kita masih terikat pada rasa dendam, akar pahit, atau keinginan untuk membalas dendam, berarti kita memohon kepada pokok dasar yang memisahkan kita untuk dapat bersatu dengan orang-orang lain. Tetapi apabila kita ingin agar TUHAN menghakimi orang-orang lain, maka kita harus berani memohon agar Allah menghakimi kita terlebih dahulu.

 

Fungsi dari bentuk permohonan ini adalah sebagai cermin di dalam hati kita : Pada saat kita mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita, maka akibatnya kita menerima pula pengampunan dari TUHAN. Atau, kita dapat menjelaskannya dengan cara lain, yaitu : Pengalaman kita dalam menerima pengampunan dari Allah di cerminkan  oleh cara bagaimana kita memperlakukan orang lain yang bersalah kepada kita.

Apabila kita hanya menjadi pendengar dari kebenaran ini tetapi gagal untuk melakukannya, maka kita akan seperti seseorang yang sedang mengamat-amati muka di depan cermin kemudian lupa dengan apa yang dilihatnya, karena kita lupa bagaimana keadaan diri kita sendiri ( Yakobus  1 : 22 – 24 ).

 

Apabila kita mempunyai perasaan yang tidak dapat memaafkan orang lain, maka kitapun tidak akan mendapatkan pengampunan ( Matius 6 : 15 ); apabila kita melakukan penghakiman terhadap orang lain, maka kitapun akan ikut diadili.; apabila kita berbuat jahat dan tidak mau mengampuni orang lain, maka kita akan merasakan kehidupan yang seperti neraka, menyedihkan dan keji.

 

Prinsip yang saling berbalasan dalam Kerajaan Allah ini terdapat di dalam pengajaran Yesus. DikatakanNya : “jikalau kamu mengampuni kesalahan orang lain, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga ( Matius  6 : 14 ), karena dengan penghakiman yang kamu  pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu ( Matius 7 : 2 ). Berbahagialah orang yang murah hati, karena mereka akan beroleh kemurahan ( Matius  5 : 7 ); seperti engkau memberi kepada orang lain, maka engkaupun akan merimanya kembali. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu ( Lukas 6 : 38 ) (Ev. Togu S. Hutagaol)

 

Renungan Harian : Sabtu, 10 Agustus 2013
 10 Aug

Doa Bapa kami

Bagian 3

Berikanlah kami pada hari ini makan kami yang secukupnya (Matius 6 : 11)

Ten-lanu haiyom lechem chukeinu

“ Ten-lanu…” Berikanlah kami !

Kelihatannya agak ganjil bahwa Yesus memakai kata perintah untuk kata kerja “berikanlah “ waktu memohon kepada Bapa. Tetapi kenyataannya itulah perkataan yang ada dalam kalimat tersebut. Untuk itu perlu dipahami bahwa permohonan tersebut merupakan gambaran permohonan dari seorang anak yang sangat bergantung kepada Bapanya yang dapat menyediakan segala kebutuhannya. Kita harus mengerti bahwa Allah telah menciptakan rasa lapar dan haus dalam kehidupan kita, sehingga kita bisa memohon agar Allah memberikan kebutuhan kita. Oleh karena itu apabila ada seorang anak yang tidak merasakan rasa lapar dan haus sehingga tidak bisa memohon kepada bapanya, maka anak ini tentunya merupakan seorang anak yang sakit.

 

“Haiyom…, “ hari ini

Permohonan ini, meupakan ukuran tentang kebutuhan kita pada “hari  ini”. Manna dari sorga diberikan Allah kepada kita satu kali dalam sehari. “ Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya….Seorangpun tidak boleh meninggalkan dari padanya sampai pagi “ ( Keluaran 16 : 16,19 ). Kita hidup seperti burung-burung di udara atau bunga-bunga di padang, tidak berpikir untuk kebutuhan besok, karena percaya akan pemeliharaan Allah bagi kehidupan kita hari lepas hari. ( catatan dalam praktek : artinya jangan rakus, karena apabila ada yang rakus maka siapa yang mengumpulkan  manna itu berlebih akan berulat dan berbau busuk baca : Keluaran 16 : 20 ).

 

“ Lechem chukeinu, “ Makanan kami

Pernyataan ini sama halnya sperti yang tertulis di Amsal 30 : 8, dimana dikatakan “ Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan, biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku “ ( lechem chuki ). Bahasa Ibrani ini menggambarkan bahwa makanan tersebut diberikan atas dasar aturan yang seharusnya didapatkan ( chok ), tetapi kata kerja ini dapat juga berasal dari kata kerja lain, yaitu ( chakok ) yang artinya “ mengukirkan “. Oleh karena Allah sendiri telah menciptakan kita dengan “ mengukirkan “ rasa lapar dan haus itu, maka seharusnyalah kitapun memohonkan kepadaNya keperluan  hidup kita hari lepas hari.

“ Kerajaan roti “ adalah sesungguh-sungguhnya “ Roti Kehidupan “, dimana Yesus berkata bahwa Dia akan memberikan makanan bagi kebutuhan kelaparan yang ada di dalam diri kita. Setelah kita mencari KerajaanNya ( datanglah KerajaanMu ) dan KebenaranNya ( “ jadilah kehendakMu “ ), kita diyakinkan bahwa kebutuhan kita hari ini dalam kehidupan kita akan digenapiNya ( Matius 6  : 33 – 34 )

 

Ten-lanu = Berikanlah kami

Haiyom  = pada hari ini

Lechem chukeinu = makan kami yang secukupnya (Matius 6 : 11)

(Ev. Togu S. Hutagaol)

Renungan Harian : Jumat, 9 Agustus 2013
 09 Aug

Doa Bapa kami

Bagian 2

Datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga

Tavo malkhutekha, ye’aseh retzonekha, ba’aretz ka’asher na’asah va’shamayim

 

“ Tavo Malkhutekha, “ Datanglah KerajaanMu

 

Sekali lagi :  Sebelum kita mulai untuk berdoa seperti yang Yesus ajarkan, kita harus kembali menjawab pertanyaan tentang : Apakah Allah itu benar-benar Bapa kita, dan kita adalah anakNya. Hal ini sangatlah penting untuk di pahami dengan sungguh-sungguh. Pertanyaannya : Apakah kita adalah anak Allah ? Apakah kita adalah anggota dari keluarga Allah ( mishpachah-Nya ) ? Seperti halnya waktu kita lahir secara fisik dan menjadi anggota dari satu keluarga, begitu juga seperti apa yang dikatakan Yesus bahwa kita harus dilahirkan kembali dalam Roh sehingga kita menjadi anggota keluarga dalam satu Roh ( Yohanes 1 : 12, dan Yohanes 3 : 3 ). Hal ini dapat terjadi melalui iman kita kepada Yesus – dan percaya bahwa Allah mengasihi kita, dan kita adalah anakNya.

 

Pada waktu Yesus mulai berkotbah, Dia menyatakan diriNya sebagai “ Anak Manusia” yang datang untuk menyatakan bahwa : Kerajaan Allah sudah dekat ( Matius 3 : 2, 4 : 17 dll ).

 

Yesus mengajarkan bahwa “ Kerajaan ini datang tanpa tanda-tanda lahiriah “  ( Lukas 17 : 20 ), tetapi “ ada diantara kamu “ ( Lukas 17 : 21 ), artinya hal ini dapat dibuktikan melalui iman apabila kita tunduk dibawah kuasa Allah. Kita menempatkan diri dibawah kuasa Kerajaan Allah artinya bahwa dengan sadar kita hidup dibawah KuasaNya dalam kehidupan kita hari lepas hari. Dalam Kuasa Allah ini, kita juga ikut memberitakan kedatangan KerajaanNya kepada orang lain yang kita jumpai.

 

“ Ye’aseh Retsonekha,” Jadilah kehendakMu.

Ungkapan ini sejajar dengan ungkapan yang diatas, yaitu menempatkan diri dibawah Kuasa Kerajaan Allah, artinya : tunduk dibawah KuasaNya dan menerimaNya. Hal ini bukan bentuk ungkapan kesabaran atau menyerah ( = waktu kita mengungkapkan : jadilah kehendakMu ) dalam situasi frustasi atau putus asa, karena apabila maksud ungkapan tersebut diucapkan dalam situasi menyerah dalam putus asa , maka : maksud sebenarnya dari angkapan : “  Jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga “ akan menghalangi arti yang sebenarnya.

Tentu saja maksud dari : “ Jadilah kehendakMu “, melibatkan hati dan perasaan yang sungguh-sungguh dalam kekudusan dan penyembahan agar Kerajaan Allah menguasai hati dan hidup kita. Kita akan menggenapi kehendak Allah apabila kita menuruti mitzvotNya ( = perintah-perintahNya ) dan menyatakan berita KeselamatanNya ( Matius 28 : 19 – 20 ).

 

 

“Ba’aretz ka’asher na’asah va’shamayim. ‘ , di bumi seperti di sorga.

Kerajaaan Allah berada di sorga, dimana peraturanNya sempurna dan sampai selama-lamanya. Tidak ada yang dapat mengalahkannya. Meskipun demikian kekuasaanNya tidak di hormati di dunia ini ( oleh karena dosa ), oleh karena itu nantinya kerajaan dunia akan dihancurkan seperti tembikar tukang periuk ( Mazmur 2 : 9 ), dan kepada orang-orang yang tidak menuruti perintahNya akan mendapatkan penghukuman yang selama-lamanya ( Matius 25 : 31 – 46 ).

Apakah kita mau menuruti perintah TUHAN kita Yesus Kristus ? dengan menguduskan hidup kita dan memuliakan namaNya ?

 

Pilihannya tergantung kita.

 

Datanglah KerajaaanMu,

jadilah kehendakMu

di bumi seperti di sorga

 

Tavo malkhutekha,

ye’aseh retzonekha,

ba’aretz ka’asher na’asah va’shamayim

 (Ev. Togu S. Hutagaol)

Renungan Harian : Kamis, 8 Agustus 2013
 07 Aug

Doa Bapa Kami

Bagian 1

Catatan tentang Doa Bapa Kami dalam Bahasa Ibarani

Perjanjian Baru di tulis dalam Bahasa Yunani Koine, oleh karena itu penafsirannya banyak terkait dengan pengertian bahasa ini. Tidak dapat disangkal bahwa Tuhan Yesus  mengajar Doa ini kepada para murid dalam bahasa Ibrani, oleh karena Yesus sendiri orang Yahudi dan merupakan bahasa yang dipakai di Sinagoge ataupun Bait Allah pada zaman Yesus. Yesus sendiri melakukan” aliyah “ dengan melakukan pembacaan hukum Taurat di Sinagoge ( Lukas 4 : 16 ). Juga Yesus menyatakan diriNya kepada Paulus dengan bahasa Ibrani pada waktu Paulus disapa oleh Yesus di jalan ke Damsyik (Kisah Rasul 26 : 14 ).

 

Cara pandang bahasa Ibrani, coba dipakai sebagai dasar dan maksud dalam pengajaran Doa Bapa kami dalam Perjanjian Baru. Sejarah juga membuktikan bahwa Injil Matius di tulis dalam bahasa Ibrani pada mulanya. Uraian berikut adalah penjelasan Doa Bapa Kami yang didasari oleh bahasa Ibrani dan dalam cara pandang Perjanjian Lama.

 

 

 

Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah namaMu

Avinu shebashamayim, yitkadesh shimkah

 

 

Bapa kami yang di sorga ( Avinu Shebashamayim )

 

Siapakah kita ?

Sebelum kita mulai untuk berdoa seperti yang Yesus ajarkan, kita harus menjawab pertanyaan tentang : Apakah Allah itu benar-benar Bapa kita, dan kita adalah anakNya. Hal ini sangatlah penting untuk di pahami. Pertanyaannya : Apakah kita adalah anak Allah ? Apakah kita adalah anggota dari keluarga Allah ( mishpachah-Nya ) ? Seperti halnya waktu kita lahir secara fisik dan menjadi anggota dari satu keluarga, kitapun dilahirkan kembali ( Yohanes 3 : 3 ) dalam Roh, sehingga kita menjadi anggota keluarga dalam satu Roh, karena kita adalah anak-anak Allah ( Yohanes 1 : 12 ). Hal ini dapat terjadi melalui iman kepada Yesus  dan percaya bahwa Allah mengasihi kita, dan kita adalah anakNya. Itulah posisi kita sebagai anak.

 

Siapakah TUHAN ?

Ada agama yang yang mengajarkan bahwa TUHAN itu adalah simbol kekuasaan yang sangat agung dan berkuasa. Manusia harus tunduk dan mengikuti semua aturanNya supaya bisa menjadi benar dihadapanNya. Kesetiaan dan ketaatan menjadi ukuran, apabila manusia tidak mengikuti peraturanNya sesuai dengan perintahNya maka neraka adalah tempatnya terakhir.

 

Orang Yahudi menyebut TUHAN itu adalah Bapa ( Yesaya 63 : 16 ), dikatakan : “ Ya Tuhan, Engkau sendiri Bapa kami; namaMu ialah “ Penebus kami” sejak dahulu kala “.

Agama Yahudi percaya bahwa TUHAN itu adalah Bapa yang telah menuntun mereka keluar dari tanah perhambaan Mesir dengan perbuatan ajaib, dan melindungi serta memberkati Israel umatNya dengan pertolongan dan penyertaan TUHAN, tetapi mereka menjadi benar dihadapan Allah apabila mereka bias menjalankan seluruh Hukum Taurat yang berjumlah 613 peraturan.

 

Orang Kristen menyapa TUHAN dengan kata Bapa, karena Dia telah nenebus manusia melalui salib dan kebangkitan anakNya Yesus Kristus. Karena kita percaya kepada Yesus yang telah menebus kita dikayu salib, maka kita menjadi anak-anakNya ( Yohanes 1 : 12 ). Oleh karena itu kita menyebut TUHAN : Bapa kita ada di “ Surga “. Dia berada di tempat yang kudus di keabadian di sorga dan bertahta di tempat yang maha tinggi (  Ulangan 26 : 15, 1 Raja 8 : 30 ). Dia sangat mulia diatas segala-galanya. Maka sebagai Pencipta, Dia mengetahui setiap lembar dari rambut di kepala kita ( Matius 6 : 8 ). Keagungan Bapa kita meluas sampai keluruh alam semesta, tetapi biarpun demikian Dia mengetahui hal-hal yang terkecil dari hidup kita. Allah memelihara kita sebagai anakNya.

 

Dikuskanlah namaMu ( yitkadesh shimkha )

Kita harus mengerti dan paham bahwa Nama Bapa kita haruslah dikuduskan, nama ini tidak boleh bercampur dengan nama-nama lain, dipisahkan dari nama-nama lain dan disucikan. Artinya : Bahwa kita hanya mempercayai Bapa di sorga, tidak ada nama atau kuasa lain yang kita percaya yang memelihara hidup kita kecuali Bapa di sorga, sehingga kita tunduk dan percaya kepadaNya dalam setiap tindakan kita dalam terang kebenaranNya.

Kita tidak akan menajiskan nama Bapa di sorga dengan cara menyaksikan kepada dunia bahwa TUHAN tidak dapat dipercaya. Kita harus bersaksi bahwa TUHAN itu benar dan setiap lutut bertelut dan setiap bibir mengaku bahwa TUHAN adalah Raja Semesta alam.

Kita harus menjadi saksiNya dengan menguduskan namaNya, dan menghormatiNya, dan hidup dengan penuh hormat dalam kasih TUHAN setiap saat selama kita hidup di dunia fana ini.

Apabila kita menyadari diri kita sebagai Bapa dari seorang anak di dunia ini, maka dalam kehidupan kitapun hal itu dapat diselaraskan dengan gambaran apa dan bagaimana pilihan akan anakNya tersebut ( Roma 8 : 29 ).

Bapa kami yang di sorga,

Dikuduskanlah namaMu

 

Avinu shebashamayim,

yitkadesh shimkah

 

(Ev. Togu S. Hutagaol)

CEMAS DIDALAM KRISTUS (Renungan Harian : Rabu 7 August 2013)
 06 Aug

"Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu"

 

Ketidak seimbangan antara pikiran dan kenyataan biasanya menghadirkan rasa cemas. Cemas berarti dirinya sedang galau, kuatir, gelisah dalam melihat kenyataan hidup oleh kemiskinan pun oleh kekayaan sekalipun.

 

Didalam kegelisaan maka frequensi pertanyaan “kalau-kalau” akan muncul semakin kerap :

 

1.     Kalau-kalau aku tiba-tiba jatuh sakit biayanya dari mana, sementara hidupku sedang melarat.

2.     Kalau-kalau aku tiba-tiba mati, siapa yang meneruskan usaha besarku ini, sementara anak-anakku senangnya berfoya-foya.

 

Kedua pertanyaan ini sangat manusiawi dan normal bagi kita yang masih mau hidup dengan dunia ini. Tetapi tidak menjadi normal apabila kita sudah mengatakan hidup didalam Kristus Yesus. Bagi setiap pemercaya Yesus Kristus tidak akan pernah melontarkan pertanyaan kalau-kalau, tetapi dia akan berkata “apapun yang terjadi dalam hidupku adalah yang terbaik bagiku”.

 

Jika Tuhan berkata serahkanlah segala kekuatiranmu, itu adalah pembuktian bagi setiap orang percaya bahwa secara total, kehadiran dan keakuan kita masing-masing bukan lagi milik kita, tetapi sepenuhnya milik Yesus. Karenanya kita harus sepenuhnya menyadari bahwa kita tidak akan dapat melangkah satu langkah tanpa pertolongan dan kasih karunia Yesus.  Yesus adalah segalanya bagimu dan bagiku Kristus adalah pemelihara hidup kita.

 

Karena itu “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu”  Amen (St. PM Banjarnahor)

MERASA BERSALAH (Selasa 6 August 2013)
 05 Aug

Maz 103 : 10 - 12

 

“Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita,  tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita”

 

Anda boleh setuju atau tidak setuju dengan pernyataan yang mengatakan demikian “hampir setiap orang di muka bumi ini, selalu membenarkan dirinya sendiri”. Hampir dapat dipastikan bahwa kita tidak pernah setuju untuk dipersalahkan walaupun kita benar salah.  Sebaliknya kita akan mempermasalahkan orang lain dengan/demi melepaskan tanggungjawab kita.

 

Mengapa demikian kokohnya sifat manusia membenarkan dirinya sendiri? Manusia sadar bahwa jika dia mengakui kesalahannya maka segala keburukannya akan terbongkar. Dan lebih lagi bahwa dari setiap jenis perbuatannya yang buruk dan jahat akan mendapatkan ganjaran sesuai hukum yang berlaku.

 

Tetapi didalam nats ini Tuhan berkata sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita”, bahkan setiap orang yang datang kepada Yesus dan mengakui kesalahannya tidak mendapat hukuman melainkan mendapat pengampunan oleh kasih Yesus Kristus (Ibrani 8:12).

 

Demikianlah sekarang tidak ada penghakiman bagi mereka yang ada dalam Kristus (Rom 8:1). Setiap orang yang berani mengakui kesalahannya adalah anak Tuhan dan terang dunia. Amen (St. PM Banjarnahor)

 

 

MENOLONG ORANG LAPAR (Senin 5 August 2013)
 05 Aug

Lukas 14 : 12 - 14

 

“Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: "Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya.Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar."

 

Tindakan dan perkataan di dalam dunia informasi dan teknologi saat ini, banyak orang berkata bahwa orang kaya itu akan semakin kaya. Sebab perhatikanlah setiap tindakan di dunia nyata ini, kita ambil contoh sederhana, misalnya kala kita mensyukuri mengadakan pesta 50 tahun perkawinan? Siapakah yang kita undang pada pesta syukuran tersebut disana, biasanya saudara dekat, teman bisnis dan teman akrab yang terpandang, terhormat, dan berada. Apa arti perlakuan kita demikian ini? Dipastikan semua undangan  yang datang pada jamuan siang atau malam tersebut,  tidak lagi perlu mengeluarkan biaya alias uang yang sedianya digunakan untuk makan siang atau makan malam. Uang kita akan tetap utuh dan tersimpan di kotak simpanan. Pada hal kita mengetahui bahkan sering melihat puluhan juta manusia disekeliling kita (katakanlah di Indonesia tercinta) berjungkir balik mencari sesuap nasi tetapi tidak menemukan.

 

Kenyataan ini membuktikan bahwa golongan yang kelaparan akan semakin terpinggirkan, dan lama kelamaan mereka akan semakin tertindas, terpinggirkan dan pada akhirnya akan mati kelaparan. Bagaimana agar golongan yang kelaparan dapat sedikit tertolong oleh perbuatan kita? Nats ini berkata agar di setiap kesempatan yang kita miliki marilah kita undang mereka yang tidak punya apa-apa, mari kita wujudkanlah kasih Tuhan dengan jalan mengasihi sesama seperti diri kita sendiri. Amen  

(St. PM Banjarnahor)

Bergumul (Kamis, 1 Agustus 2013)
 01 Aug

Nas bacaan: Yeremia 15:5-21

Ada orang yang mengatakan bahwa pelayanan Nabi Yeremia adalah sebuah gambaran dari pelayanan Tuhan Yesus di dunia ini. Mereka menyatakan kebenaran, tetapi bangsa itu menolak dan memusuhi mereka. Oleh karena kita adalah pengikut Kristus, maka kita juga dapat mengatakan bahwa apa yang dialami oleh Nabi Yeremia, mungkin juga akan kita hadapi, tatkala kita memberitakan kebenaran di tengah tengah masyarakat.

 

Tekanan yang dialami oleh Nabi Yeremia dari bangsanya, sungguh berat, sampai ia meyebut kecelakaan tatkala ia lahir di dunia ini. Suatu gambaran dari beratnya tekanan hidup yang dialaminya. Namun, satu hal yang pasti ialah: ia tidak mundur dari tugasnya untuk memberitakan firman Allah kepada bangsanya, sekalipun untuk itu ia harus mengalami perbantahan sepanjang hari. Ia juga tidak lupa membela mereka di hadapan Allah, pada hal mereka sungguh memusuhi dia.

 

Satu hal yang kita perlu garisbawahi di sini ialah: di tengah pergumulan yang berat, Yeremia mendapatkan penghiburan dari Allah melalui firman-Nya. Yeremia sendiri me ngatakan: “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku, sebab nama-Mu telah diserukan atasku, ya TUHAN, Allah semesta alam”. Jadi teringat syair dari Kidung Jemaat yang mengatakan: “suka dan derita bergantian, memperkuat imanku”.

 

Catatan lain yang perlu kita renungkan ialah: tatkala Yeremia mempertanyakan kepada Allah tentang penderitaannya, lalu ia mendapatkan jawaban: “Jika engkau mau kembali, Aku akan mengembalikan engkau menjadi pelayan di hadapan-Ku”. Rupa-rupanya Yeremia sudah hampir putus asa. Namun Allah tidak membiarkan para hamba-Nya jadi putus asa. Ia memberikan jaminan kepada Yeremia bahwa Ia akan membentengi dia terhadap para lawannya.

 

Yeremia mendapatkan sebuah jaminan keselamatan yang utuh dari Allah di dalam melaksanakan tugas yang diembankan di atas pundaknya. Hal yang sama kita dapatkan juga dari Tuhan kita Yesus Kristus. Bahkan Rasul Paulus dengan gagah berani ia berkata: “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita” Rom 8:37. Kemenangan bagi kita adalah sesuatu yang pasti, karena Yesus telah menang di dalam pergumulan-Nya untuk menjadikan kita anak anak Allah yang ditempatkan di hadapan Allah kudus dan tak  bercacat cela.

 

Sama seperti Yeremia, mungkin kita tidak melihat dengan mata kepala sendiri keberhasilan dari apa yang kita kerjakan. Yeremia tidak melihat pertobatan bangsa Yehuda di zamannya. Tetapi setelah pembuangan Babel selesai, bangsa Yehuda kembali ke Yerusalem dan mengalami pertobatan di bawah arahan dari Ezra Ahli Taurat itu. Hal yang sama juga dapat terjadi atas diri kita yang melayani Allah. Hasil dari pelayanan kita itu bukanlah dalam rangka kepentingan kita. Urusan kita ialah:  setia di dalam pelayanan, sama seperti Yeremia. Hasilnya kita persembahkan untuk Tuhan.

(St. Hotman Ch. Siahaan)

 

 

Perilaku Penghambat Keselamatan (Renungan Harian : 31 Juli 2013)
 31 Jul

Firman Tuhan : Yes 59 : 1 - 2

Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar, tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allah-mu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu sehingga Ia tidak mendengar ialah segala dosamu.

Di dalam nas di atas secara jelas nabi Yesaya mengecam bangsa Yehuda, karena pada dasarnya Tuhan Allah selalu bersedia menolong dan menyelamatkan mereka, namun karena kejahatan dan dosa pelanggaran mereka yang dilakukannya secara berulang-ulang, maka Tuhan marah dan akan menghukum mereka melalui bangsa Babel yang akan  menghancurkan mereka. Pada ayat 3 nabi Yesaya melihat kelakuan keseharian bangsa Yehuda, sehingga mengatakan  tangan mereka cemar oleh darah, mulut mereka mengucapkan dusta, dan lidahnya menyebut kecurangan.

Selanjutnya pada ayat 4 dikatakan, bahwa “tidak ada  orang yang melakukan pengaduan dengan alasan yang benar dan tidak ada yang menghakimi dengan alasan teguh, yang mengandung bencana dan melahirkan kelaliman”. Kecaman nabi Yesaya ini mengingatkan kita kembali akan seruan atau himbauan nabi Yesaya berulang-ulang  kepada bangsa Yehuda karena dia telah menubuatkan  kehancuran bait Allah dan pembuangan bangsa Yahuda ke Babilonia.  

Sepintas lalu kita bisa membayangkan bagaimana sifat dan kelakuan bangsa Yahuda pada saat itu, dan bagaimana pula mereka memperlakukan hukum di antara mereka dan memutarbalikkan hukum di pengadilan, yang kemudian diperjelas lagi pada ayat 8 yang mengatakan :

Mereka tidak mengenal jalan damai dan dalam jejak mereka tidak ada keadilan; dan mereka mengambil jalan-jalan yang bengkok. Sebab itu keadilan tetap jauh dari pada kami dan kebenaran tidak sampai kepada kami”

Membayangkan kepada situasi saat itu sebagaimana dikecam oleh nabi Yesaya, pada kurang lebih tigaribu tahun yang lalu, kita bisa belajar pada masa kini, bahwa keadaan itu tidak jauh berbeda dengan keadaan kita di Indonesia ini, bagaimana hukum dan keadilan diperjualbelikan di negara Indonesia yang kita cintai ini, sehingga keadilan adalah milik kalangan tertentu. Nubuat nabi Yesaya akhirnya menjadi kenyataan bahwa pada waktunya bangsa Yehuda dihukum Tuhan dengan membuang mereka ke Babilonia.

Tentu akan timbul pertanyaan kepada kita: “Apakah Tuhan juga akan menghukum kita bangsa Indonesia, karena perilaku kita juga tidak berbeda jauh dari perilaku bangsa Yahuda sebelum pembuangan?” Jawabannya terpulang kepada kita masing-masing, karena pintu pengampunan dari Tuhan Yesus Kristus selalu terbuka bagi kita orang-ornag yang dengan hati yang sungguh-sungguh menyampaikan pengakuan dosa dan mohon berkat dan pengampunan. Dan itulah yang diharapkan oleh nabi Yesaya untuk kita lakukan. Shalom. (St. Dr.Ir.Tagor Pasaribu, M.Div)

Melayani dengan Penguasaan Diri (Renungan Harian : Selasa, 30 Juli 2013)
 29 Jul

Firman Tuhan : 2 Tim. 4 : 5

Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberitaan Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu.

Pesan Apostel Paulus  dalam nas di atas ditujukan kepada Timotius sebagai pelayan rohani, namun pesan ini juga ditujukan kepada kita semua, sebagai apapun pekerjaan kita dan di manapun kita berada (market place), dengan maksud  agar kita menguasai diri, tahan menderita demi Kristus dan melakukan pelayan kepada sesama, di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Pertobatan adalah awal dari segala kehidupan baru orang Kristen, dapat diartikan sebagai: menyadari keberadaan kita sebagai orang berdosa, menyerahkan diri kepada Tuhan, tunduk dan mau belajar dan mengikuti teladan Tuhan, dan dapat menguasai diri, selanjutnya berjalan bersama dengan Tuhan, dan meniru perbuatan-Nya. Istilah yang sering dipakai ialah menjadi  peniru Yesus.

Langkah selanjutnya adalah membuktikan bahwa kita sudah sungguh-sungguh bertobat adalah dengan menjadi terang dan garam dunia. Salah satu yang dapat dilakukan  di antaranya adalah  dengan melayani sesama dengan karunia masing-masing dan berbeda-beda sesuai dengan pemberian Tuhan kepada tiap-tiap orang. Istilah melayani mengandung konotasi memimpin, sementara itu, istilah  pelayan dapat diberi arti sebagai pemimpin (juga yang mau dipimpin).  Istilah ini sering sekali dipakai di dalam kegiatan gerejawi di mana pun di dunia ini. Asal  katanya adalah kata kerja layan, atau di dalam bahasa Inggris: to service, to help. Orang yang melakukan pekerjaan itu disebut pelayan, dan tugasnya adalah melayani. Yang memberi tugas untuk melakukannya adalah “tuan” atau atasannya, dan kalau di dalam kehidupan sehari-hari, kita menghayati bahwa yang memberi penugasan adalah Tuhan, dan kita disebut sebagai Pelayan Tuhan

Pelayan Tuhan  memiliki tugas untuk melakukan pelayanan kepada Tuhan dan kepada sesama. Mungkin karena demikian seringnya istilah itu dipakai, sehingga kadang-kadang atau bahkan kemudian terjadi perubahan makna atau pem-bias-an arti dari melayani itu dengan menjadi memiliki otoritas untuk mengatur, memimpin, dan seterusnya sampai akhirnya menguasai karena telah menjadi “tuan”. Pelayan di dalam hal ini harus hati-hati, karena yang memiliki otoritas memang cenderung untuk menguasai.

Menggembalakan (memimpin) erat sekali hubungannya dengan melayani. Pada satu saat, Tuhan Yesus berkata agar murid-murid-Nya menggembalakan domba-domba yang dipercayakan kepada mereka. Istilah menggembalakan lebih ditekankan kepada memimpin, melayani, memotivasi dan menggerakkan, serta membawa kawan dombanya menuju suatu tujuan yang sesuai dengan kehendak Allah. Nah, di dalam tugas penggembalaan itulah, apakah di kantor kita atau di manapun kita beraktifitas, sang gembala melakukan pelayanan sebagai seorang hamba(zero) pelayan yang menghamba, yang merendahkan dirinya terhadap manusia  yang dilayaninya, agar manusia tersebut menjadi manusia yang tangguh (hero).   Contoh yang paling  nyata kita lihat adalah  pada waktu Yesus melayani murid-murid-Nya dengan cara merendahkan diri-Nya untuk membasuh kaki murid-murid-Nya.

Bila kita  sebagai seorang pemimpin atau pelayan di gereja mulai bertindak dengan memposisikan dirinya sebagai “tuan” atau penguasa(hero), atas kelompok yang dilayaninya, maka besar kemungkinan akan terjadi keresahan di dalam kelompok atau  jemaat  yang dilayaninya. Memang, hal seperti ini telah terjadi dan berulang-ulang di dalam gereja, sejak dari gereja mula-mula. Melihat kepada kenyataan sejarah tersebut, maka sebaiknyalah pemimpin yang sekaligus adalah  pelayan agar menguasai dirinya, sebagaimana yang dikatakan oleh Apostel Paulus, sekaligus merendahkan hati dalam pikiran dan perbuatan.

Shalom. (St.Dr.Ir. Tagor Pasaribu,M.Div)

 

Teladan dalam Kehidupan (Renungan Harian : Senin, 29 Juli 2013)
 27 Jul

Firman Tuhan : 1 Pet. 2 : 21

Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.

Sebagai  orang Kristen yang percaya kepada Yesus Kristus, tugas utama kita adalah menjadi teladan di dalam kehidupan kita, dan  membawa orang lain untuk mengenal Yesus Kristus dengan sungguh-sungguh. Di sepanjang kehidupan-Nya di dunia ini Yesus telah memberi contoh keteladanan dengan memberikan hidup-Nya (sharing life) bagi murid-murid-Nya sekaligus mengorbankan hidup-Nya (sacrifice) untuk keselamatan manusia.

Demikian jugalah kepada kita sebagai orangtua, dituntut untuk menjadi teladan, memberi contoh bagaimana kita memberikan hati, pikiran dan perasaan, waktu dan tenaga untuk menolong dan mendidik (bhs.Batak Toba: marmeme) anak-anak kita, dan juga  orang kepada lain di sekitar kita, handai tolan, dan sesama. Keteladan  adalah suatu sikap dan usaha yang terus-menerus dilakukan   dengan didasari oleh  kasih kepada  Yesus, karena kalau tanpa kasih itu, maka tindakan kita adalah sesuatu yang sia-sia belaka. Pada satu saat Yesus bertanya kepada Petrus, apakah dia mengasihi Yesus. Kalau demikian layanilah domba-domba-Ku. Artinya kalau tanpa kasih maka para murid-murid-Nya tidak akan dapat melakukan tugas yang diberikan oleh Yesus kepada mereka. 

Di dalam pelayanannya yang singkat di dunia ini, Yesus dilecehkan, diabaikan, bahkan akhirnya dipermalukan sampai mati di kayu salib, namun keteladanan-Nya yang penuh kasih-Nya menghidupkan banyak orang. Demikian jugalah kita kiranya di dalam pelayanan kita, juga di dalam aktifitas kita pada kegiatan-kegiatan di gereja kita, di kantor atau di manapun kita berada, kadang-kadang kita ditegur, ditekan, bahkan dipermalukan,  sehingga harga diri rasanya diinjak-injak.  Kalau kita pernah merasakan hal seperti itu bahkan mungkin yang lebih parah lagi, maka baiklah kita mengingat sebagaimana telah dituliskan di atas, bahwa Yesus telah lebih dulu merasakan dan menanggungnya lebih kurang dua ribu tahun yang lalu. Yesus yang Maha Tinggi di perlakukan demikian rendah, dihina,  diludahi dan ditampar. Namun dia tetap tabah dan setia menanggung beban penderitaan itu demi perjuangan yang lebih besar, yaitu untuk menjadi teladan bagi semua  umat manusia, agar manusia yang percaya kepada-Nya juga dapat melakukan hal yang sama.  Jadi  marilah kita tetap setia dan tabah untuk menjadi tetap menjadi teladan,  karena kita mengasihi Yesus, yang telah memberikan kepada kita kekuatan, hikmat dan kebijaksanaan untuk melakukan yang terbaik bagi Dia.

Shalom. (St.Dr.Ir. Tagor Pasaribu,M.Div)

 

“ TEGUH BERIMAN “ (Renungan Harian : Jumat, 26 Juli 2013)
 25 Jul

Bacaan : 2 Tesalonika 2 : 15

 

Kegundahan, kecemasan, gamang, tak punya pegangan hidup, itulah yang dirasakan manusia modern saat ini, tatkala problematika hidup yang melilit terus membelenggu jiwa dan pikirannya. Karier, materi yang berlimpah tak membuatnya menjadi bahagia. Yang dirasakan adalah kesepian yang terus menghantui seperti yang dilukiskan dalam film “eat, pray and love”.  Dewasa ini iman manusia bukanlah semakin dewasa, bahkan cenderung merosot. Ketenangan batin kini menjadi barang mahal. Upaya menemukan jati diri, mendorong orang-orang untuk melakukan jalan pintas kehidupan atau menelusuri komunitas spiritual lintas agama. Tapi yang dapat adalah ketenangan semu, tumpang tindihnya ajaran bahkan tertipu. Awalnya mencari kedamaian, ketenangan batin dan kebahagiaan akhirnya berubah  menjadi pendendam, pembenci bahkan menjadi teroris.

Sejak kehadiran Yesus Kristus, kekristenan penuh dengan pertentangan. Berbagai sikap muncul menyikapi kedatangan-Nya termasuk untuk ajaran-ajaran-Nya. Ada yang frontal menolak, ada yang langsung menerima, ada yang setengah-setengah dengan mencampurbaurkan ajaran bahkan ada yang tidak mau tahu.

Itulah sebabnya Paulus dalam suratnya dalam 2 Tesalonika 2: 15, mengingatkan jemaat Tesalonika untuk berdiri teguh dan berpegang pada ajaran-ajaran Tuhan Yesus dalam hidup mereka. Kehidupan itu mulai dengan panggilan Allah. Kita tidak dapat mulai mencari Allah kalau bukan Allah yang telah menemukan kita lebih dahulu. Seluruh prakarsa ada di dalam Dia; dasar dan daya pendorong segala hal adalah kasih Allah yang mencari manusia.

Hal itu berkembang di dalam usaha kita. Orang Kristen tidak dipanggil untuk bermimpi, tetapi untuk berjuang; bukan untuk berdiam diri, tetapi untuk berupaya. Orang Kristen tidak hanya dipanggil untuk menerima hak istimewa terbesar, tapi juga menjalani kewajiban terbesar di dalam dunia. Pertolongan diperoleh karena dua hal: yaitu pengajaran, bimbingan  teladan dari umat Allah dan ditolong oleh Allah sendiri. Fokuskanlah hati dan pikiranmu untuk selalu mendengar dan menghidupi firman Tuhan.

Doa: Mampukan kami ya Tuhan untuk selalu berpegang pada ajaran-ajaran-Mu, agar iman kami semakin bertumbuh, demi kemuliaan nama-Mu. Amin (St. Lukman Tambunan M.Min)

“ MENJADI GARAM “ (Renungan Harian : Kamis, 25 Juli 2013)
 24 Jul

Bacaan : Matius 5 : 13

Semua orang mengenal garam dapur (NaC1=rumus kimia) yang selalu digunakan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dicampurkan kedalam masakan untuk memberikan rasa; garam juga digunakan untuk bahan pengawet makanan seperti ikan asin yang banyak di komsumsi orang Batak. Bahkan dalam Perjanjian Lama pun garam sudah dikenal untuk mengambil bagian dalam korban sajian yang dipersembahkan oleh orang Yahudi kepada Tuhan. Perhatikan Imamat 2 : 13 

Dan tiap-tiap persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam, janganlah kaulalaikan garam perjanjian Allahmu dari korban sajianmu; beserta segala persembahanmu haruslah kaupersembahkan garam”. Alasan apa korban sajian dibubuhi garam?  Supaya menghasilkan bau yang harum dan sedap yang menyenangkan hati Tuhan.

 

Kalau Yesus mengatakan:  kamu adalah garam dunia” hal ini menyatakan betapa besarnya peranan seorang Kristen dalam percaturan dunia ini. Namun seringkali kita tidak menyadari bahwa orang Kristen dalam kehidupannya selalu menjadi sorotan orang lain. Oleh sebab itu Paulus menyoroti peranan kita sebagai pengikut Yesus: Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca semua orang (2Korintus 3:2). Kita adalah surat yang dapat dibaca semua orang artinya sebagai bahan sorotan orang lain yang tentunya harus berhati-hati dalam menjaga sikap ataupun perilaku hidup sehari-hari.  Tidak boleh menjadi batu sandungan bagi mereka;  menjadi buah bibir negatif sehingga nama Tuhan direndahkan karena perbuatan kita.  

   

Kehidupan dunia akhir-akhir ini sangat memprihatinkan, kerakusan, ketamakan, korupsi, narkoba dan perbuatan tercela lainnya. Kita hidup dalam dunia penuh kekacauan bagaimana kita hidup tanpa pengaruh dunia ini. Ingatlah ikan yang hidup di laut (air asin) dia tetap tawar tidak terpengaruh, kecuali sudah mati. Iman yang mati akan dipengaruhi oleh dunia ini oleh sebab itu waspadalah.

 

Hidup yang berkenan kepada Tuhan adalah hidup seperti korban sajian yang dibubuhi garam yang berdampak baik bagi kehidupan oranng lain. Oleh sebab itu, peliharalah imanmu untuk menangkis segala perbuatan jahat dunia ini jangan menjadi tawar..

 

Doa: Ya Tuhan Allah Bapa kami, mampukan kami selalu beriman kepada-Mu, agar kami anak-2mu tidak tergoda dalam kehidupan dunia yang tidak berkenan kepada-Mu. Amin

(St. Lukman Tambunan M.Min)

 

“SITUASI YANG MENDESAK” (Renungan Harian : Rabu, 24 Juli 2013)
 23 Jul

Bacaan : Galatia 2 : 15 - 21

Pada umumnya seseorang dapat mengungkapkan semua pikirannya atau wataknya dalam bentuk surat atau karangan. Namun Paulus tidak mempunyai firasat sedikitpun bahwa kata-kata atau tulisannya akan turut mengisi sejarah dunia dengan memasukkan tulisannya menjadi Kitab Suci.

Surat Paulus dalam Galatia ini merupakan jawaban pada situasi  mendesak dan mengancam yang perlu segera diatasi. Seandainya lawan-lawan Paulus berhasil maka kemungkinan kekristenan hanya merupakan sebuah sekte dalam agama Yahudi bukan lagi merupakan anugerah yang mengenal kasih Yesus Kristus.

 

Paulus berkata, bahwa ia telah mati oleh dan untuk hukum Taurat, agar dapat hidup untuk Allah. Jika seorang kafir ingin menjadi seorang Kristen, haruslah terlebih dahulu dia di-Yahudikan. Maksudnya, tidak lain harus menjalani sunat dan mematuhi Hukum Taurat. Tentunya bagi rasul Paulus hal ini sangat bertentangan dengan arti iman Kristen. Artinya keselamatan manusia sepenuhnya akan tergantung pada kemampuannya untuk menjalankan hukum tanpa bantuan siapapun. Agama Kristen bukanlah agama “hukum”. Menurut Paulus keselamatan adalah anugerah semata-mata oleh darah Yesus yang tercurah di Golgota menebus manusia. Bagi kaum Yahudi, Hukum Taurat adalah merupakan sarana tertinggi, dimana Allah memberikannya kepada Musa dan seluruh kehidupannya tergantung pada hukum itu. Perlu diketahui bahwa ketika Allah memerintahkan Abraham untuk pergi meninggalkan segala sesuatu yang dimilikinya , artinya Abraham telah melakukan tindakan yang mempercayakan seluruh hidupnya kepada Allah sebelum Hukum Taurat ada. Kita semua tahu, bahwa imanlah yang menyelamatkan Abraham. Tetapi bagaimanakah hubungan antara Hukum Taurat dan Anugerah Allah melalui Yesus Kristus.

 

Melalui Hukum Taurat, manusia tahu apa itu dosa dan yang terpenting Hukum Taurat mendorong manusia untuk benar-benar menyambut anugerah Allah. Manusia tidak mampu melakukan sesuai dengan Hukum Taurat secara sempurna, hal ini memperlihatkan kelemahan, putus asa dan dengan penuh kesadaran berserah diri dalam rahmat dan kasih Allah (anugerah Allah). Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus (Galatia 2: 21)

 

Doa: Hanya dengan kasih anugerahmu  ya Tuhan kami memperoleh keselamatan.

(St. Lukman Tambunan  M.Min)

 

Efisiensi Hikmat Salomo vs Trias Politika
 23 Jul

(1 Raja 3 : 16 - 27)

Nats ini sudah kita dengan puluhan, bahkan ratusan kali dimana Raja Salomo yang diberkati Tuhan sejak awal berniat akan mengembalikan bayi yang diperebutkan dua orang perempuan kepada ibu yang sesungguhnya. Hikmat Raja Salomo mengilhaminya untuk menggertak kedua perempuan itu dengan menyatakan akan membelah bayi yang hidup yang mereka perebutkan menjadi dua, dan masing2 mereka akan mmperoleh separoh bayi. Ibu bayi yang asli pasrah menyerahkan anaknya kepada perempuan saingannya asal anak itu hidup. Dengan jawaban dari ibu asli ini, Raja Salomo memutuskan memberikan bayi itu kepadanya.

 

Kasus hukum memperebutkan hak terjadi setiap hari. Selalu ada pihak yang menuntut haknya akibat haknya diambil oleh orang lain. Selalu ada proses hukum. Sejalan dengan bergulirnya waktu, proses menegakkan keadilan semakin lama semakin panjang dan melibatkan semakin banyak pihak, akibatnya semakin mahal. Pihak yang mengadukan Perkara, Jaksa Penuntut Umum, Majelis Hakim, Pembela, Panitera Pengadilan, dan di negara Anglo-Saxon ditambah lagi dengan Jury. Kesemua pihak ini para penyelenggara keadilan yang harus bekerja bersama agar keadilan ditegakkan.  Akhir2 ini media masa dan media sosial semakin banyak terlibat mewarnai proses pencarian keadilan.

 

Sistim pengadilan abad ke 21 menjadi rumit akibat orientasi proses pencarian keadilan telah berubah menjadi formal prosedural. Pasal-pasal hukum digunakan untuk memperjuangkan kepentingan. Akhirnya yang terjadi kemenangan jatuh kepada yang paling pandai berdebat dan paling pandai mencari pasal-pasal yang menudung proses pembenaran, bukan kebenaran. Kejahatan, korupsi sering kali dihukum ringan2 saja, sedangkan orang yang seharusnya tidak bersalah justru dijadikan kambing hitam dan dijatuhi hukuman. Semuanya terjadi dengan dukungan pasal2 dan ajat2 dalam buku hukum.

 

Dalam pengadilan Raja Salomo, pihak yang bertikai membawa kasusnya kepada Raja. Keputusan dan keadilan ada sepenuhnya ditangan Raja. Tidak ada polisi pembuat berita acara, tidak ada jaksa penuntut umum, dan pembela. Kekuasaan dan keadilan semua tunduk pada hikmat Raja Salomo. Apakah Raja Salomo menjadi ceroboh dan membuat kesalahan? Sampai saat ini kita belum dapat menemukan bukti material Raja Salomo membuat kesalahan dalam menimbang perkara.

 

Proses peradilan yang berpusat pada Raja, atau penguasa telah berlangsung ribuan tahun. Akan tetapi pada suatu saat disadari bahwa hikmat raja atau penguasa tidak lagi netral. Hukum tidak lagi sama untuk semua. Tidak ada lagi pengakuan atas hikmat yang berasal dari Tuhan.  Bahkan gereja abad pertengahan sering kali menjadi sumber dan penjaga ketidakadilan. Raja Henry ke VIII dapat dengan mudahnya mendirikan Gereja Anglican setelah Raja Henry VIII berniat menikah dengan Anne Boleyn. Raja atau Mahkota menjadi kepala Gereja Anglican, sampai saat ini. Banyak pihak yang mendukung Henry VIII mengatakan pernikahan tersebut adalah bagian dari upaya Henry VIII untuk mendapatkan putra mahkota yang belum dia peroleh. Setelah menikah dengan sejumlah isteri, akhirnya Henry VIII mendapatkan putra mahkota juga dari Jane Seymour, pengganti Anne Boleyn. Sebaliknya yang menentangnya mengatakan tindakan Henry VIII adalah manifestasi kesewenang2an dan kelaliman Raja. Memang sejarah mencatat Henry VIII menikah tiga kali lagi setelah Ratu Jane Seymour meninggal segera setelah berhasil melahirkan putra mahkota bagi Henry VIII.

 

Melihat ekses yang terjadi pada masa pemerintahan Raja Henry VIII, absolutisme kekuasaan raja kemudian dikurangi, tidak cukup dengan memerintah bersama dengan sejumlah bangsawan sahabat2 raja, tetapi raja mulai memerintah bersama dengan lembaga perwakilan rakyat. Lahirlah partai politik, kelompok kepentingan, lembaga pengadilan. Semuanya memang menghantar peradaban manusia menjadi lebih teratur. Akan tetapi proses penjaminan terselenggaranya keadilan menjadi semakin panjang.

 

Hikmat yang ada ditangan satu raja atau pemimpin negara menjadi sesuatu yang langka, bahkan semakin lama semakin jarang kita melihat pemimpin negara yang berhikmat. Presiden Abraham Lincoln yang berhikmat mati dibunuh, demikian juga Presiden John F. Kennedy. Mahatma Gandhi yang berhikmat dan sangat menentukan dalam proses kemerdekaan India dan Pakistan tahun 1947, mati dibunuh tahun 1948. Sebaliknya Joseph Stalin yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet dan Perdana Menteri Uni Soviet telah melakukan industrialisasi Uni Soviet (khususnya Russia) dengan tangan besi. Selama hampir 30 tahun berkuasa, Stalin telah memerintahkan pembunuhan lebih dari 30 juta orang warganegara Uni Soviet. Anehnya, Stalin meninggal karena stroke pada usia 74 tahun.

 

Di kegalauan dan disaat absennya hikmat yang dari Tuhan pada pimpinan banyak negara2, maka di negara tersebut timbul phenomena kerinduan warganegara akan sesuatu yang menyerupai Ratu Adil. Apakah ini suatu phenomena bahwa warganegara sudah putus harapan dapat menyelesaikan masalah kenegaraan dan keadilan dengan upaya sendiri? Mungkin sudah waktunya juga warga HKBP berdoa agar  Tuhan mengirimkan pemimpin yang berhikmat kepada bangsa2 dan negara2; tidak perlu sebijaksana Salomo,   seperempat Salomopun jadilah. Pemimpin yang berhikmat akan membuat proses pencarian keadilan menjadi lebih efisien. Mari kita perjuangkan dan kita doakan.

(Dr. Berlian T.P. Siagian)

 

Peran Agama Sebagai Pengubah Perilaku Moral Manusia (Renungan Harian : Senin, 22 Juli 2013)
 20 Jul

Renungan ini di-ilhami oleh tulisan Hariyanto Imadha, seorang Pengamat Perilaku sejak 1973

De Jure Republik Indonesia mengakui dan menghormati keberadaan berbagai agama2 yang ada di Indonesia, sungguhpun tiap agama mempunyai definisi yang berbeda-beda tentang iman dan ketaatan kepada Tuhan. Walaupun berbeda2 pada hakekatnya agama adalah pedoman perilaku manusia, agar berbuat baik dan menjauhi perbuatan yang buruk. De Facto kita dihadapkan pada perbedaan yang ada tercermin dalam bentuk berbagai kekerasan, penolakan, ketidak bersahabatan antar orang2 beragama.

 

Agama2 mengaku bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling merdeka karena akal budinya. Manusia dianugerahi dengan kemampuan dan kebebasan untuk memilih diantara berbagai pilihan yang baik, setengah baik, dan buruk.  Para Serapim dan Kerubim tidak memiliki kemerdekaan seperti ini.  Kejatuhan manusia kedalam dosa diakibatkan antara lain oleh kebebasan manusia untuk memilih (Kej 3: 1-7).

 

Diantara negara2 di dunia, hanya Indonesia dan Israel yang memiliki Kementerian Agama. Hal itu dinyatakan di Israel dengan menyebut negaranya sebagai “The Jewish State of Israel.” Dalam konteks Indonesia, statusnya selalu kurang kurang jelas. Kita menyebutkan Republik Indonesia tanpa embel2. Hal ini  memberi kesan Indonesia negara sekuler. Pada kenyatannya kita jauh dari Negara Sekuler dan juga jauh dari Negara Theokrasi. Kelompok Islam garis keras nyata2 mengatakan ingin menerapkan Sharia dimana mungkin. Akibat reliogisitas yang tinggi seharusnya Indonesia dan Israel menjadi kampiun dalam indeks kebaikan, ketenteraman, ketaatan pada hukum, dan keadilan bagi orang2 yang memerlukan keadilan. Akan tetapi gelar juara itu justru dipegang oleh New Zealand, disusul oleh negara2 Skandinavia. Korupsi merajalela di Indonesia dan justru dilakukan oleh orang yang sangat taat beragama, dan rajin beribadah. Fakta ini sekali gus membantah apakah agama sudah berhasil menjalankan perannya sebagai pengubah perilaku moral manusia Indonesia.

 

Didalam ilmu perilaku dikenal urutan2 KAP atau Knowledge, Attitude, and Practice. Seseorang pada awalnya harus mempunyai pengetahuan, informasi tentang kebajikan, barulah dia dapat menghayati bahwa kebajikan itu bermanfaat baginya dan harus dijunjung tinggi, sampai akhirnya dia tegar melakukan kebajikan ditengah2 lingkungan yang dipenuhi keburukan, kejahatan, dan pengingkaran. Tanpa pengetahuan dan penghayatan maka mustahillah seseorang dengan sukacita melakukan hal2 yang baik, mengedepankan kepentingan umum, dan membelakangkan kepentingan pribadi. Kalau dilihat dari indeks religiositas dan indeks kejahatan, kekerasan, korupsi di Indonesia  tidak bertolak belakang, tetapi ustru berjalan selaras. Keadaannya justru semakin kuat satu2 komunitas menjalankan ritus agamanya, justru semakin hebat pula kejahatan, kekerasan dan korupsi ditemukan ditempat itu. Bukti empirik ini mengusik kita untuk mengajukan pertanyaan, dimanakah hubungan terputusnya (missing link). Apakah yang salah Agama?

Tuhan tidak salah. Agama2lah yang gagal menghantar jemaatnya menuju kebajikan. Kekerasan antar agama2 terjadi karena komunikasi yang terputus antar agama2, sehingga tidak ada lagi dialog; tidak ada lagi perbandingan yang dilakukan kepala dingin. Yang tersisa adalah penghujatan dan kekerasan. Ini pertanda kejatuhan agama2 kedalam pengingkaran atas hakekat agama yang membawa damai sejahtera. Manusia dalam hubungannya dengan Tuhanlah pembawa damai sejahtera.  Agama bukan penentu perilaku moral manusia Indonesia. Agamapun tidak bisa menentukan manusia pasti akan berubah dari perilaku moral buruk menjadi perilaku moral yang baik. Agama tidak mempunyai kekuatan sedikitpun untuk menentukan perilaku moral.

 

Agama adalah pemengaruh perilaku moral manusia. Karena agama adalah pedoman perilaku moral, maka agama adalah pemengaruh perilaku moral manusia. Sejauh mana efektivitas pengaruhnya tentu tergantung dari kuat mana antara penyampai pengaruh dengan penerima pengaruh. Teori psikologi terhadap perilaku moral manusia. Teori yang sudah lama mengatakan bahwa, sewaktu manusia lahir, dia bagaikan tabularasa. Bagaikan selembar kertas putih yang belum ditulisi. Masih merupakan manusia suci. Pengaruh lingkungan terhadap perilaku moral manusia. Dalam perkembangannya, manusia akan dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Bahkan ada teori yang mengatakan “environtment has more effects on individual than heredity” (faktor lingkungan lebih berpengaruh terhadap perilaku moral manusia daripada faktor keturunan).

 

Pengaruh kepribadian terhadap perilaku moral manusia. Namun teori lain mengatakan bahwa manusialah yang menentukan dia bisa dipengaruhi atau tidak dipengaruhi lingkungan. Misalnya, walaupun teman-teman sekantornya korupsi semua, namun kalau dia punya kepribadian yang kuat, maka dia tak akan terpengaruh melakukan korupsi, walaupun agama dia lemah. Kekuatan kepribadian lebih ditentukan oleh kekuatan pemikiran-pemikiran yang rasionalitas. Kuat mana pengaruh lingkungan atau pengaruh kepribadian yang kuat? Jawabannya, terganttung mana yang lebih kuat. Apabila pengaruh lingkuungan lebih kuat, maka lingkungan akan menentukan perilaku moral. Sebaliknya, apabila kepribadian yang kuat, maka kepribadianlah yang akan menentukan perilaku moral. Dengan kata lain, kepribadian yang kuat akan menentukan perilaku moral diri sendiri.

 

Kalau begitu, agama tidak perlu? Perlu, bagi manusia-manusia yang berkepribadian lemah maupun manusia-manusia yang berkepribadian yang kuat. Agama sebagai pedoman perilaku harus dipahami dan dihayati setiap orang yang beragama. Sebab, agama sebagai pemengaruh, sangat penting untuk mempengaruhi manusia-manusia yang berkepribadian lemah dan memperkuat perilaku moral manusia-manusia yang berkepribadian kuat. Tergantung kekuatan antara pemengaruh dan yang dipengaruhi. Karena agama adalah pemengaruh, maka tergantung dari kekuatan pihak yang mempengaruhi dan yang dipengaruhi. Sebuah pendidikan agama yang tidak efektif, tidak akan bisa mempengaruhi pribadi-pribadi yang lemah, apalagi mengubah atau menentukan perilaku moral buruk menjadi baik, sebab kepribadian yang lemah lebih kuat daripada pengaruh agama. Akibatnya, banyak umat beragama tetapi tetap korupsi.

Apakah perilaku moral buruk bisa berubah atau tidak, tergantung efektivitas dan kepandaian sang pemengaruh (misalnya penceramah agama) di dalam mempersuasi, transfer pengetahuan dan kemampuan dalam mengubah mindset yang keliru yang dimiliki pribadi-pribadi yang lemah. Negara New Zealand terpilih sebagai negara bebas korupsi nomor satu di dunia. Bukan karena faktor perilaku moral, bukan karena faktor agama dan yang lain-lain, tetapi karena faktor manajemen birokrasi yang profesional. Demikian pula banyaknya korupsi di Indonesia karena faktor manajemen birokrasi yang tidak profesional.

.

Kesimpulan:

1.  Sampai saai ini agama adalah pedoman perilaku moral dan pemengaruh perilaku. Bukan pengubah ataupun penentu perilaku moral.

2.  Penentu atau pengubah perilaku moral adalah manusia itu sendiri, yaitu memperkuat kemampuan rasionalitas di dalam memotivasi diri sendiri untuk berubah menjadi lebih baik.

3.  Agama tetap diperlukan dalam proses mempengaruhi mindset seseorang.

4.  Efektif atau tidaknya pengaruh agama, tentu ditentukan oleh penyampai pengaruh atau penceramah agama atau guru agama. Kalau penyampai pengaruh tidak mempunyai kemampuan persuasi, komunikasi dan memotivasi dalam mengubah midset yang keliru menjadi mindset yang benar, maka perilaku moral buruk tidak akan berubah. Sebaliknya, jika penyampai pengaruh mempunyai kemampuan persuasi, komunikasi dan memotivasi dalam mengubah midset yang keliru menjadi mindset yang benar, maka efektiflah peranan agama di dalam mengubah perilaku moral buruk menjadi baik.

5.  Selama ini peranan guru agama hanya sebagai pengajar. Unsur mendidiknya sangat kurang.

6.  Pada akhirnya pribadi yang kuatlah yang menentukan dalam mengubah perilaku moralnya.

(Dr. Berlian T.P. Siagian)

 

Patik, Apakah dilupakan? (Renungan Harian : 20 Juli 2013)
 19 Jul

Kebaktian Minggu pertama kali yang kuingat dalam kehidupanku adalah di HKBP Galang, Kabupaten Deli Serdang, tahun 1953. Aku masih berumur 4 tahun, belum ikut sekolah Minggu sebab rumah kami jauh di Sei Karang, sekitar 3,5 Km dari HKBP Galang. Modal angkutan saat itu hanya dengan VW Combi milik perkebunan atau dengan sepeda. Aku selalu ikut kebaktian bersama Bapak dan Mama dan itoku yang masih orok. Kebaktian dilakukan dalam Bahasa Batak dan yang paling kuingat dari Kebaktian itu adalah Patik (Kel 20 : 1 - 17) yang dibacakan penuh.

 

Ketika aku berusia lima tahun, aku mulai ikut melafalkan Hata Haporseaon  walaupun sering terbalik2. Mama-lah yang selalu membantu meluruskan. Sebagai anak usia lima tahun aku merasa sudah berprestasi kalau aku dapat melafalkan hata Haporseaon dengan sedikit kesalahan. Satu lagi yang kuingat kalimat dari kenangan mas kecil itu adalah penutup Tamiang Ale Amanami yang dinyanyikan jemaat, dan  sambutan jemaat atas berkat Amen 3x yang dinyanyikan. Demikianlah semua itu terpatri, dihafah, dan dilafalkan walaupun sering2 dibetulkan oleh Mama. Heran juga saya saat ini, kami berbicara dalam Bahasa Indonesia, akan tetapi kebaktian waktu itu dalam Bahasa Batak; kok aku masih banyak ingat? Ende Huria kami lafalkan kemudian setelah saya masuk SD dan kami Pindah ke Plaju. Mengerti atau setengah mengerti Ende Huria kami nyanyikan semasa Sekolah Minggu di HKBP Plaju. Kami mula2 tidak mengerti artinya, lama2 mengerti sebagian2  dan selanjutnya lagi setelah lulus Manghatindakkon Haporseaon hapal satu-satu ayat dari 100 lagu utama di Buku Ende HKBP.

Berbeda dengan kebaktian saat ini di HKBP umumnya dan di HKBP Menteng Jalan Jambu khususnya, Patik atau Sepuluh Perintah Allah sudah sangat jarang dimasukkan didalam kebaktian. Mencoba mengingat kembali kapan perubahan itu terjadi. Awal tahun 1969, didalam Kebaktian Minggu mulailah dilakukan pengurangan. Patik I – IV yang berkaitan dengan Tuhan atau Patik V-X yang berkaitan dengan manusia. Kemudian pada tahun2 berikutnya secara perlahan Patik diganti menjadi hanya satu pasal berikut artinya. Pada saat sekarang ini malah sering diambil ayat dari Alkitab yang disebut sebagai Singkat ni Patik (Pengganti Patik). Phenomena apakah yang terjadi disini?

Kita mengetahui, bahwa tanpa bantuan Roh Kudus manusia tidak akan dapat melaksanakan permintaan Patik I – X dalam kehidupannya tanpa cacat. Akhli komunikasi mungkin akan mengatakan, mengulang2 melafalkan patik akan membuat orang bosan. Kalau dilihat dari aspek kemudahan mengingat kembali unsur2 Patik, pengulangan akan menanamkan kebiasaan yang secara perlahan menjadi bagian integral dari pribadi jemaat. Kita juga tidak perah bosan mengatakan : “Sempurnakan doa kami ini ya Tuhan yang kami sembahkan kepadaMu dalam nama anakMu Tuhan Yesus juruselamat kami. Jadi tidak ada alas an kalau kita tidak dapat mengajarkan kepada anak2 kita Patik dalam Bahasa Batak, Tamiang Ale Amanai, dan Hata Haporseaon.

Gereja HKBP adalah gereja yang unik. HKBP memuji Tuhan mengikuti  falsafah Lutheran dan Etika Kerja Protestan yang sangat berpengaruh di Jerman.  Pada saat yang bersamaan HKBP adalah gereja suku. Keberadaan budaya Batak yang sudah di-Kristenkan itu merupakan harta budaya kita yang tidak ternilai. Kita mengamati bahwa Kekristenan yang bersanding dalam harmoni dengan Kebatakan perlahan2 luntur, karena kurangnya kesadaran  menjaga harta budaya. Demikian pula Buku Ende yang merupakan modifikasi lagu2 gereja di Eropah dan Amerika dengan unsur Jerman-Austria yang keras. Saat ini atribut khas HKBP yang luar biasa ini mulai terkikis.

Kembali ke penguatan penghayatan iman Kristen diantara jemaat, hendaknya kita medudukkan kembali peran Patik dalam ibadah. Bukan untuk menakut2i jemaat. Khotbah2 sudah dipenuhi dengan tema Kasih Karunia, maka akan seimbang pula bila kebaktan juga diisi dengan perintah Allah dan kewajiban yang harus dilakukan setiap orang Kristen dalam kehidupan sehari2 dengan tulus; tanpa kemunafikan.

Akhirnya marilah kita memberitakan firman Tuhan dan Kebajikan dalam balutan budaya Batak melalui Patik, Hata Haporseaon, Tamiang Ale Amanami, dan Buku Ende HKBP. Banyak pendidik aliran modern yang ingin menjauhkan murid dari menghapal. Boleh2 saja, akan tetapi dalam konteks dogma, dimana segala sesuatunya sulit dijelaskan dengan akal budi, menghapal prinsip2 dasar itu bermanfaat dan perlu. (Dr. Berlian Siagian)

 

MUNGKINKAH PERTOBATAN KITA TIDAK DITERIMA? (Renungan Harian : Jumat, 19 Juli 2013)
 18 Jul

Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia surgawi, dan yang pernah mendapatkan bagian dalam Roh Kudus, dan mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibarui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat.

(Ibrani 6 : 4 – 6)

Sebagian besar orang Kristen mengetahui tentang orang-orang yang karena satu dan lain alasan meninggalkan iman keKristenan mereka. Dalam pilihan yang mereka lakukan, mereka mengatakan bahwa mereka tidak menyangkal iman keKristenan mereka tetapi oleh karena keadaan tertentu; mereka tidak menyatakan lagi secara terbuka bahwa mereka adalah orang Kristen. Banyak hal ini terjadi dalam kesempatan mendapatkan jabatan atau masalah perkawinan. Bagi orang-orang yang melakukan pilihan untuk meninggalkan iman keKristenan mereka seperti kasus diatas, ayat dalam Ibrani Pasal 6 tersebut diatas terasa sangat mengganggu. Mungkinkah ada orang yang tidak dapat dibawa kepada pertobatan? Mungkinkah ada orang yang telah mengalami kuasa dan penyertaan Roh Kudus bisa tersesat? Dan benarkah mereka akan terhilang untuk selama-lamanya? Semua pertanyaan diatas bertumpang tindih pada saat kita membaca ayat diatas.

            Ayat diatas tidaklah unik, tetapi merupakan sebagian dari beberapa bacaan mengenai orang-orang yang tidak dapat diampuni atau dibawa kepada pertobatan. Markus 3 : 28 – 29 menyebutkan bahwa penghujatan terhadap Roh Kudus; tidak mungkin diampuni.  Hal ini terjadi pada waktu Yesus memperlihatkan tanda dan kuasaNya mengusir setan, tetapi para ahli Taurat mengatakan bahwa Yesus kerasukan Beelzebul. Inilah yang ditegor Yesus dan mengatakan : “Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya “ ( Markus 3 : 29 ).

            Ayat diatas menyebutkan ada orang-orang yang tidak dapat diperbaharui sehingga mereka bertobat. Hal ini bukan maksudnya apakah Allah tidak maumengampuni mereka apabila mereka bertobat, tetapi oleh karena kekerasan hati mereka yang telah murtad; apakah ada cara yang bias diperbuat seningga mereka bertobat? Jawabnya adalah : TIDAK. Mereka mengeraskan hati dan tidak mau bertobat. Itulah kondisinya.

            Orang Kristen yang disebutkan dalam Kitab Ibrani ini adalah orang Krtisten yang benar-benar telah diteguhkan. Bagaimana kita tau bahwa mereka adalah orang-orang Kristen yang telah diteguhkan? Kita lihat kondisi mereka : “ pernah diterangi hatinya, pernah mengecap karunia sorgawi, pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, yang mengecap firman yang baikdari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang “. Itulah keberadaan mereka, mereka memiliki pengalaman Kristen yang sempurna, tanpa cacat. Apakah mereka bisa murtad? Jawabnya, tentu tidak. Untuk itu, kitab Ibrani memperingatkan bahwa jika ada orang Kristen yang telah diteguhkan seperti uraian tersebut diatas dan mauberpaling dari Kristus, hati mereka akan menjadi keras sehingga tidak ada sesuatupun yang dapat dilakukan untuk membawa mereka kembali pada pertobatan. Akibatnya bagi mereka adalah hukuman yang kekal.

            Biarlah kita tetap berjalan dalam kasih karunia Tuhan dan dijauhkan dari tipu daya Iblis yang mencoba menjauhkan kita dari Kristus.

 

Doa :Bapa, kuatkanlah kami selaludansetiakepadaMuhari-lepashari. Amen. (TSH)

 

 

Tidak Seorangpun yang pernah melihat Allah (Renungan Harian : Kamis, 18 Juli 2013)
 17 Jul

Tidak Seorangpun yang pernah melihat Allah ; tetapi Anak tunggal Allah yang ada dipangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya.

 (1 Yohanes 1 : 18)

 

Yohanes menyatakan dengan sangat jelas bahwa tidak seorangpun yang pernah melihat Allah. Tetapi benarkan demikian? Bukankah Musa pernah melihat Allah (Keluaran 34:5-6) Bagaimana pula dengan Yesaya dan Yehezkiel? Yesaaya berkata : “ Aku melihat Tuhan duduk di atas tahta yang tinggi dan menjulang “ (Yesaya 6 : 1), hal ini dapat kita lihat pula pada Yehezkiel 1 : 26, 28 “…dan diatas yang menyerupai takhta itua da yang kelihatan seperti rupa manusia….seperti busur pelangi, yang terlihat pada musim hujan di awan-awan, demikianlah kelihatan sinar yang mengelilingiNya. Begitulah kelihatan gambar kemuliaan Tuhan “.

 

Untuk memahami keadaan yang dihadapi Musa, kita tidak dapat melihat dalam Keluaran 34 saja, melainkan dalam Pasal sebelumnya dimana Allah menjelaskan apa yang akan terjadi apabila Musa berhadapan muka dengan muka dengan TUHAN. Allah berkata kepada Musa, “ engkau tidak tahan memandang wajahKu, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup “. Dari kesaksian ke-duahamba Tuhan diatas, ternyata mereka tidak dapat melihat TUHAN secara muka-dengan muka. Mereka tidak dapat melihat Allah secara langsung. Tetapi melalui firman hari ini, dikatakan :Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada dipangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya.

 

Yesuslah yang merupakan jalan untuk mengalami kehadiran Allah. Injil Yohanes secara konsisten membedakan antara “Bapa” dan “Anak”. Sejak semula Yohanes menganggap Anak (atauFirman) sejajar dengan Allah (“Firman itu adalah Allah, Yohanes1 : 1). Yesus juga merupakan “Firman yang telah menjadi manusia“ (Yohanes 1 : 14) dan dengan demikian Allah hadir di hadapan manusia secara jasmani. Dalam kebersamaanNya dengan para murid, mereka melihat Yesus, yang karakter dan perilakunya menggambarkan Bapa.

Semua pengajaran Yesus dan apa yang diajarkanNya dalam seluruh Alkitab, menuntun kita untuk mengenal Allah dengan benar dan sungguh-sungguh. Dalam Hosea 6 : 3. Dikatakan :Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN….” Perintah ini penting, karena mengenal TUHAN adalah dasar untuk membangun kehidupan rohanis esuai dengan kehendak Allah, karena dalam Hosea 4 : 6, dikatakan : “ Umat Kubinasa karena tidak mengenal Allah…” Kita mau hidup didalam kasih karunia Allah, oleh karenaitu kita harus membangun pengenalanakan Dia. Yesus berkata : “Aku dan Bapa adalah satu“ (Yohanes 10 : 30).

 

Dengan mengenal Yesus, kita bias membangun hubungan dengan Allah; sama dengan Musa danYehezkiel, kitapun dapat melihat kehadiran Allah dalam kehidupan kita sehari-hari sekarang. Hal ini dapat kita pahami karena Rasul Yohanes berkata : “ Allah adalah kasih..” (Yohanes 4 : 16b). Allah berada ditengah-tengah kehidupan kita apabila “kasih” itu terpancar dalam hubungan kita diantara sesama; baik dalam keluargamaupun dalam masyarakat disekitar kita. Betapa indahnya kehidupan diantara orang-orang yang saling mengasihi. Ini adalah anugerah Allah dalam kehidupan kita, karena firmanTuhan berkata : “Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap didalam kita, dan kasihNya sempurna didalam kita“ ( 1 Yohanes 4 : 12 ). Alangkah indahnya kasih karunaia Allah kepada kita dalam kasihNya.

 

Doa : Bapa, bimbinglah kami dengan kuasa RohMu agar kami saling mengasihi. Amen (TSH)

 

Tuhanlah yang memilihhambaNya (Renungan Harian, Rabu 17 Juli 2013)
 16 Jul

PadawaktuYesusnaiklagikedalamperahu, orang yang tadinyakerasukansetanitumeminta, supaya ia diperkenan menyertai Dia. Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu : “ Pulanglah kerumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau “ ( Markus 5 : 18 – 19 )

 

Peristiwa ini terjadi di daerah Gerasa, diseberang danau Galilea. Seorang yang kerasukan roh jahat menghadangYesus yang dating kedaerah itu.Orang itu berkeliaran di kuburan dan bukit-bukit, tidak ada seorang pun yang sanggup mengikatnya dan menjinakkannya. Pada waktu Yesus datang dan mendekati orang yang kerasukan roh jahat itu, Yesus berkata : “ Hai engkau roh jahat ! Keluardari orang ini ! “.  Orang itu menjawab dengan suara yang keras : “ Apa urusanMu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Maha tinggi ? Demi Allah, jangan siksa aku ! “.Atas permintaan roh jahat yang merasuk tubuh orang itu, roh-roh itu meminta agar mereka dipindahkan kedalam tubuh babi-babi yang berkeliaran ditempat itu. KemudianYesus memindahkan roh-roh jahat itu memasuki babi-babi tersebut. Maka sembuhlah orang yang kerasukan roh jahat itu.Lalu gemparlah penjaga-penjaga babi ditempat itu dan menceriterakannya kekampung-kampung disekitarnya.

 

Peristiwa ini merupakan suatu peristiwa ajaib. Mereka heran, tetapi orang yang kerasukan itu meminta kepadaYesus agar dia diperkenankan untuk mengikutiNya. Yesus menjawab orang itu, mengatakan : “Pulanglah kerumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau “.

 

Menjadi murid Yesus adalah kerinduan banyak orang, seperti orang yang sembuh dari kerasukan roh jahat tersebut; dia terpesona dan berterimakasih bahwa ia telah disembuhkan oleh Yesus. Dengan pengalamam yang terjadi, dia langsung ingin mengikuti Yesus. Dia ingin berterimakasih serta ingin menyertai Yesus kemanapun Dia pergi.Tetapi Yesus menolaknya dan menyuruhnya pulang kekampungnya untuk memberitakan apa yang terjadi kepadanya.

 

Pada saat ini banyak orang-orang percaya yang ingin untuk mengikut Yesus dalam pelayanan seperti para murid yang ikut bersama Yesus. Mereka memutuskan untuk berhenti dari kegiatannya semua untuk berbalik menjadi pelayanan. Bagi kebutuhan pelayan di tengah-tengah Gereja, kita menyambut baik dengan bertambahnya orang-orang yang melayani. Tetapi dalam kenyataannya, hanya beberapa orang saja dari mereka itu yang benar-benar setia dalam pelayanan.Malahan ada diantara mereka yang menjadi batusandungan.DalamYohanes 15 : 16; Yesus berkata : “ Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu …”.

Yesusmemilih murid2Nya dan orang - orang yang diutusNya pergi melayani dan menghasil kanbuah. Itulah orang-orang pilihanYesus yang menghasilkan buah dalam pelayanan mereka, dan bukan menjadi batu sandungan. Melalui hal ini kita dapat belajar bahwaTuhan sendirilah yang memilih hambaNya dan bagi hamba-hambaTuhan yang dipilih Allah akan terlihat dari buah dalam pelayanan yang mereka lakukan.

 

Banyak perkara-perkara ajaib yang terjadi di dalam kehidupan kita. Tuhanmau agar kita bersaksi atas perkara yang Tuhanlakukan, supaya  orang melihat dan mengetahui bahwa sampai sekarangTuhan bekerja dalam kehidupan umatNya. Dia tidak pernah meninggalkan kita. Tetapi untuk menjadi murid Yesus atau menjadi hambaNya, itu merupakan pilihanYesus sendiri. Ia mengenal hati dan diri kita, Ia mengetahui siapa kita sehingga Dia sendirilah yang menetapkan orang-orang pilihanNya untuk menyatakan kuasaNya. Orang-orang pilihan Yesus akan melakukan semua kegiatan pelayanannya dengan sukacita dan memberikan buah.

 

Doa :Bapa, pakailah aku seturut kehendakMu. Amen ( TSH)

Memuliakan Allah melalui ketaatan dan kemurahan hati
 15 Jul

Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang (ayat 13)

 

Hidup kita, pelayanan kita dan ketaatan kita serta kemurahan hati kita ternyata bisa menjadi berkat bagi saudara-saudara kita seiman lainnya. Melalui kita mereka bisa belajar dan juga memuliakan Allah.

 

Namun, hidup yang bisa menjadi berkat dan pelayanan kasih yang kita lakukan serta ketaatan itu tetap didasarkan pada kerelaan hati yang tulus  (ayat 2, 7). Karena apapun yang kita miliki dan mampu berikan itu ternyata semuanya merupakan anugerah dan berkat dari Tuhan (ayat 6 - 11).

 

Hati dan hidup yang mau dipakai sebagai saluran berkat kepada pelayanan yang mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus dan orang-orang yang berkekurangan, juga memberikan dampak bagi orang miskin yang menerimanya sehingga mereka bisa bersyukur kepada Tuhan atas pemeliharaanNya melalui anak-anakNya, yaitu kita orang yang percaya. (ayat 12)

 

Marilah kita berlomba-lomba menjadi berkat dan saluran berkat bagi pelayanan dan orang miskin lainnya untuk kemuliaan Allah. Sehingga melalui kita mereka dapat memuliakan Tuhan dan juga terjalin hubungan doa diantara sesama orang percaya.

 

Bagi yang ingin menjadi saluran berkat namun ragu dan belum tahu mau memberikannya kemana dan melalui siapa, sebaiknya menghubungi gereja masing-masing atau dapat menghubungi institusi pelayanan atau penginjilan yang berafiliasi dengan gereja, PGI dan institusi pelayanan yang direkomendasikan oleh Gereja. Atau, langsung memberikannya kepada orang-orang miskin yang berada disekitar kita masing-masing.

 

Doa: Terimakasih Tuhan atas semua berkat dan anugerah yang TUHAN berikan kepada kami, berilah kerelaan hati bagi kami untuk mau menjadi saluran berkat bagi pelayanan dan mereka yang berkekurangan. Amin. (St. Berman Sitorus)

Pelayanan kasih mesti Transparan (Renungan Harian : Senin, 15 Juli 2013)
 13 Jul

2 Korintus 8 : 16 - 24

 

Melanjutkan renungan Pelayanan Kasih yang sudah kita renungkan kemarin, hari ini kita merenungkan prinsip-prinsip lain dalam pelayanan kasih kepada orang-orang kudus, yaitu prinsip transparan.

 

Dalam kegiatan pelayanan kasih, prinsip utama haruslah ada team yang bertanggungjawab untuk mengelola dan mengumpulkannya supaya bisa terorganisir dengan baik. Sipenanggungjawab yang menerima mandat haruslah seorang yang “bersungguh-sungguh dan rela hati” mengerjakan dengan sebaiknya seperti Titus (ayat 16,17). Anggtoa teamnya juga haruslah wakil jemaat yang terpuji atau yang dapat dipercaya (ayat 18, 22).

 

Sebagai orang yang dipercaya, hendaklah kita harus menjaga diri kita dan team dari kesalahan dan celaan oleh mereka yang bersungguh hati memberikan persembahan pelayanan kasih, untuk kemuliaan Allah. (ayat 19). Sehingga prinsip dalam pelayan kasih haruslah memenuhi “lulus audit Tuhan dan juga jemaat”. (ayat 20, 21).

 

Sebaliknya sebagai jemaat, kitapun diminta untuk mempercayai team atau wakil pelayan yang terpercaya seperti kita mempercayai hambaNya (Paulus) yang memberikan mandat kepada mereka (ayat 23, 24).

 

Di Gereja kita atau dilingkungan kita munngkin ada penggalangan dana untuk keperluan pelayanan bai kemuliaan nama TUHAN. Mungkin kita yang ditunjuk sebagai panitia atau hanya sebagai jemaat yang mendukung dalam dana dari berkat-berkat yang kita terima. Marilah kita melakukannya dengan kesungguhan hati dan kerelaan serta rasa tanggungjawab yang besar. Prinsip transparan atau pertanggungjawaban tetap kita utamakan.

 

Doa: ya Tuhan bila kami dipercaya melayani pelayanan kasih, berilah kami hati yang rela dan sungguh-sungguh mengerjakan dihadapanMu dan dihadapan jemaat. Bila kami sebagai jemaat yang dimintakan bantuan, berilah hati yang rela dan dengan penuh rasa syukur untuk memberi dari kemampuan kami. Amin. (St. Berman Sitorus)

 

Pelayanan Kasih dan Keseimbangan (Renungan Harian : Sabtu, 13 Juli 2013)
 13 Jul

2 Korintus 8 : 1 - 15

Firman Tuhan untuk kita renungkan hari ini adalah surat ajakan Pauus kepada Jemaat di Korintus agar mereka mau turut dalam pelayanan kasih, melalui pengumpulan dana untuk membantu saudara-saudara seiman yang disebut sebagai orang-orang kudus. Ajakan ini juga sudah dilakukan oleh jemaat-jemaat di Makedonia yang dalam kenyataannya sebenarnya lebih miskin dari jemaat-jemaat di Korintus (ayat 2).

 

Teladan dan ukuran memberi untuk pelayanan kasih dalam upaya menolong saudara-saudara seiman ini diungkapkan oleh Paulus dengan ukuran “memberi menurut kemampuan mereka”, bahkan kadang melampaui yang artinya oleh dorongan kasih bahkan mereka mau mengutamakan membantu saudara-saudara yang lebih menderita (ayat 3).

 

Pemberian dukungan kepada pelayanan bagi orang-orang kudus ini didasarkan pada kasih karunia yang telah kita terima dan kerelaan hati kita (ayat 11) , agar pemberian ini juga bermanfaat bagi sipemberi, dan dari apa yang ada pada kita (ayat 12).

 

Pelayanan kasih inipun akan berfaedah bagi sipemberi dukungan, melatih kasih dan menumbuhkan iman atas pemeliharaan Tuhan.

 

Akhirnya tujuan dari semua pelayanan kasih disamping hal-hal yang bersifat rohani, juga ada unsur sosialnya. Melalui pelayanan kasih ini akan tercipta dan terwujud

“keseimbangan” (ayat 14). Seperti ada yang tertulis :”Orang yang mengumpulkan banyak ,tidak kelebihan, dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan.” (ayat 15).

 

Marilah kita hari ini bersama merenungkan dan menghitung-hitung berkat Tuhan yang sudah kita terima, serta mendoakan dan mulai mencari informasi kemanakah kita dapat menyaurkan sebagian berkat Tuhan yang telah kita terima agar tercipta keseimbangan dan kitapun terberkati melalui ambil bagian dalam pelayanan kasih.

 

Doa: ya Tuhan ajarkan kami untuk selalu bersyukur atas berkat dan anugerah yang TUHAN berikan kepada kepada kami, dan melalui kami TUHAN memberkati saudara-saudara kami yang berkekurangan, terutama mereka yang melayaniMu ditempat-tempat yang sulit secara ekonomi. Amin. (St. Berman Sitorus)

 

MINTA APA SAJA KEPADA TUHAN, PASTI DIKABULKAN (Renungan Harian : Jumat, 12 Juli 2013)
 12 Jul

Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan Firman-Ku tinggal dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. (Yohanes 15 : 7) Firman ini sangat indah dan sangat menguatkan hati yang sedang susah. Bagaimana tidak? Kita dapat minta apa saja yang kita  mau.

 

Pasti dalam pikiran kita yang sedang susah dalam hal ekonomi dan keuangan, ingin minta uang yang banyak kepada Tuhan. Caranya terserah Tuhan, karena Dia maha kuasa dan mahatahu. Kita cukup hanya minta di dalam doa dan permohonan. Pastilah Tuhan memberikan karena Dia yang berjanji. Begitulah kita berpikir. Itukah yang dimaksudkan ayat firman diatas ini?

 

Coba kita renungkan kembali ayat tersebut diatas. "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku"! Ayat ini berarti kita harus didalam Tuhan Yesus Kristus. Tahu akan Tuhan, dan Percaya kepada Tuhan Yesus  anak Allah, Memuliakan Dia dengan segenap hati, roh dan jiwa.

 

Kemudian kita renungakan ayat berikutnya; "Firman-Ku tinggal di dalam kamu". Ayat ini bermakna, bahwa hati dan pikiran kita, serta tingkah laku kita haruslah dikuasai oleh firman Allah. Tidak boleh tidak segala gerak hidup, tingkah laku, tutur kata, haruslah sesuai dengan perintah Allah, dan Tuhan Yesus Kristus, sebagaimana tertulis didalam firman itu. Orang yang hidup di dalam Tuhan Yesus Kristus, pastilah melakukan segala kehendakNya. Kehendak Tuhan Yesus adalah sesuai dengan Firman-Nya.

 

Nah, sekarang kita bisa mengerti, bahwa apa yang dimaksud dengan ayat; mintalah apa saja yang kamu mau. kalau hati kita sudah dikuasai oleh firman Tuhan tentulah apa yang diingini hati kita, atau yang dikehendaki hati kita adalah segala sesuatu yang sesuai dengan kehendak Allah, dan Tuhan Yesus Kristus, sebagaimana tertulis didalam firman Tuhan Allah. Tentulah yang kita mintapun harus berdasarkan firman itu. Kalau sesuai dengan firman Tuhan permintaan kita pastilah dipenuhi atau dikabulkan.

 

Kita tidak boleh menganggap hanya kekayaan yang perlu dalam hidup ini, namun masih banyak keperluan yang lain yang harus dimiliki orang untuk saling mengisi. Ada pembagian tugas. Beragam-ragam tugas tapi satu tujuan, memuliakan Tuhan Allah. Kalau kita miminta kekayaan tentu dapat diberikan oleh Tuhan Yesus, tetapi apakah hal itu yang utama bagi kita atau adakah hal lain yang sangat perlu bagi kehidupan kita, pribadi lepas pribadi. Tentu hanya Roh Tuhan, atau hanya Pikiran Tuhan yang maha tahu apa yang perlu bagi kehidupan kita masing-masing.

 

Itulah sebabnya Tuhan memberikan berbagai karunia kepada setiap orang secara berbeda-beda, untuk digunakan di dalam memuliakan Tuhan. Ada Karnia bernubuat, ada karunia berbahasa roh, ada karunia berbicara atau mengajar ada karunia menyembuhkan dan tentu ada karunia memperoleh harta. Semua karunia itu haruslah dipersembahkan bagi kemuliaan Tuhan. karunia itu bukan milik yang harus kita simpan dan gunakan untuk kita sendiri, tetapi harus disalurkan kepada setiap orang yang memerlukannya.

 

Demikianlah kita tidak boleh kecewa, kalau kita tidak sama dengan orang lain dalam hal perolehan harta benda ataut kekayaan. Mungkin kalau harta atau kekayaan diberikan kepada kita, itu akan menjauhkan kita dari kasih karunia Tuhan, kita tidak tinggal di dalam Tuhan lagi. Kita malah akan sibuk menikmati berkat itu tanpa memperdulikan kehendak Tuhan lagi. Tidak perduli kepada sesama. Atau bahkan menyombongkan diri. Tuhan tidak menghendaki hal itu, tetapi Tuhan menghendaki kita tetap tinggal di dalam Dia selama-lamanya.

 

Oleh karena itu, kita harus tetap tinggal di dalam Tuhan, dan firman Tuhan tinggal di dalam hati dan roh kita. Maka semua yang kita pikirkan dan lakukan pastilah sesuai dengan kehendak Tuhan. Tidak mungkin keinginan orang yang ada di dalam Tuhan, keinginan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Artinya apa saja yang kita minta, haruslah sesuai dengan kehendak Tuhan Allah dan Tuhan Yesus Kristus. Bukan apa saja yang menurut keinginan daging, tetapi harus sesuai dengan keinginan roh yang dikuasai oleh firman Tuhan.

 

Marilah kita mengucap syukurlah senantiasa dalam segala hal, karena itulah yang dikendaki Allah bagi kita. Bukan apa kita hendaki, tetapi yang dikehendakiNya. Kalau kita hanya mengucap syukur karena keinginan kita terpenuhi, maka Dia bukan lagi Tuhan tetapi pesuruh kita, untuk memenuhi keinginan kita. Saya mau Tuhanku maha kuasa, yang mengalahka maut, dan segala kuasa iblis.

 

Itulah makna dari friman Tuhan sebagi mana dikutip diatas, semua pasti dikabulkan Tuhan Yesus seturut dengan kehendaknya, bukan kehendak keinginan daging kita.

 

Doa : Bapa di Surga, yang kami sembah dan muliakan di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, tolonglah kami untuk tetap tinggal di dalam Tuhan, dan firman-Mu tetap tinggal di dalam hati dan roh kami. Amin. (St. M. Marlon Situmorang)

 

 

 

 

 

 

Orang yang berhati-hati akan terhindar dari kesulitan (Renungan Harian : Selasa, 9 Juli 2013)
 08 Jul

Siapa mengindahkan didikan, menuju jalan kehidupan, tetapi siapa mengabaikan teguran, tersesat. (Amsal 10 : 17)

 

Seringkali orang-orang yang mau pulang ke kampung halaman, mengalami salah jalan pada waktu melintasi jalan lintas Sumatera. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena mereka tidak cermat atau tidak mengindahkan alias tidak memperhatikan tanda-tanda atau petunjuk jalan, karena merasa sudah yakin mengetahui jalan. Akibatnya perjalanan sudah jauh menyimpang.

Saya pernah mendengar ceritera orang pulang kampung, tersesat karena terlalu yakin akan jalan yang mereka tempuh, padahal mereka paling-paling sekali setahun melewati jalan tersebut. Ternyata setelah berlalu kurang lebih dua jam perjalanan dengan kendaraan mobil, mereka semakin tidak mengenal jalan itu, banyak situasi yang tidak dikenal. Barulah mereka mau bertanya kepada penduduk yang ada di pinggir jalan. Setelah mereka mendapat penjelasan bahwa jalan itu menuju arah yang lain. Mereka sangat menyesal bahwa mereka sudah jauh menyimpang kearah yang lain. Terpaksa, tidak boleh tidak mereka harus kembali kejalan semula. Coba kita bayangkan berapa kerugian bahan bakar yang dialami, belum lagi lelahnya dijalan dan waktu banyak terbuang. Seharusnya mereka sudah bisa sampai tujuan lebih awal, namun karena keteledoran atau sok yakin (kesombongan) mereka harus mengalami keterlabatan selama berjam-jam.

Demikian pulalah hidup kita, kalau kita tidak mau mengindahkan petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Tuhan Yesus Kristus, sebagaimana tertulis di dalam Alkitab, sudahlah pasti kita akan mengalami kesulitan dalam hidup ini.

Banyak orang memiliki pendidikian yang sangat tinggi dan dan sangat baik, tetapi kalau tidak mau mendengarkan didikan Tuhan Yesus dan tegurannya, maka hidupnya akan mengalami kesusahan.

Kita sudah lihat di televisi maupun media lainnya, banyak orang yang berpendidikan tinggi secara duniawai, tetapi mereka tiba-tiba di tangkap petugas KPK atau petugas penegak hukum yang lain karena mereka mengabaikan teguran dan tidak mengindahkan didikan Tuhan. Mereka hanya mengikuti suara hatinya yang penuh nafsu duniawai, serakah dan meninggikan diri, dan tidak lagi perduli terhadapat teguran atau peringatan. Mereka-mereka itu menganggap mereka sangat berkuasa dan tidak ada yang bisa mencegah atau menangkap mereka.

Tetapi Tuhan tidak tinggal diam terhadap orang-orang yang tinggi hati yang tidak perduli terhadap didikan dan teguran melalui firmanNya. Akibatnya, mereka diserahkan Tuhan Yesus kepada hawa nafsu mereka sendiri, yakni masuk hukuman.

Oleh karena itu, hendaklah kita semua menyadari, bahwa melakukan kejahatan sangat dibenci Tuhan. Sekalipun secara hukum dunia ini,  kelihatannya banyak orang yang tidak terjerat hukum meskipun kejahatannya terlihat secara mencolok, tetapi kita harus percaya Tuhan Yesus mengetahui kelakuan mereka itu. Apabila mereka tidak bertobat dan tidak meninggalkan kejahatannya, maka sudah pasti akan ada hukuman dari Tuhan Yesus di dunia akherat nantinya. Karena setiap orang akan diadili sesuai dengan kelakuannya, dan harus mempertanggung jawabkannya dihadapan Hakim Agung yakni Tuhan Yesus Kristus.

Tidak dapat dipungkiri bahwa, berkelimpahan dalam harta dan uang sangat menyenangkan dalam hidup yang fana di dunia ini. Karena harta kita dapat melakukan apa saja menurut keingnan kita. Tetapi dibalik semua itu dapat membuat orang terjerumus kepada kejahatan, nafsu korupsi atau mencuri atau menipu. Karena cinta uang tidak akan berhenti, tetapi selalu kehausan untuk mengumpulkannya. Selain itu harta juga dapat membuat manusia sangat jahat dengan kesombongan, yang bisa menghina sesama. Seharusnya kekayaan itu harus disalurkan juga kepada sesama yang sangat membutuhkan, bukan digunakan untuk mengiha orang lain.

Oleh karena itu marilah kita menjaukan diri dari semua bentuk kejahatan, sekalipun hidup kita mengalami kekurangan dalam hal keuangan untuk membiayai kebutuhan hidup. Kita harus yakin bahwa Tuhan Yesus Kristus yang maha kasih akan selalu meolong kita pada waktunya, asalkan kita tetap setia didalam FirmanNya.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, marilah kita senantiasa mohon kekuatan dan bimbingan Tuhan, agar kita mampu melakukan didikan dan teguran Tuhan yang sudah tertulis dalam Alkitab. Dengan mengindahkan didikan Tuhan kita akan berjalan menuju kehidupan yang dikehendakiNYa, sebaliknya kalau kita mengabaikan kita akan tersesat di dunia yang gelap yakni dunia kejahatan. Kita akan terhindar dari kesulitan dan penderitaan.

Doa: Ya Tuhan Yesus Kristus, ingatkanlah kami dan kuatkan untuk mengindahkan FirmanMu, serta menjauhi kejahatan. Amin   

(St. Marlon Situmorang).

 

Diutus untuk menjadi saluran Pertolongan Tuhan (Renungan Harian : Senin, 8 Juli 2013)
 06 Jul

"Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu". Esther 4 : 14

 

Pernah di zaman orde baru seorang pejabat orang Batak menceritakan kelemahan seorang pejabat yang lebih tinggi darinya demikian. Si Pejabat tersebut berkata; “Bagaimana, apakah engkau tidak bisa meminta lapangan terbang dan pembangunan lainnya di Tapnanuli kepada Presdien?”. Jawab pejabat tersebut; “kalau aku macam-macam maka aku akan segera digantinya”.

Demikianlah jawaban dan sikap si pejabat tinggi tersebut, hanya mementingkan diri sendiri. Dia takut kehilangan jabatan. Kalau dia berbuat seuatu untuk kaumnya orang batak, takut dikira untuk kepentingan sendiri. Padahal belum tentu demikian. Belum dicoba sudah mundur, dia berpikir yang penting saya aman dululah. Dan akhirnya si pejabat yang bersangkutan kurang dihormati oleh orang batak sebagai pejabat tinggi. Orang batak bahkan berkata, dia pengecut dan hanya memikirkan dirinya saja, tidak ada hasil karyanya untuk tanah batak.

Haman, seorang pejabat yang hanya setingkat dibawah raja, membuat suatu rencana jahat,  yakni untuk membunuh semua orang Yahudi di seluruh kerajaan Ahasyweros, karena Mordekhai tidak mau tunduk menyembah Haman. Karena Mordekhai hanya mau menyembah Tuhan Allah, bukan manusia.

Mordekhai mendengar rencana jahat tersebut lalu meminta tolong kepada Ester sang ratu, yang mana adalah seorang dari kaum Yahudi, untuk melaporkan hal itu kepada raja. Meskipun pada mulanya Ester berkata, bahwa dia tidak boleh menghadap raja kalau tidak dipanggil, dan hukumannya adalah mati, itu sudah undang-undang.

Lalu Mordekhai, memberikan pesan seperti ayat diatas, bahwa sekalipun Ester tidak mau berbuat sesuatu untuk menolong bangsanya, pastilah akan datang pertolongan dari tempat lain. Inilah keyakinan Mordekhai, bahwa Tuhan Allah yang mereka sembah, tidak akan membiarkan mereka dibinasakan oleh Haman si pejabat yang kejam itu.

Tapi pada akhirnya Ester, mau melakukan permintaan Mordekhai, dan hasilnya kita tahu dalam ayat selanjutnya, ternyata  Ester tidak dihukum, sebaliknya si jahat Hamanlah yang dihukum gantung serta seluruh keluarganya. Kalau Tuhan beserta kita, musuh kita dibuatnya tunduk, bahkan dihancurkan.

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, kalau kita diberkati Tuhan Yesus dengan sesuatu yang dapat kita salurkan kepada orang lain, kita tidak boleh takut atau berdalih untuk memberikan pertolongan apapun kepada sesama apalagi sebangsa umat Kristen. Kita hanya sebagai saluran berkat, sekalipun kita tidak mau melakukannya,  Tuhan Yesus sanggup dan mahakuasa untuk membuat saluran berkat yang lain. Tetapi kita sudah melawan kehendak Tuhan, apabila kita menolak perintah Tuhan itu. Kita harus lebih  hati-hati dan lebih takut kepada Tuhan daripada kepada manusia.

Jika kita membaca kisah Ester ini, sungguh menarik, bagaimana dia sampai menjadi ratu di daerah buangan. Dalam Alkitab dikisahkan bahwa Mordekhai adalah pengasuh Hadasa alias Ester, sekaligus diangkat anak olehnya.  Kemudian mereka berdua bekerja sama untuk membebaskan orang Yahudi dari pembinasaan. Luar biasa rencana Tuhan Allah. Seperti Yusuf di tanah Mesir, diutus untuk mendahului kaum keluarganya agar terluput dari bencana kelaparan, yang baru timbul beberapa puluh tahun kemudian. Tuhan kita itu luar biasa merencanakan kebaikan kepada kita. Diluar akal pikiran kita bagaimana Yusuf dibuang saudara-saudara dengan menjual kepada pedagang budak, tetapi Tuhan mereka sangat baik. Tuhan tidak pernah merencanakan yang buruk kepada kita. Seperti tertulis di dalam Yeramia 29: 11 “ Sebab aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu ranangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”.  Haleluya luar biasa, kebaikan Tuhan kita.  

Oleh karena itu saudara-saudara, kita ini adalah utusan Tuhan Yesus Kristus untuk menjadi saluran berkat. Sekecil apapun itu, hendaklah kita lakukan dengan sepenuh hati, roh dan jiwa.  Kiranya Tuhan Yesus menguatkan kita untuk menjadi penolong bagi sesama kita. Karena itulah yang dikehendaki Tuhan bagi kita.

Doa: Ya Tuhan Yesus Kristus yang maha kuasa dan maha tahu, tolonglah kami untuk melakukan kehendakMu, yaitu untuk menjadi penolong bagi sesama denga karunia yang Engkau berikan kepad kami. Amen.   (St. Marlon Situmorang).

DARI KEGAGALAN TERBIT KEBERHASILAN (Renungan Harian : Sabtu, 6 Juli 2013)
 06 Jul

Yakobus 3 : 5 - 6

 

Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.

 

Lidah adalah suatu anggota kecil dari tubuh kita. Tetapi betapapun kecilnya “lidah” yang kita miliki daya dan pengaruhnya sangat luar biasa dahsyatnya. Mungkin itu sebabnya lidah selalu tersembunyi dan kita tidak selalu dapat melihatnya. Lidah terlindung  oleh sebuah benteng yang kokoh, oleh rahang atas dan rahang bawah dan dibagian depan, kiri, dan kanan dipagari sangat rapat oleh gigi dan geraham. Karena kedahsyatannya lidah yang kecil ini sanggup meruntuhkan dan mendirikan, ketika lidah bertindak (bersuara), maka dunia ini pada seketika bisa menjadi lautan perang, sebab lidah itupun api perang. Tetapi lidah itupun api perdamaian. Lidah memiliki kekuatan ganda MENGHANGUSKAN dan MEMBANGUN.

 

Jika seorang komandan batalyon TNI AD menggerakkan lidahnya menyuarakan “perintah serbu”, maka seluruh pasukan dengan kekuatan lebih kurang 1000 orang akan segera menyerbu musuh. Tetapi jika sang komandan menggerakkan lidahnya menyuarakan kembali ke markas, letakkan senjata, dan damai maka kedamaianpun akan terjadi.

 

Maka, setiap KATA yang keluar dari mulut kita biarlah itu akan berguna untuk membangun dan mendirikan. Biarlah lidah kita, boleh kita pergunakan hanya untuk kebesaran nama Tuhan saja. Sebab kita diciptakan dan ditebus-Nya memikul tugas berat yaitu untuk membawa kesejahteraan dan kedamaian di dunia ini. Kita semua adalah anak terang, biarlah setiap perbuatan kita memberi terang di dunia yang gelap ini. Terpujilah Tuhan Yesus Raja Gereja sampai selama-lamanya. Amen (St. PM Banjarnahor)

AKIBAT DARI KEROHANIAN YANG TERGANGGU (Renungan Harian : Jumat, 5 Juli 2013)
 04 Jul

2 Tawarikh 28:22

Dalam keadaan terdesak itu, raja Ahas ini, malah semakin berubah setia terhadap Tuhan. (Bacaan 2 Raja - raja 16, 2 Tawarikh 28)

 

Raja Ahas adalah salah satu dari dinasti kerajaan Daud yang tidak setia kepada Tuhan. Lingkup kehidupan raja Ahas masuk dalam kategori buruk dan bahkan sangat buruk. Ketika Yehuda menderita akibat serangan dari bangsa-bangsa sekitarnya, raja meminta pertolongan kepada tentara Asyur. “Leadership” Ahas yang tidak percaya diri dan penakut memaksa Yehuda masuk dalam perbudakan Asyur.

 

Yehuda yang pernah menjadi bangsa yang takut akan Allah, namun dengan cepat berbalik kepada ilah lain karena kepemimpinan Ahas yang sudah hancur berantakan. Bahkan raja Ahas mempersembahkan anak-anaknya sendiri kepada ilah dengan sebuah pengharapan mereka akan melepaskan Ahas dan bangsanya dari keterpurukannya saat itu.

 

Kehidupan Ahas ini mengandung banyak kesamaan dengan potensi kita untuk gagal secara rohani oleh kegagalan demi kegagalan dan cobaan yang terus datang menyerbu kehidupan kita. Bukannya kita bertobat atas dosa-dosa yang kita perbuat dan beseru kepada Allah untuk meminta pertolongan, tetapi kita, malah seperti Ahas mencoba segala pertolongan lain selain Allah. Kita mencoba kemampuan kita sendiri, otoritas yang kita miliki, uang, harta, kebiasan-kebiasan buruk dan berbahaya, akibatnya adalah tragedi yang bertambah buruk.

 

Kesalahan dan kesulitan yang kita hadapi dan tak mampu kita atasi akan berakibat menjadi penderitaan hebat, bahkan dapat menghancurkan iman kita, atau sebaliknya, dapat mendorong pertumbuhan dan kematangan iman kita. Perbedaanya terletak pada bagaimana kita memilih untuk mencari pertolongan Allah dengan kerendahan hati, apapun kondisi dan situasi yang kita hadapi.

 

Ketika kita sedang menghadapi ujian seberat apapun, jangan berbalik dari Allah, tetapi tetaplah berpaling kepada Allah dalam nama Yesus Kritus. Amen

(St. PM Banjarnahor)

TUHAN MEMULIHKANMU (Renungan Harian : Kamis, 4 Juli 2013)
 03 Jul

YEREMIA 30 : 17

 

"Sebab Aku akan mendatangkan kesembuhan bagimu, Aku akan mengobati luka-lukamu, demikianlah firman TUHAN, sebab mereka telah menyebutkan engkau : orang buangan, yakni sisa yang tiada seorangpun menanyakannya".

 

Semua orang membutuhkan dan selalu mendambakan kesembuhan (pemulihan) dari apa yang sedang di deritanya. Penderitaan di dunia ini adalah penyakit yang hadir silih berganti. Setiap orang pasti ada yang di deritanya (dipergumulkan). Tidak seorangpun yang hidup di dunia ini yang luput atau bersih dari penderitaan. Setiap kita, antara saudara dan saya saat inipun pasti memiliki pergumulan serius dan berat. Setiap pergumulan (penderitaan) yang saudara dan saya derita tak ada yang ringan, tetapi semuanya berat. Jika anda berkata bahwa penderitaan atau pergumulan itu ringan, maka itu bukanlah pergumulan yang sesungguhnya.

 

Karena penderitaan itu memang sungguh berat, maka Allah menyuruh anak-Nya yang tunggal datang ke dunia ini, untuk memulihkan kita semua. Tuhan menginginkan kita semua ada dalam keadaan sehat jasmani dan sehat pikiran. Tuhan telah membawa damai sejahtera di atas dunia ini. Saat ini dan untuk seterusnya, Kristus Yesus mengundang dan memanggil saudara dan saya, bahkan semua yang menderita (berbeban berat) untuk dipulihkan. Atas undangan Tuhan Yesus untuk dipulihkan, perhatikanlah begitu banyak orang berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang timpang, orang buta, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya.(Matius 13 : 30).

 

Lihat-lah, segala bentuk penderitaanmu (pergumulan-mu) pasti dipulihkan Yesus. Karena itu datanglah dan jangan ragu-ragu, karena Dia-lah satu-satunya yang dapat menolong-mu (sebab Kristus-lah yang punya kerajaan, kuasa dan kemuliaan). Ingat bahwa kedatangan saudara dan saya pada saat ini memenuhi undangan Yesus adalah untuk pemulihan kita. Pergumulan kita akan hadir silih berganti, tetapi TUHAN YESUS akan memulihkan kita semua pada saat yang tepat. Amen.(St. PM Banjarnahor)

 

Mordekhai (Renungan Harian : Rabu, 3 Juli 2013)
 02 Jul

Nas Bacaan : Ester 2 : 19-23

Sudah dikatakan di depan, kitab Ester berbicara tentang providensia Allah atas umat-Nya  Israel. Dalam rangka mewujudkan pemeliharaan-Nya itu Allah yang adalah Tuhan atas sejarah umat manusia, membuat sebuah peristiwa, yakni Ratu Wasti disingkirkan. Allah memakai kehendak bebas manusia untuk melaksanakan rencana-Nya. Secara defacto, Ratu Wasti tersingkir oleh karena keputusannya sendiri melawan perintah raja. Tetapi hal itu terjadi seturut rencana Allah. di sanalah letak kemahakuasaan Allah. Ia dapat memakai kehenak bebas manusia dalam rangka penggenapan rencana-Nya.

 

Setelah Ratu Wasti tersingkir, maka Allah menempatkan Ester sebagai penggantinya. Ia masuk ke dalam lingkaran kecil Raja Persia. Setelah Ester masuk ke dalam kalangan istana, maka sekarang tiba saatnya Mordekhai dimasukkan ke dalam ruang lingkup istana. Caranya Allah memasukkan Mordekhai ke dalam ruang lingkup istana pun sangat unik. Mordekhai sering duduk di pintu gerbang istana, untuk berkomunikasi dengan Ester. Providensia Allah membuat Mordekhai mendengar rencana jahat dari sida sida raja, yang bermaksud untuk membunuh raja. Ia menyampaikan berita itu kepada Ester. Ester pun menyampaikan berita itu kepada raja atas nama Mordekhai. Tatkala diadakan pemeriksaan, ternyata perkara itu benar adanya. Nama Mordekahi pun dicatat dalam Jurnal resmi kerajaan. Nama Mordekhai tercatat sudah di arsip kerajaan.

 

Kedua orang inilah yang akan dipakai Allah sebagai alat di tangan-Nya untuk membawa keselamatan bagi umat Israel dari pemusnahan mereka sebagai satu bangsa. Jika hal itu kita jadikan sebagai sebuah perenungan, maka saya mendapatkan hal hal berikut ini sebagai satu pelajaran. Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk melaksanakan rencana-Nya atas umat manusia. Tetapi tidak hanya secara global, bisa juga secara sektoral dan bahkan secara pribadi.

 

Dengan pemahaman seperti itu, kita dapat mengatakan bahwa Allah punya rencana bagi kita pribadi lepas pribadi. Ia akan memakai kita menjadi alat di tangan-Nya untuk maksud dan tujuan tertentu. Adapun rencana Allah itu ialah: menghadirkan keselamatan-Nya bagi satu pribadi, satu keluarga, satu masyarakat , atau satu bangsa. Bilamana kita sadar akan hal tersebut, sementara itu kita dapat menerimanya dengan syukur, maka apa pun keberadaan kita di dunia  ini, kita dapat bersyukur, sebab Allah mau memakai kita untuk melaksanakan rencana-Nya. Entahkah saya berada di strata paling rendah dalam masyarakat, saya dapat bersyukur atas keberadaan tersebut, sebab Allah sedang punya rencana bagiku. Dari kisah Ester, kita tahu mereka yang dipakai Allah untuk melaksanakan rencana-Nya pada akhirnya ia dipermuliakan Hal yang sama juga diajarkan Paulus kepada kita dalam suratnya kepada Jemaat di Filipi, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, dyb. Flp 2:5-11. Kristus direndahkan, tetapi pada akhirnya ditinggikan di atas segala nama yang dapat disebut di alam semesta ini.

 

Tidak ada orang yang dipakai Tuhan dalam arak-arakan perjalanan orang beriman yang tidak mendapatkan kemuliaan. Sejarah Gereja membuktikan  hal tersebut.

(St. Hotman Ch. Siahaan)

 

Ester (Renungan Harian : 2 Juli 2013)
 01 Jul

Nas Bacaan : Ester 2 : 1 - 18

Saya merenungkan makna dari kitab Ester ini adalah providensia Allah atas umat-Nya. Dalam pasal selanjutnya kita membaca bagaimana Haman merencanakan pemusnahan bangsa Yahudi. Di zaman sekarang disebut genocide! Tetapi jauh sebelum hal itu terjadi, Allah telah mengatur perjalanan sejarah umat manusia. Ratu Wasti disingkirkan dari kedudukannya sebagai ratu. Penasihat raja Persia pada waktu itu mengusulkan agar kedudukan Ratu Wasti diganti. Untuk itu dicarilah gadis gadis cantik di seantero negeri dan diperhadapkan kepada raja. Bilamana raja berkenan, maka orang tersebut akan dijadikan Ratu bangsa kekaisaran Persia pada waktu itu.

 

Jauh sebelum hal itu terjadi, Allah telah mempersiapkan dua orang hamba-Nya untuk antisipasi genocide yang akan dirancang Haman bagi bangsa Yehuda. Mordekhai dipakai Allah untuk merawat dan mengarahkan sikap hati Ester, sehingga ia pas untuk tugas tersebut. Karena providensia Allah, Ester turut ambil bagian dalam arak arakan para gadis yang akan diperhadapkan pada raja. Dalam masa persiapan, Ester tatkala dilihat oleh petugas yang diperuntukkan mengawasi para kontestan, petugas tersebut melihat Ester, kesimpulannya adalah: sangat baik, pun menimbulkan kasih sayang di dalam hatinya. Hal ini membuat Ester mendapatkan perlakuan istimewa dari petugas tersebut. Itulah salah satu bagian dari providensia Allah.

 

Menarik untuk disimak, Mordekhai menasihati Ester agar tidak menyebutkan kebangsaannya di hadapan para petugas. Sebab jika demikian, ada kemungkinan ia akan ditolak, sebab ia adalah keturunan dari kaum tawanan. Bagaimana mungkin keturunan dari kaum budak dijadikan Ratu di kekaisaran Media Parsi! Para petugas pun tidak mempertanyakan dan membuat penyelidikan akan hal tersebut. ini pun dapat kita yakini sebagai providensia Allah.

 

Ketika para gadis itu diperhadapkan kepada raja, mereka diperbolehkan untuk membawa apa pun di tangan mereka, tatkala berhadapan dengan raja. Atas nasihat dari petugas yang telah menyayangi Ester, ia masuk ke balirung raja, tanpa membawa apa pun di tangannya. Dengan jalan demikian, yang ditonjolkannya adalah kecantikannya semata mata, tanpa aksesoris menyertai dia dalam beraudiensi dengan raja. Nasihat ini pun dapat kita kategorikan providensia Allah.

 

Karena Allah bekerja, maka Ester pun sampai pada puncak keberadaan seorang perempuan pada waktu itu, yakni menjadi ratu bagi kekaisaran Media Parsi. Melihat kecantikan Ester – arti dari nama itu ialah: bintang – raja pun terpana. Nas kita berkata: Ester dikasihi raja lebih dari pada semua perempuan lain. Oleh karena itu, raja menaruh mahkota kepadanya sebagai pengangkatan dia sebagai ratu bagi kekaisaran Parsi.

 

Ester ditempatkan di sana dalam rangka menjadi alat di tangan Tuhan kelak, untuk membebaskan orang Yehuda dari pemusnahan suku bangsa. Di sanalah letak posisi dari Ester. Kedudukan yang kita miliki dapat disebut sebagai alat di tangan Allah untuk membawa keselamatan bagi suatu pribadi, keluarga, kaum keluarga, masyarakat, pun mungkin bagi satu bangsa di muka bumi ini. Nomensen telah ditetapkan Allah sebagai alat di tangan-Nya untuk membebaskan orang Batak dari kegelapan lalu masuk ke dalam terang Allah yang ajaib. Bagaimana dengan saudara? (St. Hotman Ch. Siahaan)

 

Wasti (Renungan harian : Senin, 1 Juli 2013)
 29 Jun

Nas Bacaan : Ester 1 : 1 - 22

 

Setelah mengikut Tuhan secara Pribadi dari tahun 1974 hingga sekarang,

hari inilah baru saya temukan pembacaan firman Tuhan diambil dari kitab Ester. Suatu yang mengagetkan hati. Apa yang dapat dipelajari dari kitab Ester? Namun ditopang oleh kesadaran bahwa kitab Ester adalah bagian dari firman Allah, maka tentulah kitab itu membawa sebuah pesan yang perlu direnungkan oleh orang percaya di segala zaman. Para ahli mengatakan bahwa kitab inilah satu satunya kitab dalam Perjanjian Lama, dimana kata TUHAN tidak ditemukan. Oleh karena itu ada satu masa dimana kitab ini sepertinya ditolak masuk ke dalam kanonisasi Alkitab. Sekarang kita tahu kitab ini adalah firman Allah bagi kita. Di dalamnya dituturkan kisah bangsa Israel di luar Tanah Perjanjian. Ibarat sebuah panggung sandiwara, dimana dilakonkan sebuah kisah. Di atas panggung itu kisah yang dilakonkan adalah kisah bangsa Israel. Sebagai persiapan masuknya narasi tentang bangsa Israel, maka dituturkanlah sebuah kisah sebagai pembuka cerita, yakni kisah Ratu Wasti yang menolak panggilan raja untuk hadir di pestanya.

 

Pelajaran berharga yang dapat ditimba dari kitab Ester ini ialah: pemeliharaan Allah atas umat-Nya. Allah memerintah atas segala kerajaan di muka bumi ini. Perjalanan sebuah kerajaan berada di tangan Allah. Demikian juga dengan perjalanan sebuah bangsa. Dalam hal ini kisah yang dilakonkan adalah kisah bangsa Israel. Untuk menampilkan bangsa Israel ke atas panggung sejarah, maka Ratu Wasti harus mundur lebih dahulu dari kedudukannya sebagai ratu di kerajaan Parsi dan Media.

 

Raja Ahasyweros memamerkan kemegahan kerajaannya dengan mengadakan pesta kerajaan hingga seratus delapan puluh hari lamanya. Rakyat diberikan sukacita berpesta dengan jalan diperkenankan menikmati sepuas hatinya apa yang diinginkannya dalam pesta kerajaan tersebut. kerajaan Media Parsi memang sebuah kerajaan yang kaya raya. Namun Allah Israellah yang berkuasa atas segala yang ada. Ahasyweros tidak sungguh berkuasa dalam perkataan. Sebab Ratu Wasti mampu untuk tidak mematuhi perintah sang raja. Sementara di dalam kitab ini, kita menemukan bahwa apa yang dikehendaki Allah senantiasa terlaksana.

 

Satu hal yang menjadi renungan bagi saya secara pribadi ialah: tindakan Ratu Wasti. Ia mempertaruhkan nyawanya atas sebuah niat, yakni memberi pesan kepada seluruh dunia, bahwa perempuan bukanlah sebuah barang mainan bagi para laki laki. Sekalipun ia diturunkan kedudukannya dari seorang ratu, namun tindakannya itu telah menjadi sebuah perbincangan di mata masyarakat pada zaman itu. Memang raja mengadakan antisipasi atas sikap yang mungkin muncul di kalangan masyarakat. Namun apa yang dilakukan Ratu Wasti tidaklah sirna begitu saja, hanya karena sebuah undang undang. Ratu Wasti berani menolak perintah dari seorang penguasa dunia pada waktu itu. Kisah ini dituturkan kepada kita dalam kitab suci. Maka kita pun seharusnya sadar, bahwa Allah memang menghendaki agar kita pun berani melawan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani kita, apalagi hati nurani kita telah disucikan oleh Roh Kudus melalui kehadiran-Nya dalam hati kita. Marilah kita melawan ketidakadilan dengan berani mengambil sikap seturut kehendak Allah. (St. Hotman Ch. Siahaan)

CARILAH KEHIDUPAN YANG KEKAL (Renungan Harian : Sabtu, 29 Juni 2013)
 28 Jun

Bacaan : 2 Korintus 4 : 16 - 18

Semakin maju zaman ini maka manusia semakin duniawi dan materialistis. Seiring perkembangan maka manusia mengukur kesuksesan dan kebahagian dari banyaknya timbunan harta yang dimiliki. Lebih celaka lagi manusia semakin egois, tidak memiliki keperdulian terhadap sekitarnya bahkan nilai-nilai cinta kasih serta kebersamaan semakin luntur. Nilai moral telah berubah, orang ditangkap karena korupsi malah tersenyum dan bila keluar penjara malah syukuran dengan pesta besar dan diberi penghargaan.

Memang pada dasarnya setiap manusia akan berjuang untuk mencari dan mengumpulkan hal-hal yang indah di pandang mata. Rumah yang megah, mobil yang mahal, pakaian yang mewah serta perhiasan yang gemerlapan. Hal itu tidak salah; malah setiap hari kita mohon berkat (berdoa) agar  Allah yang Maha-Pengasih memberikan anugerah yang berlimpah untuk kehidupan kita. Yang menjadi masalah apabila tidak ada keseimbangan antara memburu atau mencari “keduniawian” dan “kekekalan”, maka akan terjadi masalah manusia akan memburu hal-hal yang fana dan tidak memperdulikan hal-hal yang bersifat kekal.

Sebagai anak-anak Tuhan kita diingatkan bahwa uang atau segala bentuk materi tidak bisa menjamin keselamatan karena harta dan kemewahan bukan jaminan kebahagiaan. Kekuasaan atau kedudukan yang kita pegang sekarang ini, itupun ada batasnya dan tidak akan kekal. Semua akan bersifat sementara dan apada akhirnya akan berlalu dan lenyap.

Alkitab dengan jelas mengatakan: “Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya “ (1Yoh 2: 17).  Apa yang ada dalam dunia ini tidak dapat kita jadikan jaminan bagi masa depan hidup kita, karena semua yang ada sifatnya hanya sementara dan bisa berubah sewaktu-waktu. Kita harus menyadari, apa yang kita miliki hanya akan memberikan kesenangan sementara saja, dan tidak bisa memberikan jaminan yang tetap bagi kehidupan yang kekal.

            Nas ini mengingatkan kita bahwa, harta dan kekayaan yang kita kumpulkan di bumi ini hanyalah titipan dari Tuhan, oleh karena itu bijaksanalah dalam menggunakannya, dan jangan terpikat olehnya.

Doa: Tuhan, pelihara dan ingatkan selalu akan perilaku kami anak-anak-Mu agar selalu ingat bahwa apa yang kami miliki hanyalah titipan-Mu. Amin

(St. Lukman Tambunan M.Min)

TINGGALLAH DI DALAM AKU DAN AKU DI DALAM KAMU
 27 Jun

Renungan Harian : Jumat, 28 Juni 2013

Bacaan : Yohanes 15 : 1 - 8

 

Pak Willem dikenal dikenal sebagai orang yang sangat baik dan jujur kepada siapa saja yang minta bantuan kepadanya pastilah dengan sigap ditolongnya. Ia tidak pernah melakukan hal-hal yang tercela baik di dalam pekerjaannya maupun di rumah sebagai kepala keluarga, demikian juga dalam kehidupan bertetangga. Dia membuka bengkel motor di ujung jalan dan selalu tersenyum ketika melayani para pelanggannya. Hidupnya dengan keluarga sangat sederhana dan boleh dikatakan hidup pas-pasan.

Ia berlaku jujur dalam memperbaiki sepeda motor yang rusak. Ia menolak mengambil keuntunngan dengan cara-cara yang curang. Ia tidak peduli orang lain melakukan hal itu atau tidak. Baginya, keuntungan materi harus seimbang dengan kerja kerasnya. Tidak ada jalan pintas untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Sikap dan cara hidup pak Willem didasari dengan imannya kepada Yesus Kristus. Ia sangat tekun dan sangat rajin berdoa; sebelum berangkat ke tempat pekerjaan setiap hari dia rajin bersaat teduh dengan keluarga, demikian juga setiap hari minggu dia selalu hadir di gereja mendengar khotbah dan ikut perjamuan kudus. Melalui sifat yang saleh ini pak Willem merasa diberi kekuatan baru setiap hari. Ia selalu terdorong untuk makin maju dalam hidupnya sebagai murid Yesus. Ia merupakan ranting yang hidup karena Yesus.

Hidup kita akan menghasilkan buah-buah bila kita mempunyai hubungan dengan Yesus. Tidak dibatasi oleh kedudukan atau keberadaan dalam materi tetapi oleh iman yang setia kepada-Nya. Yesus menguatkan dan mendorong kita untuk semakin mencintai-Nya dan bersatu dengan-Nya. Persatuan kita dengan Yesus menjadikan kita mampu menghasilkan buah yang berlimpah. Buah itu dapat kita rasakan sekarang dalam bentuk tindakan dan perilaku kita yang penuh kasih kepada sesama, bertanggung-jawab dan berani berkorban demi Kristus.

Sebagaimana tertulis dalam Yosua 1:8 “ Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung”.

Doa: Ya Tuhan Yesus, lihatlah kami ini yang sering kurang setia kepada-Mu. Rangkullah kami agar kami selalu bersatu dengan-Mu sehingga kami menghasilkan buah yang berlimpah. Amin (St. Lukman Tambunan M.Min.)

 

ANAK YANG HILANG (Renungan Harian : Kamis, 27 Juni 2013)
 26 Jun

(Bacaan : Lukas 15 : 11 - 32)

Bacaan tentang "Anak Yang Hilang" yang tertulis dalam Injil Lukas ini selalu menarik untuk dipikirkan dan direnungkan. Sebetulnya hal ini diangkat oleh Yesus untuk menanggapi orang-orang Farisi yang bersungut-sungut melihat orang-orang berdosa datang kepada Yesus, mendengarkan ajaran-Nya dan bertobat. Perumpamaan tentang domba yang hilang, dirham yang hilang adalah gambaran sukacita sorgawi apabila satu orang berdosa lalu bertobat.

Ada tiga tokoh dalam kisah “anak hilang” yaitu: 1. Bapa yang baik (Tuhan Yesus), 2. Anak sulung/orang Farisi dan 3. Anak bungsu/ pendosa.

1.      Bapa yang baik, dengan rela dan murah hati memberikan apa pun yang diminta oleh anak-anaknya. Ia tidak hanya memberikan harta kekayaan, tetapi juga kasih pengampunan dan hatinya. Hati, jiwa, akal budi dan tenaganya terbuka, siap sedia menerima dan memberi demi keselamatan/ kebahagiaan sesama. Apakah kita layak disebut “bapa yang baik” sesuai dengan yang tertulis dalam nas ini?

2.      Anak sulung, ia tampak baik-baik saja di mata atau dihadapan bapanya, tidak rewel, taat melaksanakan semua tugas yang diberikan kepadanya. Tetapi tampaknya semuanya itu dikerjakan hanya untuk kesombongan diri atau mencari pujian. Ia tidak tahu berterimakasih dan tidak memiliki kasih pengampunan, ia senang menyendiri, dst. Kemungkinan besar dari kita termasuk “anak sulung”, bermental dan berjiwa Farisi, tidak berbuah dan sombong .

3.      Anak bungsu, ia adalah gambaran orang yang lemah, rapuh pendosa, namun pada suatu saat menyadari dan menghayati kelemahan dan keberdosaannya serta kemudian bertobat, dengan rendah hati memohon kasih pengampunan. Ia tidak takut minta ampun atas segala dosa dan kesalahannya. Bukankah kita orang-orang berdosa dan lemah dan hanya karena kasih karunia atau rahmat Allah mampu hidup seperti saat ini?

Mari kita renungkan serta mawas diri, kita termasuk yang mana.

 

Doa: Aku menyesal atas dosa-dosaku dan dengan pertolongan-Mu hendak memperbaiki hidupku agar lebih baik lagi dihadapan-Mu, dan ampunilah aku. Amin

(St. Lukman Tambunan M.Min)

AGAMA ADALAH SUMBER DAMAI SEJAHTERA
 25 Jun

Renungan Harian : Rabu, 26 Juni 2013

(Bacaan : Lukas 4 : 14 - 21)

Karen Amstrong, penulis buku Sejarah Tuhan tentang Kisah Pencarian Tuhan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi, Kristen dan Islam selama 4.000 Tahun. Karen adalah  ex biarawati, yang dikenal sebagai  pengkaji terkemuka dalam masalah agama di Eropa dan Amerika. Agama-agama bukanlah sumber kekerasan, melainkan justru mengajarkan “Cinta Kasih” kepada sesama. Dengan pemahaman demikian, dari agama semestinya dapat dibangun masyarakat yang damai dan menghargai semua kelompok yang berbeda-beda. Hal ini dia katakan pada waktu jumpa pers tanggal 13 Juni yang lalu di Jakarta. Ditambahkan oleh Karen ada 12 langkah membangun kehidupan penuh welas kasih yaitu: cinta kasih, belas kasih, empati, perhatian, berbicara yang baik dll. Karen menolak pandangan agama merupakan sumber kekerasan. Agama justru memberikan makna hidup dan memperkenalkan seni dan keindahan bagi umat manusia.

 

Ketika manusia berada dalam situasi perbudakan (pembuangan Babel) atau di perbudak dosa yang tidak mempunyai relasi dengan Tuhan akan mengalami perpecahan dalam hubungan sosial sesama manusia. Mereka mencari keselamatan sendiri-sendiri dan tidak merasa bersaudara dalam Tuhan. Kerusakan kemanusiaan inilah yang ingin dikembalikan oleh Yesus dengan keberpihakan-Nya kepada kaum marjinal. Ia datang untuk memugar kemanusiaan, untuk memberi roh kepada persaudaraan manusia.

 

Para pendengarnya marah karena pujian yang Yesus sampaikan kepada orang kafir. Orang-orang Yahudi merasa sangat pasti bahwa merekalah umat Allah dan mereka merendahkan bangsa-bangsa (agama) lain. Di sini dalam khotbah-Nya, Yesus justru mengatakan bahwa seorang kafir juga dikasihi Allah, dimana hal itu tidak pernah mereka bayangkan.

 

Kita dapat membedakan antara Yesus dengan Yohanes Pembaptis dengan hanya membaca bagian kitab Yesaya yang Yesus baca tersebut. Yohanes berkhotbah mengenai nasib malang yang akan menimpa manusia dan karena itu manusia mendengar khotbah itu diliputi dengan perasaan ngeri. Yang diberitakan Yesus adalah Injil…..Kabar Baik. Yesus juga mengetahui murka Allah tetapi murka itu adalah senantiasa murka karena kasih.

 

Doa: Ampunilah kami ya, Tuhan atas segala kesalahan kami yang tidak sesuai denga firman-Mu. Ajar kami supaya kami melakukan yang sesuai dengan kehendak-Mu saja. Amin. (St. Lukman Tambunan M.Min)

ROH KUDUS AKAN MEMIMPIN MANUSIA LUPUT DARI MAUT TETAPI MEMPEROLEH HIDUP DAN DAMAI SEJAHTERA
 24 Jun

Renungan Harian : Selasa, 25 Juni 2013

(Roma 8 : 6) Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.

Melalui Roh Kudus, Allah berkarya didalam dunia ini, Roh Allah melalui firmanNya menciptakan langit, bumi beserta isinya. Roh Kudus juga yang bekerja dalam kehidupan para pengikut Yesus yang membebebaskan kita dari kuasa dosa, sehingga mampu menjalani kehidupan yang menyenangkan Allah. Roh Kudus bekerja memimpin kita dalam hal-hal yang rohani (bersifat roh), Roh Kudus yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, sehingga Dia menjadi yang sulung diantara orang-orang yang percaya, maka Roh Kudus yang diam didalam kita juga yang akan membangkit kita atau yang memberikan kehidupan bagi kita dari kematian. Roh Kudus senantiasa mengetok pintu hati kita dengan lembut, agar kita tidak menyimpang dari kehendak Allah yang member kita hidup, dan agar kita dapat melaksanakan rancangan damai sejahtera yang datangnya dari Allah.

 

Pada kitab kejadian dikatakan, bahwa manusia itu diciptakan Allah dari dua unsur, yaitu tubuh/daging kita dibentuk dari tanah liat (yang bersifat duniawi) dan kemudian Allah menghembuskan RohNya kepada manusia itu sehingga dia hidup. Jadi jelas manusia itu diciptakan Allah dari dua unsur, yaitu ada hal-hal yang bersifat duniawi/kedagingan dan ada yang berupa roh yang segambar dengan rupa dan teladan Allah. Allah menciptakan manusia itu sempurna memiliki akal, pikiran yang berbeda dengan makhluk ciptaan lainnya. Allah maha adil, tidak otoriter dan tidak memaksa sehingga manusia diciptakan menjadi robot yang  menuruti kehendak Allah saja, tetapi sebagai makhluk yang lebih tinggi dari makhluk ciptaannya yang lain, manusia dikaruniakan Tuhan kebebasan untuk memilih (freewill) . Namun setelah manusia jatuh kedalam dosa oleh karena tipu daya iblis, gambar dan rupa Allah yang ada pada manusia itu menjadi rusak, dan upah dosa adalah maut.

 

Iblis tahu salah satu kelemahan manusia itu adalah nafsu duniawinya atau kedagingannya, yaitu  tamak, sehingga pada saat mencobai manusia Adam dan Hawa agar mereka menjadi seperti Allah yang menciptakan mereka, mereka memakan buah dari pohon pengetahuan  yang baik dan yang buruk itu sehingga mereka jatuh kedalam dosa. Hal ini juga dilakukan si iblis pada saat Yesus dibawa Roh Tuhan kepadang gurun untuk dicobai. Si iblis mencobai Tuhan Yesus setelah Yesus berpuasa empat puluh hari lamanya. Disana juga si iblis menawarkan kerajaan atau gemerlapan dunia ini asalkan Yesus sebagai manusia mau menyembah si iblis. Namun si iblis gagal total.

 

Dari sini dapat kita simpulkan, bahwa meskipun manusia itu memiliki nafsu bersifat kedagingan atau duniawi, namun kalau hati dan pikiran kitasenantiasa dipimpin oleh Roh Kudus, maka kita tidak akan jatuh kedalam dosa. (Yohanes 8:51) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.". Kita lebih percaya kepada janji Allah dari pada tipu daya si iblis. Allah yang akan menebus kita dari dosa dengan mengorbankan AnakNya Yang Tunggal untuk mati di kayu salib, supay barang siapa yang percaya akan beroleh hidup yang kekal dan sorga/tempat yang sudah disiapkan Yesus bagi kita. Amen, Puji Tuhan (St. Maurits Napitupulu)

KEADILAN TUHAN MEMBUAT HATI KITA BERMAZMUR (Renungan Harian : Senin, 24 Juni 2013)
 22 Jun

(Mazmur 7 : 18) Aku hendak bersyukur kepada TUHAN karena keadilan-Nya, dan bermazmur bagi nama TUHAN, Yang Mahatinggi.

Tuhan maha adil dan maha tinggi. Keadilan Tuhan sangat berbeda dengan keadilan menurut kacamata manusia, banyak ayat didalam alkitab yang menggambarkan perbedaan itu, antara lain: (Ibrani 2; 2-3) ayat ini mengatakan bagaimana mungkin kita memperoleh keselamatan apabila Tuhan membalaskan kesalahan-kesalahan kita setimpal dengan dosa-dosa kita, sedang dilain pihak keadilan manusia cenderung menghukum kesalahan kita yang setimpal.  Kemudian jikalau kita baca Matius (20;1-16) Perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur, dimana si tuan rumah membayar upah yang sama kepada para pekerja masing-masing satu dinar, meskipun mereka memulai bekerja di kebun anggurnya berbeda-beda, ada yang  pagi-pagi benar, ada yang jam 9.00 pagi, jam 12.00 dan pukul 15.00 petang, serta pukul 17.00 petang. Para pekerja itu bersungut-sungut, mereka yang masuk terakhir hanya bekerja satu jam saja, dan si tuan itu menyamakan dengan yang bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Manusia iri hati karena Tuhan murah hati, sehingga Firman Tuhan berkata: Orang yang terakhir menjadi yang terdahulu, dan orang terdahulu menjadi yang terakhir.

Sangat menarik memahami keadilan Tuhan ini kita hayati, karena keadilan yang demikian akan membuka peluang bagi kita untuk datang sekarang ini juga kepada Yesus untuk bertobat meskipun hari sudah senja, karena Tuhan sudah menyediakan upah keselamatan bagi kita. Memang jika kita amati kehidupan rohani kita manusia, ada kecenderungan kita lebih mendekatkan diri kepada Tuhan setelah usia mulai lanjut, tenaga dan kekuatannya sudah semangkin menurun, hati yang pasrah akan hari esok mulai menggerogoti, sungguh sangat kontras jika dibandingkan dikala kita masih muda, enerjik dan percaya diri yang tinggi. Yang menjadi pertanyaan: Apakah Tuhan melihat kecenderungan ini membuat keadilanNya sedemikian rupa agar lebih banyak manusia yang bertobat serta memperoleh keselamatan?. Marilah kita pergumulkan jawabnya dalam iman kita masing-masing.

Kedudukan Tuhan sebagai pencipta, dan kita manusia sebagai makhluk ciptaanNya, akan memposisikan Tuhan itu maha tinggi. Tuhan yang berkuasa atas kehidupan kita, kita bagaikan debu tanah dihadapanNya. Namun satu hal yang patut kita syukuri: Tuhan sangat menyayangi ciptaannya ini. Meskipun kita berdosa, tidak ditimpakanNya hukuman bagi kita setimpal dengan kesalahan kita, Dia tahu kita lemah dan tidak akan mampu untuk menyelamatkan dirinya sendiri, Oleh karena itu Dia mengutus AnakNya yang Tunggal turun kedunia, mati di kayu salib untuk menyelamatkan kita manusia. Dia mengutus Roh Kudus untuk senantiasa menyertai kita, menuntun kita untuk bertobat, menuntun kita untuk menjauhi kejahatan. Oleh karena itu sebagai manusia waras, manusia yang memiliki hati, sudah sepantasnya kita mengucap syukur.

Banyak cara bagi kita mengucap syukur akan penebusan yang kita peroleh, antara lain melakukan perbuatan atau mengimplementasikan hal-hal yang sesuai dengan Firman Tuhan, bernyanyi memuji Tuhan (bermazmur), mengasihi sesama manusia, dan lain-lain. Sering kita alami dalam suka cita atau hati kita lagi senang, secara tidak sadar mulut kita bernyanyi, bersenandung. Dan sudah pasti orang yang bersyukur itu hatinya sedang bersukacita. Oleh karena itu marilah kita lihat hari-hari yang kita lalui begitu banyak berkat, kasih karunia Tuhan yang sudah kita nikmati, jangan sampai kita terjebak dengan pemikiran para pekerja yang dipanggil oleh tuannya dipagi hari (yang terdahulu) dikebun anggurnya sebagaiman perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur, justru menimbulkan iri hati, meskipun mereka telah mendapat upah yang sama dengan yang terbelakang. Amin, Puji Tuhan (St. Maurits Napitupulu)

 

ROH KUDUS MENUNTUN KITA MENGIKUTI TERANG SUPAYA KITA DIBENARKAN
 21 Jun

(Renungan Harian : Sabtu, 22 Juni 2013)

(Yohanes 12 : 4) Didalam gelap terbit terang bagi orang benar, pengasih dan penyayang orang yang adil.

 

Kita dapat membayangkan apabila kita masuk kedalam ruang tertutup dan gelap, kita tentu saja tidak dapat melihat apa yang ada didalam ruangan itu, dan kemungkinan besar kita dapat menabrak benda-benda yang ada didalam ruangan itu, kita juga sudah pasti sulit untuk menemukan pintu keluar. Hal ini akan berbeda apabila didalam ruangan itu ada lampu yang meneranginya, kita dapat menghindari benturan dan juga dengan mudah kita dapat menemukan pintu keluar. Situasi itulah yang ingin digambarkan oleh pemazmur bagi orang benar, karena orang benar itu sudah mempunyai pegangan yang pasti, yang menjadi terang baginya. Hal-hal apa yang dapat dilakukan dan hal-hal apa yang tidak boleh dilakukannya, padanya tidak ada keragu-raguan, sehingga meskipun dilingkungan banyak kejahatan, ketidak adilan atau kesusahan, orang benar selalu dapat melihat jalan keluar menuju keselamatan. (Yohanes 8:12) Yesus berkata "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." Dan setiap orang benar, akan datang kepada terang itu, supaya semua perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah." (Yohanes 3:21). Mengikuti terang Yesus akan menuntun kita kembali sebagaimana Allah menciptakan manusia itu serupa dan segambar dengan-Nya.   Sifat-sifat Allah yang mengasihi, menyangi serta adil itu secara otomatis akan terpancar dari orang-orang benar. Jadi jelas sejak manusia jatuh kedalam dosa, dunia mengalami kegelapan, rupa dan gambar Allah pada manusia menjadi rusak.

 

Minggu ini adalah minggu ketiga setelah Trinitatis mengingatkan kita, bahwa Allah yang mahakuasa, mahatahu itu memiliki sifat pengasih, penyayang dan adil. Allah sangat mengasihi dan menyayangi munusia ciptaanNya itu. Allah telah tahu sejak dunia belum dijadikan sudah merancangkan mengutus anakNya yang tunggal kedunia untuk menjadi terang yang menyelamatkan manusia ciptaanya itu, sehingga bagi semua manusia yang atas dorongan Roh Kudus, menjadi percaya bahwa Yesus sudah mati di kayu salib untuk membasuh dosa-dosa kita, sehingga kita menjadi benar (manusia yang dibenarkan) dan memperoleh keselamatan.

 

Sekarang yang menjadi pertanyaan, apakah kita telah merasakan Roh Kudus telah mendorong/bekerja didalam hati kita untuk mengikuti Terang (Yesus) itu?, atau apakah dorongan itu terlalu lemah dibandingkan keinginan diri kita yang terlalu kuat, namun tidak berkenan dihadapan Tuhan? Hati-hati saudaraku ! ingat Tuhan menciptakan manusia itu sempurna dan baik adanya, kita diberikan akal, pikiran untuk memilih (freewill). Hawa dan Adam terjebak dan jatuh atas tipu daya/cobaan si iblis. Oleh karena itu saudara-saudaraku, kita harus terlatih mendengarkan suara Roh Kudus, sehingga ketokan halus di pintu hati kita, dapat kita dengar, kita juga harus terlatih menguji keinginan-keinginan kita, apakah itu keinginan yang sesuai atau tidak sesuai dengan kehendak Tuhan?  (Wahyu 3:20) Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.

 

Membiasakan diri membaca Firman Tuhan, berdoa dan bersaat teduh setiap pagi, salah satu cara meningkatkan ketajaman, kemampuan kita mendengarkan suara ketokan Roh Kudus. Selamat memasuki minggu Trinitatis yang ketiga. Amen, Puji Tuhan.

(St. Maurits Napitupulu)

 

TUHAN MAHADAHSYAT (Mazmur 29) (Renungan Harian : Jumat, 21 Juni 2013
 20 Jun

Suatu pertanyaan muncul ketika membaca pujian ini : siapakah penghuni surgawi yang diajak pemazmur untuk memuji Tuhan (1)? Apakah yang pemazmur maksdukan adalah para malaikat dan ciptaan Tuhan lain yang ada di surga? Atau pemazmur menunjuk pada semua roh di dalam supernatural, baik roh yang baik maupun roh-roh jahat (bnd. Ay. 1:6; 2:1)? Sesungguhnya istilah penghuni surgawi lebih tepat bila diterjemahkan menjadi anak-anak Allah.

 

Satu hal yang pasti, Mazmur 29 adalah pujian kepada Allah, yang bertakhta melampaui segala apa pun di alam ciptaan, baik yang di bumi maupun yang di langit atas! Hanya Allah yang layak menerima segala kemuliaan dan hormat baik di bumi maupun di surga. Di bumi, Tuhan menyatakan kedaulatan-Nya atas segala makhluk. Suara Tuhan melambangkan kuasa-Nya yang dahsyat seperti bunyi guruh yang mengerikan, yang membuat setiap ciptaan tidak dapat tahan menghadapi Dia. Alam tidak tahan mengahadap kemahakuasaan Tuhan (3-8), air yang besar (3) dan air bah (10) ada di bawah kendali Allah. Dalam kepercayaan nonIsrael air melambangkan kuasa kekacauan. Pohon di hutan dan gunung serta padang gurun tak berdaya menghadapi kedahsyatan-Nya. Juga rusa betina sampai beranak oleh karena gentar mendengar suara-Nya. Dan segala sesuatu membuat semua yang ada di Bait-Nya yang kudus menyerukan “Hormat!”.

 

Tuhan yang dahsyat itulah yang menjadi andalan umat-Nya. Ya, segala makhluk lain boleh gemetar ketakkutan bila menghadapi kedahsyatan-Nya, tetapi umat Tuhan justru dipenuhi dengan damai sejahtera oleh karena kedahsyatan-Nya itu justru melindungi mereka. Betapa aman berada dalam naungan Tuhan yang berkuasa. Maka marilah kita melantunkan Mazmur 29 sebagai hormat dan sembah kita kepada Tuhan yang satu-satunya.

(St. Drs. D.R. Nainggolan)

TEGUH DI DALAM KEBENARAN
 20 Jun

(Galatia 1:6-10)

 

Jika kita tahu apa yang benar, apakah kita akan mendiamkan saja orang yang salah ataukah akan memberi tahu dia tentang yang benar? Paulus tahu apa yang benar dan dia tidak mau diam-diam saja ketika jemaat Galatia melakukan kesalahan. Biasanya setelah menuliskan salam pembuka, dalam setiap surat yang dia tulis kepada jemaat, Paulus akan menuliskan ucapan syukur. Tulisan Paulus langsung tertuju ke pokok permasalahan yang memang ingin disampaikan. Ini seolah menandakan betapa serius masalah jemaat Galatia dalam pandangan Paulus.

 

Paulus heran karena jemaat Galatia begitu cepat mengikuti injil lain dan berbalik dari Bapa, yang telah memanggil mereka melalui Kristus (6). Padahal belum lama mereka menerima pengajaran yang benar, tetapi mereka begitu mudah menyimpang keajaran yang sesat. Dengan demikian mereka telah tidak setia terhadap Tuhan dan firman-Nya. Ini bisa terjadi karena mereka tidak peka terhadap orang-orang yang berusaha menyesatkan mereka dari Injil Kristus (7). Ini memperlihatkan betapa rentannya orang-orang yang baru beriman kepada Kristus. Maka bila di dalam jemaat ada orang-orang yang baru percaya, hendaknya dengan lemah lembut kita berusaha menolong mereka untuk bertumbuh dalam iman dan kebenaran.

 

Jangan sampai kita hanya mengadakan program penginjilan atau Kebaktian Kebangun Rohani, tetapi setelah itu tidak bertanggung jawab atas para petobat baru. Ingatlah bahwa Iblis tidak tinggal diam dan akan selalu berusaha melemahkan mereka. Sebab itu tidak heran jika Paulus menyebut para penyesat itu sebagai orang-orang yang terkutuk (8-9).

 

Karena itu kita harus meniru teladan Paulus, yang menulis surat kepada jemaat Galatia untuk menegur mereka karena menyimpang dari kebenaran. Lalu apa yang harus kita perbuat? Cobalah bentuk kelompok-kelompok BGA (Baca Gali Alkitab), agar setiap orang Kristen belajar Alkitab dan membangun diri di dalam kebenaran serta teguh berdiri di dalamnya. (St. Drs. D.R. Nainggolan)

HARTA YANG TAK TERNILAI HARGANYA (Renungan Harian : Rabu, 19 Juni 2013)
 20 Jun

(Kolose 2:1-5)

Tahun Gereja (Tahun Liturgi) terbagi atas dua bagian. Bagian pertama, didalamnya terdapat hari-hari Raya Gereja (memperingati Karya-karya penyelamatan) yaitu Minggu Advent s/d Minggu Pencurahan Roh Kudus (Pentakosta) dan Bagian Kedua adalah Minggu-minggu Ketritunggalan Allah (Trinitas) sekaligus menunjukkan respon umat percaya terhadap karya–karya penyelamatan Allah untuk umatnya. Kita sekarang berada pada masa kedua tahun gereja.

 

Banyak orang di dunia ini berlomba-lomba untuk mendapatkan harta sebanyak mungkin. Bahkan ada kalanya mereka bersedia menerapkan cara apa pun demi menjadi pemenang dalam perlombaan tersebut. Namun, tidak jarang pula para pemenang dari perlombaan ini mengaku tidak puas dan tidak bahagia, bahkan setelah mereka meraih begitu banyak harta sekalipun. Jika demikian, harta seperti apakah yang layak dikejar oleh manusia? Paulus juga berlomba-lomba dalam mengejar suatu harta. Dalam surat Kolose, Paulus melukiskan upayanya itu sebagai suatu erjuangan yang berat (1). Harta macam apakah kiranya yang sedang dikejar Paulus dengan perjuangan berat itu? Jawabnya adalah Yesus Kristus, sebab di dalam Yesuslah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan (3). Berbeda dengan pemilik harta dunia yang enggan membagi-bagikan miliknya pada orang lain, Paulus justru berusaha sungguh-sungguh agar jemaat Kolose dapat memperoleh harta itu sebagaimana Paulus juga memilikinya. Paulus melakukan apa saja agar jemaat Kolose dapat merasa terhibur dan dapat bersatu dalam kasih (2). Sehingga pada gilirannya jemaat inipun dapat memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian tentang Yesus. Paulus begitu ingin agar jemaat Kolose mengnenal rahasia terdalam dari Allah, yaitu pribadi Yesus Kristus. Sebab sebagaimana yang kita ketahui, iman jemaat Kolose kala itu sedang diperhadapkan kepada sebuah ancaman yang dikhawatirkan dapat mebelokan jemaat tersebut dari iman mereka yang sejati pada Yesus Kristus.

 

Bagi rasul Paulus, penting sekali untuk memiliki iman yang sejati kepada Yesus. Bagaimana sikap kita terhadap Yesus Kristus? Apakah kita memandang Yesus Juruselamat kita itu laksana suatu harta yang tak ternilai harganya? Ataukah kita lebih puas dan lebih menyukai harta lain di luar Yesus? Kiranya melalui pergumulan Paulus ini, kita disadarkan bahwa harta yang tak ternilai harganya adalah mengenal Yesus dan memperhatikan ajara-Nya.

(St. Drs. D.R. Nainggolan)

SUDAHKAH KAU MENERIMA ROH KUDUS (Renungan Harian : Selasa, 18 Juni 2013)
 17 Jun

Katanya kepada mereka : "Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya? Akan tetapi mereka menjawab dia : Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus.

(Kisah Para Rasul 19 : 2)

Apakah ada orang pernah bertanya kepada kita mengenai apakah anda telah menerima Roh Kudus ? Pertanyaan tersebut mungkin akan muncul jika kita pernah berhubungan dengan kelompok Pantekosta atau neo-Pantekosta. Dalam Kisah Rasul 19 ini, Paulus baru tiba di Efesus untuk memulai penginjilan yang besar. Priskila dan Akwila telah membangun rumah mereka untuk dipakai sebagai tempat pertemuan orang-orang percaya ditempat itu.

            Ketika Paulus memberitakan Kerajaan Allah dalam penginjilannya, ia diberitahu bahwa ada ”murid-murid” lain yang ikut bersama mereka dari golongan Yohanes Pembabtis. Ketika bertemu dengan mereka, rupanya Paulus merasa bahwa ada perbedaan diantara mereka sehingga ia mengajukan pertanyaan seperti ayat diatas. Jawab murid-murid itu : ” Tidak, kami bahkan belum pernah mendengar tentang Roh Kudus ” Murid-murid ini pada masa Yohanes Pembabtis sesuai dengan kebiasaan orang-orang Yahudi lainnya melakukan ” Mikveh” ( masuk kedalam air seperti Babtis ), yaitu suatu ritual membersihkan tubuh sebelum memasuki tempat Ibadah. Itulah murid-murid yang dikatakan dalam ayat ini. Dari jawaban yang diberikan oleh murid-murid tersebut, Paulus sadar bahwa pengajaran yang mereka terima belum lengkap. Bertobat dan percaya kepada Yesus belum mereka pahami, sehingga mereka bukan orang percaya yang seutuhnya.

            Untuk itu, Paulus mengajar mereka untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Setelah mereka percaya kepada Berita Injil dan percaya kepada Yesus; mereka kemudian berolah karunia Roh Kudus yang telah dijanjikanNya ( Efesus 1 : 13 ).

 

Doa : Bapa, bimbinglah aku oleh Roh KudusMu. Amen. (Ev. Togu S. Hutagaol)

APA DOSA YANG MENDATANGKAN MAUT (Renungan Harian : Senin, 17 Juni 2013)
 15 Jun

Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidupnya kepadanya, yaitu mereka, yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut; tentang itu tidak kukatakan bahwa ia harus berdoa. Semua kejahatan adalah dosa, tetapi ada dosa yang tidak mendatangkan maut.

(1 Yohanes 5 : 16 - 17)

Adakah dosa yang tidak dapat diampuni ?  Ketika kita menyelidiki ayat ini, kita melihat bahwa dalam  1 Yohanes 5 : 12, dikatakan : Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barang siapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup. Mendoakan orang lain yang berbuat dosa adalah kewajiban orang percaya, agar orang itu tidak binasa. Tetapi bagi orang berdosa yang mendatangkan maut, Yohanes tidak memerintahkan agar kita berdoa untuk orang itu, karena dosa yang diperbuat orang tersebut mendatangkan maut.

        Siapa orang berdoa yang mendatangkan maut tersebut ? Orang-orang ini adalah orang sebelumnya percaya kepada Yesus, tetapi kemudian dengan sadar meninggalkan Yesus dan memilih iman yang lain. Pada zaman Yohanes, ada orang-orang yang sengaja meninggalkan Yesus dan tidak mau dinasehati untuk kembali, seperti pada Ibrani Pasal 6. Mereka ini sudah mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, tetapi murtad            ( Ibrani 6 : 5 – 6 ). Mereka tidak mau kembali bertobat setelah dinasehati. Mereka inilah orang berdosa yang mendatangkan maut.

        Ditengah-tengah kehidupan kita pada saat ini, ada orang-orang percaya yang sengaja meninggalkan Yesus oleh karena pesona dunia. Kalau mereka dinasehati untuk kembali kepada Yesus, dan mereka menolaknya, mereka adalah golongan orang berdosa yang mendatangkan maut. Kita tidak perlu mendoakan mereka.

 

Doa : Bapa, jauhkanlah kami dari dosa yang mendatangkan maut. Amen. (Ev. Togu S. Hutagaol)

MEMPERCEPAT KEDATANGAN HARI ALLAH (Renungan Harian : Sabtu, 15 Juni 2013)
 14 Jun

Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup, yaitu kamu menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah, pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya (2 Petrus 3 : 11 - 12).

 

Sebagai orang Kristen kita mengenal akan datangnya hari penghakiman, meskipun kita tidak begitu senang memikirkan hal itu. Yang mengejutkan bagi kita adalah bahwa datangnya hari penghakiman itu seolah-olah dapat dipercepat. Benarkah perilaku orang Kristen dapat mempercepat hari Tuhan ? Dengan cara apa kita dapat melakukannya ?

 

            Doa Bapa kami berisi kalimat ”Datanglah KerajaanMu”. Petrus menyebutkan sesuatu yang lebih dari sekedar doa. Ada keyakinan Yahudi yang kuat berdasarkan Yesaya 60, bahwa kedatangan Mesias akan memulihkan mereka tetapi masa itu ditangguhkan oleh dosa manusia, sedangkan pertobatan akan mempercepat kedatangan itu. Sebagai orang Yahudi, Petrus sependapat dengan dengan pandangan tersebut. Itulah sebabnya dikatakan bahwa kekudusan orang Kristen bukan saja mengungkapkan pengharapan mereka akan hari Allah, melaikan juga mempercepat kedatanganNya.

 

            Jika perilaku orang Kristen dapat mempengaruhi waktu kedatangan Kristus, apa artinya kedaulatan Allah ? Dalam 2 Petrus 3 : 9, Petrus mengatakan bahwa Allah itu panjang sabar; waktu tidak menjadi masalah bagiNya. Yang menjadi masalah ialah bahwa: ” Dia tidak ingin seorangpun binasa, melainkan supaya semua orang bertobat ”. 

 

Bagi orang Kristen hal tersebut berarti jika mereka sungguh-sungguh mengharapkan datangnya Kerajaan Allah saat ini, mereka harus segera bertobat dan menjalani hidup kudus sehingga mereka dapat bekerjasama dengan Allah dalam mempersiapkan akhir dunia ini.

 

Doa : Bapa, perbaharuilah hidupku hari-lepas hari. Amen (Ev. Togu S. Hutagaol)

Kanak-kanak atau orang dewasa dalam kasih (Renungan Harian : Jumat, 14 Juni 2013)
 13 Jun

Bahan Bacaan : 1 Korintus 13 : 8 - 13

 

Kanak-kanak adalah masa yang paling menyenangkan sekaligus mendebarkan, menyenangkan bagi sianak namun mendebarkan bagi orang tua atau orang dewasa didalam keluarganya.

 

Tuhan Yesus juga pernah memberikan perumpamaan tentang “iman seperti seorang kanak-kanak yang sangat percaya kepada orangtuanya yang mengasihinya”. Pertanyaan yang perlu kita renungkan hari ini adalah: “apakah mengasihi seperti kanak-kanak juga bagus dan benar?”.

 

Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu (1 Kor 13: 10). Dalam mengasihi ternyata kita diminta untuk bertumbuh semakin dewasa, sebab kasih disamping tidak berkesudahan (ayat 8) juga merupakan sesuatu yang terbesar bila dibandingkan dengan iman (yang juga bertumbuh) dan pengharapan (juga berttumbuh seiring dengan pengalaman hidup bersandar pada Tuhan).

 

Serinkali kita mengasihi seperti kanak-kanak yang berpusat pada kesenangan dan pikiran sendiri. Kita meminta orang lain mengerti bahwa kita mengasihi mereka dengan cara kita, seperti seorang kanak-kanak yang memang belum mengerti orang yang lebih dewasa disekitarnya.

 

Bila ada masalah dalam mengasihi sesama, kita sering berkata “saya tidak bermaksud demikian” atau “saya kan memang begini dari dulu, harusnya kalian mengertilah”. Berusaha membenarkan diri dan minta dimengerti adalah sifat kanak-kanak.

 

Marilah melalui Firman Tuhan hari ini kita bertumbuh dalam kasih dan mengasihi, sehingga kita bisa menutupi segala sesuatu, mengharakan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu (ayat 7). Pertumbuhan dalam iman dan pengharapan seharusnya sejalan dengan pertumbuhan dan kedewasaan dalam kasih dan mengasihi, termasuk bisa memaafkan orang yang bersalah kepada kita dan menerima kekurangan orang lain dengan tetap bersyukur dan mendoakannya kepada Tuhan.

 

Doa: ya Tuhan tumbuhkanlah kasih didalam diri kami yang semakin lama semakin dewasa, sehingga kami mampu mengasihi sesama kami sebagaimana Engkau mengasihi kami. Amin. (St. Berman Sitorus)

 

“Ia menutupi segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu’
 12 Jun

(Renungan Harian : Kamis, 13 Juni 2013)

 

Bacaan: I Korintus 13: 1 – 7

Bacaan kita hari ini adalah bagian pertama dari perikop tentang “Kasih”, pada bagian ini umumnya selalu dibahas bahwa “Kasih adalah yang terutama, dan lebih utama”. Bahkan bila dibandingkan dengan karunia “bahasa roh” dan “bernubuat”, sebab tanpa kasih semuanya itu hanya seperti “tong kosong nyaring bunyinya”, sia-sia alias percuma (ayat 1-2).

Lebih jauh lagi, bahkan bila dibandingkan dengan “mengaku beriman”, juga bermurah hati dengan memberi pemberian kepada orang lain bahkan bilapun sampai menyerahkan diri untuk orang lain. Tanpa kasih semuanya itu tidak berarti (ayat 3). Ayat 4 – 7, berbicara tentang apa yang dimaksud dengan kasih dan unsur didalam kasih itu.

Hari ini saya mau mengajak kita merenungkan ayat 7 saja, karena biasanya yang sering dibahas adalah ayat 4 sd 6. Apa maksudnya dengan “menutupi, percaya, mengharapkan dan sabar menanggung segala sesuatu disini?

Ayat 7 ini adalah “kasih dari seorang yang sudah dewasa”, hanya mereka yang sudah dewasa khususnya secara rohani (rohnya kuat), yang mampu “menutupi segala sesuatu”. Bila terjadi sesuatu yang mungkin kelihatannya salah atau bahkan benar-benar salah, dia tidak langsung ribut dan bersuara. Sebaliknya mau mengerti dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, sebelum mengambil keputusan melakukan sesuatu. Berdoa memohon hikmat dari padaNya.

Kasih yang percaya bahwa segala sesuatu mendatangkan kebaikan dan mampu mengharapkan segala sesuatu akan menjadi baik dan lebih baik lagi, membutuhkan tingkat kedewasaan secara rohani. Mereka percaya bahwa Tuhan tahu dan turut campur dalam segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan mereka. Baik sebagai pasangan suami istri, hubungan orangtua dan anak, bersaudara, teman kerja, bisnis partner dan bermasyarakat.

Sabar menanggung segala sesuatu membutuhkan kekuatan yang luar biasa dari dalam diri seseorang, mereka yang sabar secara sadar berarti mereka berpengharapan segala sesuatu akan menjadi baik, percaya bahwa Tuhan berkuasa atas segala sesuatu. Karenanya, merekapun akan mampu menutupi segala sesuatu untuk kebaikan semua.

Kasih lebih kuat dari segala sesuatu, kasih itu memiliki kuasa merubah segala sesuatu. Kasih itu abadi, dan Kasih itu adalah Tuhan. Berarti barang siapa memiliki Kasih, dia memiliki Allah didalam dirinya. Sebaliknya juga demikian, barang siapa yang mengatakan dia memiliki dan menjadi milik Allah, tanpa memiliki Kasih adalah seorang pendusta (I yoh 4: 16 – 21)

Doa: ya Tuhan biarlah KasihMu mengalir dari dalam diri kami, dan kami bertumbuh dalam mengasihi sesama kami. Amin. (St. Berman Sitorus)

“Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. (Renungan Harian : Rabu, 12 Juni 2013)
 11 Jun

Bacaan Lukas 1 : 67 - 80

 

Kalimat judul diatas adalah menjelaskan bagaimana pertumbuhan Yohanes pembatis yang dipersiapkan oleh Tuhan untuk mendahului kedatangan Tuhan Yesus dan mempersiapakan jalan bagiNya (ayat 76). Dimana Yohanes pembaptis dipakai Tuhan sebagai seorang Nabi yang menyuarakan pesan Tuhan agar umatNya "Bertobatlah dan berilah dirimu  dibaptis dan Allah akan mengampuni dosa" (Lukas 3 : 3). Yang memang sudah dinubuatkan sebelumnya (Lukas 3 : 4 - 6).

 

Hari ini saya mau mengajak kita merenungkan apa yang terjadi dan bagaimana terjadinya sehingga Yohanes Pembaptis bisa dipakai oleh Tuhan pada waktunya, sebagai “suara” atau alat untuk mewujudkan rencanaNya, yaitu penebusan dari hukuman dosa, pembebasan dari belenggu dosa dan memberikan keselamatan bagi umat manusia, dan beribadah kepadaNya tanpa takut (ayat 68 – 75). Untuk mampu memberikan pengertian dan mengajar umat Tuhan akan keselamatan dan pengampunan dosa (ayat 76 – 79).

Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya (ayat 80). Ternyata dalam proses persiapan sebelum Yohanes Pembaptis bisa, mampu dan berani menyuarakan pertobatan. Dirinya sendiri harus mengalami pertumbuhan, pendewasaan. Secara fisik tentunya kita pasti bertambah besar dan kemudian berhenti bila sudah dewasa, bahkan menjadi lemah kembali dimasa tua. Namun, secara roh. Rohnya Yohanes Pembaptis semakin kuat, rohnya semakin kuat karena bersatu dengan Roh Allah yang mengajarinya tentang firman-Nya dan menguatkan hati dan pikirannya serta mentalnya.

Kalau kita bertambah besar secara fisik, dan bahkan kemudian mulai turun dimasa tua, itu biasa dan alamiah. Namun, apakah roh kita didalam diri kita semakin kuat? Roh kitalah yang memampukan kita berhubungan dan belajar mengenai kehendak Tuhan bersama Roh Kudus. Roh kita yang semakin kuat oleh Roh Kudus jugalah yang memampukan memahami kehendakNya dan menjadi alatNya untuk memberitakan kasih-Nya dan Firman-Nya.

Ingat, tubuh ini akan kembali melemah bahkan akan kembali menjadi debu. Tapi roh kita akan tetap abadi, abadi dalam kemulian bersamaNya atau biasa-biasa saja. Ada yang pernah berkata “bukan tentang masuk atau tidak masuk Sorga yang harus kita pikirkan sebagai orang percaya, tapi di Sorga kelak kita berada disebelah mana?”.

Doa: tubuh ini dari kecil bertambah besar, kemudian kembali melemah bersama bertambahnya usia kami ya Tuhan. Namun kiranya Roh Kudus-Mu mengajari dan menguatkan roh kami agar semakin lama semakin kuat seperti rohnya Yohanes Pembaptis. Bagi kemuliaanMu.  Amin. (St. Berman Sitorus)

 

PERSEMBAHAN ADALAH SEGALA-GALANYA BAGI ORANG JAHUDI (Renungan Harian : Selasa,11 Juni 2013)
 10 Jun

Tetapi kamu berkata : Barangsiapa berkata kepada bapanya, atau kepada ibunya : Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah, orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian Firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri. (Matius 15 : 5 - 6)

Orang Jahudi adalah orang sangat taat memelihara hukum taurat, yang disebutkan Tuhan Yesus sebagai adat istiadat mereka. Pada waktu murid-murid Yesus didapati oleh orang Farisi dan ahli Taurat, tidak membasuh tangan pada waktu makan. Hal itu dianggap melanggar hukum taurat, sehingga mereka mempertanyakan hal kepada Tuhan Yesus. Tetapi Tuhan Yesus menjawab dengan mengatakan, bahwa merekalah yang tidak mematuhi Hukum Allah karena terlalu menekankan adat istiadat mereka.

 

Kita tahu banyak sekali aturan kehidupan orang Jahudi, yang harus mereka lakukan dan kalau dilanggar harus ada sangsinya. Kita bisa membaca hal ini dalam surat Imamat. Itulah sebabnya orang Farisi dan ahli Taurat datang mempertanyakan murid-murid Yesus yang tidak mencuci tangann waktu makan. Mereka ingin menjatuhkan tuduhan kepada Yesus, sebagai pelanggar hukum Taurat, agar orang-orang percaya bahwa Yesus bukan dari Allah. Tapi kita lihat jawaban Yesus yang sangat pandai, dengan berkata;  hormatilah ayah dan ibumu. Ini jelas ada dalam  sepuluh Firman Allah yang utama, sementara soal-soal cuci tangan adalah hal tambahan. Dengan menjelaskan, bahwa orang-orang farisi dan ahli taurat, lebih mengutamakan persembahan ke bait suci Tuhan Allah.  Dengan demikian mereka tidak lagi perlu membantu orang tuanya, karena sudah memberi persembahan ke rumah Tuhan.

 

Padahal Tuhan tidak pernah menuntut persebahan dari manusia, tetapi belas kasihan. Saling mengasihi. Memperhatikan yang lemah. Itulah yang dituntut oleh Tuhan Allah. Kita disuruh oleh Tuhan untuk;  kita memecah-mecahkan roti bagi orang yang lapar, membawa ke rumah orang yang miskin dan tak punya rumah, memberi pakaian kepada orang yang tidak punya pakaian, dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudara kita (Yesaya 58:7).Dalam kehidupan kita sebagai umat Allah, seringkali  seperti para ahli taurat dan orang farisi ini. Kalau untuk persembahan ke gereja, orang lebih mudah meberi daripada kepada saudara sendiri yang sangat memerlukan.

 

Kalau saudaranya datang meminta bantuan, mungkin akan dijawab tidak ada, padahal dia adalah orang yang berkelimpahan. Tetapi kalau menyumbang untuk gereja, atau memberikan sesuatu untuk pendeta yang di idolakannya, dia tidak akan pelit. Perillaku seperti ini tidak disukai oleh Tuhan Yesus, karena seringkali dalam sikap ini bukanlah dari hati yang tulus dan menyenangkan hati Tuhan Yesus, tetapi menyenangkan hatinya sendir. Dia akan dianggap sebagai orang berjasa di gerejanya, maupun akan dihormati oleh pendetanya, yang pada gilirannya akan sukan mengatur-ngatur gereja dan pendeta yang dibantunya itu. Mungkin kalau dia membantu saudaranya, tidak akan ada penghormatan atau publikasi bahwa dia orang dermawan, bahkan tidak jarang menjadi kesusahan bagi dia menghadapi saudaranya.

 

Padahal Tuhan Yesus menjelaskan dengan ayat diatas; “Lebih utama membantu orang yang berkekurangan daripada membangun gereja yang besar atau yang megah”. Pembangunan gereja adalah pembangunan manusia. Gereja bukanlah gedungnya, tetapi orangnya. Untuk apa gereja yang megah, tetapi tidak mampu membawa orangnya (jemaat) kepada Tuhan Yesus, kepada kehidupan yang kekal. Itu adalah sikap menyenangkan diri sendiri, bukan menyenangkan hati Tuhan Yesus Kristus. Dalam Amsal dikatakan; “ Janganlah menahan kebaikan daripada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu memberikannya”. (Amsal 3:27) Adat istiadat adalah  kulit dari kehidupan, tetapi isinya adalah melakukan kehendak Allah Bapak di surga, yang empunya segala sesuatu. Jadi kita harus lebih memuliakan Tuhan Yesus daripada hal-hal yang duniawi. Kehendak Bapak ialah, menolong orang yang lemah, dan membebaskan orang-orang dari keterpurukan.Hendaklah kita lebih memperhatikan sesama kita (orang tua kita), dari pada kemewahan gereja. Kita di jadikan jadi saluran berkat, lebih dahulu kepada sesama, barulah kepada gedung gereja. Lebih utama membangun roh dan jiwa manusia dari pada membangun gedung gereja. Sejarah membuktikan, di Eropa negara-negara yang dahulu lebih awal mengenal Yesus Kristus, dengan gedung-gedung gereja yang megah dengan arsitektur yang indah, tetapi sekarang telah ditinggalkan oleh manusia. Gereja gagal membangun iman orang percaya, sehingga mudah terhempas oleh badai kehidupan. Membangun Roh dan Jiwa manusia (Umat) lebih penting daripada gedung atau hal-hal yang sermonial.

 

Doa. Ya Tuhan Allah Bapa kkami, yang kami kenal di dalam nama anakMu Tuhan Yesus Kristus, tolonglah kami mengasihi orang tua kami, sesama kami, lebih utama dari pada mengasihi gedung gereja danhal-hal yang bersifat  sermonial.  Amin. 

(St. Marlon Situmorang).

 

IBADAH YANG SIA-SIA KARENA LIDAH (Renungan harian : Senin, 10 Juni 2013)
 08 Jun

Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, dan sia-sialah ibadahnya (Yakobus 1 : 26)

 

Ada syair lagu Batak demikian; ……..

Masambilu-sambilu, marsambola-sambola, da dilani palait, da dila ni pamola-mola on ito.

Lidah sambilu (lidah seperti pisau dari kulit bambu) tajam dua sisi, begitulah gambaran tajamnya lidah pemecah belah (pamola-mola).

 

Kata-kata ini dituangkan dalam syair nyanyian oleh pengarang lagu, yang menceritakan bahwa karena seringkali putusnya hubungan antar dua sejoli yang sedang kasmaran oleh karena ulah pemecah-belah ini. Si “lidah bercabang” ini, dengan keahlian berkata-kata dapat mengyakinkan seseorang dengan menjelek-jelekkan orang lain, sehingga perasaan hatinya menjadi hambar dan tidak senang sehingga putus hubungan. Maka si “pemecah belah” itu akan senang, dengan alasan alasan tertentu. Misalnta dia tidak suka orang lain berbahagia, dia mau merebut kekasih orang dan lain sebagainya atau disuruh orang lain.

 

Bisa juga si “ganjang dila” (si pemecah-belah, pembohong) itu beraksi dalam segala macam kehidupan, sehingga terjadi ketidak harmonisan dalam keluarga, persekutuan, bisnis, atau pekerjaan lainnya. Memang lidah tak bertulang; kata syair lagu yang lain.  Lidah itu bisa sangat lincah berkata-kata tanpa ada kontrol.   Bisa mengarang segala macam cerita seturut kehendak pemilik lidah.

 

Lidah itu dapat menceritakan kebenaran dan sukacita, sekaligus dapat digunakan untuk hal yang paling berbahaya. Kalau lidah itu digunakan untuk menjelek-jelejkan orang lain atau menyebar kabar yang tidak benar (gossip), fitnah, akan sangat berbahaya. Ada yang berkata fitnah lebih kejam dari pembunuhan.  Kalau dipakai untuk memuji Tuhan Allah, itu sangat indah dan sangat membangun roh dan jiwa. Tetapi jika lidah digunakan untuk hal-hal yang buruk atau jahat, dapat menimbulkan pertengkaran, perpecahan dan bahkan kekacauan.

 

Itulah sebabnya kalau dimana ada si “ganjang dila” (yang berlidah pemecah belah, pembohong),  disitu tidak ada damai sejahtera, selalu akan ada keributan atau perpecahan. Itulah sebabnya Yakobus mengatakan orang yang tidak bisa menguasai lidah adalah penipu. Orang yang tidak bisa menguasai lidah tentu tidak bisa menguasai diri. Orang yang tidak dapat mengekang mulut dan perkataannya dari hal-hal yang negatip, itulah orang penipu diri sendiri. Orang yang benar akan selalu mengucapkan kata-kata yang membangun, memberikan sukacita atau hal-hal yang menghibur.

 

Tetapi orang yang bercabang lidah itu akan selalu mengatakan hal-hal yang buruk dan fitnah. Dia senang kalau orang-orang lain jelek, dan hanya dia yang baik dan hebat.  Oleh karena itu kita harus menandai orang seperti itu, agar kita tidak terpancing dengan ulahnya, sehingga terhidar dari hal-hal yang tidak kita inginkan. Orang itu harus didoakan agar bertobat dan kembali kejalan yang benar. Sebenarnya, mudah sekali mengenali orang yang demikian, orang itu selalu senang dengan perbantahan. Namun banyak juga orang yang suka memanfaatkan orang itu demi keuntungan pribadi.  Misalnya ada orang yang tidak mau disaingi orang lain lalu dia menggunakan si “lidah bercabang” itu untuk menjelekkan saingannya. Ini seperti melempar batu sembunyi tangan. Memakai orang lain, tetapi sebenarnya keburukan kedua sifat itu sama saja, artinya jahat.

 

Itulah sebabnya selalu ada si “lidah bercabang” berkeliaran karena ada yang memelihara, untuk tempat bersembunyi dari kelakuannya yang jahat. Nah masalahnya, orang-orang jahat ini mudah dan bisa banyak ditemukan di gereja dan persekutuan. Nampaknya dia orang yang rajin beribadah dan suka juga memberi sumbangan. Tetapi semuanya itu adalah topeng yang hanya untuk membuat orang suka memuji-muji dia.

Itulah sebabnya disebutkan oleh Yakobus orang itu menipu diri sendiri. Mungkin orang lain ada yang ditipunya, tetapi yang paling celaka adalah menipu diri sendiri. Dia akan mendapat rugi sendiri dihadapan Tuhan Allah. Tuhan paling membenci penipu. Mungkin kita tertipu, masih dapat kita koreksi. Kalau harta yang hilang tidak apa, tetapi roh dan jiwa tidak hilang. Tetapi sipenipu orang lain, atau bahkan menipu diri sendiri, kalau tidak bertobat, akan kehilangan roh dan jiwanya, Padahal di dalam Amsal dikatakan;  “Siapa menjaga mulutnya memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan”. (Amsal 13: 3).  Banyak orang sudah tidak mengyakini kuasa firman Tuhan, sehingga ada saja orang yang menjadi pemfitnah, pemecah-belah atau pembohong.

 

Marilah kita menguasai lidah kita, perkataan kita, dan harus kita pakai untuk memuji dan memuliakan Tuhan Yesus Kristus, agar ibadah kita tidak menjadi sia-sia.

 

Doa : Ya Tuhan Yesus Kristus, ampunilah kami jika kami kadang-kadang menggunakan lidah kami untuk hal-hal yang tidak berkenan dihadapanMu. Ajar dan kuatkanlah kami untuk memakainya demi kemulian namaMU.  Amin. (St. Marlon Situmorang)

TERPISAH KARENA DOSA (Renungan Harian : Sabtu, 8 Juni 2013)
 07 Jun

Tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.

 

(Yesaya 59 : 2) 

 

Apakah setiap masalah atau penderitaan yang dihadapi oleh manusia adalah karena dosa, atau kejahatan yang ia lakukan dalam kehidupannya?. Tentu tidak. 

Kita tahu bahwa kita diizinkan Tuhan mengalami penderitaan dengan maksud menguji keteguhan hati kita di dalam mengikuti jalan-jalan yang dikehendaki Tuhan Allah. Apabila kita sudah lulus dari ujian itu, maka Tuhan akan memberikan kita sukacita dan damai sejahtera bahkan ikut menjadi pewaris kerajaan sorga. Itulah tujuan dari pada ujian dengan mengalami penderitaan atau berbagai pencobaan di dnuia ini.  Kita harus bertekun dalam berbagai pencobaan yang boleh kita alami, serta bersyukur kepada Tuhan atas kemampuan yang diberikan kepada kita unuk menekuni pencobaan. Karena dengan demikian kita akan memperoleh pengharapan masuk dalam kerajaan Bapa di sorga.

Lalu bagaimana makna dari ayat renungan diatas. Bukankah itu berarti setiap permasalahan atau penderitaan yang kita alami adalah karena dosa?. Tidak, bukan demikian maksud dari ayat tersebut diatas. Tetapi setiap dosa atau kejahatan sudahlah pasti menjauhkan kita, memisahkan kita dari kasih karunia Tuhan Yesus Kristus. Setiap dosa harus ada hukuman dari Allah, sekaligus juga ada pengampunan jika kita mengaku dosa kita.

Jadi jika kita mengalami pencobaan-pencobaan dalam hidup ini, kita perlu meneliti diri, menguji tingkah laku kita. Kalau kita memang melakukan kejahatan, atau melakukan dosa sehingga kita mengalami penderitaan atau pencobaan, maka  kita harus sungguh-sungguh mengaku dosa kita dengan merendahkan diri dihadapan Tuhan Yesus. Kita tidak dapat menyembunyikan dosa-dosa kita dihadapan Allah, karena tidak ada yang tersebunyi dihadapan Tuhan kita, Dia mahatahu dan maha hadir.

Tetapi apabila kita sunguh-sungguh setia dan bertekun didalam mengikuti jalan kebenaran Tuhan Allah, namun kita masih mengalami penderitaan. hendaklah kita berdoa dan bersyukur, karena Tuhan Yesus mengasihi kita dengan memberikan kita kemampuan untuk mengalami penderitaan yang bukan karena kejahatan kita atau dosa2 kita.  Sudah pasti janji Tuhan akan digenapi bahwa setiap orang yang setia sampai mati akan memperoleh hadiah mahkota kehidupan yaitu hidup yang keal didalam kerajaan sorga. Tuhan Yesus hanya menguji orang yang dikasihinya. Karena pencobaan yang kita alami, tidak akan melampau ketahanan atau kemampuan kita.

Namun seringkali dalam pikiran kita manusia, bahwa kasih Yesus Kristus itu haruslah berupa kehidupan yang berkelimpahan dalam hal harta duniawi. Aman tak ada masalah. Artinya hanya orang kaya hartalah yang patut  disebut orang yang diberkati Tuhan. Sehingga seringkali manusia suka menghakimi sesamanya, dengan menganggap orang yang berkekurangan (miskin) dalam harta dunia adalah orang yang tidak mendapat berkat Tuhan alias orang berdosa.

Padahal kita tahu, banyak penjahat, koruptor atau perampok dan penipu yang hidup kaya raya. Oleh karena itu kita tidak boleh menghakimi orang yang miskin harta adalah orang yang tidak diberkati atau orang berdosa. Sebaliknya kita juga tidak boleh berperasangka bahwa semua orang yang mempunyai harta berkelimpahan alias kaya adalah penjahat, perampok atau koruptor atau penipu.

Biarlah Tuhan yang maha kuasa menilik setiap hati manusia, supaya kita jangan terperangkap dalam dosa menghakimi. Kita harus senantiasa mendoakan setiap orang agar dituntun dan dikuatkan oleh Tuhan Yesus Kristus untuk melawan segala dosa dan kejahatan, agar kita tidak terpisah dari kasih karunia Tuhan Allah. Karena kalau kita melakukan hal-hal yang benar dimata Tuhan, maka doa-doa kita akan didengarkan dan dikabulkan menurut kehendak Allah.

Baiklah orang yang mendapat berkat jasmani harta dan lain sebagainya, menyadari bahwa mereka harus menjadi saluran berkat bagi orang lain. Berkat itu bukan untuk dirinya sendiri, tetapi harus disalurkan. Demikian pula orang yang tidak memperoleh berkat jasmani atau harta duniawai, jangan berkecil hati dan jangan cemburu, tetapi haruslah senantiasa mengucap syukur dan memuliakan Tuhan Allah senantiasa. Sekalipun kita tidak memiliki harta yang berlimpah, kita harus mendoakan setiap orang, termasuk orang-orang yang kaya harta, agar mereka juga menjadi kaya dalam kebajikan. Kiranya Tuhan Yesus Kristus meolong kita.

yang .

Doa : Ya Allah Bapa kami,  yang maha kasih dan maha kuasa, janganlah pisahkan kami dari kasih karuniaMu oleh karena dosa-dosa kami. Tetapi ampunilah dosa pelanggaran kami, agar kami layak datang kehadiratmu. Amin.(St. Marlon Situmorang)

 

TUHAN MELIHAT HATI BUKAN PENAMPILAN (Renungan Harian : Jumat, 7 Juni 2013)
 05 Jun

Yeheskiel 37 : 1 - 6

 

Bagaimana mata kita melihat? Apakah yang kita perhatikan dari seseorang ketika ia datang menghampiri kita? Dari apa yang saya alami dan  pelajari, secara universal bahwa setiap kita akan terfokus terhadap lima hal yang saya sebut PHKAT (penampilan, hasil, kekayaan, yang diterima, tutur kata) tetapi TUHAN melihat HCKAP (HATI, CARA, KEJUJURAN, APA yang DIBERIKAN, PERBUATAN) :

 

Pertama-tama kita akan memperhatikan PENAMPILAN, apakah dia seorang terpelajar, rapih, disiplin, dan beretika ? Tetapi Tuhan melihat HATI! Kedua kita terfokus dan  melihat HASIL, apakah hasil-hasil dari yang dia kerjakan memberi buah yang baik ? Tetapi Tuhan melihat CARA bekerjanya! Ketiga, kita akan meneliti KEKAYAAN, sebesar apa kekayaan intelektual dan harta yang dia miliki dari hasil kerjanya ? Tetapi Tuhan melihat KEJUJURAN!

Keempat, sudah pasti kita akan mencoba memperhatikan APA YANG DITERIMA (gain), penghargaan apa saja yang sudah dia terima selama hidupnya ? Tetapi Tuhan melihat APA YANG DIBERIKAN!

Kelima, dan terakhir, kita akan mencoba lebih mendalami lagi dari  TUTURKATA, apakah dia seorang yang sopan dan santun dalam berkomunikasi? Tetapi Tuhan melihat PERBUATAN!

 

"Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?" Dari pemandangan yang disaksikan Yeheskiel didalam nas ini adalah hanya sebuah pemandangan penampilan tulang-tulang kering yang berserakan, tidaklah akan ada kehidupan lagi dari apa yang dia lihat ? Tetapi karena pandangan TUHAN tidak sama dengan manusia, maka dari tulang-tulang kering sekalipun Tuhan dapat memberi kehidupan yang luar biasa. Karena itu berbicaralah kepada Tuhan, berkomunikasilah dengan FirmanNya, maka pikiranku dan pikiranmu akan menjadi jernih dan menghasilkan rancangan rancangan  yang mulia dimata Tuhan. Biarlah hati kita melihat Kasih Yesus semata. Amen. (St. PM. BANJARNAHOR)

 

KASIH MENGUSIR “EGOISMESAYA” (Renungan Harian : Kamis, 6 Juni 2013)
 05 Jun

YESAYA 2 : 11

 

“Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan; dan hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu”

 

Setiap kita pasti mengetahui bahwa lawan kata sombong adalah adalah ramah, seorang sombong pasti tinggi hati dan seorang ramah pastilah rendah hati. Seorang sombong tidaklah mungkin akan hidup dalam kasih, sebab sombong itu adalah salah satu musuh KASIH yang harus disingkirkan. Tuhan Yesus berkata “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini." (Markus 12 : 30-31).

 

Apa yang kita harus lakukan sehingga Saudara dan saya dapat disebut sudah mengasihi Tuhan Allah dan mengasihi sesama? Dari apa yang saya pelajari dari ALKITAB ada sebelas jenis perkara yang harus kita singkirkan dari kehidupan kita sehari-hari yaitu  “EGOISMESAYA” :

 

1.   Sifat EGOIS, akan selalu mendahulukan perilaku mementingkan diri sendiri tanpa peduli sekelilingnya dan inilah sifat yang pertama yang harus kita singkirkan.

2.   Kebiasaan dalam perlakuan GERUTU (menggerutu) adalah sifat terburuk saya dan audara  yang tidak pernah menerima adanya.

3.   Perbuatan ONAR akan mengakibatkan sebuah persekutuan atau komunitas menjadi kucar kacir, sifat demikian  adalah tingkah laku yang sama sekali tidak terpuji.

4.   INTIMIDASI (penghasutan atau agitasi) oleh seseorang akan mampu menghancurkan sebuah persekutuan yang awalnya sangatlah harmony menjadi disharmony.

5.   Setiap kita yang tidak pernah menghargai orang lain itu adalah pembuktian bahwa kita adalah seorang SOMBONG yang selalu merendahkan orang lain dan tidak akan pernah peduli terhadap lingkungannya.

6.   MENDENDAM adalah sebuah karakter manusia penjahat yang selalu menuntut pembalasan terhadap orang-orang yang tidak ia sukai.

7.   EMOSIONAL (tempramental) yang meluap-luap tanpa terkendali adalah sebuah bentuk ketidaksetujuannya terhadap sebuah kondisi tanpa melihat kebenarnanya.

8.   SERAKAH adalah sebuah bentuk perlakuan yang tidak memiliki perikemanusiaan.

9.   ANGKARA adalah perbuatan yang amat kejam, sadis, dan keji.

10.        Seorang yang berkepribadian ambivalen adalah gambaran bunglon yang setiap saat dapat berubah-ubah posisi seperti sebagaimana YOKER bisa masuk kemana-mana.

11.        ANGKUH  adalah pribadi yang sama sekali tidak mengenal kompromi terhadap sesamanya.

 

Dari sebelas perkara ini, saya memiliki kesimpulan bahwa KASIH itu akan bersemayam, tumbuh, dan hidup didalam diri “kita” apabila saudara dan saya hidup tanpa “EGOISMESAYA”. Marilah kita mengaku bahwa hidup-ku akan memuliakan TUHAN apabila EGOISMESAYA tersingkir jauh-jauh dari-ku. Amen.

(St. PM. BANJARNAHOR)

BERLARILAH TERUSLAH MENDEKAT (Renungan Harian : Rabu, 5 Juni 2013)
 04 Jun

KOLOSE 3 : 16

“Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya diantara kamu”

 

Tuhan adalah Allah Yang Maha Tinggi, Tuhan adalah Alpha Omega Yang Awal dan Yang Akhir, Tuhan adalah Yang menciptakan langit dan bumi dan segala isinya, Tuhan adalah Yang Menciptakan Manusia, Tuhan adalah Sang Raja Bayi Yang Lahir di Bethlehem, Tuhan adalah Guru Yang Memilih dan Mengajar Murid2Nya Berdoa, Tuhan adalah Yesus Kristus Yang menolong banyak orang dari penderitaannya dan Yang Mengobati banyak orang dari segala jenis penyakitnya, Tuhan adalah Juru Selamat Yang Memikul SalibMu dan Salibku juga hingga di Bukit Golgata, Tuhan adalah Anak Allah Satu-satunya Yang Mati di Kayu Salib untuk membayar lunas dosa-dosamu dan dosaku, TUHAN adalah Kristus Yesus Yang bangkit dari antara orang mati, Tuhan adalah Yesus Kristus Yang  naik ke Surga untuk mempersiapkan Tempat bagimu dan bagiku juga di rumah Bapa di Surga, Tuhan adalah Hakim Agung yang kelak akan datang kembali ke dunia ini untuk menghakimi orang yang hidup dan mati. Tuhan itu adalah sesungguhnya segalanya bagimu dan bagiku.

 

Segala sesuatu di dunia yang tua ini tidak menjadi semakin baik. Kebenaran Tuhan semakin terkubur dalam-dalam, sekarang ini sulit bagi kita dapat melihat kebenaran ditegakkan. Kapan kebenaran itu dapat bangkit kembali ? Iman saya bicara, teruslah mendekat dan jangan pernah menjauh dari Bapa Surgawi Anda. Jika Anda dan Saya menjauh, Anda takkan berhasil. Tetapi jika Anda semakin mendekat kepadaNYA, maka Anda akan melihat lebih banyak pencurahan yang gemilang dari Tuhan ketimbang yang dapat Anda bayangkan.

 

Pesan ini bukan hanya untuk Saya dan Anda sendiri, tetapi untuk setiap orang Percaya dimuka bumi ini. Yesus akan datang kembali. Ini adalah waku yang paling menggembirakan tetapi sekaligus juga waktu yang membahayakan. Mereka yang tidak melakukan yang diucapkan oleh Roh Kudus, Firman Tuhan, dan tidak mendekat epada Tuhan, akan berjalan dari satu bencana ke bencana yang lainnya. Tetapi mereka yang mendekat terus kepada Tuhan akan mengalahkan bencana-bencana itu dan mengubahnya menjadi kemuliaan, di dalam Nama Yesus.  

 

Kebanyakan orang tidak menyadari hal itu. Mereka mencoba mendekat dan mengenal Tuhan melalui perasaan mereka, bukannya melalui FirmanNya. Membiarkan Firman menguasai pemikiran Anda berarti mengizinkan Roh Kudus mengendalikan pikiran Anda. Pada saat Anda melakukannya, perasaan Anda pada akhirnya akan setuju. Ingatlah Yohanes 1 memberitahu kita bahwa Yesus adalah Firman. Teruslah mendekat kepadaNya maka hidupmu akan diberkatiNya sepanjang masa sampai selamanya.

Amen.  (St. PM BANJARNAHOR)

 

Pilar (Renungan Harian : Selasa, 4 Juni 2013)
 03 Jun

Nas bacaan: I Raja 7: 13-22

       Menarik untuk disimak, penulis Kitab Raja Raja melaporkan Baik Allah dan istana Salomo didirikan dalam waktu bersamaan. Kesan yang ada ialah : Bait Allah dan istana raja menjadi satu kesatuan. Hal itu memberi kesan dalam hati, ibadah kepada Allah dan kehidupan sehari hari menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.  

 

Satu catatan lagi yang menarik hati ialah: penulis kitab ini melaporkan siapa yang menjadi tukang yang membuat pilar yang ada di depan Bait Allah. Alkitab mengatakan Salomo yang  mendirikan bait Allah. tetapi penulis juga melaporkan siapa yang menjadi tukang yang secara khusus mendirikan kedua pilar di Bait Allah tersebut. Ini adalah sebuah pelajaran bagi kita. Adakah nama kita akan dicatat surga di dalam pembangunan Bait Allah di dalam kehidupan masyarakat kita? Mungkin bukan masyarakat, tetapi kehidupan satu keluarga, atau satu pribadi? Sebuah pertanyaan yang perlu direnungkan.

 

Juga perlu direnungkan di sini, Hiram adalah anak orang Tirus, namun ibunya dari suku Naftali. Pada hakekatnya ia adalah orang asing di Israel. Tetapi orang asing ini dipakai Allah sebagai alat di tangan-Nya untuk membangun salah satu bagian terpenting dari Bait Allah. Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa Allah menerima semua orang untuk turut ambil bagian di dalam persekutuan dengan Dia di dalam Gereja-Nya.

 

Ayat yang panjang dari ayat 15-22 hanya membicarakan adanya dua pilar yang dipasang di pintu masuk Bait Allah. Tiang itu dibuat dari tembaga. Kita tahu tembaga adalah simbol dari pengadilan, sebab pengadilan bersimbolkan timbangan yang terbuat dari tembaga. Tingginya delapan belas hasta. Kita telah membicarakan angka 10 dan angka 8 kemarin, jadi kita telah mengetahui maknanya. Pilar itu diberi nama Yakhin dan Boas. Kedua nama ini tidak lagi terlalu jelas apa artinya. Tetapi saya memahami pilar itu mengajarkan kepada kita bagaimana Allah berhadapan dengan manusia di dunia ini. Keadilan Allah dioperasionalkan dalam bentuk kasih karunia dan perbuatan. Jika kita berhadapan dengan kasih karunia Allah, maka perbuatan tidak dipakai lagi.

 

Kedua pilar itu juga dapat mengajarkan kepada kita bahwa Allah memerintah atas kehidupan kita secara langsung dan dengan tidak langsung. Sesuatu yang tidak langsung, itu berarti kuasa Tuhan didelegasikan kepada manusia. Bisa hal itu didelegasikan pada pemerintah, atau orang tua kita.

 

Kepada kita dituturkan bahwa pilar itu dihiasi dengan buah delima. Satu gambaran keadilan Allah senantiasa menghasilkan buah dalam kehidupan manusia. Menarik untuk disimak adapun bentuk dari penopang ganja yang ada di atas pilar itu dibuat seperti bunga bakung. Bunga bakung itu adalah perlambang dari Tuhan Yesus Kristus. Buah buah pekerjaan kita ditopang oleh Tuhan Yesus Kristus yang berkarya bagi kita.

 

Kisahnya masih berlanjut lagi dengan benda benda lain yang ada di pelataran Bait Allah. semuanya itu menggambarkan karya Tuhan Yesus bagi kita. Sebab Yesus mengidentikkan dirinya dengan Bait Allah. cf Yoh 2:19-21.

(St. Hotman Ch. Siahaan)

Salomo (Renungan Harian : Senin, 3 Juni 2013)
 31 May

Nas bacaan: I Raja 7: 9-12

       Penuturan tentang istana Salomo berlanjut. Nas kita berbicara tentang tembok istana Salomo. Tembok itu dibuat dari batu itu dibuat empat persegi dan mahal harganya. Jika kita berbicara tentang tembok, itu berarti berbicara tentang keselamatan. Tatkala merenungkan hal ini, terlintas dalam hati apa yang dikatakan pemazmur : "Batu yang dibuang tukang bangunan telah menjadi batu penjuru". Petrus mengatakan bahwa batu itu mahal I Pet 2:7, juga disuarakan nas kita.

 

Batu itu adalah batu yang sudah dikerjakan oleh tukang, karena disebutkan dalam nas kita, batu itu digergaji dari luar dan dan dari dalam, demikian juga dasarnya dan atasnya. Ukurannya juga ukuran besar, sebab panjangnya ada yang sepuluh hasta dan ada yang delapan hasta. Satu hasta panjangnya adalah satu depa. Maksudnya kedua tangan direntangkan. Bahasa Ibrani miskin dalam kosa kata, tetapi kaya dalam perlambang. Tangan melambangkan pekerjaan, sebab orang  bekerja dengan tangannya. Sementara angka 10 berbicara tentang totalitas sebuah pekerjaan. Sebab angka 10 adalah kedua tangan dengan 5 jari, jumlahnya jadi 10.

 

Sekarang kita membicarakan dasar dari tembok tersebut yang sudah kita gambarkan sebagai keselamatan. Keselamatan kita itu didasarkan pada totalitas karya ilahi. Sebab sudah kita katakan panjangnya adalah sepuluh hasta. Dibuat rata di sebelah dalam dan sebelah luar, juga bagian dasar dan atas. Keselamatan kita di dasarkan pada karya Allah yang mencakup bagian internal dan eksternal dari kehidupan kita.

 

Ada lagi batu itu disebut panjangnya adalah delapan hasta. Angka delapan adalah angka kelahiran baru  bagi orang Yahudi. Kita dapat mengatakan hal tersebut sebab semua orang Yahudi di sunat pada hari kedelapan. Sunat adalah tanda bagi orang Yahudi masuk ke dalam perjanjian dengan Allah. angka 8 adalah penjumlahan angka 7 dan angka 1. Setelah lewat satu Minggu yang terdiri dari 7 hari, maka datanglah hari yang baru, hari pertama. Itulah sebabnya orang Yahudi disunat pada hari yang kedelapan, atau hari pertama setelah lewat satu Minggu.

 

Dengan pemahaman seperti itu, kita tahu sekarang bahwa keselamatan kita itu begitu mahal harganya, dan dibangun di atas sesuatu